"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Meifeng Datang Berkunjung
Jumat pagi, Suyin bangun dengan perasaan lebih tenang. Sudah dua hari dia tinggal di villa Xiao Zhen, dan perlahan mulai terbiasa dengan rutinitas baru—bangun pagi untuk meditasi bersama Xiao Zhen, sarapan di taman, lalu siang hari dia masuk ke ruang dimensi untuk panen dan tanam ulang.
Hari ini dia harus kembali ke kantor. Sudah dua hari izin dengan alasan sakit—tidak bisa terus-terusan bolos.
Setelah meditasi pagi yang kali ini berhasil lebih baik—Suyin sudah bisa merasakan aliran Qi dengan lebih jelas—dia bersiap untuk berangkat kerja.
"Sopir akan antar kamu ke kantor," ucap Xiao Zhen saat sarapan. "Dan akan jemput lagi sore nanti. Jangan pulang sendiri—terlalu berbahaya."
"Baik. Terima kasih." Suyin sudah tidak protes lagi soal pengawalan ketat ini. Setelah kejadian kemarin lusa, dia sadar betapa berbahayanya situasinya.
"Oh ya, barang-barang dari apartemenmu sudah diantar kemarin malam. Sudah ditaruh di kamarmu," tambah Xiao Zhen.
"Benaran? Terima kasih banyak!"
Setelah sarapan, Suyin naik ke kamarnya untuk ambil tas kerja. Benar saja, ada beberapa kardus berisi pakaian, sepatu, dan barang-barang pribadinya dari apartemen.
Dia membuka satu kardus—isinya buku-buku, beberapa foto keluarga, dan... sebuah kotak kayu kecil yang familiar.
Kotak yang dulu dipakai nenek menyimpan gelang giok.
Suyin membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada surat—surat lain dari nenek yang belum pernah dia baca!
Dengan tangan gemetar, Suyin membuka amplop putih itu.
"Suyin tersayang,
Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah mulai menemukan rahasia gelang giok. Nenek bangga padamu.
Ada yang perlu nenek ceritakan tentang keluarga kita. Keluarga Lin bukan keluarga biasa. Ratusan tahun lalu, kami adalah salah satu klan kultivator terkuat. Ruang Dimensi Giok adalah pusaka tertinggi kami—hadiah dari leluhur yang mencapai tingkat kultivasi tertinggi.
Tapi karena perang antar klan, Keluarga Lin jatuh. Banyak yang mati, sisanya bersembunyi dan berhenti berkultivasi. Nenek adalah keturunan terakhir yang tahu rahasia ini.
Nenek memberikan gelang ini padamu bukan hanya karena nenek sayang kamu—tapi karena nenek melihat potensi besar dalam dirimu. Kamu punya hati yang murni, jiwa yang kuat, dan keberanian yang dibutuhkan untuk membawa Keluarga Lin kembali bangkit.
Tapi ingat, Suyin—kekuatan besar datang dengan tanggung jawab besar. Akan ada banyak yang mengincar gelang itu. Akan ada banyak cobaan. Tapi nenek percaya kamu bisa melewati semuanya.
Percayalah pada orang yang ditakdirkan membantumu. Dia akan datang saat kamu membutuhkan—seseorang dengan jiwa yang beresonansi dengan jiwamu. Jangan takut untuk percaya padanya.
Nenek akan selalu menjagamu dari sana.
Dengan cinta abadi,
Nenek Lin"
Air mata Suyin menetes di atas kertas. Kata-kata nenek seperti memeluknya dari jauh.
"Orang yang ditakdirkan membantuku..." bisik Suyin sambil mengusap air mata. "Apa nenek sudah tahu tentang Xiao Zhen?"
Dia melipat surat itu dengan hati-hati dan memasukkan kembali ke dalam kotak. Ini harus disimpan baik-baik.
Di kantor, Suyin disambut oleh Mira yang langsung menghampiri mejanya.
"Suyin! Kamu kemana aja? Kabar-kabarin dong!" seru Mira khawatir.
"Maaf, aku sakit. Demam tinggi, jadi tidak bisa buka handphone," bohong Suyin.
"Udah mendingan sekarang? Kamu kelihatan... berbeda."
"Berbeda gimana?"
"Entah, kayak... lebih bercahaya? Lebih sehat? Bahkan lebih cantik!" Mira memicingkan mata curiga. "Jangan-jangan kamu sakit cinta, bukan sakit demam?"
