Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Kota yang Belajar Takut
Kota tidak pernah benar-benar tidur, hanya berganti jenis suara.
Dari balkon lantai dua belas aku bisa melihat lampu kendaraan seperti aliran darah, papan reklame yang berkedip, dan atap-atap rumah yang tampak tenang padahal di dalamnya mungkin ada orang menahan napas karena bunyi aneh di kamar mandi.
Sejak malam pemadaman di apartemen, hidupku berubah jadi semacam pos jaga tidak resmi. Telepon dari penghuni datang silih berganti, wartawan mencoba menghubungi, sementara jaringan lama Pak Jaya bergerak lewat jalur yang lebih licin: media sosial.
Video potongan malam itu beredar dengan narasi macam-macam—ada yang menyebutku dukun modern, ada yang menuduh kami membuat kepanikan untuk menjatuhkan harga properti. Di kolom komentar, namaku dibicarakan orang yang bahkan tidak pernah bertemu denganku.
Aku duduk di kamar kos Dini, menatap layar ponsel.
“Lo nggak bisa jawab semua,” kata Dini sambil menyodorkan kopi sachet.
“Internet itu sumur yang nggak punya dasar.”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Bedanya, sumur asli masih bisa diajak bicara.”
Arga datang membawa beberapa print out berita lokal. Judulnya bombastis: “Fenomena Misterius di Cempaka Residence – Siapa Dalangnya?”
“Ini bukan soal hantu lagi,” katanya.
“Ini perang cerita.”
Aku mengangguk. Selama ini aku mengira ketakutan selalu datang dari gelap. Ternyata cahaya lampu studio bisa lebih tajam.
⸻
Di tengah kekacauan itu, satu pesan masuk dari Maya.
“Kak, di basement ada jejak lagi. Satpam minta Kak Raisa lihat.”
Basement apartemen adalah wilayah yang jarang kusinggahi—ruang beton rendah dengan bau oli dan suara pipa. Tempat yang terlalu manusia untuk dianggap angker, tapi justru karena itu mudah dijadikan panggung baru.
Kami turun sore hari, ditemani dua satpam.
Di lantai dekat tiang parkir ada genangan air membentuk pola aneh, bukan bulat, melainkan seperti garis berkelok—mirip sketsa jalan.
“Padahal nggak ada bocor,” kata satpam bernama Yudi.
“AC juga nggak netes ke sini.”
Aku berjongkok, menyentuh pinggir genangan. Tidak dingin seperti air sumur, lebih seperti air keran yang lupa ditutup.
Aku membunyikan lonceng pelan.
Air itu bergerak sedikit, bukan melawan, lebih seperti merespons.
Di dinding beton kulihat bayangan mobil terparkir memanjang tidak wajar, seolah lampu berasal dari arah yang salah.
Dini berbisik,
“Tempat ini kayak lagi latihan jadi sumur.”
Kalimatnya tepat sekali.
⸻
Malamnya kami mengadakan pertemuan lagi dengan penghuni, tapi kali ini di ruang terbuka dekat kolam renang. Aku sengaja menghindari suasana ritual—tidak ada lilin, tidak ada simbol—hanya kursi plastik dan suara orang bicara.
Seorang ibu muda berdiri ragu.
“Anak saya bilang ada teman baru di lift. Namanya nggak jelas, cuma panggil diri ‘Yang Numpang’.”
Aku menahan napas.
Seorang pria lain menyahut,
“Saya malah mimpi apartemen ini tenggelam pelan, lantai demi lantai.”
Cerita-cerita itu tidak lagi membuatku takut. Yang membuatku takut adalah bagaimana mereka mulai menyatukan kepingan sendiri tanpa arah.
Aku berdiri di depan mereka.
“Kita nggak akan menebak bentuknya,” kataku.
“Yang penting, jangan beri dia kursi di kepala kita.”
Beberapa orang tampak bingung.
Arga membantu menjelaskan: tentang cara sederhana menolak panggilan tak jelas, tentang pentingnya tidak menyebarkan cerita setengah matang, tentang berani berkata “aku tidak tahu” daripada mengarang jawaban.
Itu bukan ilmu gaib.
Itu pendidikan ketenangan.
⸻
Namun kota tidak suka ketenangan yang murah.
Dua hari kemudian sebuah stasiun televisi lokal mengundangku ke acara talk show. Produsernya berjanji akan membahas “sisi rasional”, tapi begitu siaran langsung dimulai, pertanyaannya berubah menjadi jebakan.
