NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Keputusan Yang Terbaik

Beberapa jam kemudian, tim kerja Alya dari galeri seni datang mengunjunginya di rumah. Mereka membawa buah-buahan dan coklat sebagai hadiah untuk Alya, serta memberikan dukungan penuh terhadap keputusannya untuk berhenti bekerja dan fokus dengan kehamilannya.

“Kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa, Bu Alya,” ujar Maya, manajer galeri yang telah bekerja dengan Alya selama tiga tahun. “Kita akan memastikan bahwa pameran ke Surabaya berjalan dengan lancar dan sukses. Kita akan selalu menghubungi kamu untuk berkonsultasi tentang segala hal yang berkaitan dengan pameran. Kamu tetap menjadi fotografer utama dari semua karya yang akan dipajang.”

Alya merasa sangat terhormat dan bersyukur memiliki tim kerja yang begitu mendukung dan profesional. Dia berbicara dengan mereka selama beberapa jam, merencanakan detail pameran dan memberikan arahan tentang bagaimana mereka harus menyajikan setiap foto agar bisa menyampaikan pesan yang ingin dia sampaikan dengan baik. Mereka juga membicarakan tentang rencana pameran berikutnya yang akan diadakan setelah kelahiran anak Alya – sebuah pameran besar yang akan menampilkan karya-karya fotografi Alya tentang kehidupan ibu dan anak di berbagai daerah di Indonesia.

Setelah tim kerja pergi, Sultan datang dan duduk di sebelah Alya dengan secangkir teh hangat untuknya. “Bagaimana? Apakah kamu merasa lebih tenang sekarang?” tanya Sultan dengan suara yang penuh perhatian.

Alya tersenyum dan mengangguk dengan rasa syukur yang dalam. “Ya, Sayang,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Tim kerja kita sangat mendukung dan mereka akan memastikan bahwa pameran berjalan dengan baik. Selain itu, mereka juga sudah merencanakan pameran berikutnya yang akan fokus pada tema ibu dan anak. Aku sangat bersemangat untuk mempersiapkannya setelah anak kita lahir.”

Sultan mengambil tangan Alya dan memeluknya dengan lembut. “Itu terdengar seperti ide yang luar biasa, cintaku,” ujarnya dengan suara yang penuh semangat. “Aku tahu bahwa karya-karyamu tentang tema ini akan sangat mendalam dan penuh makna. Semua orang pasti akan sangat menantikannya.”

Mereka berdiam sebentar menikmati kedekatan mereka, dengan hanya suara kipas angin yang berputar dan burung yang berkicau di taman belakang rumah mengisi kesunyian. Alya merasa sangat bersyukur memiliki suami yang begitu mengerti dan mendukung dirinya, serta memiliki tim kerja yang profesional dan teman-teman yang selalu ada untuknya. Dia menyadari bahwa meskipun dia harus berhenti bekerja untuk sementara waktu, ini bukan berarti akhir dari karirnya sebagai fotografer – justru sebaliknya, ini adalah kesempatan baginya untuk merenungkan perjalanan karirnya dan mempersiapkan langkah berikutnya yang akan lebih baik dan lebih bermakna.

Pada malam hari itu, Alya menelepon Arga untuk memberitahunya tentang keputusannya. Arga langsung memberikan dukungan penuh dan bahkan menawarkan untuk membantu dalam hal promosi pameran ke Surabaya serta menjaga agar nama Alya tetap dikenal di kalangan seniman dan masyarakat kreatif.

“Kamu hanya perlu fokus pada kesehatanmu dan kehamilannya, Alya,” ujar Arga dengan suara yang penuh penghargaan. “Kita semua akan membantu menjaga agar karya-karyamu tetap dikenal dan dihargai. Setelah anak kamu lahir, kita bisa merencanakan kolaborasi proyek kreatif yang lebih besar lagi.”

Alya merasa sangat terhormat mendengar kata-kata Arga. Dia menyadari bahwa cinta sejati tidak selalu harus dalam bentuk hubungan romantis – cinta juga bisa berupa dukungan tanpa pamrih, persahabatan yang tulus, dan kesediaan untuk membantu orang lain menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Dan untuk Alya, itu adalah pelajaran paling berharga yang pernah dia dapatkan dalam hidupnya.

Saat malam semakin larut, Sultan dan Alya pergi ke kamar tidur untuk istirahat. Alya merasa sangat lelah namun juga sangat puas dengan semua keputusan yang telah diambil hari itu. Sultan membantu dia bersiap tidur dengan penuh kasih sayang, memijat punggungnya yang sering terasa pegal akibat kehamilan dan membacakan cerita dongeng yang lembut hingga dia tertidur nyenyak.

