Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: PANGGUNG TERBUKA
Lampu sorot auditorium di pusat konvensi Surabaya itu terasa jauh lebih menyilaukan daripada matahari sabana yang biasa membakar tengkuk Jonatan. Udara di dalam ruangan ini sangat sejuk, hasil dari mesin pendingin raksasa yang mendesis halus di langit-langit, namun Jonatan merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia berdiri di belakang panggung, merapikan kemeja tenun ikat motif Sotis kebanggaannya—satu-satunya pakaian formal yang ia miliki, yang ditenun langsung oleh jemari kasar ibunya di Oetimu.
Di tangannya, ia memegang sebuah botol plastik tua. Botol itu sudah kusam, penyok di beberapa sisi, dan labelnya sudah lama terkelupas. Botol itu adalah saksi bisu; wadah yang dulu digunakan ayahnya, Pak Berto, untuk menampung sisa-sisa air keruh dari sumur yang mengering. Bagi orang-orang di ruangan ini, botol itu mungkin sampah. Bagi Jonatan, itu adalah alasan mengapa ia berdiri di sini.
"Sepuluh menit, Jon. Hanya sepuluh menit untuk membuat mereka mengerti bahwa Oetimu bukan sekadar titik di peta yang bisa mereka beli dengan angka-angka di atas kertas," bisik Sarah di sampingnya. Sarah tampak anggun dengan batik modern, namun matanya memancarkan ketegasan seorang pejuang hukum. Ia adalah jangkar Jonatan di tengah lautan orang kota yang asing ini.
Nama Jonatan dipanggil oleh moderator. Langkah kakinya yang berat—karena sepatu botnya yang masih menyisakan sedikit tanah merah NTT di sela-selanya—terdengar sangat kontras saat menginjak lantai panggung yang mengkilap dan licin. Di barisan depan, ia melihat Pak Haris dari PT Tirta Abadi duduk dengan kaki bersilang. Pria itu menatap Jonatan dengan senyum meremehkan yang tipis, seolah-olah sedang menonton sebuah pertunjukan sirkus yang lucu.
Jonatan tidak langsung membuka presentasi PowerPoint yang sudah disusun susah payah bersama Pak Johan. Ia tidak bicara soal grafik efisiensi motor listrik atau koefisien iradiasi surya. Ia justru melangkah ke tengah podium dan meletakkannya botol plastik tua itu tepat di bawah lampu sorot utama.
"Bapak dan Ibu yang terhormat," suara Jonatan awalnya sedikit serak, bergetar kecil karena gugup, namun perlahan mengeras dan menggema dengan wibawa yang lahir dari penderitaan. "Tadi malam, ada orang-orang hebat dengan setelan jas mahal yang menawari saya uang yang cukup untuk membeli gedung ini. Mereka ingin membeli 'hak' atas teknologi yang saya bangun. Mereka ingin saya membiarkan mereka memasang meteran air di setiap rumah di desa saya. Mereka menyebutnya 'modernisasi bisnis'. Saya menyebutnya sebagai 'pencurian berkedok teknologi'."
Ruangan yang tadinya riuh dengan bisikan mendadak sunyi senyap. Pak Haris memperbaiki posisi duduknya, wajahnya yang tadi tenang kini menegang.
"Saya berdiri di sini bukan sebagai penemu teknologi hebat. Saya berdiri di sini sebagai anak seorang petani yang pernah menangis karena hanya punya segelas air untuk dibagi berempat," Jonatan melanjutkan, matanya kini menatap lurus ke arah para pejabat dan pengusaha di barisan depan. "Teknologi yang saya bangun di Nekmese bukan untuk dipatenkan dan disimpan di brankas bank agar harganya naik setiap tahun. Teknologi itu milik tanah Oetimu. Milik warga yang telapak tangannya pecah-pecah karena mencangkul tanah kering selama puluhan tahun."
Jonatan menekan tombol remote di tangannya. Layar raksasa di belakangnya menampilkan foto-foto yang tidak biasa untuk sebuah konferensi teknologi. Tidak ada skema kabel yang rumit. Yang muncul adalah foto wajah-wajah keriput warga Nekmese yang sedang mandi dengan tawa lepas di bawah kucuran air, dan foto Matheus yang tertidur di samping panel surya dengan wajah kelelahan namun puas.
"Jika kalian menganggap inovasi adalah sebuah cara baru untuk memeras rakyat kecil dengan biaya langganan bulanan, maka kalian salah panggung," suara Jonatan kini bergetar oleh amarah yang tertahan. "Inovasi yang sebenarnya adalah inovasi yang memerdekakan manusia dari rasa haus, tanpa membuat mereka harus berutang pada korporasi untuk sesuatu yang Tuhan berikan secara gratis melalui sinar matahari."
Di tengah pidatonya, seorang pria dari barisan tengah berdiri. Ia adalah seorang pengamat lingkungan yang Jonatan tahu sering menjadi "corong" bagi kepentingan PT Tirta Abadi.
