Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA SENJA DIATAS MEJA KAYU
Matahari mulai meninggi di atas Jalan Braga, memantulkan cahaya pada bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi bisu percakapan dua jiwa yang sedang tersesat ini. Arunika meremas tali tasnya, suaranya terdengar lebih berani namun sarat dengan kepedihan yang sudah mengendap lama.
"Selain orang yang aku tangisi di makam itu—yang entah orang yang benar atau bukan—aku pernah kenal seorang cowok di aplikasi," ucap Arunika sambil menatap lurus ke depan, ke arah kerumunan orang yang tak ia kenali. "Aku tunggu dia di sini, di titik ini, tiga tahun lalu. Tapi dia nggak datang. Dan yang paling menyakitkan, Arka... saat aku akhirnya menyerah dan pergi, dia bahkan nggak pernah cari aku. Nggak ada satu pun pesan, nggak ada satu pun penjelasan setelah itu. Seolah-olah aku nggak pernah berarti apa-apa buat dia."
Arunika tertawa getir, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isak tangis yang tertahan. "Aku merasa seperti sampah yang dibuang setelah janji-janji manis itu diucapkan. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun cuma untuk bertanya-tanya: apa salahku?"
Arka terdiam seribu bahasa. Setiap kata yang keluar dari mulut Arunika seperti palu yang menghantam dinding ingatannya yang retak. Ada rasa sakit yang menjalar di dadanya, sebuah sesak yang familiar. Ia merasa seperti sedang mendengarkan dakwaan atas dosa yang ia sendiri lupa kapan ia melakukannya.
"Aku tahu bagaimana rasanya," ucap Arka dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan. ia menoleh ke arah Arunika, menatap mata gadis itu yang kini mulai basah. "Menurutmu... apa itu luka?"
Arunika menoleh, menatap Arka dengan tajam. "Maksudmu?"
"Maksudku..." Arka menarik napas dalam, mencoba menenangkan jiwanya yang bergejolak. "Mungkin bagi kamu, luka itu adalah ketika dia nggak datang dan nggak mencari kamu. Tapi bagi dia—siapa pun dia—mungkin lukanya adalah ketika dia mati-matian ingin datang, tapi semesta menghentikannya dengan cara yang paling kasar. Dan luka yang paling dalam adalah saat dia terbangun, dia kehilangan identitasnya, kehilangan memorinya, dan kehilangan haknya untuk mencari kamu karena dia bahkan nggak tahu siapa yang harus dia cari."
Arka menatap tangan Arunika yang bergetar. "Menurutku, luka itu bukan cuma soal ditinggalkan, tapi soal ketidakmampuan untuk menjelaskan kenapa kita harus meninggalkan."
Arunika terpaku. Penjelasan Arka terasa terlalu spesifik untuk sekadar sebuah perumpamaan. Ia teringat tulisan di buku diary-nya, ia teringat sosok "Senja" yang wajahnya ia lupakan namun rasanya ia kenali pada pria di depannya ini.
"Kenapa kamu bicara seolah-olah kamu tahu apa yang dia rasain?" tanya Arunika, suaranya kini bergetar hebat.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk, meratapi ketidakberdayaannya. Ia ingin sekali berteriak bahwa mungkin dialah orangnya, tapi ia takut. Ia takut jika ia memberikan harapan dan ternyata ia salah, ia hanya akan menambah daftar luka di hati Arunika.
"Karena aku adalah orang yang bangun dengan rasa bersalah tanpa nama, Arunika," jawab Arka akhirnya. "Dan melihat kamu sesedih ini... rasanya jauh lebih sakit daripada kecelakaan yang aku alami."
Arka berdiri dari bangku taman, seolah-olah beban yang selama ini menekan pundaknya tiba-tiba mendapatkan tujuan baru. Ia menatap ke arah Jalan Braga yang semakin sibuk, lalu kembali menatap Arunika dengan tatapan yang lebih fokus dari sebelumnya.
"Gimana kalau kita cari janji itu?" ajak Arka dengan nada yang kini lebih mantap. "Janji yang ganggu kita berdua, walaupun mungkin konteksnya beda. Aku dengan rasa bersalahku yang tanpa wajah, dan kamu dengan penantianmu yang belum tuntas."
Arunika menatap uluran tangan Arka. Ada keraguan yang melintas di benaknya, namun rasa penasaran dan tarikan takdir jauh lebih kuat. Ia memikirkan buku diary di dalam tasnya yang tintanya pudar, dan Arka yang berdiri di depannya dengan nama yang berawalan huruf 'A'.
"Cari ke mana?" tanya Arunika lirih.
