Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Takut
Rumor tidak lagi berjalan seperti bisikan. Ia bergerak seperti arus sungai setelah musim hujan—deras, keruh, dan membawa apa pun yang disentuhnya.
Aku mendengarnya pertama kali di aula pertemuan Sekte Awan Utara.
Aku hanyalah murid luar yang bertugas menuangkan teh. Tidak ada yang memperhatikanku, dan justru karena itu aku mendengar segalanya.
Para tetua duduk melingkar. Wajah mereka tegang.
“Zona Hitam itu sudah mengganggu perdagangan,” kata salah satu tetua. “Karavan memutar terlalu jauh. Kita kehilangan banyak sumber daya.”
Tetua lain menggeleng pelan. “Kehilangan sumber daya lebih baik daripada kehilangan nyawa.”
Ruangan itu hening.
Nama lembah tidak pernah disebut. Seolah-olah menyebutnya saja bisa mengundang bencana.
Tetua tertua akhirnya berbicara. Suaranya serak, tapi setiap kata jatuh seperti batu.
“Kalian semua sudah mendengar cerita yang sama. Seorang eksistensi diam. Satu murid kecil. Dan tekanan qi yang membuat bahkan leluhur sekte tua memilih mundur.”
Ia menatap satu per satu wajah di sekelilingnya.
“Aku tidak peduli apakah rumor itu dilebihkan. Yang penting adalah dampaknya. Dunia kultivasi sedang berubah hanya karena ketakutan terhadap sesuatu yang belum kita lihat dengan mata kepala sendiri.”
Tidak ada yang membantah.
Karena itulah bagian paling menakutkan: tidak seorang pun berani menjadi yang pertama untuk membantah.
Sementara itu, jauh di dalam lembah, hidup berjalan seperti biasa.
Ci Lung duduk di tepi sungai kecil, memegang pancing. Muridnya duduk di samping, mencoba meniru caranya duduk.
“Kamu terlalu tegang,” kata Ci Lung tanpa menoleh.
“Aku takut ikannya lepas, Guru.”
“Ikan itu tidak peduli kamu takut atau tidak.”
Murid kecil itu mengerutkan kening, mencoba memahami kebijaksanaan yang baginya terdengar sangat dalam. Ia mengendurkan bahunya, menarik napas perlahan seperti yang pernah diajarkan Ci Lung.
Di saat yang sama, qi di sekitarnya berputar halus, masuk ke tubuhnya dengan alami.
Ci Lung tidak memperhatikan. Ia sedang sibuk mengomel dalam hati karena tidak ada ikan yang menggigit umpannya.
Kalau dia tahu bahwa setiap napas muridnya sedang menyempurnakan fondasi kultivasi yang bahkan para jenius sekte besar tidak bisa capai dalam waktu bertahun-tahun, mungkin dia akan jatuh dari batu tempatnya duduk.
Tapi dia tidak tahu.
Dan dunia di luar lembah justru menafsirkan ketidaktahuan itu sebagai kedalaman yang tak terjangkau.
Beberapa minggu kemudian, sebuah keputusan dibuat.
Tiga sekte besar mengadakan pertemuan rahasia. Bukan untuk menyerang lembah, melainkan untuk menyepakati satu hal sederhana:
Tidak seorang pun boleh mendekatinya sendirian.
Jika lembah itu harus diselidiki, maka harus dilakukan bersama-sama. Bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saksi.
“Aku tidak ingin memprovokasi eksistensi itu,” kata perwakilan Sekte Pedang Selatan. “Tapi aku juga tidak ingin hidup dalam bayang-bayang cerita.”
Perwakilan sekte lain mengangguk. “Kita kirim pengamat. Bukan penantang. Jika dia benar-benar berada di luar pemahaman kita, maka kita mundur.”
Kesepakatan itu terdengar masuk akal.
Namun bahkan saat mereka mengucapkannya, masing-masing merasakan hal yang sama:
Mereka sedang merundingkan cara untuk mendekati ketakutan mereka sendiri.
Rombongan kecil akhirnya dibentuk.
Lima kultivator tingkat tinggi, masing-masing mewakili satu sekte. Mereka tidak membawa senjata mencolok. Tidak ada niat membunuh. Hanya niat untuk melihat.
