"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATI KUTU
"Sedang apa kamu di sini Kak? Bukankah harusnya kamu menjaga di desa ?" tanya Leo, berusaha duduk tegak meski punggungnya memprotes.
"Ayah mengirimkan pesan, dia bilang kamu hampir kehilangan nyawamu, aku tidak bisa duduk diam di Alistair sementara kembaranku sedang bertaruh nyawa demi seorang putri vampir," jawab Lucian, duduk di kursi yang tadi diduduki Aurora.
"Lagi pula, Liam dan Noah terus-menerus menangis menanyakan mu, dan Zara bahkan tidak mau makan kalau aku tidak membawakan kabar tentangmu," lanjut Lucian.
"Katakan pada mereka aku baik-baik saja, hanya sedikit, kelelahan," ucap Leo menghela napas, hatinya tersentuh.
"Kelelahan?" ulang Lucian tertawa kecil, nada mengejek mulai muncul.
"Ayah bilang dia harus menggendong mu sepanjang lorong istana karena kamu tidak bisa berdiri, berita itu sudah sampai ke telinga pengawal Alistair di perbatasan, tahu?" lanjut Lucian, tersenyum miring.
"Demi langit! Ayah benar-benar tidak bisa menjaga rahasia!" ucap Leo, wajahnya kembali merah padam.
"Sudahlah, itu tidak penting," ucap Lucian menepuk kaki Leo pelan.
"Yang penting kamu masih bernapas. Jadi, bagaimana rasanya? Menembus dimensi demi seorang gadis? Apakah itu romantis?" tanya Lucian, menaikan sebelah alisnya.
"Romantis kepalamu! Itu menyakitkan, Kak. Rasanya seperti tubuhmu ditarik melalui lubang kunci," keluh Leo, mendengus kecil.
"Tapi kamu melakukannya juga," ucap Lucian, menatap Leo dengan pandangan yang lebih dalam.
"Ayah benar, Leo. Kamu punya sesuatu yang tidak kami miliki, kamu punya jembatan di dalam darahmu, dan sepertinya, jembatan itu sekarang sudah terpasang kuat pada putri itu," lanjut Lucian, tersenyum miring.
Leo terdiam, dia teringat tatapan Aurora tadi, bagiamana gadis itu mengobati luka nya, walapun masih mempertahankan sifat galak nya.
"Dia tidak seburuk kelihatannya, Lucian, dia galak, sangat sombong, dan mulutnya tajam seperti pedang, tapi..." ucap Leo, menjeda ucapan nya.
"Tapi kamu menyukainya," sambung Lucian sambil bangkit berdiri.
"Aku tidak bilang begitu!" bantah Leo cepat.
"Kamu tidak perlu bilang, karena matamu yang mengatakannya," ucap Lucian berjalan kembali menuju jendela.
"Aku harus kembali sebelum Ayah menyadari aku menyelinap masuk, jaga dirimu baik-baik, Leo. Jangan sampai mati sebelum kita sempat bertanding lagi di hutan Alistair," ucap Lucian, sebelum melesat pergi.
"Kakak, tunggu," panggil Leo.
Lucian menoleh di ambang jendela, menatap adik kembar nya itu, dengan sebelah alisnya terangkat.
"Katakan pada Ibu, aku akan pulang secepat mungkin, dan katakan padanya, jangan khawatir lagi," ucap Leo pelan.
"Tentu. Dan Leo? Cobalah untuk tidak digendong lagi saat pulang nanti. Itu benar-benar merusak reputasi keluarga kita," jawab Lucian tersenyum, dan mengangguk kan kepala nya.
WUSH
Tanpa menunggu jawaban Leo, Lucian melompat hilang ke kegelapan malam, meninggalkan Leo yang hanya bisa melemparkan bantal ke arah jendela yang kosong.
"Sialan kau, Lucian Alistair!" teriak Leo pelan.
Leo kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.
Malam itu, di tengah istana yang penuh dengan rahasia dan ancaman Maxime yang masih mengintai, Leo Alistair akhirnya menutup matanya dengan senyum tipis, dia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai, tapi setidaknya sekarang, dia tidak lagi berjalan sendirian.
