NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Begitulah.

Akhirnya mereka merampungkan tahap pembangkitan energi. Api telah menyala. Tanah telah mengeras. Air telah mengalir.

Namun Ki Baraya tahu… itu baru awal.

“Tahap berikutnya adalah pembuktian,” ucapnya tenang dalam perjalanan pulang. “Kalian akan kulatih menyalurkan energi itu. Bukan sekadar membangkitkannya.”

Ketiganya mendengarkan dengan saksama.

“Dan setelah itu… tahap akhir. Pembinaan jurus-jurus Perguruan Lintang Jagat. Ilmu yang dahulu kupelajari dari guruku… Kiyai Jagat Wisesa.”

Nama itu diucapkannya dengan hormat.

“Beliau telah wafat. Tapi ajarannya masih hidup dalam setiap gerakanku.”

Braja, Jatibumi, dan Laras Tirtaresmi saling pandang. Mereka tahu, jalan mereka masih panjang.

Setelah memberikan beberapa petuah tambahan, mereka pun melangkah pulang. Namun di tengah perjalanan, tampak sosok Nyi Lestari tergesa menyusuri jalan setapak menuju tempat latihan.

“Oh, Kakang,” ucapnya saat berpapasan. “Ada tamu. Ki Lurah Damanik sudah berada di rumah.”

“Ki Lurah? Sepagi ini? Ada apa rupanya?” tanya Ki Baraya.

“Sepertinya hendak meminta bantuan. Di desa kita telah terjadi gangguan. Kabarnya berhubungan dengan hal mistis.”

Ki Baraya mengangguk pelan.

“Hmmm… baiklah. Aku akan menemuinya.”

Lalu ia menoleh pada Braja.

“Oh ya, Braja. Untuk sementara kau tak boleh terlihat oleh orang lain. Ini demi keselamatanmu juga. Musuh ayah kandungmu mungkin masih mengintai. Bila kau hendak menemui ratumu… aku mengizinkan.”

“Oh baik, Ayah. Aku memang ingin menemuinya. Ada yang ingin kusampaikan,” jawab Braja.

“Aku ikut, Kang! Aku juga mau berkenalan dengan ratu!” pinta Laras penuh semangat.

Jatibumi langsung menyeringai.

“Lihat putrimu ini, Yah. Makin gila saja perangainya. Kau kira ratu manis yang akan kau temui?”

Laras menyikutnya.

Ki Baraya menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Laras terlalu berbahaya untuk dibawa sembarang. Nanti saja, suatu hari, bersama Ayah. Itu pun bila sang ratu berkenan.”

Ia kembali memandang Braja.

“Nanti bila kau bertemu padanya, sampaikan bahwa suatu saat kami ingin bertemu.”

“Baik, Ayah. Akan kusampaikan. Maaf, Laras. Benar kata Ayah. Ratu tak bisa ditemui sembarang orang. Aku akan meminta izinnya lebih dulu,” ucap Braja.

“Huh! Aku penasaran dengan ratu kelabangmu itu,” gerutu Laras. “Tapi baiklah. Lain kali saja. Bersama Ayah. Dan tentu saja Kakang Jatibumi.”

“Heehh? Mending aku mancing di sungai daripada cari mati di sarang kelabang. Hiii…” sahut Jatibumi sambil bergidik.

Tawa kecil pun pecah di antara mereka.

Tak lama kemudian, Braja Geni berpisah, melangkah menuju arah yang berbeda.

Sementara itu, Ki Baraya bersama Nyi Lestari dan dua muridnya yang lain berjalan menuju rumah.

Di sana, Ki Lurah Damanik telah menunggu.

Ternyata benar. Ki Lurah Damanik berdiri menyambut dengan senyum tipis ketika Ki Baraya memasuki pendapa.

“Oh, Ki Damanik. Selamat pagi. Apa kabar, Ki?” sapa Ki Baraya sembari merapatkan kedua tangannya.

“Baik, Ki Baraya… namun desa kita sedang dirundung masalah,” balas Ki Lurah dengan nada berat.

“Ya, aku telah mendengar dari istriku. Katanya ada kejadian mistis. Ceritakanlah, Ki. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ki Baraya sambil duduk berhadapan.

Ki Lurah menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.

“Warga tahu engkau sering dimintai tolong dalam perkara gaib—pengusir dedemit dan sejenisnya. Maka kedatanganku kemari memang untuk memohon bantuanmu.”

Ia berhenti sejenak, wajahnya tampak letih.

“Beberapa hari terakhir, banyak warga kehilangan harta benda. Uang, perhiasan, bahkan hasil panen yang disimpan. Anehnya… meski keamanan sudah kami perketat, pencurian tetap terjadi.”

“Para pengawal kademangan dan warga sudah meronda tiap malam,” lanjutnya. “Namun tetap saja kami kecolongan. Kami mulai berpikir ini bukan ulah pencuri biasa.”

“Kami menduga… ini perbuatan tuyul.”

Suasana mendadak hening.

“Aku datang sebagai wakil warga. Bagaimana, Ki Baraya? Sudikah engkau membantu? Ini bukan perkara kecil. Bahkan rumahku pun terkena, padahal sudah kupasang pagar gaib.”

Ki Baraya tertegun.

Ulah tuyul biasanya berskala kecil, menyasar satu-dua rumah saja. Tidak pernah sampai membuat satu desa resah seperti ini.

“Maaf, Ki Lurah,” ucapnya pelan. “Sebelumnya aku ingin bertanya. Apakah ada warga yang melihat babi berkeliaran di tengah malam?”

Ki Lurah mengangguk cepat.

“Benar. Beberapa warga melaporkan melihat babi liar mondar-mandir saat malam tiba. Ketika dikejar, hewan itu tiba-tiba menghilang. Ada pula yang bersumpah melihat sosok kecil seperti anak-anak—tuyul.”

Ki Baraya menyipitkan mata.

“Hmm… babi jelmaan dan tuyul dalam waktu bersamaan. Ini bukan perkara sederhana.”

Ia bangkit perlahan.

“Baiklah, Ki Lurah. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu. Kita akan selidiki bersama. Jika ini benar permainan makhluk halus… maka ada dalang di baliknya.”

Ki Lurah menghela napas lega.

“Terima kasih, Ki Baraya. Warga akan sangat bersyukur atas bantuanmu.”

Ki Baraya mengangguk pelan, namun dalam hatinya muncul firasat yang tak enak.

Tuyul memang bisa mencuri.

Namun babi jelmaan… sering kali pertanda ilmu hitam tingkat tinggi.

Dan bila benar demikian…

Maka malam nanti bukan sekadar perburuan makhluk kecil.

Melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!