NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Garis Pantai Yang Menghakimi

Kereta malam menuju arah utara terasa seperti kapsul waktu yang meluncur menembus kegelapan. Di dalamnya, Arlo dan Elara duduk berhadapan, namun pikiran mereka tertinggal jauh di belakang—atau mungkin, melompat jauh ke depan, menuju mercusuar tua di ujung Skotlandia yang kini menjadi pusat badai digital mereka.

"Kau tidak harus ikut, El," ucap Arlo memecah keheningan. Ia menatap pantulan wajah Elara di jendela kereta yang gelap. "Marcus menginginkanku. Dia menginginkan Arsiteknya kembali. Jika kau turun di stasiun berikutnya, kau masih punya kesempatan untuk menghilang."

Elara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa lelah sekaligus keteguhan yang tak tergoyahkan. "Sepuluh tahun yang lalu, aku membiarkanmu berjalan sendirian ke dalam obsesi itu, Arlo. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Jika keheningan itu memang harus berakhir, kita akan mengakhirinya bersama."

Jejak Digital di Tengah Badai

Setibanya di desa nelayan terakhir sebelum menuju semenanjung, suasana terasa mencekam. Angin laut menghantam daratan dengan kecepatan yang tidak wajar. Tidak ada lampu penduduk yang menyala. Hanya ada satu sumber cahaya di kejauhan: lampu mercusuar yang berputar, namun warnanya bukan putih hangat, melainkan biru elektrik yang tajam.

"Itu frekuensi cahaya tinggi," gumam Arlo. "Dia tidak hanya menggunakan suara. Dia mengubah seluruh mercusuar itu menjadi antena transmisi raksasa."

Mereka menyewa sebuah perahu motor tua dari seorang nelayan yang tampak ketakutan. Pria tua itu menolak mengantar mereka hingga ke dermaga mercusuar. "Tempat itu terkutuk," katanya dengan suara gemetar. "Sejak seminggu lalu, burung-burung yang terbang lewat sana jatuh mati ke laut. Tidak ada suara di sana. Hanya... kehampaan."

Saat perahu mendekati karang, Arlo mulai merasakan dampaknya. Kepalanya berdenyut, dan indra pendengarannya seolah tersumbat kapas. Itulah efek dari "The Perfect Silence". Dunia di sekitar mereka masih bergerak—ombak menghantam karang, angin menderu—namun telinga mereka tidak menangkap suara apa pun. Sunyi yang tuli.

Di Dalam Jantung Mercusuar

Mereka berhasil mendarat dan berlari menuju pintu besi mercusuar. Di dalam, pemandangannya mengerikan. Ruangan itu dipenuhi dengan server-server hitam yang berdengung tanpa suara, kabel-kabel melilit di lantai seperti urat nadi raksasa.

Di tengah ruangan, di depan meja kendali yang sangat besar, duduk sesosok pria. Punggungnya bungkuk, rambutnya memutih, dan tangannya bergerak mekanis di atas layar sentuh.

"Marcus?" panggil Elara.

Pria itu berbalik pelan. Namun, yang berdiri di depan mereka bukanlah Marcus yang penuh ambisi seperti di Salford. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar, dan matanya tampak kosong, seolah jiwanya telah tersedot masuk ke dalam mesin.

"Kalian terlambat," suara Marcus terdengar bukan dari mulutnya, melainkan dari speaker-speaker yang tertanam di dinding. Suaranya bersih, jernih, dan tidak lagi terdistorsi. "Aku sudah berhasil mengisolasi emosi dari suara. 'About You' bukan lagi sebuah lagu. Ia telah menjadi algoritma universal untuk menghilangkan rasa sakit."

"Menghilangkan rasa sakit dengan cara menghilangkan perasaan?" Arlo melangkah maju, menantang mentor lamanya. "Itu bukan penyembuhan, Marcus. Itu kematian!"

"Apa bedanya?" Marcus berdiri, tubuhnya gemetar. "Dunia ini terlalu berisik dengan penderitaan. Aku hanya memberikan apa yang mereka butuhkan: Keheningan Abadi. Dan sekarang, Arlo... berikan aku kode penutup yang kau gunakan di London. Kode yang menyatukan semua frekuensi menjadi nol."

Pengorbanan Terakhir

Marcus menekan sebuah tombol, dan tiba-tiba Elara terjatuh sambil memegangi kepalanya. Sebuah frekuensi tinggi yang sangat spesifik menghantam sistem sarafnya.

"Berikan kodenya, atau aku akan menaikkan frekuensinya sampai saraf otaknya terbakar," ancam Marcus dengan wajah tanpa ekspresi.

Arlo menatap Elara yang merintih di lantai, lalu menatap mesin di depannya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menang melawan mesin ini dengan cara merusaknya secara fisik. Sistem ini memiliki cadangan daya yang bisa bertahan berbulan-bulan.

"Baik," bisik Arlo. "Aku akan memberikan kodenya."

Arlo mendekati meja kendali. Jemarinya mulai mengetik angka-angka. Namun, ia tidak memasukkan kode yang diminta Marcus. Ia memasukkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Ia memasukkan rekaman detak jantungnya sendiri yang masih tidak beraturan—suara manusia yang cacat, penuh ketakutan, dan tidak sempurna.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Marcus saat melihat grafik di monitor mulai berubah menjadi kacau.

"Aku memasukkan 'Ketidaksempurnaan', Marcus. Sesuatu yang tidak bisa dihitung oleh algoritmamu," Arlo menarik Elara ke dalam pelukannya. "Keheninganmu tidak akan pernah sempurna selama ada satu hati manusia yang masih berdetak karena cinta."

Layar monitor mulai meledak satu per satu. Transmisi biru dari puncak mercusuar berubah menjadi merah menyala sebelum akhirnya padam total. Suara ombak tiba-tiba kembali terdengar, masuk ke telinga mereka seperti ledakan meriam. Dunia kembali bersuara.

Akhir dari Sang Arsitek

Mercusuar itu berguncang hebat. Arlo menggendong Elara keluar tepat sebelum ruang mesin meledak, menelan Marcus dan seluruh obsesinya ke dalam api yang sunyi. Mereka berdiri di tepi pantai, menyaksikan menara itu runtuh perlahan ke dalam laut Skotlandia yang dingin.

Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi frekuensi.

Elara membuka matanya, menatap langit malam yang kini mulai menampakkan fajar. "Apakah sudah selesai, Arlo?"

Arlo mengangguk, mencium kening Elara. Di leher Elara, ia menyadari sesuatu. Ponsel Elara yang tadi bergetar kini mati total, hancur terkena dampak gelombang elektromagnetik.

"Sudah selesai," kata Arlo pelan. "Sekarang, suara satu-satunya yang ingin kudengar adalah suaramu."

Mereka berjalan menjauh dari reruntuhan, meninggalkan legenda "About You" tenggelam di dasar samudra. Di belakang mereka, matahari terbit, membawa hari pertama di mana mereka benar-benar bebas menjadi manusia biasa—yang bisa terluka, bisa bersuara, dan bisa saling mencintai tanpa perlu frekuensi apa pun untuk membuktikannya.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!