Di dalam hati, Sultan berdoa bahwa Alya akan selalu sehat dan bahagia, serta bahwa anak mereka akan lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi orang yang baik hati dan penuh kreativitas seperti ibunya. Dia juga berdoa bahwa mereka akan selalu bisa menjalani hidup dengan penuh cinta dan kebersamaan, menghadapi segala tantangan dan kesulitan dengan tangan yang saling menggenggam erat dan hati yang penuh dengan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

Beberapa hari setelah keputusan itu diambil, Alya mulai merapikan ruang kerja kecilnya di rumah yang dulunya digunakan sebagai gudang foto. Dia menyusun semua peralatan fotografinya dengan rapi di rak kayu yang baru saja dipasang Sultan, serta menata koleksi buku dan majalah fotografi yang telah dia kumpulkan selama bertahun-tahun. Meskipun tidak bisa lagi pergi ke lokasi untuk mengambil foto secara langsung, dia merasa senang bisa tetap berada di sekitar barang-barang yang dia cintai.

Sultan datang membawa sebuah meja kerja baru yang telah dia sesuaikan agar sesuai dengan posisi duduk yang nyaman bagi Alya selama kehamilan. “Aku ingin kamu tetap bisa melakukan aktivitas yang kamu suka dari rumah,” ujarnya dengan senyum hangat, membantu Alya menempatkan laptop dan beberapa alat tulis di atas meja. “Kamu bisa merencanakan konsep foto untuk pameran selanjutnya, mengedit foto lama, atau bahkan menulis buku seperti yang kamu rencanakan.”

Alya tersenyum dan membungkus lengan di leher suaminya. “Terima kasih sudah memikirkan segalanya untukku, Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh kasih. “Aku merasa sangat beruntung memiliki kamu di hidupku.”

Pada sore hari itu, tim dari galeri menghubungi Alya melalui video call untuk membahas persiapan pameran ke Surabaya. Mereka menunjukkan tata letak galeri yang telah dirancang, menjelaskan tentang jadwal acara, dan bahkan memperlihatkan beberapa desain brosur serta poster yang akan digunakan untuk promosi. Alya memberikan masukan dan arahan dengan cermat, memastikan bahwa setiap detail sesuai dengan visi yang dia inginkan.

“Kalian bekerja dengan sangat baik,” puji Alya setelah presentasi selesai. “Aku yakin pameran ini akan menjadi sukses besar. Jangan ragu untuk menghubungiku kapan saja jika ada yang perlu dibahas lebih lanjut.”

Setelah panggilan selesai, Alya mengambil buku catatan baru yang diberikan Sultan dan mulai menulis ide-ide untuk buku fotografinya. Dia merencanakan untuk menceritakan perjalanan hidupnya sebagai fotografer, mulai dari saat dia pertama kali memegang kamera hingga saat ini, ketika dia akan menjadi seorang ibu. Dia ingin buku tersebut bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda yang bermimpi untuk mengejar karir di bidang seni dan kreatif.

Sementara itu, Sultan sedang di halaman belakang rumah, merawat taman kecil yang telah dia sediakan khusus untuk Alya. Dia menanam berbagai jenis bunga yang Alya sukai, serta beberapa tanaman buah yang akan memberikan buah segar untuknya selama kehamilan. Ketika Alya muncul di teras dan melihat apa yang sedang dilakukan suaminya, hatinya menjadi semakin hangat.

“Kamu membuat taman ini untukku?” tanya Alya dengan suara yang penuh kagum.

Sultan mengangguk dengan senyum bangga. “Ya, cintaku,” jawabnya. “Aku ingin kamu memiliki tempat yang tenang dan indah untuk bersantai, membaca buku, atau hanya menikmati udara segar. Selain itu, ketika anak kita lahir nanti, kita bisa menghabiskan waktu bersama di sini dan mengajarkannya tentang keindahan alam.”

Alya datang mendekat dan duduk di kursi kayu yang telah disiapkan di taman. Dia melihat ke sekelilingnya – bunga mawar merah yang mekar indah, tanaman jeruk yang sudah mulai berbuah, dan hamparan rumput hijau yang rapi. Udara segar bercampur dengan aroma bunga membuatnya merasa rileks dan damai.

“Tempat ini sangat indah, Sayang,” ujar Alya dengan suara yang penuh kedamaian. “Aku tidak sabar untuk menghabiskan banyak waktu di sini bersama kamu dan anak kita.”

Sultan duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung pada dinding taman yang berlapis batu alam. Mereka berdiam sebentar menikmati keheningan dan keindahan sekitarnya, menyadari bahwa terkadang berhenti sejenak dan fokus pada hal-hal yang paling penting dalam hidup adalah hal yang paling bijak yang bisa dilakukan seseorang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!