(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu yang Kembali
Rania terbangun dan perlahan matanya terbuka, kepalanya berdenyut sakit, tangan nya refleks memegangi perutnya, untung saja bayi nya tidak apa-apa, Rania teringat masalah Marry lalu menatap Marco.
Marco menatap nya dengan panik dan lega secara bersamaan, mata pria itu memerah dan menghitam dibawahnya, lalu seorang dokter tampan masuk seketika tubuh Rania membeku.
"Sean?" ujar nya terkejut.
Xavier tersenyum tipis ia mendekat dan duduk disamping ranjang.
"sudah lama sekali ya? Miss me?" ujar Xavier tersenyum tipis.
"Sayang, aku disini!" ujar Marco cemburu ia langsung menendang Xavier dari sisi ranjang.
"apa ada yang sakit? Bagaimana perasaan mu?" tanya Marco khawatir.
Rania menatap Marco lalu mengangguk pelan.
"sedikit mual dan pusing" ujar Rania namun matanya terus menatap kearah Xavier.
Marco yang melihat itu mengeraskan rahangnya, ia mencengkram dagu Rania lembut dan menarik nya untuk menatap nya.
"Sayang, suamimu disini" ujar Marco dingin menggertakkan rahangnya.
Rania menahan napas saat jari Marco mencengkeram lembut dagunya. Sentuhan itu tidak kasar, tapi cukup tegas untuk mengalihkan seluruh dunianya kembali pada pria yang memanggil dirinya istri.
"Aku tahu…" bisiknya lirih.
Namun sudut matanya masih saja mencuri pandang ke arah Xavier atau Sean atau siapa pun pria itu di masa lalunya.
Xavier bangkit dengan tenang, merapikan jas dokternya yang sedikit kusut akibat tendangan Marco. Alih-alih marah, ia justru tersenyum tipis, senyum yang terlalu mengenal Rania.
“Pasien tidak boleh stres,” ucapnya santai. “Tekanan darahnya tadi sempat turun.”
Marco mendengus. “Kami bisa bicara tanpa kau.”
“Secara profesional, aku masih dokter yang menangani istrimu.” Xavier menekankan kata istrimu dengan nada datar namun menusuk.
Rania menelan ludah. Kepalanya kembali berdenyut. Potongan-potongan ingatan seperti pecahan kaca berkilat di pikirannya wajah Sean di bawah hujan, janji yang tak pernah selesai, dan perpisahan yang penuh air mata.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Rania akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
Xavier menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. “Takdir selalu punya cara aneh untuk mempertemukan kita lagi.”
Marco berdiri tegak di samping ranjang, tubuhnya seperti tembok pelindung. “Cukup. Jika tak ada yang perlu diperiksa lagi, silakan keluar.”
Xavier terkekeh pelan. “Ada satu hal yang perlu kalian tahu.”
Rania merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya kembali refleks memegangi perutnya.
Xavier melirik ke arah tangan itu, lalu menatap Marco dengan arti yang sulit ditebak.
“Selamat,” katanya akhirnya, suara itu berubah lebih lembut. “mungkin kalian akan memiliki lebih dari satu bayi”
Sunyi.
Waktu seakan berhenti.
Marco membeku. Matanya melebar, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang belum pernah Rania lihat sebelumnya haru, takut, dan kebahagiaan yang nyaris meledak.
“Kita… akan punya dua bayi?” suaranya serak.
Air mata Rania menggenang tanpa ia sadari. Ia mengangguk pelan.
Marco langsung memeluknya hati-hati, seolah Rania adalah sesuatu yang paling rapuh di dunia ini. “Terima kasih… terima kasih…” bisiknya di rambut istrinya.
Namun di balik pelukan hangat itu, Rania masih bisa merasakan tatapan Xavier.
Tatapan yang tidak hanya penuh kenangan tetapi juga rahasia. Xavier berbalik menuju pintu, namun sebelum keluar ia berkata tanpa menoleh, “Ada hal yang belum selesai di antara kita. Dan cepat atau lambat… kau akan mengingatnya.”
Pintu tertutup pelan. Jantung Rania berdegup tidak beraturan.
Marco mengusap pipinya lembut. “Jangan pikirkan dia. Fokus pada kita… pada bayi kita.”
Rania memaksakan senyum, tapi dalam hatinya badai mulai terbentuk.
Karena jauh di dalam dirinya, ada satu pertanyaan yang mulai menghantui, apa yang sebenarnya terjadi antara Xavier dan Rania?
Bagaimana mereka bisa saling kenal dan kenapa seolah mereka memiliki hubungan yang tidak biasa.
Rania menatap Marco yang termenung, tangan nya perlahan terulur menyentuh wajah Marco.
"Kalian berdua punya hubungan apa?" tanya Marco menatap Rania.
Rania terdiam sejenak lalu kembali menatap kepintu yang tertutup.
"Kami.... Teman sekolah" jawab Rania tidak berbohong namun juga tidak sepenuhnya jujur.
"Rania!..."
"Sean kamu lama banget!"
"Kado cantik untuk gadis cantik!"
"I love you Rania..."
"Aku sudah mencintai orang lain Sean"
Rania memejamkan matanya saat suara-suara itu terngiang di telinganya.
Kenapa Sean bisa ada disini? Apa hubungan nya dengan Marco? Kenapa dia bisa kenal Marco?
Rania tersentak saat tangan dingin Marco menyentuh wajahnya.
"Istirahatlah" ujar Marco mencium kening Rania.
Cantika dan Vano masuk mereka berdua menangis dan memeluk Rania. Rania memeluk kedua anak nya erat.
Rania berdiri di balkon kamarnya, angin malam meniup rambutnya, tangan nya memegangi perutnya, kini ia tidak hanya mengandung satu nyawa melainkan dua nyawa dalam rahim nya.
Matanya menatap ke bawah, balkon kamarnya memang langsung menghadap ke gerbang utama.
Disana Rania melihat Xavier yang hendak memasuki mobilnya namun gerakan pria itu berhenti dan langsung mendongak keatas, dan saat itulah tatapan mereka bertemu.
Rania mencengkram kuat pagar balkon Xavier tersenyum tipis hanya senyum biasa namun jika diperhatikan lebih dekat bibir pria itu bergetar.
Rania tersentak saat tiba-tiba merasakan sesuatu melingkar diperut nya, ia menunduk dan melihat tangan kekar memeluk nya, itu tangan Marco.
"Sayang... Kamu lihat apa hm?" bisik Marco ditelinga Rania, Marco dengan sengaja menggigit telinga Rania lalu turun membenamkan wajah nya di leher Rania.
Rania kembali melihat kebawah Xavier masih berdiri disana, Marco mengangkat wajah nya dan melihat Rania yang menatap kebawah ia melihat arah pandang Istrinya dan melihat Xavier disana.
Rahangnya mengeras ia membalik tubuh Rania sedikit kasar.
"Sayang.... Aku disini!" ujar Marco dingin.
Rania menatap Marco. "Kau dan Sean memiliki hubungan apa?" tanya Rania pelan.
Marco mengerutkan keningnya.
"Sean?" ulang Marco rahangnya kembali mengeras.
"Kami sepupu"