"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu
...Kamu tidak bisa kembali dan mengubah hal-hal yang ada, tetapi kamu bisa belajar dari hal itu dan mengambil tindakannya sekarang. ...
...---...
Januari 2024 — Bandar Lampung.
-
"Masuk, Mei." perintah Ayara. "Lo mau sampai kapan berdiri di pintu begitu?"
Meira menatap Ayara sebentar lalu melangkah masuk ke rumah peninggalan Kakek dan Neneknya Ayara, sebelum gadis itu memerintahkannya dua kali.
Sekarang ini mereka sudah berada di kota Bandar Lampung. Seperti yang sudah direncanakannya bulan lalu, Meira akan kembali ke kota ini untuk mencari sebuah informasi. Begitu juga dengan Ayara, ia memaksa ikut dengan alasan ingin menjaga Meira selama di sini.
Ayara juga yang memberikan usul untuk tinggal di rumah peninggalan Kakek Neneknya yang memang sudah lama tidak ditinggali dan masih layak pakai. Masalah sekolah, Ayah Ayara sudah mengaturnya sejak dua hari yang lalu. Sebenarnya Meira tidak ingin merepotkan siapapun, tetapi Ayara terus memaksanya. Terlebih, sedari dulu hidupnya sudah banyak sekali merepotkan oranglain.
Meira mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Rumah ini tampak seperti rumah tradisional zaman dahulu, banyak lukisan dan barang antik yang terpajang. Kedua mata Meira berhenti ketika menatap satu buah figura besar berisi foto keluarga. Disana ada sepasang suami istri paruh baya, Om Jay —Ayah Ayara, dan satu lagi pria yang tidak jelas. Meira tampak mengerutkan keningnya, sepertinya ia tidak asing dengan pria itu.
"Kamu gak pernah cerita sama aku kalau Papamu punya saudara, Ra?"
Aktivitas Ayara yang sedang memindahkan koper terhenti, ia berbalik menatap Meira kemudian melirik ke arah figura besar yang terpajang di dinding dekat lemari.
"Oh, itu, Saudara Papa udah meninggal dari lama." jawabnya.
"Meninggal?"
Ayara mengangguk. "Heem." gadis itu berjalan ke arah figura itu lalu mengambilnya. "Kalau ngerasa gak nyaman sama foto ini, biar nanti gue pindahin ke gudang deh, ya." tuturnya.
"Tunggu, Ra." cegah Meira. Ia melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat pada Ayara, penasaran dengan pria yang ada dalam foto itu.
"Kok mukanya buram gini, kayak habis terbakar." kata Meira, matanya tak lepas dari foto.
Ayara segera menepis pelan tangan Meira saat cewek itu ingin menyentuh bagian foto yang menghitam. "Lo ngomong apa sih, ini kayaknya gara-gara debu. Lagian foto ini udah lama banget, jadinya kayak gini." ujarnya.
Meira menatap Ayara curiga. Gelagat Ayara seperti sedang menutupi sesuatu yang tidak boleh diketahui siapapun, termasuk dirinya.
"Mungkin kali, ya." gumam Meira. Kerutan di keningnya mulai hilang, mungkin Ayara memang sedang menutupi sesuatu. Ia tidak mau terlalu kepo dengan masalah pribadi sahabatnya itu.
"Ya udah, kita istirahat yuk, capek." ajak Ayara.
Meira mengikuti langkah Ayara yang terus berjalan semakin ke dalam. Ia kemudian ikut berhenti ketika Ayara terdiam di depan pintu sebuah kamar. Sebelah tangan cewek itu menggenggam daun pintu itu cukup lama, seolah ragu untuk membukanya.
Baru saja Meira membuka mulutnya untuk bersuara, Ayara sudah membuka lebar pintu kamar itu. Nuansa abu-abu langsung menyambutnya, membuat Meira dapat menebak dengan mudah bahwa ini adalah kamar laki-laki.
Ayara masuk ke kamar itu sambil menarik dua koper miliknya. "Kita tidur di kamar ini, ya. Gue gak berani kalau harus tidur masing-masing." katanya sambil meletakkan koper di samping lemari kayu jati berukuran sedang.
"Koper lo simpen aja dulu disini. Bantuin gue cari sapu sama lap pel buat bersih-bersih, Pak Hari yang biasa bersih-bersih lama datengnya. Gak nyaman kalau istirahat sama keadaan rumah kotor begini." Ayara bergegas keluar dari kamar itu dan masuk ke ruangan lain.
Meira melangkah ragu memasuki kamar itu. Ia mendaratkan kopernya di dekat koper milik Ayara. Meira tidak langsung mengikuti perintah Ayara untuk membersihkan rumah. Ia malah mengitari kamar itu sambil melihat-lihat setiap benda yang ada disana. Jari Meira menyentuh miniatur kapal yang berdebu.