“Benarkah Anda memimpin kelompok pemanggil roh di apartemen?” tanya host dengan senyum palsu.
Aku menatap kamera sebentar, teringat pesan Mbah.
“Tidak. Saya memimpin orang untuk tidak takut pada cerita yang dibuat-buat.”
Mereka memutar potongan video editan. Penonton di studio berbisik.
Di titik itu aku hampir marah.
Hampir.
Tapi bayangan Ibu dalam mimpiku muncul: takut itu boleh, marah itu pintu lain.
Aku menarik napas.
“Kalau televisi butuh hantu untuk rating, jangan pinjam hidup kami.”
Ruangan mendadak sunyi.
Produser memberi isyarat iklan lebih cepat.
Keluar dari studio, aku gemetar bukan karena takut—karena sadar betapa mudah kebenaran dipelintir.
⸻
Malam itu gangguan di apartemen meningkat.
Lift berhenti di lantai tiga belas—padahal gedung hanya sampai dua belas. CCTV merekam bayangan berjalan dari basement ke lobby tanpa pemilik. Di kolam renang muncul lingkaran air seperti sumur mini.
Riko, manajer gedung, akhirnya menyerah.
“Tolong lakukan apa pun yang perlu,” katanya padaku.
“Asal gedung ini tidak jadi legenda buruk.”
Aku menjawab pelan,
“Yang perlu bukan ritual, tapi keberanian mengaku salah.”
Dia terdiam.
Di balik semua kaca dan marmer, ada rasa bersalah kolektif yang tidak pernah dibicarakan: pembangunan tergesa, tanah yang dipaksa, uang yang menutup telinga.
⸻
Aku memutuskan menginap di unit kosong lantai dua belas—bukan untuk menantang, hanya untuk mendengar.
Jam 01.40, suara air datang lagi, kali ini dari plafon kamar mandi. Bukan deras, hanya tetes teratur seperti detak jantung.
Aku duduk di lantai, membunyikan lonceng.
“Kalau kamu pindah karena kami ribut, kami akan belajar diam,” kataku.
Tetes itu berhenti sebentar, lalu membentuk satu kata di cermin berembun:
“Dengar.”
Aku memejamkan mata.
Dalam hening itu aku tidak merasakan makhluk lapar, melainkan gema ribuan pikiran penghuni: takut cicilan, takut sendirian, takut masa depan. Semua bercampur jadi bahasa yang menyerupai hantu.
Aku sadar:
alamat yang berpindah sebenarnya adalah alamat kegelisahan manusia modern.
⸻
Besok paginya kami mengajak penghuni melakukan hal yang mungkin terdengar aneh: kerja bakti.
Membersihkan basement, memperbaiki lampu rusak, membuka ventilasi yang tersumbat. Bukan simbolis, tapi nyata.
Di tempat genangan itu kami memasang saluran air baru. Anak-anak ikut mengecat tembok, ibu-ibu menanam pot kecil di koridor.
Tidak ada lonceng, tidak ada doa massal.
Hanya aktivitas yang mengembalikan rasa memiliki.
Malamnya, laporan gangguan menurun drastis.
Maya mengirim pesan:
“Kak, balkon sepi. Nggak ada langkah lagi.”
⸻
Tapi ketenangan selalu punya ekor.
Seorang satpam bernama Yudi memanggilku diam-diam.
“Ada satu tempat yang belum beres,” katanya.
“Ruang pompa di bawah.”
Kami turun berdua. Ruang itu sempit, penuh pipa berkarat dan suara mesin tua.
Di sudut kulihat simbol digores kasar—mirip denah sumur, jelas bukan buatan anak iseng.
“Ini baru,” kata Yudi.
Dadaku berdegup.
Berarti ada manusia yang sengaja menanam benih ketakutan lagi—bukan makhluk.
Aku memotret simbol itu.
Perang cerita belum selesai.
Hanya berganti pelaku.
⸻
Malam menjelang, aku duduk di balkon memandang kota.
Aku mengerti kini, tugasku bukan memburu yang gelap, tapi menjaga yang terang agar tidak mudah padam.
Di kejauhan terdengar sirene ambulans, suara motor, tawa anak kos. Semua bunyi biasa yang dulu tak pernah kuperhatikan.
Kota sedang belajar takut dengan cara baru—dan mungkin, belajar berani juga.
Aku menyimpan lonceng di saku.
Cerita ini terus berjalan, bukan menuju akhir, melainkan menuju bentuk lain dari hidup yang lebih sadar.