"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - KEMATIAN DAN KEBANGKITAN
KEHIDUPAN PERTAMA - TIGA JAM SEBELUM KEMATIAN
"Dara, tolong periksa luka di lengan bos. Pelurunya tembus."
Dara Alvarino mengangguk tanpa ekspresi, tangannya sudah menyiapkan peralatan bedah dengan gerakan presisi. Ruang operasi bawah tanah ini dingin, bau antiseptik bercampur darah sudah jadi aroma familiar.
Tujuh tahun ia bekerja sebagai dokter untuk kelompok mafia terbesar di Jakarta. Tujuh tahun tangannya menyelamatkan nyawa para pembunuh, pengedar, dan preman bayaran.
"Sakit ya, Bos?" tanyanya datar sambil mulai membersihkan luka.
"Gak akan pernah sakit kalau yang nanganin kamu, Dok," Bos Rendra menyeringai meski wajahnya pucat.
Dara tidak membalas, dia tidak pernah membalas basa-basi mereka. Tangannya bergerak cepat, mengangkat pecahan peluru dengan pinset, menjahit luka dengan sempurna. Tidak ada gemetar, tidak ada ragu. Kebanggaannya hanya satu, dia adalah yang terbaik dalam pekerjaannya.
"Sudah selesai, jangan basahi lukanya tiga hari."
"Makasih, Dok. Kamu emang yang terbaik."
Dara membersihkan semua peralatan, mencuci tangan yang berlumuran darah. Di cermin, wajahnya terlihat lelah. Tiga puluh dua tahun, tapi matanya sudah seperti orang yang hidup enam puluh tahun. Terlalu banyak darah, terlalu banyak nyawa di tangannya.
"Dara."
Suara lembut itu. Dara menoleh, melihat Salma sahabatnya sejak kuliah kedokteran. Satu-satunya orang yang dia percaya di dunia kelam ini, berdiri di ambang pintu dengan senyum manis.
"Capek ya? Ayo, aku bikinin kopi."
"Makasih, Sal."
Mereka duduk di ruang istirahat kecil. Salma menyodorkan cangkir kopi hangat. Dara menerimanya, meneguk pelan.
"Kamu tidak pernah menyesal, Dar? Dengan semua ini?" tanya Salma pelan.
"Menyesal buat apa? Kita sudah terlanjur basah."
"Iya juga sih..."
Sesuatu dalam nada suara Salma terasa aneh, tapi Dara terlalu lelah untuk memikirkannya. Dia meneguk kopinya lagi, hangat... enak.
Tapi kenapa kepalanya tiba-tiba berat?
"Sal... ada yang aneh dengan kopi ini..."
Salma tidak menjawab. Dara mengangkat wajah, pandangannya mulai kabur. Salma berdiri, senyumnya menghilang, digantikan ekspresi dingin yang asing.
"Maafin aku, Dar. Bos Rendra mau kamu mati. Kamu terlalu banyak tahu."
Rasa dingin menjalar dari dada Dara. Bukan karena racun, tapi karena pengkhianatan. Salma, sahabat satu-satunya orang yang dia percaya.
"Kenapa... kamu..."
"Uang, Dar. Aku dapat uang banyak. Lagian, kita memang tidak punya masa depan di sini."
Tubuh Dara merosot dari kursi, pandangannya semakin gelap. Salma berjongkok, menatapnya tanpa emosi.
"Selamat tidur, sahabatku."
Kemudian... gelap.
***
KEHIDUPAN KEDUA - SEKARANG
PLAK!
Rasa sakit meledak di pipi. Kiara... bukan, DIA BUKAN KIARA... terhuyung, punggungnya membentur dinding. Perutnya... Ada yang salah dengan perutnya.
"NGAKU! NGAKU KALAU ANAK JALANG ITU BUKAN ANAKKU!"
Suara pria itu menggelegar. Kiara... Dara?mengangkat wajah. Penglihatannya kabur, tapi dia bisa melihat sosok tinggi besar di hadapannya. Pria itu mengangkat tangan lagi.
BUGH!
Pukulan mendarat di perutnya.
"TIDAAAAAK!" jeritnya... tapi itu bukan suaranya. Suara ini lebih lemah, lebih tinggi.
Rasa sakit yang berbeda, bukan sakit ditikam atau diracun. Ini sakit yang datang dari dalam dari perutnya yang membesar. Ada sesuatu di dalam sana, sesuatu yang hidup.
Hamil? Dia hamil...
Tapi bagaimana bisa? Dara tidak pernah hamil. Dara bahkan tidak punya pacar, Dara baru saja mati...
"Kak Arkan, jangan... jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Suara lembut itu. Dara... Kiara... memaksa diri menatap. Seorang wanita muda berdiri di belakang pria bernama Arkan itu. Wajahnya cantik, polos, dengan mata berkaca-kaca penuh kekhawatiran palsu.
Dara tahu wajah seperti itu, wajah Salma juga seperti itu sebelum mengkhianatinya.
"Lenna, minggir. Pelacur ini harus dikasih pelajaran!"