Suyin tertawa gugup. "Enggak kok! Cuma istirahat yang cukup aja."
"Hmm, mencurigakan," goda Mira. "Oh ya, Pak Hendra cari kamu tadi. Katanya ada update soal proyek Pak Xiao."
Jantung Suyin berdebar mendengar nama itu. "Baik, terima kasih!"
Suyin mengetuk pintu ruangan Pak Hendra.
"Masuk!"
"Selamat pagi, Pak. Saya dengar Bapak cari saya?"
"Oh, Suyin! Sudah sehat?" Pak Hendra tersenyum ramah. "Pak Xiao kirim email kemarin. Dia sangat puas dengan kerja kamu. Bahkan dia minta kamu yang handle semua proyeknya ke depan—bukan cuma rumah Pondok Indah, tapi juga kantor cabang baru yang akan dia bangun di Surabaya!"
Mata Suyin melebar. "Kantor cabang di Surabaya?"
"Iya! Ini proyek besar, Suyin. Nilai kontraknya ratusan juta. Dan dia spesifik minta kamu sebagai lead designer." Pak Hendra tampak sangat senang. "Ini pencapaian luar biasa untuk karirmu!"
Suyin tersenyum—tapi dalam hati dia tahu ini bukan semata karena kemampuan desainnya. Xiao Zhen pasti sengaja memberikan proyek ini untuk membantu karirnya.
"Terima kasih, Pak. Saya akan kerjakan semaksimal mungkin."
"Bagus! Nanti sore ada meeting dengan tim untuk diskusi konsep awal. Kamu pimpin meeting-nya ya."
Seharian Suyin sibuk dengan pekerjaan—menyiapkan presentasi, riset konsep desain, koordinasi dengan tim. Dia hampir lupa tentang semua drama dengan gelang giok dan kultivasi. Rasanya menyenangkan kembali ke rutinitas normal sejenak.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
Sore hari, saat Suyin sedang membereskan meja untuk pulang, ponselnya berdering.
Nomor Meifeng.
Suyin menatap layar ponsel lama, ragu mau angkat atau tidak. Tapi akhirnya dia angkat juga—lebih baik hadapi daripada menghindar terus.
"Halo?"
"Suyin, ini aku." Suara Meifeng terdengar... berbeda. Tidak arogan seperti biasanya. Malah terdengar... ketakutan?
"Ada apa, Kak?"
"Kita perlu ketemu. Sekarang. Ada hal penting yang harus aku sampaikan." Meifeng terdengar terburu-buru.
"Aku tidak mau ketemu—"
"Ini tentang Organisasi Bayangan! Mereka... mereka mengancam aku juga sekarang! Kumohon, Suyin. Aku butuh bantuanmu." Suara Meifeng bergetar.
Suyin terdiam. Apa ini jebakan? Atau Meifeng benar-benar dalam bahaya?
"Di mana?" tanya Suyin akhirnya.
"Kafe dekat kantor kamu. Kafe Aroma di Jalan Sudirman. Setengah jam lagi. Kumohon datang."
Telepon terputus.
Suyin menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Harus bilang Xiao Zhen atau tidak?
Dia memutuskan kirim pesan ke Xiao Zhen:
"Meifeng minta ketemu di Kafe Aroma, Jalan Sudirman. Dia bilang Organisasi Bayangan mengancamnya juga. Aku mau dengar apa yang dia bilang. Jangan khawatir, aku akan hati-hati."
Balasan datang cepat:
"JANGAN SENDIRIAN. Tunggu aku. Aku akan ke sana dalam 15 menit."
Suyin tersenyum membaca balasan itu. Xiao Zhen memang protektif sekali.
"Baik. Aku tunggu di lobby kantor."
Lima belas menit kemudian, mobil hitam Xiao Zhen berhenti di depan gedung kantor. Suyin langsung masuk.
"Terima kasih sudah datang," ucap Suyin.
"Tentu saja aku datang. Kamu pikir aku akan membiarkanmu menghadapi sepupumu yang sudah mengkhianatimu itu sendirian?" Xiao Zhen menatapnya serius. "Aku akan ikut masuk kafe. Tapi aku duduk di meja lain—biar Meifeng tidak curiga."
"Baiklah."
Mereka tiba di Kafe Aroma—tempat yang cukup ramai dengan pekerja kantoran yang sedang menikmati kopi setelah jam kerja.
Suyin melihat Meifeng sudah duduk di meja pojok, wajahnya pucat dan mata sembab—seperti habis menangis.
