Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikrar di Depan Dunia
Mansion keluarga Theodore telah disulap menjadi sebuah istana kristal yang memukau di tengah musim semi Helsinki. Karpet merah membentang dari gerbang hingga ke aula utama, dihiasi dengan ribuan bunga lili putih dan mawar pucat yang aromanya memenuhi udara. Ini bukan sekadar pesta pertunangan, ini adalah proklamasi resmi bersatunya dua dinasti besar.
Di dalam kamar riasnya, Kaylee menatap cermin. Ia mengenakan gaun satin berwarna champagne yang memeluk tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan bahunya yang indah.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Mommy sambil memasangkan kalung berlian warisan keluarga Lumiere ke lehernya.
"Sudah siap menjadi milik Atlas sepenuhnya?"
Kaylee mengangguk, hatinya berdegup kencang. Kali ini, tidak ada lagi rasa ragu.
Di pintu aula, Atlas berdiri menunggu. Ia tampak luar biasa tampan dengan setelan tuksedo hitam yang dibuat khusus oleh penjahit terbaik di Italia. Rambutnya yang biasa berantakan kini tersisir rapi, memberikan kesan dewasa dan berwibawa.
Namun, ketenangan itu goyah saat melihat Kaylee berjalan menuruni tangga. Atlas terpaku. Matanya tidak beralih sedikit pun, menatap Kaylee seolah-olah dunia di sekitarnya baru saja lenyap. Ia melangkah maju, menyambut tangan Kaylee dan mengecup punggung tangannya dengan sangat lama.
"Lo mau bikin gue mati serangan jantung karena kecantikan lo, Ay?" bisik Atlas tepat di telinga Kaylee, membuat bulu kuduknya meremang.
Di antara kerumunan tamu kelas atas, tampak dua sosok yang menonjol. Angel berdiri di sudut ruangan dengan gaun merah menyala, namun wajahnya pucat pasi. Ia melihat bagaimana Atlas menatap Kaylee, sebuah tatapan pemujaan yang tidak akan pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Semua rencananya untuk memisahkan mereka hancur berkeping-keping saat melihat cincin zamrud besar yang kini melingkar di jari manis Kaylee.
Tak jauh dari sana, Aadzey juga hadir. Ia memegang segelas sampanye, menatap panggung dengan senyum pahit namun tulus. Ia menyadari satu hal, ia tidak pernah punya kesempatan sejak awal. Cinta antara Atlas dan Kaylee bukan sekadar perasaan, itu adalah sejarah yang tidak bisa diinterupsi oleh orang baru.
Di atas panggung kecil yang dihiasi bunga, Ayah Atlas dan Mommy berdiri berdampingan.
"Malam ini, kami tidak hanya merayakan cinta dua anak manusia," ujar Ayah Atlas dengan suara berwibawa. "Tapi kami merayakan takdir yang sudah tertulis bahkan sebelum mereka memahami apa itu cinta."
Atlas mengambil mikrofon. Ia menatap para tamu, lalu beralih sepenuhnya pada Kaylee. Ia menggenggam kedua tangan Kaylee di depan semua orang.
"Selama dua puluh tahun, gue bersembunyi di balik kata sahabat. Gue terlalu bodoh untuk mengakui kalau dunia gue cuma berputar di sekitar lo," ucap Atlas, suaranya menggema di seluruh aula.
"Hari ini, di depan keluarga dan semua saksi, gue berjanji... lo bukan lagi tanggung jawab gue, bukan lagi sekadar tunangan gue. Lo adalah hidup gue. Dan gue nggak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, mengambil lo dari sisi gue."
Atlas menarik Kaylee mendekat dan menciumnya di depan semua tamu. Tepuk tangan riuh pecah, namun bagi mereka, dunia terasa sunyi. Hanya ada detak jantung yang saling bersahutan.
Musik waltz mulai mengalun. Atlas menuntun Kaylee ke tengah lantai dansa. Tangannya yang posesif melingkar erat di pinggang Kaylee, seolah ingin menunjukkan pada setiap pasang mata di ruangan itu, termasuk Angel dan Aadzey, bahwa wanita ini sudah tersegel miliknya.
"Jangan liat orang lain, Ay," bisik Atlas sambil memutar tubuh Kaylee dalam dansa yang sempurna. "Malam ini, dan selamanya, mata lo cuma boleh buat gue."
Kaylee tertawa pelan, menyandarkan kepalanya di dada Atlas. "Gue nggak pernah liat orang lain, Mr. Jelek. Cuma lo yang terlalu buta buat nyadar."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