NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 DARAH DIBALAS DARAH : PERMAINAN SANG MONARCH

​Kamis, 17 April 2025, Musim Semi

​Rumah Sakit Pusat Monako tampak begitu tenang di bawah guyuran cahaya mentari pagi, namun suasana di dalam kamar VVIP nomor 707 justru terasa begitu padat oleh emosi. Olivia Elenora Aurevyn masih terbaring lemah di atas ranjang dengan kaki yang terbebat kain kasa. Meskipun luka fisiknya tergolong ringan, tim dokter bersikeras agar sang Golden Butterfly menjalani perawatan intensif selama beberapa hari ke depan. Trauma akibat tabrak lari itu ternyata berdampak signifikan pada ritme jantung Olive yang masih sering berpacu lebih cepat dari batas normal manusia biasa sebuah reaksi psikologis akibat syok yang mendalam.

​Semalaman penuh, Liam Maximilian Valerius tidak beranjak satu inci pun dari sisi Olive. Pria yang biasanya menguasai dunia militer swasta itu tampak mengabaikan statusnya demi menjaga wanita yang dicintainya. Ia bahkan tidak tidur, hanya terus menggenggam tangan Olive sambil sesekali membisikkan kata-kata penenang yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

​Pukul delapan pagi, pintu kamar terbuka perlahan. Karin Felicya atau Bunda Feli datang dengan wajah yang masih menyisakan kekhawatiran. Ia membawa tas besar berisi pakaian rumah yang nyaman untuk Olive, karena ia tahu putrinya sangat pemilih dan benci dengan tekstur kaku kain rumah sakit yang dingin.

​"Bunda," sapa Liam dengan suara baritonnya yang sedikit serak. Ia segera berdiri dan memberikan penghormatan yang sangat sopan kepada calon ibu mertuanya.

​Feli tersenyum haru melihat betapa setianya Liam menjaga Olive. "Liam, terima kasih sudah menemani Olive semalaman. Sekarang pergilah mandi dan bersiap ke kantor. Bunda akan menjaga Olive di sini. Bunda juga sudah menitipkan Alex di mansion utama bersama Ayah Bram dan Brian agar dia tidak rewel mencari Mamanya."

​Liam mengangguk pelan. Di sampingnya, Marcus yang sudah menunggu sejak tadi tampak berdiri tegak. Marcus merasa canggung berada di ruangan yang penuh dengan energi keluarga yang hangat, sehingga saat Bunda Feli menatapnya, asisten pribadi yang kaku itu hanya bisa membungkukkan badan seolah sedang melakukan protokol keamanan militer.

​Liam mendekat ke ranjang Olive yang kini sudah siuman sepenuhnya. "Aku pergi sebentar untuk urusan pekerjaan, Olive. Bunda Feli akan menjagamu. Cepatlah sembuh, atau aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah sakit ini selama satu bulan," bisik Liam pelan sebelum mendaratkan sebuah ciuman hangat di pucuk kepala Olive.

​Olive tersipu, namun ia hanya bisa tersenyum lemah. "Pergilah, Liam. Jangan terlalu memaksakan dirimu bekerja."

​BAB 18: KONSPIRASI DI BALIK KACA HITAM

​Begitu kaki Liam melangkah keluar dari area rumah sakit, aura kehangatan yang tadi ia tunjukkan seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan. Liam masuk ke dalam Rolls-Royce miliknya yang sudah menunggu di lobi. Di dalam mobil, privasi adalah segalanya. Kaca hitam yang tebal memastikan tidak ada telinga luar yang bisa mendengar rencana yang akan segera ia tumpahkan.

​"Laporannya," perintah Liam dingin.

​Marcus membuka tablet pintarnya, jemarinya bergerak lincah menyajikan data lengkap. "Target utama adalah Duke Alistair dari London. Dia adalah bangsawan yang beberapa bulan lalu yang menghina Nona Olive dan Tuan Kecil Alex di depan umum. Dia memiliki pengaruh besar di parlemen Inggris dan memegang beberapa kendali ekspor-impor senjata di Eropa Barat. Dia merasa tak tersentuh karena kedudukannya."

​Liam menyandarkan punggungnya di kursi kulit, sebuah senyum remeh tersungging di bibirnya. Senyuman yang bagi Marcus adalah pertanda bahwa seseorang akan segera kehilangan dunianya.

​"Duke? Pengaruh besar?" Liam terkekeh sinis. "Seberapa berpengaruh pun dia di depan hukum Inggris, dia tetaplah debu di depan sistem keamanan Valerius. Marcus, aku ingin permainan yang berkelas."

​Marcus sedikit ragu. "Tuan, Duke Alistair memiliki koneksi dengan badan intelijen. Jika kita menyerangnya secara terbuka, ini bisa memicu ketegangan diplomatik antara Monako dan Inggris. Risikonya sangat tinggi."

​Liam menoleh tajam kearah Marcus. Tatapan mata square-nya seolah bisa menembus tulang kering asistennya itu. "Apakah aku pernah takut pada perang, Marcus? Dia telah menyentuh wanitaku. Dia telah membuat putraku merasa menjadi 'anak haram'. Dia membiarkan mereka kelaparan selama tiga hari di London sementara dia berpesta pora dengan kekayaannya."

​Suara Liam merendah, namun setiap katanya penuh dengan racun kemarahan. "Cara main kita sederhana namun rapi. Aku tidak ingin dia mati cepat. Pertama, sabotase seluruh pengiriman senjata miliknya di perairan Mediterania. Gunakan unit bayangan kita untuk membajaknya, lalu buat seolah-olah dia terlibat dalam pendanaan teroris global. Kedua, aku ingin seluruh aset perbankannya di Kensington Banking Group dibekukan. Mintalah bantuan Richard Kensington melalui jalur Brian."

​Marcus mengangguk kaku, mencatat setiap instruksi kejam tuannya. "Setelah itu, Tuan?"

​"Setelah dia kehilangan segalanya harta, nama baik, dan kehormatannya bawakan dia padaku. Aku ingin dia merangkak di bawah kaki Alex untuk memohon ampun sebelum aku benar-benar mengirimnya ke neraka."

​Marcus membatin, tuannya benar-benar tidak mengenal ampun. Liam bukan hanya ingin menghancurkan fisik lawannya, tapi ia ingin menghancurkan martabat seseorang hingga tidak ada lagi yang tersisa selain keputusasaan.

​"Jalankan dalam dua puluh empat jam. Aku ingin laporan keberhasilannya besok pagi saat aku kembali ke rumah sakit," tutup Liam sembari menatap ke luar jendela.

​Di luar sana, musim semi sedang mekar, namun di dalam pikiran Liam, badai es sedang bersiap untuk menghantam siapa pun yang berani mengusik kedamaian Golden Butterfly-nya. Ia tidak peduli seberapa tinggi kedudukan lawannya, karena di dunia ini, hanya ada satu penguasa mutlak bagi Liam Maximilian Valerius : kebahagiaan Olivia dan Alex.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!