Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Belum Mengering Bab 21: Tamparan Kenyataan (Season 2)
Malam yang seharusnya menjadi gerbang menuju surga masa depan kami, seketika berubah menjadi liang lahat yang pengap bagiku. Aku duduk mematung di tepi tempat tidur yang baru saja kami hiasi dengan tawa bahagia beberapa jam lalu. Mataku tak lepas menatap cincin emas murni yang melingkar di jari manisku. Beberapa jam yang lalu, benda ini adalah jangkar yang menahan jiwaku agar tidak lagi hanyut dalam ketidakpastian. Sekarang, logam itu terasa seperti bara api yang membakar kulitku, mencekik aliran darah hingga ke jantung.
Aku mendengar suara air pancuran di kamar mandi berhenti. Sunyi sejenak, sebelum pintu terbuka dan Mas Aris keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah berantakan, wajahnya tampak segar dan begitu tenang—sebuah ketenangan yang sangat kontras dengan badai yang sedang menghantam seluruh saraf di tubuhku. Di matanya, aku masih melihat sisa-sisa binar cinta yang tadi sore ia deklarasikan di bawah langit Jakarta. Namun bagiku, binar itu kini tampak seperti pantulan fatamorgana yang kejam.
"Arini? Kamu belum tidur, Sayang?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut, jenis nada yang biasanya mampu meluluhkan segala gundahku.
Ia berjalan mendekat, menyebarkan aroma sabun maskulin yang biasanya menenangkan. Saat ia hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh bahuku, aku refleks menjauh seolah-olah tangannya adalah aliran listrik yang mematikan. Gerakanku begitu kasar, hampir membuatku terjatuh dari tepi ranjang, dan itu membuatnya mematung di tempat.
"Jangan sentuh aku, Mas," suaraku bergetar hebat. Itu bukan lagi suara wanita yang sedang bermanja, melainkan bisikan yang pecah, penuh dengan racun luka.
"Ada apa? Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali," ia mencoba meraih tanganku lagi dengan ekspresi cemas yang tampak begitu tulus. Sandiwaranya benar-benar sempurna, atau mungkin, egonya telah menelan kenyataan pahit itu begitu dalam hingga ia lupa betapa busuknya rahasia yang ia simpan.
Aku tidak menjawab. Dengan tangan gemetar, aku menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas, yang layarnya masih menyala menampilkan pesan singkat dari nomor tak dikenal itu. Aku menyodorkannya tepat di depan wajahnya.
Aku memperhatikan setiap inci perubahan raut wajah pria itu. Dari bingung, menjadi pucat pasi seputih kapas, lalu berubah menjadi ketakutan yang nyata. Pupil matanya membesar, dan aku bisa melihat jakunnya naik turun saat ia berusaha menelan ludah yang terasa kering. Keheningan yang menyelimuti kami selama beberapa detik berikutnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. Keheningan itu adalah sebuah konfirmasi.
"Ini apa, Mas? 'Kenang-kenangan' apa yang dimaksud perempuan ini?" tanyanya. Air mata pertama jatuh, terasa panas dan menyengat di pipiku. "Kamu bilang kontrak itu sudah mati. Kamu bilang kamu memilihku dengan kesadaran penuh dan tanpa bayang-bayang siapa pun. Jadi, apa makna dari pesan ini? Kenapa Clara mengklaim ada sesuatu yang 'hidup' di antara kalian?"
Mas Aris limbung. Ia jatuh berlutut di depanku, mencoba memegang lututku dengan tangan yang sama gemetarnya dengan tanganku. "Arini, tolong... dengarkan aku dulu. Itu... itu kejadian satu malam saat aku benar-benar hancur karena tekanan Ibu. Aku mabuk berat, aku kehilangan akal sehatku. Aku bersumpah, setelah malam itu aku memutus semua akses dengannya. Aku pikir itu hanya gertakan Clara untuk memeras uangku."
"Kamu tidak ingat, tapi dia membawa hasilnya ke hadapanku melalui pesan ini!" teriakku, suaraku meninggi memenuhi kamar yang kini terasa seperti penjara. Dadaku sesak, oksigen seolah menghilang dari ruangan ini. "Selama dua tahun ini, aku bertahan di rumah ini seperti pajangan yang tak berharga. Aku menelan semua hinaan ibumu, aku menerima pandangan rendah dari dunia sebagai istri kontrak, hanya karena aku percaya suatu saat kamu akan melihatku sebagai manusia. Dan saat kamu akhirnya melakukannya, saat aku baru saja menyerahkan seluruh hatiku padamu tanpa syarat, kamu justru menyiramku dengan lumpur paling busuk!"
"Aku akan mengurusnya, Arini. Aku akan melakukan tes DNA secepatnya, aku akan memastikan dia tidak mengganggumu lagi—"
"Masalahnya bukan soal tes DNA itu, Mas!" aku memotong ucapannya dengan isak tangis yang tak lagi terbendung. Hatiku bukan sekadar patah, ia hancur menjadi debu. "Masalahnya adalah kamu membiarkan aku mencintaimu di atas tumpukan kebohongan. Kamu membiarkan aku membangun istana masa depan di atas sampah yang kamu sembunyikan rapat-rapat. Kamu membiarkan aku menjadi wanita bodoh yang merayakan cinta, sementara di luar sana, ada wanita lain yang mengandung darah dagingmu!"
Setiap kata yang keluar dari mulutku terasa seperti duri yang menyobek tenggorokanku. Aku meraih tangan kiriku, mencengkeram cincin itu dengan tenaga yang tersisa, dan menariknya paksa dari jariku. Tanganku gemetar hebat hingga cincin itu terlepas dan jatuh ke lantai marmer dengan bunyi denting yang memilukan. Suara logam yang beradu dengan lantai itu terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahan kami.
"Jangan, Arini... tolong jangan lepas itu. Aku mohon..." suaranya parau, air mata mulai mengalir di matanya yang merah. Pria perkasa yang selalu tegak itu kini hancur di kakiku, tapi aku tidak merasakan kemenangan sedikit pun. Yang ada hanyalah rasa kosong yang teramat sangat.
Aku tidak memedulikan permohonannya. Aku berdiri dengan sisa kekuatan yang ada, menyeret koper kecil yang tersembunyi di bawah ranjang—koper yang dulu sering ingin kugunakan untuk kabur namun selalu kubatalkan karena cinta. Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk tinggal. Aku tidak tahu harus ke mana di tengah malam buta seperti ini, aku hanya tahu bahwa udara di dalam rumah ini sudah terlalu beracun untuk kuhirup satu detik saja.
Setiap sudut kamar ini, setiap wangi parfumnya, bahkan setiap kenangan manis yang baru saja tercipta beberapa jam lalu, sekarang hanya berfungsi sebagai pengingat betapa murahnya harga kejujurannya.
"Aku butuh waktu untuk tidak melihat wajahmu, atau aku akan gila karena membayangkan apa yang kamu lakukan dengan dia di belakangku," kataku sambil menghapus air mata dengan kasar hingga pipiku terasa perih.
Aku berjalan melewati suamiku yang masih bersimpuh bersimbah air mata di lantai, meninggalkan pria yang baru saja kusebut sebagai "rumah" terakhirku. Aku melangkah keluar pintu, menuju kegelapan malam Jakarta yang terasa jauh lebih jujur dan dingin daripada janji-janji manis yang ternyata hanyalah bungkus dari sebuah pengkhianatan besar. Di belakangku, aku mendengar isak tangis Mas Aris yang menyebut namaku, namun kakiku terus melangkah, membawa tubuhku yang kini terasa seperti cangkang kosong tak bernyawa.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.