Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.
Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: Hutan Yang Berbicara dan Harapan Yang Tumbuh
Berita kemenangan di Gurun Pasir Merah menyebar seperti api di padang rumput kering, memberikan semangat baru bagi semua yang berjuang melawan Gelombang Kegelapan. Namun tak lama setelah itu, kabar mengkhawatirkan datang dari Hutan Hujan Tropis Tak Terbatas – tempat di mana komunitas suku asli telah hidup berdampingan dengan alam selama ribuan tahun, dan di mana sumber kekuatan alam terbesar dunia ini berada.
Kegelapan telah menyebar ke dalam hati hutan, mengubah pepohonan yang ramah menjadi makhluk-makhluk yang mengerikan, dan membuat sungai-sungai yang jernih menjadi keruh dengan energi negatif. Suku asli yang dipimpin oleh pemimpin tua bernama Ratu Dewi telah bertahan dengan segala cara yang mereka bisa, tetapi kekuatan mereka mulai menyurut seiring dengan setiap hari yang berlalu.
Chen Wei dan kelompok intinya segera berangkat ke hutan, membawa dengan mereka batu ungu Xiang Yu dan Hati Naga yang kini semakin kuat dengan setiap kemenangan yang mereka raih. Perjalanan menuju hutan membawa mereka melalui jalan-jalan yang tersembunyi dan medan yang berbahaya, di mana alam itu sendiri tampaknya sedang berperang melawan diri sendiri. Pohon-pohon menjulurkan rantingnya seperti tangan yang ingin menangkap, dan sungai-sungai mengalir dengan deras dan liar.
Ketika mereka akhirnya mencapai pemukiman suku asli, mereka menemukan pemandangan yang menyakitkan hati. Rumah-rumah yang terbuat dari bambu dan daun besar kini sebagian hancur, dan orang-orang suku itu berkumpul di tengah pemukiman dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan kelelahan. Ratu Dewi, seorang wanita tua dengan mata yang penuh kebijaksanaan dan kekuatan, datang menemui mereka dengan langkah yang lemah tapi gagah.
"Kita telah menunggu kedatanganmu, Pendekar Mata Naga Biru," ujarnya dengan suara yang merdu namun kuat. "Hutan yang kita cintai telah berubah menjadi tempat yang mengerikan. Pohon-pohon yang dulu memberi kita tempat berlindung kini berusaha menyakiti kita. Sungai-sungai yang dulu memberi kita kehidupan kini membawa penyakit dan kesedihan."
Dia mengajak kelompok itu ke tengah hutan, ke sebuah taman suci yang dikelilingi oleh pohon-pohon tua yang menjulang tinggi. Di tengah taman terdapat sebuah kolam air bening yang kini telah berubah menjadi warna hitam pekat, dengan bentuk-bentuk yang tidak jelas yang bergerak di dalamnya. "Ini adalah Hati Hutan," kata Ratu Dewi dengan suara yang penuh dengan kesedihan. "Sumber kehidupan bagi seluruh hutan. Kegelapan telah merasukinya, dan sekarang ia menyebarkan penyakit ke segala arah."
Chen Wei mendekati kolam itu, dan dia bisa merasakan bahwa kegelapan di sini berbeda dari yang mereka hadapi sebelumnya. Ini bukan hanya kekuatan yang menghancurkan – ini adalah kekuatan yang sakit dan bingung, yang merasa telah dikhianati oleh manusia yang telah menyakiti alam selama berabad-abad.
"Saya bisa merasakan kesedihannya," bisik Mei Hua sambil menyentuh batang pohon yang berdekatan. "Setiap pepohonan, setiap tumbuhan, setiap makhluk di hutan ini merasakan rasa sakit dari kerusakan yang telah kita lakukan. Kegelapan ini adalah keluhan mereka yang tidak terdengar."
Tanpa berlama-lama, makhluk-makhluk hutan yang telah terkontaminasi mulai muncul dari balik pepohonan – macan tutul dengan mata yang menyala merah, burung-burung besar dengan cakar yang tajam, dan bahkan pohon-pohon itu sendiri mulai bergerak dengan akarnya yang panjang seperti tentakel. Pertempuran epik segera pecah di tengah hutan yang gelap.
