Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Memiliki sifat sama
Zahra
Take a picture 📷
Makasih mama, kadonya nyambung banget sama kado dari om Nesh.
Kalian janjian ya, ngasih abang---Ryu motor plus peralatan safety ridingnya?
Ada dua anak yang sedang setengah duduk di motor trail masing-masing. Oke, bisa Anye simpulkan jika kado Ganesha yang dimaksud adalah motor trail mini.
Ada senyuman yang melebar dari Anye melihat itu setelah menunda sejenak pekerjaannya.
Bayangan lucu dan betapa senangnya si kembar terbuyarkan oleh kehadiran Desti yang mengetuk pintu ruangannya dan menyembulkan kepala dari celah pintu, "Bu.."
"Ya? Masuk." Pinta Anye menaruh ponselnya kembali di meja setelah sempat membalas pesan Zahra.
"Bu." Ia duduk, menyerahkan beberapa lembar kertas dengan bau tinta print baru. Wajahnya itu loh, keruh-keruh bau...
"Kenapa kamu?" tanya Anye sembari menerima lembaran yang sudah tersampul rapi jilid bening.
"Itu email pengajuan kerjasama pak Yahya----lagi."
Ada helaan nafas yang berat ia keluarkan dari dalam diri. Bagaimana ia bisa lepas dan bergerak maju jika Ganesha selalu berusaha masuk dan terlibat di hidupnya begini?
Oke Anya, profesional! Jika secara keuntungan, bekerja sama dengan Jilo corp memang begitu menguntungkan untuk Imaginary. Selain dari tawaran bayaran yang selalu langsung disetujui, bekerjasama dengan Jilo memberi peluang bisnis lebih luas diantara perusahaan perusahaan besar. Karena mereka berpikir, sekelas Jilo corp saja memakai jasa Imaginary.
"Jadi gimana Bu?"
Anye membuka tiap lembaran yang ia tebak baru di print oleh Desti, "mereka kasih ini jam berapa?"
"Tadi pagi Bu."
Anye mengangguk kesekian kalinya. Ada resah yang tak bisa terjabarkan oleh waktu, ada perasaan campur aduk yang kini membentuk badai. Anye menutup berkas itu, "ya udah tentukan jadwal kita ketemu dengan pihak Jilo, pastikan saya bertemu dengan presdir nya saja. Tak perlu sampai CEO yang turun tangan. Kita profesional aja Des..." Pinta Anye pada Desti, "siap Bu."
Desti sempat meringis, yakin Bu?
Sepeninggal Desti, hanya detakan jam dinding saja suara yang tersisa di dalam ruangan. Namun di dalam hati dan otaknya sudah kembali ribut.
Anye mengambil permen dari toples yang sengaja ia sediakan di mejanya. Entahlah, asam lambungnya itu tak kunjung membaik sehingga ia dilanda rasa mual berkepanjangan.
**Mas Yahya**
*Oke, pak Dewa minta Imaginary datang setelah makan siang*.
Bahkan Desti memastikan itu, dengan memperlihatkan pesan Yahya tadi pada Anyelir.
Setidaknya, meskipun harus memasuki gedung Jilo, ia tak harus berhadapan dengan Ganesha, begitu pikir Anyelir.
Ada langkah santai tapi cepat, ada janji temu yang harus dipenuhi demi perut karyawan dan keberlangsungan nasib Imaginary.
Kekhawatirannya memang tak terbukti, karena jelas siang ini Anye dan Desti bertemu dengan Dewa...bahkan suasana tak bisa lebih hangat dan santai lagi dengan kehadiran om Miki.
"Alah siah asli ini mah, Bu Anye kamu teh sakit? Kanker? Kantong kering?" tembak Miki berseloroh demi melihat Anye dengan proporsi tubuh yang belum juga terlihat berisi.
Anye tersenyum, Desti tertawa, sementara Dewa mencomot bibir tebal asistennya itu, "kalo ngomong tuh di filter! Anye tuh persis Ganesha, workaholic sekarang, nyari sebongkah berlian ya Nye?!" membuat lelaki gemoy itu merengut memegang bibirnya yang dicomot kasar Dewa.
Anye kembali mengembangkan senyumannya, biarlah orang-orang menganggapnya begitu, toh memang benar! Ia sedang getol-getolnya mencari rupiah, mengembangkan bisnis.
"Jadi..." aura Sadewa plus Miki memang selalu membawa hangat, sehangat mentari. Perjanjian pun tak dibarengi oleh hawa mendung, tegang dan perdebatan panas, baik pihak Jilo atau Imaginary semudah itu mengucapkan kata deal.
"Sorry duluan, ya.." lirih Dewa.
Desti membereskan berkas bersiap untuk keluar, setelah sebelumnya Dewa pamit duluan sambil menerima telfon.
Miki sudah berjalan duluan keluar ruangan rapat, menanti Anye dan Desti yang baru saja beranjak, "Hayuk atuh ladies buruan keluar, mau mondok disini apa gimana?" kelakarnya membuat Desti menyeruuu, "Yee jangan lah om!"
Ketiganya berjalan bersama dengan posisi Miki telah disusul Desti dan berjalan bersampingan, sementara Anye berada di belakang mereka membenarkan blazer hitamnya berkali-kali dimana kancing sempat keluar dari lubangnya.
Hingga...
Dugh!
Badannya sempat goyah refleks karena bahunya tertabrak seseorang dari arah berlawanan ketika akan memasuki lift, "duh." Ia mengaduh dan mendongak demi melihat manusia mana yang bertabrakan dengannya. Namun aroma ini----
Tanpa berkata maaf apalagi peduli, ia justru melenggang saja berjalan melewatinya jauh, justru orang di belakangnya yang menyapa dan bertanya kondisi, "eh, sorry Nye. Ngga apa-apa?"
"Ngga apa-apa mas," geleng Anye mendelik sinis, mendadak emosinya meluap-luap melihat utusan Dajjal mana yang baru saja menabraknya kasar itu.
"Heh, CEO breng sek!" kata-kata itu lirih ia ucapkan di luar kendali siapapun.
Tanpa aba-aba, Anye melepas sepatu hak tingginya itu dan melempar pada lelaki yang mendadak mengerem langkahnya tadi.
Pluk!
Yahya membuka mulutnya melongo tak percaya jika sikap Anye sampai sesarkas itu. Bukan Yahya saja, Desti dan Miki sampai berbalik begitupun beberapa penghuni kubikel di lantai itu melongokan kepala dari balik meja kerjanya itu.
Wajah Ganesha keruh menatap Anye, lalu beralih ke arah sepatu hak Anye yang jatuh tepat di kakinya.
Tanpa membalas ucapan Anye, ia meraih sebelah sepatu berwarna cream itu lalu melanjutkan lagi langkahnya.
Praktis saja mata Anye membola, *mo nyettt*!
"Sepatu gueee!" tentu saja Anye mengejar Ganesha, awalnya ia melangkah cepat terpincang-pincang, tapi kemudian ia melepas sebelahnya lagi hingga bisa lebih cepat menyusul langkah Ganesha di depan sana.
"Ibu..." Desti praktis ikut berbalik lagi meninggalkan Miki yang justru sudah tergelak, begitupun Yahya, menggeleng menthesah pasrah melihat kelakuan sepasang toddler 30 tahunan ini.
*Mbok ya kalo mau main adegan Drakor jangan di kantor Indonesia juga, pengen di bully netizen*?
"Ganesha! Patung Gajah!" susul Anye tak dipedulikan lelaki di depannya.
Diikuti kedua asistennya yang sudah seperti nanny bagi kedua toddler ini, yang gebrakan dan projectnya itu nyusahin manusia 7 generasi.
Semakin dibuat kesal, dari jarak yang semakin dekat, Anye sengaja melempar satu lagi sepatunya biar genap ke arah punggung Ganesha.
Pluk!
Kini tubuh tegap itu bereaksi cukup terkejut sakit. Anye dengan nafas yang sudah memburu, kini puas. Berniat menghampiri lelaki itu, "dari kecil ngga pernah belajar minta maaf ya? Apalagi sama perempuan. Pantes! Ngga ada yang betah..." Dengus Anye marah, ia benar-benar sudah mendongak menatap wajah datar Ganesha.
Seorang office boy yang terjebak diantara pertengkaran sengit itu setengah berlari menghindari saat baru saja keluar dari ruang janitor, buru-buru sampai tak sempat menguncinya kembali.
Tangan Anye terulur berusaha mengambil sepatunya yang ada di tangan Ganesha dan sebelah lagi tergeletak di bawah kaki Ganesha.
Ia terlihat kesal, geram, dan----
Grep!
Ganesha justru menariknya masuk ke dalam ruang janitor yang kebetulan ada di samping mereka.
"Heyyy!" jerit Anye.
"Bu! Ibuuu!" Desti yang menjerit-jerit panik. Sementara Yahya hanya menghela nafas, dengan bahu yang sudah merosot, elahh ampun...
"Pak, ngga ada ruang lain gitu buat ngomong? Astagaaa ..."
Begini rasanya menghadapi pasangan dengan sifat yang sama, sama-sama buruknya! Sama-sama memiliki ego tinggi, gengsi tinggi, sama-sama tak pernah mau bicara to the point, inginnya dimengerti tapi tak mau mengerti, saling membalas, tak ada yang mau mengalah dan merasa paling mampu.
.
.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak