Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor Dibalik Cangkir Anggur
Hutan di perbatasan benua Tianlong sunyi, tapi bukan sunyi yang damai.
Itu sunyi yang penuh pengawasan.
Yi Sheng berjalan di antara pepohonan tinggi dengan langkah santai, seolah-olah dia sedang menikmati perjalanan biasa. Daun-daun kering tidak berbunyi di bawah kakinya. Bahkan angin tampak menghindarinya.
Dia bisa tiba lebih cepat jika mau.
Tapi Yi Sheng sengaja memperlambat langkahnya. Dia ingin merasakan dunia yang sedang dia tuju. Aura aneh yang muncul dari benua Tianlong masih terngiang di benaknya seperti gema yang tidak mau hilang.
Lalu, suara ranting patah memecah keheningan.
Dari balik pepohonan, sekitar dua puluh pria muncul membentuk setengah lingkaran. Mereka berpakaian kasar, senjata mereka tidak seragam—pedang tumpul, kapak berkarat, tombak pendek.
Bandit.
Pemimpin mereka, pria besar dengan bekas luka di pipi, menyeringai lebar.
“Berhenti di situ,” katanya. “Serahkan semua uangmu kalau tidak mau mati.”
Yi Sheng berhenti. Tatapannya menyapu mereka tanpa emosi.
“Uang?” ulangnya pelan. “Aku tidak membawa sesuatu yang kalian bisa gunakan.”
Tawa kasar meledak dari kelompok itu.
“Jangan bercanda,” kata si pemimpin. “Semua orang membawa sesuatu. Kalau bukan uang, ya nyawa.”
Yi Sheng menghela napas kecil.
“Kalian menghalangi jalanku,” katanya datar. “Itu sudah cukup menjadi alasan untuk pergi.”
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat beberapa bandit tanpa sadar merinding.
Pemimpin mereka mendengus. “Banyak bicara!”
Dia memberi isyarat. Dua bandit maju lebih dulu.
Saat itulah kesabaran Yi Sheng habis.
Dia mengangkat satu tangan.
Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada ledakan besar.
Hanya satu gerakan sederhana—seperti menghapus debu dari udara.
Ruang di depan tangannya bergetar halus.
Tubuh dua bandit yang menyerang berhenti di tengah langkah… lalu terbelah menjadi partikel halus yang larut seperti asap. Tidak ada darah. Tidak ada teriakan.
Hanya ketiadaan.
Senyum di wajah pemimpin bandit membeku.
Yi Sheng menurunkan tangannya dengan ekspresi dingin.
“Pergi,” katanya pelan. “Atau ikut mereka.”
Tidak ada yang bergerak.
Ketakutan sudah membekukan kaki mereka.
Yi Sheng menutup matanya sejenak, lalu mengayunkan tangannya sekali lagi.
Dunia terasa berkedip.
Ketika hutan kembali fokus, dua puluh bandit itu telah lenyap. Tanah tempat mereka berdiri kosong, seolah-olah mereka tidak pernah ada.
Yi Sheng melanjutkan langkah tanpa menoleh.
Bagi dirinya, itu hanyalah gangguan kecil.
Menjelang malam, dia tiba di sebuah penginapan di tepi jalan. Bangunannya sederhana, tapi ramai. Cahaya lampu minyak menghangatkan suasana, suara tawa dan percakapan memenuhi ruangan.
Yi Sheng masuk dengan tenang.
Beberapa orang meliriknya sekilas, lalu kembali ke urusan masing-masing. Dia memilih meja di sudut dan memberi isyarat pada pelayan.
“Makanan hangat. Dan anggur,” katanya singkat.
Pelayan itu mengangguk cepat dan pergi.
Yi Sheng bersandar, membiarkan indranya menyebar tanpa terlihat. Suara-suara di penginapan mulai terpisah jelas di telinganya.
“…katanya satu sekte hilang begitu saja!”
“Itu bukan katanya. Aku lihat sendiri tanahnya rata seperti cermin!”
“Semua gara-gara Penunggu Lembah itu…”
Nama itu membuat perhatian Yi Sheng mengerucut.
Dia menoleh sedikit, cukup untuk mendengar lebih jelas tanpa terlihat mencolok.
Sekelompok pedagang sedang berbincang dengan suara bersemangat.
“Orang itu marah karena muridnya diculik,” kata salah satu dari mereka. “Katanya dia menghancurkan satu sekte dengan satu telapak tangan!”
“Lebih dari itu,” sahut yang lain. “Leluhur kuno mereka dibunuh sekejap. Bahkan tidak sempat melawan!”
Yi Sheng mengetuk meja pelan.
Murid.
Lembah.
Telapak tangan yang menghancurkan sekte.
Potongan-potongan cerita itu menyatu dengan aura yang dia rasakan sebelumnya.
Pelayan datang membawa makanan dan kendi anggur. Yi Sheng menuang minuman ke cangkirnya tanpa memutus perhatian dari percakapan di ruangan.
Dia akhirnya berbicara, suaranya tenang tapi cukup jelas.
“Penunggu Lembah itu,” katanya pada meja pedagang di dekatnya. “Di mana lembahnya?”
Para pedagang saling pandang, ragu.
Salah satu dari mereka menjawab pelan, “Tidak ada yang tahu pasti. Semua yang mendekat terlalu takut untuk masuk jauh.”
“Yang jelas,” tambah yang lain, “itu zona hitam sekarang. Bahkan sekte besar menjaga jarak.”
Yi Sheng mengangguk perlahan.
Rasa penasarannya berubah menjadi ketertarikan yang tajam.
Seseorang yang bisa membuat seluruh benua takut… dan masih hidup tersembunyi di sebuah lembah.
Dia menyesap anggurnya, matanya sedikit menyipit.
“Aku harus bertemu dia,” gumamnya.
Tidak ada yang mendengar kalimat itu.
Tapi di luar penginapan, angin tiba-tiba berubah arah.
Jauh di belakang Yi Sheng, tiga sosok bergerak melintasi dunia dengan kecepatan yang tidak kalah mengerikan.
Wanita berjubah gelap itu kini dikenal sebagai Mo Cil. Matanya berkilat saat dia merasakan jejak energi Yi Sheng yang tertinggal di udara.
“Dia menuju Tianlong,” katanya pelan. “Bagus.”
Di langit utara, Han Zir melesat seperti garis cahaya. Pedang di punggungnya bergetar halus, merespons tekanan yang sama.
Sementara di selatan, Zhao Ming berjalan di atas gelombang udara, ekspresinya datar tapi fokus.
Mereka bertiga tidak bekerja sama.
Mereka tidak saling percaya.
Namun tujuan mereka sama: sumber aura yang mengguncang dunia.
Dan tanpa mereka sadari, mereka juga sedang mengikuti jejak Yi Sheng.
Di penginapan kecil itu, Yi Sheng menghabiskan makanannya dengan tenang. Suara rumor terus mengalir di sekitarnya—cerita yang dibesar-besarkan, ketakutan yang dibungkus legenda.
Setiap kata membuat gambaran tentang Ci Lung semakin kabur… dan semakin menarik.
Yi Sheng berdiri, meninggalkan beberapa koin di meja.
Saat dia melangkah keluar ke malam, langit di atas benua Tianlong terasa berat oleh takdir yang sedang bergerak.
Empat eksistensi tingkat puncak sedang mendekat dari arah berbeda.
Dan di pusat semua itu, sebuah lembah sunyi menunggu—tanpa tahu bahwa badai sedang berjalan ke arahnya.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