Lin Xue dan Wu Chen berada di garis depan, menggunakan kekuatan petir dan kecepatan mereka untuk menghadang serangan makhluk-makhluk itu. Zhang Tian dan Tian Chen bekerja bersama untuk membentuk tembok perlindungan dengan menggunakan kekuatan tanah dan kegelapan yang telah mereka kuasai dengan benar. Liu Qing dan Hong Yu bekerja tanpa lelah untuk menyembuhkan yang terluka, baik manusia maupun makhluk hutan yang masih bisa diselamatkan.
Chen Wei berdiri di dekat kolam Hati Hutan, mencoba untuk berkomunikasi dengan energi yang ada di dalamnya. Dia mengeluarkan batu ungu dan Hati Naga, membiarkan energi mereka menyebar ke dalam kolam. "Kita mendengar keluhanmu," katanya dengan suara yang penuh dengan rasa hormat dan penyesalan. "Kita tahu bahwa kita telah menyakiti alam yang kita cintai. Tapi tolong percayalah – kita telah belajar dari kesalahan kita. Kita ingin hidup berdampingan denganmu sebagai teman, bukan sebagai pemilik."
Seiring dengan kata-katanya, suara nyanyian mulai terdengar dari belakang mereka. Ratu Dewi dan orang-orang suku itu mulai menyanyi lagu kuno mereka – lagu tentang hubungan antara manusia dan alam, tentang bagaimana mereka saling membutuhkan satu sama lain. Suara nyanyian itu menyebar ke seluruh hutan, dan perlahan-lahan, serangan makhluk-makhluk itu mulai mereda.
Makhluk-makhluk itu berhenti menyerang, berdiri diam dengan mata yang penuh dengan kebingungan dan kesedihan. Chen Wei melangkah maju dengan hati-hati, tangannya terbuka untuk menunjukkan bahwa dia tidak memiliki niat jahat. "Kita tidak datang untuk melawan kalian," katanya dengan lembut. "Kita datang untuk meminta maaf dan untuk bekerja bersama-sama untuk membangun masa depan yang lebih baik."
Dia menjangkau tangan ke arah macan tutul yang paling besar, dan ketika jarinya menyentuh bulunya yang tebal, energi dari Hati Naga menyebar ke seluruh tubuhnya. Macan itu mengeluarkan suara mendesis yang lemah, kemudian menyandarkan kepalanya pada telapak tangannya dengan penuh kepercayaan.
Saat itu, kolam Hati Hutan mulai bersinar dengan cahaya hijau yang menyilaukan. Kegelapan yang ada di dalamnya tidak hilang – sebaliknya, ia menyatu dengan cahaya yang datang dari cinta dan pengertian manusia. Air kolam mulai mengalir kembali ke sungai-sungai yang kering, membawa kehidupan dan penyembuhan ke seluruh hutan. Pohon-pohon yang telah mengering mulai kembali hijau, dan bunga-bunga yang indah mekar di setiap sudut.
Ratu Dewi menangis dengan kegembiraan, menangis sambil tersenyum sambil melihat hutan yang telah kembali seperti semula. "Ini adalah keajaiban," bisiknya. "Hutan kita hidup kembali!"
Chen Wei berbalik ke teman-temannya, matanya penuh dengan harapan dan tekad. "Kita telah menyelamatkan satu lagi bagian dari dunia kita," katanya.Tetapi masih banyak yang harus kita lakukan.
Mereka berkumpul bersama dengan orang-orang suku itu di tengah taman suci yang telah kembali indah, menyanyi lagu-lagu harapan dan cinta yang akan terus bergema di hutan selama berabad-abad yang akan datang. Mereka tahu bahwa jalan yang masih harus ditempuh panjang dan penuh dengan tantangan, tetapi mereka juga tahu bahwa dengan cinta yang mereka miliki satu sama lain dan rasa hormat yang mereka miliki terhadap alam, mereka akan mampu mengatasi segala rintangan yang ada di depan mereka.