Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Si Adik angkat Kecil
Keesokan harinya, aku terbangun pukul 05:03. Pagi ini, aku mengusahakan diri untuk bersujud di atas sajadah.
Setelah selesai salat, aku segera ke dapur untuk memasak nasi. Tiba-tiba, Ratih keluar dari kamarnya dan melihatku sedang sibuk di dapur.
"Kamu mau bikin apa?" tanyanya sambil menggaruk pinggang.
"Masak nasi, Kak. Oh iya, kalau mau belanja di sini biasanya di mana ya?" tanyaku sambil memasukkan panci ke dalam magiccom.
"Aku biasanya ke pasar. Kenapa? Kamu mau ikut?" tanya Ratih. Aku pun mengangguk.
"Ya sudah, ayo bareng aku saja," ajak Ratih.
"Boleh, aku ganti baju dulu ya." Ratih mengangguk, lalu beranjak menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar, Mbak Puji terbangun karena mendengar suara pintu yang sedikit berderit.
"Mbak sudah bangun?" tanyaku sembari mengambil rok span selutut dan kaus hitam pendek. Aku membiarkan rambut panjangku yang se-siku terurai, lalu mengenakan bando serta kacamata putih.
Terakhir, kupoleskan lipstik oranye yang membuat penampilanku tampak elegan dan sempurna bagi siapa pun yang memandang.
Mbak Puji yang melihatku pun tertegun dan berkomentar, "Mau ke mana? Kok kamu nggak pakai bedak sih? Aku perhatikan kamu cuma pakai krim dan lipstik saja, tapi wajahmu kelihatan bersih sekali seperti pakai bedak." Ia berujar sambil mengucek matanya.
"Aku mau ke pasar. Hmm, aku memang begini kalau dandan. Alah, ke pasar saja ngapain pakai bedak?" jawabku. "Sudah, kamu bangun gih. Jangan lupa irisin bawang sama cabai yang agak banyak ya. Nanti kita makan bareng. Oh iya satu lagi, tolong ulek bumbu lengkap juga nanti," pintaku.
Meski Mbak Puji lebih tua dariku, aku tidak suka jika dia hanya berbaring saja dan tinggal makan saat semuanya sudah siap.
"Oke, aku mandi dulu baru bereskan kamar," ucapnya.
Aku dan Mbak Puji memang satu kamar, meski tempat tidur kami berbeda. Di setiap sudut kamar sudah kutempelkan tulisan berisi jadwal membereskan kamar serta menyapu dan mengepel secara bergantian.
Karena dalam seminggu ada tujuh hari, aku membagi jadwalnya: Senin sampai Rabu tugas Mbak Puji, lalu Kamis sampai Sabtu tugasku begitu seterusnya.
Aku sangat tidak suka jika kamar berantakan, apalagi jika ada bekas makan atau abu rokok yang dibuang sembarangan di sudut kasur. Itulah sebabnya aku menyediakan asbak di sana.
Bagiku prinsipnya sederhana: jika ingin berbagi kamar denganku, harus bisa menjaga kebersihan. Apalagi aku memiliki alergi debu.
Setelah memberikan instruksi kepada Mbak Puji, aku segera mengambil dompet dan tas kecil.
"Aku pergi ke pasar dulu ya, Mbak," pamitku tanpa menunggu jawaban darinya. Aku bergegas turun ke bawah dan mendapati Ratih sudah menunggu.
"Lah, tumben Lala nggak ikut?" tanyaku. Ratih hanya mendesah berat.
"Hah, nggak usah ditanya, Yan. Noh, anaknya sudah di mobil. Duh, pusing aku, kelakuannya macam anak SD, tahu nggak!" gerutu Ratih.
"Sabar, Kak. Namanya juga dia masih muda," aku pun terkekeh.
"Dasar kamu ini! Mending kalau kayak anak SD, ini mah kelakuan anak TK padahal tingginya sudah macam tiang listrik. Emangnya dia pikir aku mamaknya apa?" gerutu Ratih lagi.
Tiba-tiba, sebuah kepala menyembul dari jendela mobil. "Kalian ini mau curhat apa mau ke pemerintah?" sahut Lala. Aku hanya tersenyum sambil mengelus pundak Ratih mencoba menenangkannya.
"Sabar... ya Allah, sabar. Nah, baru saja diomongin, eh kepalanya sudah nongol. Sudahlah, ayo ke pasar, keburu siang ini," ajak Ratih. Ia pun masuk ke mobil, sementara aku naik melalui pintu sebelah kanan.
"Kak, nanti mampir supermarket ya? Aku mau beli permen di sana," ucap Lala tiba-tiba.
"Ya ampun, La! Permen di pasar kan ada, ngapain jauh-jauh ke supermarket?" omel Ratih.
"Kan permen yang di pasar beda. Ini permen langka lho, di pasar mana ada," jawab Lala membela diri.
"Sudahlah, terserah kamu saja, La. Yang penting jangan merepotkan sekompleks sini, itu saja," balas Ratih pasrah, yang disambut senyum penuh kemenangan dari Lala.
