Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bisikan di Balik Tirai Putih
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai jendela kamar VVIP rumah sakit, menciptakan garis-garis terang yang membelah lantai marmer yang dingin. Aroma antiseptik masih mendominasi ruangan itu, namun Nala telah menambahkan sedikit aroma terapi lavender di sudut meja untuk memberikan kesan yang lebih manusiawi bagi Raga. Sudah hampir sepuluh hari sejak malam yang mengerikan itu, dan setiap harinya terasa seperti mendaki gunung yang sangat terjal bagi mereka berdua.
Nala duduk di kursi kayu tepat di samping tempat tidur Raga. Tangannya tidak pernah jauh dari tangan suaminya. Ia sedang membacakan sebuah buku novel klasik dengan suara yang tenang dan lembut. Meskipun Raga lebih sering diam, Nala tahu bahwa suaminya mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan. Detak jantung Raga yang terpantau di monitor selalu menunjukkan irama yang sedikit lebih cepat setiap kali Nala mulai berbicara.
Raga berbaring dengan posisi kepala yang sedikit lebih tinggi hari ini. Perban yang membungkus wajahnya masih tampak sangat tebal, menutupi seluruh permukaannya kecuali area mata dan mulut. Dari celah perban itu, mata Raga yang hitam pekat terus mengikuti pergerakan Nala. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun rasa sakit di rahangnya dan selang makanan yang masih sesekali terpasang membuatnya sulit untuk berbicara dalam kalimat yang panjang.
"Mas Raga, Dokter Gunawan bilang sore nanti perban di bagian telinga dan lehermu akan mulai dikurangi," ucap Nala sambil menutup bukunya perlahan. Ia tersenyum, jenis senyuman yang selama ini menjadi obat paling mujarab bagi Raga. "Itu artinya pemulihan kulitmu berjalan sangat cepat. Kamu benar-benar pria yang sangat kuat."
Raga menggerakkan jari telunjuknya, mengetuk punggung tangan Nala dua kali. Itu adalah kode yang mereka sepakati jika Raga ingin mengatakan iya atau setuju. Namun, Nala bisa melihat ada mendung yang menggantung di mata suaminya. Raga tidak merasa kuat. Bagi Raga, menjadi pria yang harus disuapi, dibasuh, dan dibantu hanya untuk sekadar duduk adalah sebuah penghinaan terhadap harga dirinya.
"Aku tahu apa yang Mas pikirkan," bisik Nala, seolah ia bisa membaca pikiran Raga. Ia mencondongkan tubuhnya, mengusap dahi Raga yang tidak tertutup kain dengan sangat hati-hati. "Jangan merasa tidak berdaya. Semua orang butuh waktu untuk sembuh. Bahkan naga paling perkasa pun butuh waktu untuk memulihkan sayapnya setelah bertarung melawan badai."
Raga menarik napas panjang. Suara napasnya terdengar sedikit berat melalui masker oksigen kecil yang masih ia gunakan. "Haus," bisik Raga. Suaranya masih serak dan sangat parau, seolah ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya.
Dengan sigap, Nala mengambil gelas berisi air putih dan sedotan khusus. Ia membantu Raga minum dengan gerakan yang sangat telaten. Ia tidak tampak merasa terbebani sedikit pun. Bagi Nala, merawat Raga adalah cara baginya untuk membayar setiap tetes darah yang dikeluarkan Raga demi menyelamatkannya malam itu.
"Terima kasih," ucap Raga setelah merasa tenggorokannya sedikit lebih nyaman. Matanya menatap Nala dengan sangat dalam. "Kantor... bagaimana?"
Nala meletakkan kembali gelas itu ke meja. Ia tahu Raga tidak akan bisa tenang jika tidak mendengar laporan tentang kerajaannya. "Para direksi sudah mulai tenang setelah rapat kemarin. Pak Hadi bilang harga saham kita mulai merangkak naik karena pasar melihat bahwa manajemen Adhitama tetap solid. Mereka takut padaku, Mas. Mereka tidak menyangka istrimu ini bisa sangat galak kalau sedang marah."