Sudah jelas ini adalah kamar laki-laki, terlihat dari benda-benda yang ada. Apa ini kamar Papanya Ayara dulu? Atau kamar pria satunya? Meira jadi penasaran sendiri. Ia kemudian mengangkat salah satu miniatur paling besar yang terpajang di sana, sebuah bangunan gedung tinggi, mengusap debu yang menempel. Meira mengamati sekelilingnya, sepertinya gedung itu terlihat tidak asing bagi Meira. Hingga matanya tak sengaja menemukan sebuah tulisan kecil di sudut ujung miniatur itu.
"Tya?" alisnya berkerut. Siapa Tya?
"Tya.." Meira terus mengulang kata itu. Belum ada satu menit ia mengamati, dengan gerakan cepat seseorang sudah mengambil alih miniatur itu dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Gue kan udah bilang, abis simpen koper langsung bantuin gue bersih-bersih. Ini malah enak-enakan nyantai."
Meira sedikit terkejut tapi ia berusaha untuk menutupinya. Ia menganggukkan kepala lalu berbalik dengan cepat.
"Sorry, jangan marah-marah gitu dong. Nanti cantiknya hilang." ucapnya seraya tersenyum lebar, menampilkan kedua lesung pipinya. "Yuk." ia segera mendorong bahu Ayara untuk keluar kamar. Sebelum cewek itu semakin kesal kepadanya.
...\~\~\~...
Tiga hari berlalu begitu cepat. Setelah selesai mengurusi surat pindahan, Meira dan Ayara akhirnya bisa langsung memasuki hari pertama sekolah mereka di kota Bandar Lampung. Murid lainnya mungkin sudah memasuki semester kedua belajar di kelas XI.
Suasana khas Sekolah Menengah Atas langsung terasa ketika mereka mulai melewati gerbang. Meira mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru sekolah. SMA Trisakti. Meira sengaja memilih sekolah itu karena dorongan dari orang misterius yang mengiriminya pesan. Sekolah itu sangat luas, diisi dengan tiga gedung besar yang mengelilingi lapangan. Satu gedung berlantai 4, serta dua gedung lainnya yang hanya berlantai 2.
Meira mengamati bangunan sekolah di hadapannya dengan seksama. SMA Trisakti bukan sekadar sekolah biasa, institusi ini merupakan sekolah terbesar di Bandar Lampung yang bernaung di bawah sebuah yayasan pendidikan besar dengan reputasi mentereng.
Kompleks pendidikan ini terasa begitu masif dan terintegrasi. Tepat di sebelah kiri gedung SMA, berdiri megah gedung SMP Trisakti yang hanya dipisahkan oleh sebuah gerbang pembatas kecil dan area parkir yang luas. Kesan eksklusif terpancar dari fasilitasnya yang lengkap, mulai dari laboratorium berstandar tinggi hingga area olahraga yang tampak modern. Keberadaan yayasan besar di balik nama 'Trisakti' ini seolah menjamin bahwa siapapun yang bersekolah di sini bukanlah orang sembarangan.
"Gede banget ya, Ra?" gumam Meira, nyaris berbisik.
Ayara hanya berdehem singkat, matanya menyapu kerumunan siswa yang mulai berkumpul di lapangan. Kegaduhan para siswa-siswi di lapangan menjadi kebiasaan saat akan diadakan upacara setiap hari senin. Mereka berjalan beriringan membelah koridor, mengekori seorang wanita yang sedari tadi mengarahkan sejak dari gerbang.
"Namanya juga yayasan besar. Hampir semua anak pejabat atau pengusaha di kota ini sekolahnya kalau nggak di SMA-nya, ya di SMP-nya."
Meira terdiam, teringat kembali pesan misterius yang membawanya ke tempat ini. Mengapa ia harus ke sini? Apa hubungan SMA Trisakti dengan informasi yang selama ini ia cari?
"Kalian tunggu saja disini, tidak perlu ikut upacara. Selesai upacara nanti Ibu jemput lagi buat ke kelas ya." mereka mengangguk saat seorang wanita memberi intruksi. Wanita itu menyuruh untuk menunggu di sebuah ruangan berukuran sedang miliknya. Meira dan Ayara masuk setelah mengucapkan terimakasih pada wanita itu.
Meira membuka suara ketika Ayara baru saja berhasil mendaratkan bokongnya pada sofa. "Kamu yakin dia sekolah disini?"
Kepala cewek itu menoleh lalu mengangguk. "Yakin seratus persen."
"Kalau keliru gimana?" Meira kembali bertanya.
"Keliru apanya? Lo ngeraguin jiwa stalker gue?" Ayara berkacak pinggang.
"Bukannya kamu pernah bilang dia udah punya tunangan, ya." Meira ikut duduk di samping Ayara.
"Kayaknya sih gitu."
"Terus kenapa masih kamu kejar?"
"Masih tunangan, belum jadi istri sah kan?" Ayara melirik Meira, bibirnya yang terangkat sebelah membuat Meira melebarkan matanya.
"Kamu gila! Aku gak mau ya punya sahabat pelakor." tutur Meira gamblang.
Ayara melotot mendengar ucapan Meira yang santai tapi sedikit keterlaluan. "Heh! Siapa juga yang bilang gue mau jadi pelakor?" sahutnya cepat.
"Aku, barusan."
"Sialan, lo!"
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