"Ke mana pun ingatan itu tertinggal," jawab Arka. "Aku punya satu petunjuk. Temanku, Rio, lagi berusaha benerin sim card lamaku yang rusak pas kecelakaan. Katanya butuh waktu sebulan. Tapi sebelum itu... ada satu tempat yang pelayannya bilang aku pernah ke sana buat ngejar seseorang tiga tahun lalu. Sebuah kafe di sudut sana."
Arunika tersentak. Kafe itu. Tempat di mana ia dulu sering menghabiskan waktu dengan sketsanya.
Arka menarik kursi di depan Arunika, duduk dengan perlahan seolah takut gerakan tiba-tiba akan memecahkan suasana yang begitu rapuh ini. Di atas meja kayu tua itu, ukiran S & A seolah menatap mereka balik, menjadi saksi bisu yang paling jujur sekaligus paling misterius.
"Duduklah," pinta Arka lembut.
Arunika duduk, jemarinya secara tidak sadar meraba pinggiran meja. Ia merasakan tekstur kayu yang kasar, namun matanya tertuju pada ukiran kecil di pojok meja itu. Ia tertegun. Ia merasa pernah melihat pola ini, atau mungkin pernah membayangkan pola ini dalam lamunannya yang panjang.
"Kamu lihat ukiran itu?" tanya Arka, suaranya parau. "Pelayan di sini bilang, ukiran itu dibuat oleh seorang pria yang sering duduk di sini menunggu seseorang. Katanya pria itu meninggal karena kecelakaan tiga tahun lalu. Tapi anehnya, Arunika... saat aku duduk di sini kemarin, aku merasa seolah jemariku yang pernah mengukir huruf-huruf itu."
Arunika menunduk, memperhatikan huruf S dan A yang saling bertautan. Di dalam kepalanya, ia mencoba mencocokkan kepingan teka-teki ini.
"Dunia ini penuh dengan kebetulan yang menakutkan, Arka," bisik Arunika. "Aku punya satu nama yang pudar di buku diary-ku yang berawalan huruf A. Dan di sini, ada ukiran A. Tapi siapa S? Kalau namamu Arka, lalu siapa S itu? Apa mungkin S itu adalah 'Senja', cowok yang aku tangisi di makam itu?"
Arka menggeleng pelan, ia tampak frustrasi dengan ingatannya sendiri yang masih tertutup kabut. "Aku nggak tahu, Arunika. Aku benar-benar nggak tahu. Tapi kalau benar pria yang membuat ukiran ini meninggal, lalu kenapa aku merasa memilikinya? Dan kalau S adalah orang yang kamu cari, kenapa hatiku rasanya hancur setiap kali melihat kamu sedih?"
Arka mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Arunika dengan tatapan memohon. "Gimana kalau kita cari tahu bareng-bareng? Kita nggak tahu siapa S dan siapa A yang sebenarnya di meja ini. Bisa jadi itu bukan kita. Tapi rasa sakit yang kita bawa ini terlalu nyata untuk dianggap cuma kebetulan."
Arunika menatap mata Arka. Ia melihat kejujuran di sana, namun juga melihat ketidaktahuan yang sama besarnya dengan apa yang ia rasakan. Mereka berdua seperti dua orang yang memegang potongan puzzle yang berbeda, mencoba menyatukannya namun takut jika gambarnya ternyata bukan apa yang mereka harapkan.
"Janji yang ganggu kita," gumam Arunika mengulang kata-kata Arka tadi. "Mungkin janji itu bukan soal bertemu, Arka. Mungkin janji itu adalah soal mencari tahu kebenaran, seberapa pahit pun itu. Oke, ayo kita cari tahu siapa S dan A ini."
Maka dimulailah perjalanan dua jiwa yang saling asing namun terikat benang merah yang sama. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di kafe itu, bertanya lebih detail kepada pemilik kafe tentang kapan tepatnya ukiran itu dibuat. Namun, pemilik kafe hanya tahu bahwa itu ada sejak sebelum pandemi, tanpa tahu siapa pelakunya.
Suasana di antara mereka berubah menjadi sebuah kerja sama yang emosional. Arka mencoba mengingat kembali setiap detail kecil di rumahnya, sementara Arunika mencoba memulihkan tulisan yang pudar di buku harian dengan bantuan cahaya matahari atau teknik yang ia tahu dari internet.
"Arunika," panggil Arka di tengah keheningan mereka. "Kalau ternyata nanti kita tahu bahwa S dan A itu bukan kita... apa kamu akan tetap duduk di sini bersamaku?"
Arunika terdiam sejenak. Ia melihat Arka sebagai sosok yang memberinya kekuatan baru, meskipun pria ini adalah sumber kebingungannya. "Aku nggak tahu, Arka. Tapi saat ini, kamu adalah satu-satunya orang yang mengerti kenapa aku merasa 'hilang' di tengah keramaian Bandung. Itu sudah cukup buatku."
Mereka belum tahu bahwa S adalah nama panggilan rahasia Arka di dunia maya (Senja), dan A adalah inisial yang ia berikan untuk gadis yang ia puja tanpa nama asli (Arunika). Rahasia itu masih terkunci rapat di dalam sim card yang sedang diperbaiki Rio.
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, menatap langit-langit kafe dengan pandangan kosong. Suasana Braga yang artistik di luar jendela seolah kontras dengan kekacauan yang ada di dalam kepalanya. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat.
"Aku selalu takut lupa saat aku di dalam mimpi, Arunika," ucap Arka dengan nada yang terdengar sangat lelah. "Selama tiga tahun aku koma, aku merasa aku hidup. Aku berjalan, aku berbicara, aku merasakan angin. Tapi setiap kali aku mencoba menyentuh kenyataan, orang-orang di sekitarku bilang itu cuma mimpi. Mereka bilang aku cuma raga yang tertidur."
Arka menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang tampak asing. "Dan benar saja... sekarang aku bangun, dan aku benar-benar lupa. Bahkan tidak ada tanda sedikit pun yang bisa buat aku cari tahu siapa aku sebelum tidur panjang itu. Rasanya seperti aku dilahirkan kembali sebagai orang dewasa yang kehilangan jiwanya."
Arunika terdiam, hatinya terasa seperti tersayat sembilu. Ia bisa merasakan keputusasaan dalam suara Arka. Baginya, Arka bukan sekadar pria asing; pria ini adalah cerminan dari rasa kehilangan yang ia alami, hanya saja dari sudut pandang yang berbeda.
"Kadang, tanda itu nggak ada di depan mata, Arka," ucap Arunika pelan, mencoba memberi penguatan. "Tapi tanda itu ada di sini," ia menunjuk dadanya sendiri. "Mungkin otakmu menghapus memorinya untuk melindungimu, tapi jantungmu nggak bisa bohong. Alasan kenapa kamu merasa sakit saat melihat ukiran ini, atau kenapa kamu merasa bersalah padahal nggak tahu kenapa... itu adalah 'tanda' yang kamu cari."
Arka menoleh ke arah Arunika. Tatapan mata gadis itu begitu teduh, memberikan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sejak terbangun dari rumah sakit.
"Tapi gimana kalau tanda itu nggak cukup?" tanya Arka lagi. "Gimana kalau aku seumur hidup cuma jadi bayang-bayang dari orang yang seharusnya punya janji sama kamu? Aku takut kalau ternyata aku cuma orang asing yang kebetulan punya luka yang mirip."
Arunika tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terasa sedikit lebih tulus. "Kalau kamu orang asing, kenapa kamu repot-repot duduk di sini bersamaku? Kenapa kamu peduli soal rasa bersalahmu? Orang asing sejati bakal pergi dan mulai hidup baru tanpa peduli masa lalu. Tapi kamu nggak. Kamu di sini, mencari jawaban bersamaku."
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini tidak lagi terasa menyesakkan. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing, menatap ukiran S & A itu seolah-olah huruf-huruf itu bisa bicara dan menceritakan apa yang terjadi tiga tahun lalu.
Tiba-tiba, Arka teringat sesuatu. "Arunika, kamu bilang tadi kamu kenal cowok dari aplikasi, kan? Apa kamu ingat apa hobi atau hal unik yang sering dia bahas? Mungkin itu bisa jadi kunci buat kita cocokin sama barang-barang yang ada di rumahku."
Arunika mencoba mengingat, memutar kembali memori tentang percakapan telepon berjam-jam di malam hari. "Dia... dia suka banget sama langit sore. Dia bilang, namanya adalah 'Senja' karena dia merasa senja adalah waktu di mana dunia paling jujur. Dan dia pernah bilang, dia punya sebuah pemantik api tua yang ada grafir huruf 'S' di badannya, padahal dia nggak merokok. Dia bilang itu peninggalan ayahnya."
Mata Arka membelalak. Sesuatu seperti menyengat sarafnya. Ia meraba saku jaketnya—jaket yang ia pakai saat kecelakaan dan baru saja dikembalikan oleh ibunya kemarin. Ia mengeluarkan sebuah benda logam kecil yang kusam.
Itu adalah sebuah pemantik Zippo tua.
Arka meletakkannya di atas meja dengan tangan bergetar. Ia membalik benda itu, dan di sana, terlihat grafir huruf S yang mulai terkikis usia
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