Xiao Zhen duduk di meja yang cukup jauh tapi masih bisa memantau—dengan posisi membelakangi mereka agar Meifeng tidak melihat wajahnya.
Suyin berjalan ke meja Meifeng dan duduk di hadapannya.
"Kak Meifeng," sapa Suyin datar.
Meifeng mendongak. Matanya benar-benar merah dan bengkak. "Suyin... terima kasih sudah mau datang."
"Langsung saja. Apa yang mau Kakak sampaikan?"
Meifeng menarik napas dalam. "Aku... aku minta maaf. Aku yang bilang ke Organisasi Bayangan tentang gelang giokmu. Aku pikir mereka cuma mau beli dengan harga tinggi. Aku tidak tahu mereka akan menggunakan cara kasar."
"Kakak menjual informasi tentang aku ke organisasi kriminal dan baru sekarang minta maaf?" Suyin berusaha menahan amarah.
"Aku tahu aku salah! Aku serakah dan iri pada kamu! Tapi sekarang aku yang kena batunya!" Meifeng mulai terisak. "Mereka datang ke rumahku tadi malam. Bilang kalau aku tidak bantu mereka mendapatkan gelang itu dalam seminggu, mereka akan... mereka akan menyakiti keluargaku. Suami dan anak-anakku!"
Suyin terdiam. Betapapun dia marah pada Meifeng, dia tidak mau keponakan-keponakannya yang masih kecil terluka.
"Lalu Kakak mau aku bagaimana? Serahkan gelang ini pada mereka?" tanya Suyin tajam.
"Tidak! Aku tidak mau kamu terluka juga!" Meifeng menggenggam tangan Suyin di atas meja. "Aku datang untuk peringatkan kamu. Mereka berencana menyerangmu di acara reuni keluarga minggu depan. Keluarga besar Lin akan berkumpul untuk peringatan seratus hari meninggalnya nenek. Mereka tahu kamu pasti datang."
Jantung Suyin berdegup kencang. Acara reuni keluarga... tempat ramai dengan banyak keluarga. Kalau Organisasi Bayangan menyerang di sana, banyak orang tidak bersalah yang bisa terluka.
"Kenapa Kakak kasih tahu aku? Bukannya kalau aku tertangkap, masalah Kakak selesai?"
Meifeng menggeleng keras. "Karena aku sudah terlalu banyak berbuat salah. Aku tidak mau ditambah lagi dengan darah kamu di tanganku. Kamu... kamu cucu kesayangan nenek. Nenek pasti tidak akan pernah memaafkanku kalau aku sampai menyakitimu."
Air mata Meifeng jatuh di atas meja.
Suyin merasakan emosi yang kompleks—masih marah, tapi juga sedikit kasihan.
"Terima kasih sudah kasih tahu, Kak," ucap Suyin akhirnya. "Tapi Kakak harus tahu—aku tidak akan menyerahkan gelang ini. Ini warisan nenek dan tanggung jawabku."
"Aku tahu. Aku tidak meminta itu." Meifeng mengusap air matanya. "Yang aku minta... lindungi dirimu. Dan kalau bisa... tolong jangan biarkan mereka sakiti keluargaku."
"Aku akan coba," jawab Suyin pelan—meski dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Meifeng berdiri. "Aku harus pergi. Suami menunggu di rumah. Hati-hati, Suyin. Orang-orang itu... mereka berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari yang kita kira."
Setelah Meifeng pergi, Xiao Zhen pindah ke meja Suyin.
"Kamu dengar semuanya?" tanya Suyin.
"Ya. Kultivator bisa tajamkan pendengaran." Xiao Zhen menatap pintu keluar yang dilalui Meifeng. "Dia tidak bohong. Aku bisa rasakan ketakutannya sangat nyata."
"Jadi Organisasi Bayangan benar-benar akan menyerang di acara reuni keluarga?"
"Kemungkinan besar." Xiao Zhen berpikir sejenak. "Kita punya waktu seminggu untuk persiapan. Aku akan hubungi beberapa anggota Klan Xiao untuk bantu jaga. Dan kamu... kamu harus latihan kultivasi lebih keras. Setidaknya kamu harus bisa lindungi diri sendiri dasar-dasarnya."
"Apa seminggu cukup?"