Setiap detak jantung nya adalah milik seorang gadis yang tidak pernah dia sangka, bisa memberikan pengaruh sebesar ini pada hati dan perasaan nya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Sinar matahari yang mulai menyelinap melalui celah-celah jendela besar tempat istirahat Leo, memberikan kesan agung namun dingin.
Leo terbangun tepat saat lonceng pertama menara istana berdentang.
Insting Serigalanya langsung aktif, Leo duduk tegak di atas ranjang dalam sekejap, mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut di sepanjang tulang punggungnya.
Ekspresi wajahnya seketika berubah, gurauan semalam bersama ayahnya dan Lucian seolah menguap tanpa bekas.
Leo tahu pagi ini dirinya akan berhadapan langsung dengan para petinggi istana kerajaan Vampir ini.
"Mereka sudah menunggu," gumam Leo, pada diri nya sendiri.
Kini, yang duduk di sana adalah Leo Alistair yang selama ini di kenal oleh dunia, tatapan mata yang tajam, rahang yang mengeras, dan aura yang begitu tenang hingga terasa mengancam.
Ceklekk.
Pintu kamar terbuka, dua orang pelayan vampir masuk membawa nampan berisi pakaian baru dan obat-obatan herbal.
Mereka sempat tertegun melihat Leo sudah duduk tegak dengan tatapan dingin yang seolah bisa menembus dinding.
"Tuan muda Alistair, Anda sudah bangun? Kami diperintahkan untuk membantu Anda bersiap," ucap salah satu pelayan dengan nada bicara yang sangat formal dan sedikit gemetar.
"Letakkan saja di sana, aku bisa mengurus diriku sendiri," jawab Leo pendek, suaranya rendah, datar, dan tidak memiliki celah untuk dibantah.
"Tapi Duke Lucas dan Raja Arion sedang menunggu Anda di ruang aula utama untuk sarapan pagi," ucap pelayan itu, memberikan diri untuk mengangkat kepala nya, sebentar.
Leo hanya mengangguk sekali tanpa ekspresi.
"Keluar!"
"K-kami permisi Tuan Muda," ucap mereka, terbata-bata.
Setelah para pelayan itu pergi dengan terburu-buru, Leo berdiri perlahan, dia mengganti pakaiannya dengan zirah ringan berwarna hitam dengan aksen perak khas keluarga Alistair yang telah disiapkan.
Leo melangkah keluar dari kamar, setiap langkahnya di koridor istana bergema mantap.
Para pengawal vampir yang berpapasan dengan Leo langsung berdiri tegak dan memberikan hormat, mereka tidak lagi melihat seorang pemuda yang terluka, melainkan sosok monster yang mampu menjebol dimensi demi tujuan yang dia tetapkan.
Di depan pintu aula utama, dua penjaga membuka pintu raksasa itu lebar-lebar.
BRAKK.
Seluruh mata di dalam ruangan, para bangsawan vampir dan petinggi militer, langsung tertuju pada sosok pria yang baru masuk.
Leo berjalan dengan dagu terangkat, dan raut wajah datar nya, tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun meski perban di balik zirahnya masih terasa basah.
Dia berjalan melewati barisan bangsawan Vampir, mengabaikan bisikan-bisikan tentang kejadian semalam, karena tujuannya hanya satu, yaitu meja utama di mana ayahnya, Raja Arion, Ratu Serena, dan tentu saja, Aurora, sudah duduk di sana.
Leo berhenti di depan meja utama, dia meletakkan satu tangan di dadanya dan menundukkan kepala sedikit, sebuah penghormatan formal ksatria kepada penguasa.
"Selamat pagi, Yang Mulia Raja Arion, Ratu Serena. Ayah," ucap Leo, dengan suara datar nya.
Lalu, matanya beralih ke arah Aurora, gadis itu sedang memegang cangkir teh, menatap Leo dengan alis yang sedikit terangkat.
Leo menatap balik mata perak Aurora dengan tatapan yang sangat datar, seolah-olah percakapan penuh canda dan gengsi di kamar semalam tidak pernah terjadi.
"Putri Aurora," sapa Leo singkat, nadanya begitu formal hingga membuat suasana di sekitar meja tersebut terasa sedikit kaku.
"Duduklah, Leo, kamu sudah terlihat jauh lebih baik dari semalam," ucap Raja Arion, mencoba memecah keheningan yang diciptakan oleh aura dingin Leo.