"Saudara Jonatan," interupsi pria itu dengan nada menggurui. "Bukankah instalasi Anda dianggap mencemari lingkungan menurut laporan berita pagi ini? Dikatakan bahwa pompa Anda mengganggu debit air tanah bagi ekosistem sekitar. Bagaimana Anda mempertanggungjawabkan idealisme Anda jika ternyata alat Anda merusak alam?"
Jonatan tersenyum tipis—senyum yang mengandung kepahitan sekaligus kekuatan. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul sebagai racun yang disebar Tirta Abadi.
"Terima kasih pertanyaannya. Jika mengambil sinar matahari dan mengubahnya menjadi air kehidupan bagi manusia dianggap sebagai pencemaran, maka saya rasa matahari juga harus dilaporkan ke polisi," jawab Jonatan tenang, memancing tawa kecil dari barisan mahasiswa di bagian belakang auditorium. "Laporan yang Anda baca adalah narasi yang sengaja disebar oleh mereka yang takut kehilangan pasar. Mereka takut jika orang desa bisa mandiri, mereka tidak bisa lagi menjual air dalam kemasan plastik dengan harga sepuluh kali lipat dari biaya produksinya."
Tepuk tangan mulai terdengar, awalnya ragu-ragu dari satu sudut, lalu perlahan merambat ke seluruh ruangan seperti api di padang rumput kering. Namun, kejutan sebenarnya datang di akhir sesi.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian safari abu-abu yang sangat formal berdiri di barisan depan. Ia adalah perwakilan senior dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
"Insinyur Jonatan," suara wanita itu berwibawa. "Kami telah mengirim tim verifikasi independen ke Nekmese dua hari lalu tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Anda, untuk menanggapi berita miring tersebut. Dan hasilnya... kami tidak menemukan kerusakan geologi apa pun. Kami justru menemukan sebuah model tata kelola air berbasis komunitas yang paling bersih yang pernah kami lihat. Kementerian akan menetapkan Oetimu sebagai Desa Percontohan Kedaulatan Energi Nasional."
Jonatan terpaku. Ia melihat Pak Haris mendadak bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam. Tanpa menunggu acara selesai, pria korporat itu melangkah keluar dari ruangan dengan terburu-buru, diikuti oleh ajudan-ajudannya.
Konferensi itu berakhir dengan riuh rendah ucapan selamat. Banyak orang ingin menjabat tangan Jonatan, namun ia merasa pusing oleh kilatan lampu kamera dan pujian yang terasa semu. Saat ia akhirnya berhasil menepi ke pinggir panggung, Sarah menghampirinya dengan wajah yang tidak lagi tenang. Ia memegang ponselnya dengan tangan gemetar.
"Jon, kita harus pergi sekarang. Berita dari Oetimu baru saja masuk," Sarah membisikkan kata-kata itu dengan nada mendesak.
"Ada apa, Sar? Bukankah kita baru saja menang?"
"Matheus menelepon. Tuan Markus tidak menunggu hasil konferensi ini. Dia tahu dia kalah di level nasional, jadi dia bergerak di level akar rumput. Dia membawa massa dari desa seberang dan beberapa aparat lokal yang dia bayar. Mereka memasang garis polisi di bengkelmu dengan tuduhan sabotase instalasi umum. Mereka mau membongkar panel suryamu sore ini, Jon."
Jonatan mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Kemenangan di atas panggung mewah ini ternyata hanyalah fatamorgana jika akarnya di tanah Oetimu sedang dicabut paksa.
"Mereka mau main kotor saat aku tidak ada?" geram Jonatan.
"Pak Johan sudah menyiapkan mobil untuk kita ke bandara. Ada penerbangan kargo malam ini ke Kupang. Kita tidak bisa menunggu sampai besok," Sarah menarik lengan Jonatan.
Jonatan menatap botol plastik kusam yang tertinggal di atas meja podium. Ia tidak mengambilnya kembali. Biarlah botol itu tertinggal di sana sebagai pengingat bagi orang-orang kota bahwa ada perjuangan yang sedang berdarah-darah di pelosok negeri, jauh dari lampu sorot dan tepuk tangan.
"Ayo berangkat," ujar Jonatan tegas. "Kalau mereka mau main api di rumahku, aku akan pastikan mereka yang hangus terbakar oleh keberanian warga Oetimu."
Bab 26 ditutup dengan Jonatan yang berlari keluar dari gedung megah itu, menanggalkan segala kemegahan semu untuk kembali ke medan perang yang sebenarnya: tanah merah yang haus dan rakyat yang sedang dikepung oleh ketidakadilan. Di dalam hatinya, ia sudah tidak lagi takut. Jika panggung nasional sudah mengakuinya, maka Tuan Markus bukan lagi raksasa, melainkan hanya kerikil yang harus ia singkirkan dari jalan menuju kemerdekaan air.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian