NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Sering Disebut

Lein diminta menghadap ke Aula Dosen setelah kelas sihir teori berakhir. Tidak ada penjelasan rinci, hanya satu kalimat singkat dari petugas Academy: “Pemeriksaan data murid.”

Kalimat sederhana, namun cukup membuat dadanya terasa berat.

Aula Dosen dingin dan luas, dengan pilar batu tinggi dan simbol sihir kerajaan terukir di dinding. Beberapa penyihir senior duduk berjajar di meja panjang, wajah mereka netral.

“Roselein Tescarossa,” ucap salah satu dosen. “Atau Lein, seperti yang kau gunakan.”

Lein mengangguk. “Benar.”

“Kami menerima laporan,” lanjutnya, “bahwa data asal-usulmu tidak lengkap. Tidak ada catatan keluarga yang jelas, tidak ada wilayah asal yang terverifikasi.”

Lein membuka mulut… lalu menutupnya kembali.

Apa yang bisa ia katakan?

Tubuh ini tidak menyimpan kenangan masa kecil.

Nama keluarga ini hanya tertulis di dokumen masuk Academy tanpa akar.

“Aku tidak tahu,” jawab Lein akhirnya, jujur. “Aku tidak memiliki ingatan tentang keluargaku.”

Beberapa dosen saling bertukar pandang.

“Tidak tahu?” ulang seorang penyihir wanita dengan alis terangkat.

“Amnesia ringan bukan hal langka,” sela dosen lain, namun suaranya terdengar ragu.

Satu kata salah, dan penyelidikan akan melebar.

“Aku hanya tahu namaku,” lanjut Lein pelan. “Dan bahwa aku bisa berada di kerajaan, mungkin aku ingin belajar di Academy.”

Keheningan menggantung.

Lalu sebuah suara rendah terdengar dari ujung meja.

“Menarik.”

Semua mata tertuju pada pria berambut hitam keabu-abuan dengan jubah gelap sederhana. Matanya tajam, namun tidak dingin.

Gram Blackfullet.

Penyihir senior yang jarang bicara, namun dikenal karena pemahamannya tentang sihir jiwa dan struktur mana.

“Banyak murid datang dengan latar yang jelas,” lanjut Gram. “Namun jarang ada yang datang seperti kosong.”

Ia menatap Lein langsung. Bukan menilai, melainkan mengamati.

“Mana-mu stabil,” katanya. “Terlalu stabil untuk seseorang yang ‘tidak jelas asal-usulnya’.”

Lein menahan napas.

“Kamu bukan tanda bahaya,” tambah Gram cepat. “Justru mungkin sebaliknya.”

Beberapa dosen tampak tidak puas.

“Gadis itu tetap perlu dicatat,” kata salah satu dari mereka. “Academy tidak bisa membiarkan identitas muridnya kabur.”

Gram mengangguk pelan. “Tentu. Tapi tidak semua misteri adalah ancaman.”

Ia kembali menatap Lein. “Jika kamu berbohong, mana-mu akan bereaksi. Tapi nyatanya tidak.”

Raksha merasakan denyut kecil.

Penyihir ini… peka.

“Aku menyarankan,” lanjut Gram, “hanya pengawasan ringan saja. Tidak perlu pembatasan segala.”

Keputusan itu diterima, meski tidak sepenuhnya dengan senang hati.

Lein diizinkan pergi.

Saat ia melangkah keluar aula, lututnya terasa sedikit lemah. Bukan karena takut melainkan karena kelelahan menahan diri.

Di balik pintu, Gram masih berdiri, menatap punggungnya.

“Roselein,” gumamnya pelan. “Atau siapa pun kamu sebenarnya.”

Tidak ada kecurigaan di matanya.

Hanya rasa ingin tahu.

***

Tatapan yang biasanya sekilas kini bertahan sedikit lebih lama. Bisikan yang dulu samar kini diucapkan setengah terbuka, seolah semua orang ingin memastikan ia mendengarnya.

“Katanya dia dipanggil ke Aula Dosen.”

“Karena asal-usulnya.”

“Tidak jelas, ya… pantas saja dekat dengan pangeran.”

Lein berjalan menyusuri lorong Academy dengan buku di pelukannya, menahan diri agar langkahnya tetap stabil.

Ini bukan masalah besar.

Tidak ada hukuman.

Tidak ada tuduhan resmi.

Namun ia kini memiliki label.

Murid pembuat masalah.

Bukan karena sihirnya.

Bukan karena tindakannya.

Hanya karena ia… terlihat berbeda.

Di kelas praktik, instruktur memanggil namanya lebih sering dari biasanya. Bukan untuk memuji, bukan untuk menghukum, hanya untuk memastikan ia ada di tempatnya.

“Kamu baik-baik saja, Lein?” tanya Lysa saat istirahat.

Lein mengangguk. “Aku hanya sedikit lelah saja.”

Grack berucap lebih blak-blakan. “Mereka selalu saja mencari alasan menjatuhkanmu.”

Reyd mengepalkan rahangnya. “Jika ini karena aku... ”

“Ini bukan salahmu,” potong Lein pelan. “Aku hanya terlalu mencolok.”

Raksha menghela napas dalam diam.

Dulu dia mencolok karena kekuatan.

Sekarang karena keberadaannya.

Sore itu, Lein duduk sendirian di ruang baca yang hampir kosong. Ia membuka catatan tentang kutukan jiwa dan transposisi mana: mencari celah, mencari petunjuk.

Namun pikirannya tidak tenang.

Kenapa ia terus diperhatikan?

Ia tidak melanggar aturan.

Ia tidak mencari perhatian.

Ia hanya ingin waktu, cukup untuk menemukan cara mengalahkan penyihir kuno, cukup untuk memahami kutukan yang mengikat jiwanya.

“Aku hanya ingin tenang saja,” gumamnya pelan.

Raksha menjawab dengan kejujuran pahit.

Dunia jarang membiarkan penyihir yang menyimpan rahasia berjalan tanpa sorotan.

Langkah kaki terdengar. Lein menoleh.

Gram berdiri di ujung rak buku, memegang satu volume tebal. Matanya menatap Lein sebentar, lalu kembali ke bukunya.

“Ketika nama seseorang terlalu sering disebut,” kata Gram tanpa menoleh, “itu bukan karena dia berisik.”

Lein menunggu.

“Biasanya karena orang lain tidak nyaman dengan keberadaannya.”

Lein menutup bukunya perlahan. “Aku tidak bermaksud membuat masalah.”

Gram akhirnya menatapnya. “Aku tahu itu”

Nada suaranya tenang.

“Tenang saja,” lanjut Gram. “Perhatian seperti ini akan berlalu. Selama kamu tidak terseret emosi.”

Lein mengangguk. “Aku akan berusaha semampuku.”

Gram melangkah pergi, meninggalkan satu kalimat terakhir.

“Dan Lein, penyihir yang mencari ketenangan biasanya menyimpan badai paling besar.”

Lein duduk terdiam.

Ia tidak ingin badai.

Namun ia tahu... badai itu sudah ada di dalam dirinya sejak lama.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!