Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Tiga mayat murid batin itu kini tergeletak kaku di antara batang-batang bambu yang patah. Aku membersihkan sisa darah yang menempel di cakar kananku menggunakan jubah mereka, sebelum akhirnya menarik kembali energi monster itu ke dalam tubuh.
Kenapa aku harus repot-repot membersihkan jejak ini? Karena musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang datang menyerang secara terang-terangan, melainkan mereka yang mengintai dari balik bayangan tanpa suara.
"Sistem, berapa sisa waktu sebelum sinkronisasi ini benar-benar stabil?" tanyaku dalam hati sembari mengenakan kembali jubah biru yang kini sudah compang-camping.
[Sinkronisasi mencapai 99%. Membutuhkan periode istirahat selama enam jam untuk mengunci esensi Asura.]
"Enam jam, ya? Itu waktu yang cukup lama untuk tetap berada di wilayah terbuka seperti ini," tandasku sembari melangkah meninggalkan area tersebut.
Aku memutuskan untuk tidak kembali ke desa. Aku lebih memilih menyusuri pinggiran sungai yang mengalir menuju arah barat laut. Setidaknya, suara air yang gemericik bisa membantu menyamarkan suara langkah kakiku.
Setelah berjalan sekitar dua jam, aku melihat sebuah gubuk kecil yang tampak setengah rubuh di tepi sungai. Di depannya, seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh sedang sibuk memperbaiki jala ikan.
"Permisi, Paman," sapaku dengan nada yang dibuat seramah mungkin.
Pria itu menoleh, matanya yang mulai kabur menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Seorang murid sekte? Apa yang dilakukan orang terhormat sepertimu di tempat kumuh ini?"
"Aku hanya pengembara yang kehilangan arah setelah diserang perampok gunung," jawabku sembari memperlihatkan robekan pada jubahku.
"Perampok gunung? Akhir-akhir ini mereka memang semakin berani," sahut pria itu sembari meletakkan jalanya. "Namaku Wu. Kau bisa beristirahat di sini jika kau mau, asalkan kau tidak keberatan dengan bau ikan."
"Terima kasih, Paman Wu. Aku hanya butuh tempat duduk dan mungkin sedikit air," cetusku sembari duduk di sebuah bangku kayu yang sudah goyang.
Kenapa aku memilih beristirahat di tempat seorang nelayan miskin? Karena di mata para pengejar dari sekte besar, tempat seperti ini adalah titik buta yang tidak akan pernah mereka lirik.
"Kau terlihat sangat lelah, anak muda. Apakah perampok itu mengambil semua barangmu?" tanya Paman Wu sembari menyodorkan sebuah batok kelapa berisi air.
"Hanya beberapa barang berharga. Untungnya nyawaku masih tersisa," balasku sembari meneguk air itu hingga habis.
"Dunia ini memang sudah gila. Orang-orang saling bunuh hanya demi sejumput energi atau kepingan perak," gumam Paman Wu sembari kembali menekuni jalanya.
Aku memperhatikan gerakan tangannya yang lincah. Meski ia hanya seorang nelayan biasa, ada ketenangan yang luar biasa dalam setiap gerakannya. Sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan sejak sistem ini merasuki tubuhku.
"Paman, apakah kau tahu jalan tercepat menuju Kota Guntur tanpa melewati jalur utama?" tanyaku kemudian.
Paman Wu menghentikan gerakannya sejenak. "Kota Guntur? Itu perjalanan yang jauh. Kenapa kau ingin pergi ke sana di saat semua orang justru sedang membicarakan kekacauan di Sekte Awan Azure?"
"Kekacauan? Apa maksudmu?" tanyaku, pura-pura terkejut.
"Kabar burung menyebar lebih cepat dari angin, anak muda. Katanya ada monster yang membantai para tetua di sana," bisik Paman Wu dengan wajah serius. "Jika kau ingin ke Kota Guntur, sebaiknya kau lewat jalur hutan mati di balik bukit ini. Jalannya sulit, tapi tidak ada penjaga sekte yang berani masuk ke sana."
"Hutan mati? Kedengarannya menarik," tandasku.
"Jangan bercanda. Banyak orang masuk ke sana dan tidak pernah keluar lagi," peringat Paman Wu.
Kenapa hutan itu disebut hutan mati? Karena manusia selalu takut pada hal-hal yang tidak bisa mereka pahami, sementara bagi monster sepertiku, kegelapan adalah rumah yang paling nyaman.
"Aku akan berhati-hati, Paman," jawabku mantap.
Saat aku sedang berbincang, tiba-tiba telingaku menangkap suara kepakan sayap yang tidak biasa dari arah langit. Seekor burung elang pengintai dengan pita merah di kakinya sedang berputar-putar di atas gubuk ini.
"Sial, mereka lebih cepat dari yang kukira," gumamku pelan.
"Ada apa?" tanya Paman Wu bingung.
"Paman, sebaiknya kau masuk ke dalam rumah dan jangan keluar apa pun yang terjadi," perintahku sembari berdiri.
Aku bisa merasakan energi di dalam tubuhku mulai bergejolak kembali. Sisa satu persen sinkronisasi itu terasa seperti api yang membakar pembuluh darahku.
[Peringatan: Energi eksternal terdeteksi. Dua individu dengan kultivasi Ranah Formasi Inti Tahap Menengah sedang mendekat.]
"Dua orang sekaligus? Sepertinya mereka benar-benar ingin menghabisiku," ucapku sembari mengepalkan tangan.
Dua sosok pria dengan jubah abu-abu mendarat dengan dentuman keras di halaman gubuk Paman Wu. Mereka membawa tombak kembar yang dialiri petir ungu.