"Untuk kultivator biasa, tidak. Tapi kamu punya gelang dimensi yang mempercepat pertumbuhan spiritual. Kalau kamu latihan keras, ada kemungkinan kamu bisa capai tingkat dasar kultivasi pertahanan diri." Xiao Zhen meraih tangan Suyin di atas meja. "Aku akan latih kamu secara intensif."
Suyin menatap tangan mereka yang saling menggenggam—hangat dan menenangkan seperti biasa.
"Terima kasih, Xiao Zhen. Untuk semuanya."
"Sama-sama, Suyin." Tatapan Xiao Zhen melembut. "Aku sudah berjanji akan lindungi kamu. Dan aku tidak pernah ingkar janji."
Mereka duduk di sana beberapa saat, tangan masih saling menggenggam, dalam keheningan yang nyaman.
Suyin tahu seminggu ke depan akan berat. Tapi dengan Xiao Zhen di sampingnya, dia merasa... aman.
Dan mungkin, lebih dari sekadar aman.
Dia merasa... dicintai.
Walau tidak ada yang mengatakannya dengan kata-kata, genggaman tangan mereka mengatakan semuanya.
Malam itu, di villa, Xiao Zhen dan Suyin duduk di ruang kerja membahas strategi.
"Aku akan posisikan lima anggota Klan Xiao di sekitar lokasi acara. Mereka akan menyamar sebagai tamu biasa." Xiao Zhen menunjuk peta di atas meja. "Kalau ada serangan, mereka akan langsung bertindak."
"Bagaimana dengan keluargaku? Mereka tidak tahu apa-apa tentang kultivator atau organisasi berbahaya ini," ucap Suyin khawatir.
"Kita akan pastikan mereka aman. Tapi yang terpenting—kamu jangan jauh dari aku selama acara. Mengerti?"
Suyin mengangguk.
"Dan mulai besok, kita latihan kultivasi dua kali sehari. Pagi dan malam. Aku akan ajari kamu teknik dasar pertahanan—barrier spiritual dan peningkatan kecepatan gerak."
"Barrier spiritual?"
"Semacam perisai energi yang bisa blokir serangan kultivator tingkat rendah. Itu akan beli waktu kalau kamu diserang saat aku tidak di dekat."
Suyin menelan ludah. Semua ini terasa seperti persiapan perang.
"Aku takut," akunya jujur.
Xiao Zhen berjalan mendekat, berdiri di hadapan Suyin yang masih duduk. Dia mengangkat dagu Suyin dengan lembut, memaksanya menatap mata.
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutan melumpuhkanmu." Suaranya lembut tapi tegas. "Kamu lebih kuat dari yang kamu kira, Suyin. Aku melihat itu sejak pertama bertemu."
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
"Karena kamu adalah pewaris Keluarga Lin. Darah kultivator mengalir di nadimu—walau kamu tidak tumbuh dengan latihan kultivasi. Dan lebih dari itu..." Xiao Zhen berhenti sejenak. "...aku percaya padamu."
Kata-kata sederhana itu membuat hati Suyin hangat.
"Aku tidak akan mengecewakanmu," ucap Suyin dengan tekad baru.
"Aku tahu."
Mereka berdiri saling berhadapan, sangat dekat—Suyin bisa merasakan kehangatan tubuh Xiao Zhen, mendengar detak jantungnya yang... cepat?
Xiao Zhen perlahan menurunkan tangannya dari dagu Suyin, tapi tidak mundur.
"Suyin..." panggilnya pelan.
"Ya?"
"Aku..." Xiao Zhen terlihat seperti sedang berjuang dengan dirinya sendiri. "...aku akan selalu di sisimu. Apapun yang terjadi."
"Aku tahu."
Jarak di antara mereka makin menipis—atau itu hanya imajinasi Suyin?
Tapi sebelum sesuatu terjadi, Xiao Zhen tiba-tiba mundur, memalingkan wajah.
"Sebaiknya kamu istirahat. Besok latihan akan dimulai pagi-pagi," ucapnya dengan suara yang sedikit serak.
"Oh. Iya. Baiklah." Suyin berusaha menyembunyikan kekecewaan.
"Selamat malam, Suyin."
"Selamat malam, Xiao Zhen."
Suyin berjalan ke kamarnya dengan perasaan bingung dan jantung yang masih berdebar.
Apa yang hampir terjadi tadi?
Dan kenapa Xiao Zhen mundur?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengikutinya sampai dia tertidur—dengan mimpi tentang mata cokelat gelap yang menatapnya dengan penuh... sesuatu yang belum berani dia beri nama.