Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Menanam
Usai memastikan tak ada satu pun mata yang mengintainya, Jenara terus berjalan menyusuri jalan setapak yang makin menyempit. Rerumputan liar menyentuh betisnya, sementara tanah lembap di bawah telapak kakinya terasa empuk. Tampaknya hutan kecil ini jarang dilewati manusia.
Pepohonan di hadapan Jenara tidak terlalu tinggi, batangnya ramping dengan daun-daun hijau yang masih muda. Entah mengapa, sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, Jenara langsung merasa nyaman.
Hutan ini sunyi, tetapi bukan sunyi yang menakutkan. Justru terasa seperti pelukan alam yang tenang. Sangat cocok untuk membuka Ruang Wiji tanpa takut dipergoki siapapun.
Jenara pun berhenti di sebuah area yang agak lapang. Ia menarik napas pelan, lalu mengusap anting di telinganya—gerakan kecil yang kini terasa begitu akrab.
Udara di sekitarnya tiba-tiba bergetar. Beberapa detik kemudian, sebuah pintu berwarna hijau muncul begitu saja di, berdiri tegak dengan kilau yang menyerupai cahaya matahari.
Senyum tipis terukir di wajah Jenara. Tanpa ragu, ia mendorong pintu itu dan melangkah masuk.
Seperti sebelumnya, Ruang Wiji menyambutnya dengan keluasan yang membuat napasnya tertahan sejenak. Ruangan itu tinggi dan lapang, dengan rak-rak menjulang sampai hampir menyentuh langit-langit. Namun, rak-rak itu tampak kosong tanpa adanya biji maupun bahan makanan.
Jenara berjalan perlahan di antara rak-rak itu, matanya berbinar. Ia teringat jelas aturan Ruang Wiji: ia boleh meminta benih atau biji tanaman apa pun yang ia butuhkan.
“Aku ingin jamur tiram,” ucap Jenara mantap. Jamur tiram mudah diolah, teksturnya lembut dan kenyal sehingga cocok dipadukan dengan nasi.
Belum sempat Jenara melangkah lebih jauh, sebuah wadah bambu muncul di rak terdekat. Berisi bibit jamur tiram yang tertata rapi.
Jenara mengangguk puas, lalu melanjutkan, “Aku ingin bayam dan wortel.”
Bayam mudah tumbuh, sementara wortel memberi rasa manis alami dan warna yang cantik untuk isian nasi kepal.
Sekejap kemudian, benih bayam dan biji wortel muncul berdampingan dengan jamur tadi.
Tak ayal, hati Jenara diliputi rasa bahagia. Ternyata Ruang Wiji ini benar-benar mengabulkan permintaannya.
“Ubi ungu juga,” tambah Jenara. “Umbinya langsung.”
Bagai disulap dengan tongkat sihir, beberapa umbi ubi ungu berukuran sedang muncul di rak bawah. Kulitnya bersih dan tampak segar.
Melihat itu, Jenara tersenyum lebar. Dadanya terasa hangat oleh rasa puas yang sulit dijelaskan.
Tak ingin membuang waktu, Jenara segera mengambil wadah jamur tiram. Namun, rasa nyeri tiba-tiba menjalar di punggungnya. Denyutannya tajam, membuat Jenara menarik napas dan terpaksa berhenti bergerak. Ia mengernyit, satu tangannya meraih punggung seolah bisa menahan rasa sakit itu.
“Andai saja di sini da obat,” gumam Jenara, lebih seperti keluhan daripada permintaan.
Belum sempat pikirannya beralih, sebuah guci kecil dari keramik muncul di rak sampingnya. Permukaannya polos, dengan tulisan sederhana di bagian depan: Obat Luka.
Mata Jenara membelalak. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil guci tersebut, lalu membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat krim berwarna putih, teksturnya halus dan mengeluarkan aroma mirip daun.
Tanpa ragu, Jenara mengambil sedikit krim itu dan mengoleskannya ke punggung. Ia tidak bisa menjangkau seluruh area yang memar, tapi begitu krim itu menyentuh kulitnya, rasa dingin segera menyebar. Nyeri yang tadi berdenyut perlahan mereda, berganti dengan sensasi yang menenangkan.
“Luar biasa efek obat ini,” puji Jenara.