Saat mereka mendekati perbatasan lembah, langkah mereka melambat dengan sendirinya.
“Apa kamu merasakannya?” tanya salah satu dari mereka.
Yang lain mengangguk.
Qi di udara terasa… tenang.
Bukan tenang seperti tempat kosong, melainkan tenang seperti permukaan danau yang terlalu sempurna untuk disentuh.
Salah satu kultivator mengulurkan tangannya, membiarkan qi mengalir di telapak tangannya. Aliran itu langsung menyatu dengan lingkungan sekitar, tanpa perlawanan.
“…Ini tidak alami,” bisiknya.
Tidak ada tekanan yang memaksa mereka mundur. Tidak ada aura yang mengintimidasi. Justru ketiadaan ancaman itulah yang membuat mereka semakin gelisah.
Mereka melangkah lebih dalam.
Dan kemudian mereka melihatnya.
Sebuah bangunan tua. Seorang pria duduk di depannya, sedang memperbaiki jaring pancing yang sobek. Di dekatnya, seorang anak kecil berusaha menyalakan api dengan wajah penuh konsentrasi.
Tidak ada kilatan energi. Tidak ada tanda-tanda kekuatan besar.
Hanya pemandangan sederhana yang terasa… salah.
Anak kecil itu akhirnya berhasil menyalakan api kecil. Wajahnya bersinar bangga.
“Aku berhasil, Guru!”
Pria itu mengangguk tanpa melihat. “Bagus. Jangan bakar rumah.”
Kelima kultivator itu menahan napas.
Interaksi sesederhana itu entah bagaimana terasa seperti ritual kuno yang mereka tidak mengerti. Setiap gerakan anak itu selaras dengan aliran qi di sekitarnya. Api kecil yang menyala tampak stabil secara mustahil, seolah-olah dunia sendiri melindunginya.
Salah satu kultivator merasakan keringat dingin di punggungnya.
“…Kita tidak seharusnya di sini,” katanya pelan.
Yang lain tidak membantah.
Mereka menyadari sesuatu yang membuat jantung mereka berdebar: pria itu tidak pernah menoleh ke arah mereka.
Bukan karena dia tidak menyadari kehadiran mereka.
Tetapi karena mereka… tidak cukup penting untuk diperhatikan.
Kesadaran itu menghantam lebih keras daripada tekanan aura apa pun.
Tanpa sepatah kata, kelima kultivator itu mundur perlahan. Tidak ada yang berani mengganggu pemandangan sederhana di depan mereka.
Saat mereka akhirnya keluar dari lembah, napas mereka terasa lebih ringan.
“Kita tidak bicara tentang apa yang kita lihat,” kata salah satu dari mereka.
“Setuju,” jawab yang lain cepat.
Namun mereka semua tahu itu mustahil.
Karena apa yang mereka lihat akan berubah menjadi cerita. Dan cerita itu akan berubah menjadi legenda.
Di dalam lembah, Ci Lung menghela napas panjang.
“Hari ini sepi sekali,” katanya.
Muridnya mengangguk. “Aku merasa seperti ada orang tadi.”
Ci Lung mengangkat bahu. “Binatang mungkin.”
“Oh.”
Anak itu menerima jawaban itu tanpa ragu. Baginya, kata-kata gurunya adalah kebenaran paling sederhana di dunia.
Matahari mulai tenggelam, mewarnai lembah dengan cahaya keemasan. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan air.
Bagi Ci Lung, itu hanyalah hari biasa.
Bagi dunia di luar, hari itu menjadi titik di mana ketakutan berubah menjadi keyakinan.
Bukan karena mereka diserang.
Bukan karena mereka diancam.
Tetapi karena mereka melihat sesuatu yang tidak berusaha mengesankan siapa pun—dan justru karena itulah terasa tak terjangkau.
Dan di antara sekte-sekte besar benua Tianlong, sebuah pemahaman diam-diam mulai terbentuk:
Lembah itu bukan sekadar Zona Hitam.
Ia adalah batas.
Batas antara dunia yang mereka pahami… dan sesuatu yang memilih untuk tidak dipahami.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