Ada binar bangga yang muncul di mata Raga. Ia ingin tertawa, namun rasa sakit di wajahnya mencegahnya. Ia merasa beruntung karena di saat ia sedang tidak berdaya, ia memiliki seorang wanita yang mampu berdiri tegak sebagai perisainya. Selama ini, Raga menganggap Nala hanyalah sebuah tanggung jawab, namun kini ia menyadari bahwa Nala adalah mitra hidup yang paling setara yang pernah ia temui.
Pintu kamar terbuka dengan suara gesekan yang halus. Sera masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tampak sedikit lebih cerah, dan gips di tangannya sudah diganti dengan penyangga yang lebih ringan. Di belakangnya, Pak Hadi menyusul dengan membawa beberapa dokumen hukum yang tampaknya baru saja selesai diproses.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa Pak Hadi dengan nada yang penuh rasa syukur. "Ada kabar baik dari pihak kepolisian. Seluruh kaki tangan Burhan yang berada di lokasi penyekapan sudah memberikan kesaksian. Mereka mengakui bahwa semua sabotase dan percobaan pembunuhan selama lima tahun terakhir adalah atas perintah langsung dari Burhan Prasetya."
Raga mendengarkan dengan seksama. Tangannya mengepal secara refleks di balik selimut.
"Selain itu," lanjut Pak Hadi, "Bukti-bukti penggelapan dana yang Tuan Muda simpan di server rahasia sudah diserahkan kepada jaksa penuntut. Burhan tidak akan memiliki celah untuk keluar dari penjara. Hukuman seumur hidup adalah hasil yang paling minimal yang bisa ia dapatkan."
Raga menutup matanya sejenak. Ada rasa lega yang luar biasa yang merayapi hatinya. Beban yang selama lima tahun ini menghimpit pundaknya seolah terangkat satu per satu. Musuh yang telah merusak hidupnya kini telah benar-benar ditumbangkan.
"Burhan... mati... di penjara," gumam Raga dengan nada dingin yang menjadi ciri khasnya.
"Benar, Tuan. Dia akan membusuk di sana," sahut Sera dengan nada yang sama dinginnya. "Namun, Tuan Muda, ada satu hal lagi. Keluarga Aristha terus mendesak untuk bertemu dengan Anda. Tuan Bramantyo mengancam akan melakukan protes di depan rumah sakit jika Anda tidak mau membiayai operasi lanjutan untuk kakinya di luar negeri."
Mendengar hal itu, Nala segera berdiri. Wajahnya yang tadinya lembut berubah menjadi sangat tegas. "Sera, katakan pada mereka bahwa biaya rumah sakit yang kita berikan sekarang adalah yang terakhir. Jika mereka masih berani mengancam, sampaikan bahwa kita akan meninjau kembali keterlibatan pasif mereka dalam penculikan kemarin. Saya yakin pengadilan tidak akan keberatan menambah jumlah tersangka."
Raga menatap Nala dengan pandangan yang takjub. Ia baru menyadari bahwa Nala benar-benar telah bertransformasi. Istrinya bukan lagi mangsa yang bisa ditindas oleh keluarga Aristha. Nala kini memiliki taring yang cukup tajam untuk melindungi dirinya sendiri.
"Mas Raga tidak perlu memikirkan mereka," ucap Nala sambil kembali duduk di samping Raga. "Aku sudah mengurusnya. Fokusmu sekarang hanyalah sembuh."
Siang harinya, Dokter Gunawan kembali datang bersama tim spesialis saraf. Mereka akan melakukan pemeriksaan motorik rutin. Ini adalah momen yang paling membuat Raga merasa tertekan. Setiap kali diperiksa, ia diingatkan betapa lemahnya tubuhnya saat ini.
"Tuan Raga, hari ini kita akan mencoba menggerakkan jari-jari kaki Anda lagi," ucap Dokter Gunawan dengan nada yang menyemangati.
Raga memejamkan matanya, berkonsentrasi penuh. Ia mengirimkan perintah dari otaknya ke ujung kakinya. Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Nala menggenggam tangan Raga, memberikan dukungan moral yang diam namun sangat kuat.
Setelah beberapa menit perjuangan yang melelahkan, ibu jari kaki kanan Raga bergerak sedikit. Hanya sebuah gerakan kecil, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan teliti. Namun, bagi Dokter Gunawan, itu adalah sebuah kemenangan besar.