Setelah merasa cukup baikan, Jenara kembali fokus pada tujuannya. Ia membawa bibit jamur dan benih sayur, lalu melangkah menuju sisi lain Ruang Wiji.
Dari balik ruangan utama, terbentang sebuah hamparan hijau luas. Tanahnya gembur dan tampak subur. Rumput hijau tumbuh merata, diselingi alur-alur tanah yang siap ditanami. Udara di sana terasa segar, lebih segar daripada hutan di luar.
Jenara berjongkok dan mulai menanam jamur tiram, langsung di tanah yang telah lembap. Tangannya bergerak cekatan dengan naluri bercocok tanam yang mengalir begitu saja.
Setelah itu, Jenara menanam benih bayam dan wortel di petak terpisah. Menutupnya dengan tanah tipis sambil berdoa dalam hati agar semuanya tumbuh dengan baik.
Selesai menanam jamur dan sayur, Jenara berdiri dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor oleh tanah. Barulah kemudian ia kembali ke ruangan utama, membawa umbi ubi ungu untuk ditanam selanjutnya.
Jenara berjongkok di petak tanah terakhir yang masih gembur. Jemarinya menyentuh permukaan tanah Ruang Wiji yang hangat dan lembap. Ia menanam umbi ubi ungu satu per satu, memastikan bagian mata tunas menghadap ke atas. Terakhir, Jenara menimbunnya dengan tanah.
Selesai sudah.
Jamur, bayam, wortel, dan kini ubi ungu.
Jenara berdiri, mengusap keringat di pelipis. Ia memandangi lahan Ruang Wiji yang kini tak lagi kosong. Hamparan hijau muda tampak membentang, menjanjikan kehidupan.
“Semoga kalian lekas tumbuh. Besok… aku akan melihat keadaan kalian," pungkas Jenara.
Ada nada harap yang jujur dalam ucapannya. Seakan pada tanaman-tanaman itulah ia menitipkan masa depan. Utang yang harus ditebus, kebebasan yang ingin diraih, dan jarak aman dari takdir sebagai tokoh antagonis.
Jenara berbalik meninggalkan lahan tanam, melangkah menuju ruang utama Ruang Wiji. Tujuannya adalah untuk mengambil obat luka yang tadi muncul secara ajaib.
Namun, saat tangan Jenara hendak meraih obat itu, ia mendadak tertegun. Di samping rak terdapat empat bahan yang tersusun dalam wadah sederhana.
Ada tepung gandum halus, tepung tapioka, air abu alami dalam botol tanah liat, serta minyak wijen dengan aroma khas.
Jenara menahan napas. Matanya berbinar oleh kilau kegembiraan yang murni. Ruang Wiji tidak hanya memberi benih, tetapi juga membantu tanpa diminta.
“Mungkin… karena aku menanam empat, maka aku mendapatkan empat bahan ini sebagai hadiah."
Dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan, Jenara memasukkan guci obat ke dalam saku kain bajunya. Sementara kedua tangannya merangkul keempat bahan itu, memeluknya hati-hati seperti harta karun.
Dalam benak Jenara, gambaran makan siang yang spesial muncul begitu saja.
“Aku akan membuatkan mi kuah untuk makan siang anak-anak,” putus Jenara. Itu cukup untuk mengenyangkan perut anak-anak sekaligus meruntuhkan jarak yang masih tersisa.
Jenara lalu berjalan menuju pintu seraya mengusap antingnya dengan ujung jari. Cahaya hijau berpendar singkat, pintu Ruang Wiji menutup perlahan, dan dalam sekejap semuanya lenyap.
Ia kembali berdiri di hutan kecil. Pepohonan rendah menyambut, udara pagi terasa nyata, dingin tipis menyentuh kulit.
Jenara melangkah pelan menyusuri jalan setapak, membawa barang bawaannya dengan hati-hati. Setiba di kebun belakang rumah, langkahnya terhenti mendadak.
Seran masih berdiri di sana, tetapi sudah mengenakan baju atasan. Namun yang membuat napas Jenara tercekat bukan itu.
Di samping Seran, berdiri seorang wanita muda. Tangannya terangkat, mengelap keringat di dahi Seran dengan kain tipis.
Jantung Jenara berdegup keras. Tanpa ia sadari, jemarinya melemah sehingga keempat bahan di tangannya terjatuh ke tanah.