Karena jarak ke pasar tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 15 menit kami sudah sampai. Tadinya kalau hanya berdua kami ingin naik ojek, tapi karena ada Lala, kami akhirnya naik taksi online.
"Ini ya, Pak, uangnya," ucap Ratih sambil memberikan selembar uang biru kepada sopir.
"Ini kembaliannya, Mbak. Terima kasih," balas Pak Sopir.
Ratih turun dan menyusul kami yang sudah menunggu di depan. "Gimana, Yan? Kita mau masak apa hari ini?"
"Tadinya aku mau masak oseng kangkung campur udang, sekalian beli tempe dan bahan sop. Oh iya, cabai di kulkas juga habis, jadi beli sekalian saja ya," usulku.
"Kalau urusan bumbu, memang itu jatahku minggu ini. Aslinya sih sekalian belanja bahan lain, tapi karena belanja sayurnya sudah kamu ambil alih, aku bagian beli bumbu dapur saja," jawab Ratih yang membuatku sedikit melongo.
"Jadi urusan dapur itu ada jadwalnya ya?" tanyaku.
"Betul, tapi kami nggak pernah menentukan harus beli berapa banyak. Semampu kita saja," jelas Ratih sambil mulai memilah bawang.
"Oalah, aku kirain kulkasnya harus diisi sampai penuh banget," ucapku.
Ratih terkekeh. "Kamu ini... kalau diisi penuh satu kulkas, ya enak di uang belanja mereka dong!" celetuk Ratih. Namun, saat ia menoleh ke samping, ia menyadari sesuatu. "Lah, Lala ke mana, Yan?"
"Lho, bukannya tadi di sebelahmu?" aku balik bertanya heran. Ratih menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis.
"Entahlah, bikin pusing saja. Sudahlah, kita belanja saja dulu, nanti baru cari dia," jawabnya enteng.
"Nanti kalau dia hilang bagaimana?" tanyaku mulai panik.
"Nggak usah panik, dia sudah gede. Lagian dia tahu jalan daerah sini, jadi nggak usah khawatir," balas Ratih menenangkan. Kami pun akhirnya melanjutkan belanja.
Belanjaan sudah penuh di tanganku dan tangan Ratih. Kami memang sengaja belanja untuk stok seminggu agar tidak perlu bolak-balik ke pasar.
Biasanya, Lala, Mawar, Ratih, bahkan aku sendiri sering membeli makanan lewat aplikasi daring, kecuali Mbak Puji yang jarang sekali jajan di luar.
Namun, berhubung uang sedang pas-pasan dan kami belum gajian, mau tidak mau aku harus membelanjakan keperluan Mbak Puji juga agar kami semua bisa makan.
Selesai belanja, kami berdiri di gang pasar. Namun, sosok Lala tidak terlihat sama sekali di depan gerbang.
"Lah, si Lala ke mana ini? Kenapa pergi nggak bilang-bilang, sih!" umpat Ratih kesal. Cuaca pun mulai terasa panas karena matahari semakin terik.
"Sabar, Kak. Coba ditelepon dulu," usulku.
Saat Ratih sedang mencoba menghubungi ponselnya, tiba-tiba aku melihat sosok yang tidak asing di bawah pohon jambu yang menjulang tinggi.
"Kak, bukannya itu Lala, ya?" tanyaku sambil menunjuk ke depan. Di sana, Lala sedang duduk membelakangi kami sambil mengayun-ayunkan kaki kirinya.
"Lala! Kamu ke mana saja, sih? Bikin orang nyariin saja, tahu nggak!" omel Ratih langsung saat teleponnya diangkat, padahal orangnya ada di depan mata.
"Habisnya tadi aku ditinggal," jawab Lala di seberang telepon.
"Sekarang kamu balik ke sini atau aku tinggal beneran nih?" ancam Ratih.
"Lah, jangan dong! Kalian di mana?" tanya Lala panik.
"Aku di belakangmu!" jawab Ratih ketus.
Lala menoleh. "Eh, Kak Ratih... hehehe." Ia hanya bisa cengengesan saat mendapati Ratih sudah berdiri di belakangnya.
"Dasar nggak jelas! Eh Yani, kamu mau langsung pulang atau ikut kami ke supermarket?" tawar Ratih.
"Aku pulang saja, Kak. Soalnya mau langsung masak," jawabku.
"Ya sudah, aku pesankan ojek daring ya? Soalnya nggak mungkin kamu bawa belanjaan sebanyak ini sendirian," kata Ratih sambil membuka ponselnya untuk memesan taksi daring untuknya dan ojek untukku.
"Hmm, aku ikut saja. Yang penting sampai rumah dengan selamat," jawabku. Ratih pun mengangguk setuju.
"Aku juga sudah kirim pesan ke Kak Mawar supaya nanti bantu bawain belanjaannya kalau sudah sampai," tambah Ratih lagi. Aku hanya manggut-manggut mengerti.
Bersambung...