"Han Wol, menyerahlah sekarang atau kami akan meratakan tempat ini," ancam salah satu dari mereka yang memiliki bekas luka di pipinya.
Aku melirik ke arah gubuk di belakangku, lalu kembali menatap kedua pria itu dengan senyum miring. "Meratakan tempat ini? Kurasa kalian bahkan tidak akan sempat mengayunkan tombak itu sebelum kepalamu terlepas."
"Jangan sombong, bocah monster!" teriak rekannya sembari melesat maju.
Kecepatannya luar biasa, namun di mataku, gerakannya terasa seperti siput yang merangkak. Aku membiarkan sebagian tangan kiriku berubah, sisik-sisik tajam mulai merobek kulitku secara perlahan.
Kenapa aku hanya mengubah tangan kiriku saja? Karena mengalahkan lawan dengan kekuatan minimal adalah cara terbaik untuk mengejek harga diri mereka yang tinggi.
Benturan pertama terjadi, dan suara ledakan energi memekakkan telinga. Namun, di tengah kepulan debu, aku merasakan sesuatu yang aneh dari arah hutan di belakang gubuk.
Sesuatu yang jauh lebih kuat dari kedua pengejar ini sedang mengamatiku.
"Serangan yang lambat," ejekku sembari menangkap ujung tombak petir itu dengan telapak tangan bersisik.
"Bagaimana mungkin?" tanya pria berpipi luka itu dengan ekspresi tidak percaya.
Aliran listrik ungu merambat ke lenganku, namun sisik hitam ini justru menyerap energi tersebut tanpa hambatan. Aku bisa merasakan sistem sedang memproses petir itu menjadi cadangan energi kecil.
"Tombakmu bagus, tapi penggunanya sangat mengecewakan," balasku sembari mencengkeram bilah logam itu hingga retak.
"Jangan hanya diam! Gunakan Teknik Penjara Guntur!" teriak pria lainnya yang mulai memutar tombaknya di udara.
Dua tombak itu mulai bersinkronisasi, menciptakan jaring listrik yang mencoba mengurungku. Aku melirik ke arah gubuk, memastikan Paman Wu tetap berada di dalam.
Kenapa orang-orang ini selalu merasa perlu menggunakan formasi jika mereka sudah tahu lawan mereka jauh lebih unggul? Jawabannya adalah karena rasa takut yang tersembunyi di balik kesombongan mereka.
"Jaring ini tidak akan cukup untuk menahan monster," ucapku sembari mengayunkan tangan kiriku dengan gerakan vertikal yang cepat.
Cakarku membelah udara, memutuskan jaring petir itu seolah-olah hanya benang tipis. Tekanan energi yang keluar dari ayunan tanganku mementalkan kedua pria itu hingga mereka menabrak pohon besar di pinggir sungai.
"Siapa sebenarnya kau? Han Wol yang kami kenal hanyalah sampah tanpa tenaga dalam!" teriak pria dengan bekas luka sembari menyeka darah dari sudut bibirnya.
"Sampah yang kalian maksud sudah mati di dalam gua tempo hari," sahutku sembari melangkah mendekat secara perlahan.
Aku sengaja memperlambat langkahku, membiarkan setiap dentuman kakiku di tanah memberikan tekanan mental pada mereka. Ketakutan adalah bumbu terbaik sebelum aku mengekstraksi esensi mereka.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa yang sangat halus namun dingin terdengar dari arah hutan mati. Sosok tinggi dengan pakaian serba hitam dan topeng perak muncul dari balik bayangan pohon.
"Menarik sekali. Seorang bocah manusia yang bisa berasimilasi dengan esensi Asura purba," ucap sosok bertopeng itu sembari bertepuk tangan pelan.
Dua pria jubah abu-abu itu langsung menoleh dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Mereka sepertinya mengenali sosok yang baru muncul ini.
"Utusan Bayangan dari Sekte Langit Hitam?" gumam salah satu dari mereka dengan suara bergetar.
"Kenapa kalian gemetar? Bukankah tadi kalian sangat bersemangat ingin menangkap bocah ini?" tanya Utusan Bayangan itu dengan nada mengejek.
Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan menghadap ke arah hutan. Energi yang terpancar dari pria bertopeng ini jauh melampaui siapapun yang pernah kutemui, bahkan melebihi Tetua Jang Gwang.
"Sepertinya penonton yang sedari tadi mengintai sudah memutuskan untuk turun ke panggung," cetusku sembari merendahkan posisi tubuh.
"Aku hanya pengamat, Han Wol. Tapi melihat potensimu, aku jadi ingin tahu seberapa jauh kau bisa bertransformasi sebelum jiwamu benar-benar hancur," sahutnya dengan nada yang sangat tenang.
"Jiwaku tidak akan hancur semudah itu," balasku tegas.
Utusan Bayangan itu mengangkat tangannya, dan tiba-tiba saja kedua pengejar dari Sekte Awan Azure itu mengejang hebat. Tanpa sempat mengeluarkan suara, tubuh mereka hancur menjadi debu hitam yang tertiup angin.
Kenapa dia membunuh mereka jika kami memiliki tujuan yang sama untuk menyingkirkanku? Alasannya karena bagi orang sekuat dia, sampah yang menghalangi pandangannya tidak layak untuk terus bernapas.
"Sekarang gangguan sudah hilang. Mari kita lihat seberapa kuat cakarmu itu," ajak Utusan Bayangan tersebut sembari menghilang dari pandanganku.
Sistem memberikan peringatan darurat dengan warna merah menyala yang memenuhi seluruh penglihatanku.
[Peringatan! Musuh berada di Ranah Transformasi Jiwa. Risiko kematian: 95%. Rekomendasi: Transformasi Penuh segera dilakukan!]