"Sangat bagus! Saraf motorik Anda merespons dengan baik. Pembengkakan di sumsum tulang belakang Anda terus menyusut. Jika kita terus melakukan terapi fisik ini, saya sangat optimis Anda akan bisa berdiri kembali dalam beberapa bulan ke depan," puji Dokter Gunawan.
Raga menghembuskan napas lega. Meskipun kemajuannya lambat, setidaknya ia tahu bahwa ia tidak akan menjadi beban selamanya bagi Nala. Harapan untuk bisa berdiri tegak dan memeluk Nala dengan kedua kakinya sendiri menjadi motivasi terbesar bagi Raga saat ini.
Setelah tim dokter pergi, ruangan kembali sunyi. Raga tampak sangat kelelahan setelah pemeriksaan tadi. Nala mengambil handuk basah dan menyeka keringat di wajah Raga yang tidak tertutup perban.
"Tidurlah, Mas. Kamu sudah bekerja keras hari ini," ucap Nala lembut.
"Nala," panggil Raga pelan.
"Ya, Mas?"
"Wajahku... kapan... dibuka?" tanya Raga. Ada nada ketidakpastian dalam suaranya. Ia takut akan apa yang akan ia lihat di cermin nanti. Meskipun dokter menjanjikan perbaikan, ia sudah terlanjur menganggap dirinya monster selama lima tahun ini.
Nala terdiam sejenak. Ia mengelus bagian rahang Raga yang terbalut kain. "Dokter bilang sekitar dua minggu lagi. Tapi apapun hasilnya nanti, Mas Raga harus ingat satu hal. Aku jatuh cinta pada pria yang melompat demi aku, bukan pada pria yang ada di dalam foto lama perusahaan. Bagiku, kamu tetap orang yang sama."
Raga menatap Nala dengan tatapan yang sangat dalam. Pengakuan Nala yang terus terang itu menyentuh bagian terdalam dari hatinya. Ia menyadari bahwa ia telah membuang banyak waktu dengan bersembunyi di balik kebencian dan kepura-puraan.
"Terima kasih... telah... di sini," bisik Raga sebelum akhirnya matanya perlahan tertutup karena pengaruh obat pereda nyeri.
Nala tetap duduk di sana, memandangi wajah suaminya yang tertidur. Ia merasa bahwa hubungan mereka kini telah melampaui segala bentuk kontrak atau kewajiban. Tragedi itu memang menyakitkan, namun tragedi itulah yang akhirnya meruntuhkan dinding es di antara mereka.
Di luar, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Penantian ini memang masih panjang. Akan ada banyak hari di mana Raga merasa frustrasi dengan kakinya. Akan ada momen-momen mendebarkan saat perban dibuka satu per satu. Namun Nala tahu, selama mereka saling menggenggam tangan, tidak ada badai yang tidak bisa mereka lalui.
Nala mengambil kuas dan buku sketsanya yang sudah lama tidak ia sentuh. Di bawah cahaya lampu ruangan yang temaram, ia mulai menggambar sketsa wajah seseorang. Bukan wajah Raga yang tertutup perban, melainkan sketsa sebuah senyuman yang ia harapkan akan ia lihat suatu hari nanti. Sebuah senyuman dari seorang pria yang telah berdamai dengan masa lalunya.
Malam kembali turun menyelimuti rumah sakit. Pak Hadi masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman sebelum ia pamit untuk istirahat. Sera tetap berjaga di depan pintu, berdiri seperti patung yang tak tergoyahkan.
Nala merebahkan kepalanya di tepi tempat tidur Raga, menggenggam jari suaminya yang terasa hangat. Ia menutup matanya, membiarkan dirinya beristirahat di samping pria yang telah menjadi pusat dunianya. Di dalam ruangan sunyi itu, hanya ada detak jantung yang saling bersahutan, sebuah tanda bahwa cinta seringkali tumbuh paling subur di tanah yang paling banyak menderita.
Perjalanan pemulihan ini memang sebuah perjuangan, namun bagi Nala, setiap detik yang ia habiskan di samping Raga adalah sebuah anugerah. Dan ia bersumpah dalam hatinya, bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Raga merasa sendirian lagi, apapun yang terjadi di masa depan nanti.
ceritanya bagu😍