Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Pulang Dulu
"Jika aku terkena masalah, maka aku akan bertanggung jawab. Aku akan pastikan rekan-rekanku, termasuk Bapak, tidak akan terkena imbasnya." Rangga berusaha menjawab dengan tenang.
"Kau selalu bicara saja begitu! Kalau mau kasih hati ke orang, kerja di dinas sosial atau jadi damkar sana!" omel Pak Adi. Dia beranjak dengan raut wajah cemberut.
Rangga mendengus kesal. Dia bisa saja membalas Pak Adi dengan amarah, tapi sengaja ditahan karena lelaki itu lebih tua dan atasannya.
Kini Rangga kembali menemui Dian ke ruang BAP. Di sana Beben tampak menemani perempuan tersebut.
"Aku akan pesan satenya lewat online. Kau mau juga, Ben?" tanya Rangga.
"Boleh. Biar aku saja yang bayarkan," sahut Beben. "Sekalian aja belikan yang lain," tambahnya.
"Kamu tuh ya... Terlalu baik. Jangan dijadikan kebiasaan. Nanti--"
"Dimanfaatkan! Aku tahu," potong Beben yang bisa menebak kemana arah pembicaraan Rangga. "Anggap saja ini bantuan dariku untuk meredakan amarah Pak Adi padamu," lanjutnya.
Rangga memutar bola mata jengah. Dia tersenyum tipis dan mengangguk. Tiba-tiba terdengar suara dengkuran. Membuat Rangga dan Beben langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat Dian tertidur dalam keadaan mendongak dan menyandar ke kursi.
"Dia pasti kelelahan," komentar Rangga.
"Kelelahan jadi pembunuh," sahut Riki yang baru datang. "Kalian pasti capek. Sebaiknya pulang dulu sebentar. Biar kami yang urus pelaku ini," sambungnya.
Rangga terdiam. Dia dan Beben saling bertukar pandang. Keduanya tentu merasa lelah karena harus berjaga semalaman. Lagi pula Dian sekarang sedang tidur, wanita itu butuh istirahat.
"Baiklah. Aku dan Rangga akan pulang. Tolong hubungi kami kalau dia sudah bangun," ujar Beben.
"Pasti itu!" sahut Riki.
"Menurutku sebaiknya dia dipindahkan ke tempat yang lebih nyaman," usul Rangga. Dia hendak memindahkan Dian, namun dihentikan oleh Riki.
"Sudah, biar aku saja yang memindahkannya ke sofa di ruangan kapolsek," balas Riki.
"Benarkah?" Rangga merasa ragu untuk percaya.
"Ayo, Ga. Kita sepatutnya pulang sekarang. Aku capek banget." Beben menyeret Rangga begitu saja. Keduanya beranjak dari kantor. Mereka segera pulang dengan menaiki motor masing-masing.
Rangga terpaksa pulang karena sekarang tugasnya memang sudah selesai. Semua urusan biasanya akan di urus oleh polisi yang kena jadwal jaga siang. Rangga akan mencoba mempercayai rekannya meski ada perasaan ragu di hatinya.
Setibanya di rumah, Rangga segera membersihkan diri ke kamar mandi. Kala itu waktu menunjukkan jam setengah delapan pagi.
Tanpa diketahui Rangga, Astrid datang sambil membawa kantong plastik di tangannya. Dia tahu Rangga sudah datang karena motornya terparkir di halaman rumah.
Astrid awalnya mengetuk pintu. Namun karena tak kunjung dibuka, dia mencoba membukanya sendiri. Astrid tersenyum saat tahu pintunya tak dikunci. Dia lantas hendak masuk ke dalam.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Siapa kau?!"
Langkah Astrid terhenti saat mendengar suara teguran perempuan. Sontak dia menoleh ke arah perempuan itu. Ternyata yang menegur adalah Cindy. Gadis SMA yang tinggal di seberang rumah Rangga.
"Aku temannya Rangga. Aku--"
"Temannya Kak Rangga? Nggak mungkin. Baru kali ini aku lihat Kak Rangga punya teman cewek," potong Cindy dengan tatapan penuh curiga.
"Kebetulan aku baru saja tinggal di rumah Mbak Septi. Rangga yang menyarankanku tinggal di sana," jawab Astrid.
"Kau pasti mau maling ya? Atau penguntit? Kak Rangga dan aku itu dekat, aku tahu dia nggak punya teman cewek!" balas Cindy.
"Kalau nggak percaya, tanya saja Rangga!" Astrid tak mau kalah.
"Oke kalau gitu. Kita tanya Kak Rangga!" Cindy setuju.
"Pintunya nggak dikunci. Aku akan memanggilnya," kata Astrid.
"Kita masuk sama-sama! Aku nggak percaya padamu!" tolak Cindy ketus. Dia dan Astrid lantas masuk bersama-sama ke rumah Rangga.
Bersamaan dengan itu, Rangga keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang. Rangga bertelanjang dada dan menampakkan tubuhnya yang atletis.
Astrid dan Cindy reflek berhenti bersama. Keduanya terpaku menatap Rangga.
"AAAA! Anjir! Ngapain kalian di rumahku?!" Rangga yang melihat ada dua perempuan masuk di rumahnya, tentu sangat kaget.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