Arkan maju lagi. Kali ini tangannya mencengkeram rambut Kiara, menarik keras sampai kulit kepalanya terasa terbakar.
"Kamu pikir aku bodoh? Tiga bulan hamil, tapi kita tidak pernah berhubungan empat bulan terakhir! Kamu selingkuh, kan? NGAKU!"
Ingatan asing membanjiri kepala Dara. Bukan... Bukan... ingatannya, tapi ingatan Kiara... Pemilik tubuh yang Dara tempati.
Kiara Adisaputra, dua puluh lima tahun. Menikah dengan Arkan Adisaputra dua tahun lalu dalam pernikahan yang diatur keluarga. Arkan tidak pernah mencintai Kiara, karena Arkan sudah mencintai Lenna, adik angkatnya sendiri.
Empat bulan lalu, Arkan pulang dalam keadaan mabuk. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan, mereka berhubungan. Arkan bahkan tidak ingat keesokan harinya.
Dan sekarang Kiara hamil. Tapi Lenna membisikkan racun di telinga Arkan, mengatakan Kiara pasti selingkuh karena Arkan tidak pernah menyentuhnya.
Arkan percaya begitu saja, karena dia memang lebih percaya dengan Lenna daripada istrinya sendiri.
Amarah meledak di dada Dara.
"Lepaskan aku," suaranya keluar... masih lemah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.
"Apa? Kamu berani ngomong?"
"AKU BILANG LEPASKAN!"
Dara mengangkat tangannya... tangan yang lemah, gemetar, tapi dia tahu anatomy tubuh manusia. Jarinya menekan titik saraf di pergelangan tangan Arkan dengan presisi.
Arkan meringis, refleks melepaskan cengkeramannya.
"Sialan! Kamu..."
"Anak ini anakmu, dasar brengsek."
Semua orang terdiam, Lenna terlihat shock sedangkan Arkan ternganga tidak percaya dengan apa yang barusan dia saksikan sendiri.
Kiara yang lama tidak pernah melawan, Kiara yang lama hanya menangis dan memohon.
Tapi Dara bukan Kiara.
"Kamu mabuk empat bulan lalu. Pulang jam dua pagi, kamu masuk ke kamarku dan memaksaku. Kamu ingat sekarang?"
Wajah Arkan berubah, ada sekilas keraguan di sana.
"Bohong! Aku tidak..."
"Kamu bahkan mencium leherku sampai meninggalkan bekas. Aku menutupinya dengan foundation seminggu penuh. Kamu ingat atau tidak, itu bukan urusanku. Tapi anak ini..." Kiara meletakkan tangannya di perut yang membesar, "...adalah darah dagingmu."
"Kak Arkan, jangan percaya..." Lenna maju, suaranya bergetar. "Kak Kiara pasti bohong... dia pasti..."
"Tutup mulut."
Dara menatap Lenna dengan tatapan yang sama seperti saat dia menatap meja operasi. Dingin. Mematikan!
Lenna tersentak mundur.
"Aku tahu permainanmu," kata Dara pelan... terlalu pelan, tapi setiap kata terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku sebodoh itu?"
"A... aku tidak tahu apa yang Kakak bicarakan..."
"Belum sekarang. Tapi percayalah..." Dara tersenyum, senyum tanpa kehangatan, "...aku akan buat kamu mengaku sendiri."
Arkan masih terdiam, bingung dengan perubahan drastis istrinya.
Dara atau Kiara menatap mereka semua. Perut bawahnya masih sangat sakit, kepalanya berkunang-kunang. Tubuh ini lemah, terlalu lemah dibanding tubuh lamanya. Tapi jiwanya? Jiwanya adalah Dara Alvarino. Dokter mafia yang pernah membedah puluhan tubuh. Wanita yang bertahan tujuh tahun di dunia paling kelam.
Dia sudah pernah mati sekali karena pengkhianatan. Dia tidak akan mati sia-sia lagi.
"Mulai sekarang," katanya, suaranya semakin kuat, "kalian semua akan menyesal pernah menyakitiku."
Dia melangkah melewati Arkan yang masih terpaku, melewati Lenna yang wajahnya pucat, keluar dari ruangan dengan kepala tegak.
Setiap langkah terasa berat, tubuh ini sudah dipukuli habis-habisan. Tapi Dara tidak akan jatuh, tidak di depan mereka.
Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, tubuhnya ambruk. Dia merosot di lantai, memeluk perutnya yang masih terasa nyeri.
"Bertahanlah," bisiknya pada anak dalam kandungannya... anak yang bahkan bukan anaknya, tapi sekarang jadi tanggung jawabnya. "Kita harus bertahan, karena kita harus menang melawan mereka."
Air matanya jatuh, bukan air mata Kiara yang lemah. Tapi air mata Dara yang marah. Yang trauma, yang merasa bersalah karena mati bodoh di tangan orang yang dipercaya.
Air mata wanita yang bersumpah tidak akan pernah percaya lagi. Tapi akan membuat semua orang yang menyakitinya berlutut memohon ampun.
lupita namanya siapa ya