NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat kesabaran Elina habis

"Sial! Di mana Elina menaruh semua berliannya?" geram Amelia dengan wajah memerah.

Sudah beberapa jam berlalu, namun Amelia, Maya, dan Ares masih belum menemukan satu pun berlian milik Elina. Rumah besar itu telah mereka obrak-abrik, dari ruang tamu hingga kamar-kamar, tanpa hasil.

Napas Maya tersengal. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, lalu mengelap dahinya yang bercucuran keringat.

"Kita sudah hampir menelusuri semua ruangan yang ada di sini, tapi tak ada satu pun yang kita dapatkan," keluhnya dengan nada frustrasi.

Sementara itu, Ares mengepalkan tangannya. Sorot matanya dingin saat menatap sekeliling ruangan, seolah mencoba mengingat setiap sudut rumah itu.

"Res, apa kamu nggak pernah tanya soal ini ke Elina?" tanya Amelia, menatap putrinya dengan tatapan tajam.

"Terakhir dia menyimpannya di lemari kamar kami, Mah," jawab Ares. "Kalau sekarang aku tanyakan di mana semua berliannya, tidak mungkin dia akan menjawab. Apalagi hubungan kami sudah tidak sebaik dulu lagi."

"Terus bagaimana ini dong? Kita harus bikin Elina sebangkrut-bangkrutnya sampai dia hidup di jalanan!" sahut Maya dengan nada kesal, tangannya mengepal di pangkuan.

"Sabar, sayang," ujar Ares berusaha menenangkan. "Walaupun berlian Elina tidak kita dapatkan, masih ada perusahaan dan asetnya yang bisa kita miliki."

"Ada apa, Nih?"

Mereka bertiga kompak menoleh. Arman terlihat memasuki ruangan dengan langkah ringan santai.

"Papa? Papa dari mana?" tanya Amelia, menatap suaminya penuh selidik.

"Apa Mama lupa?" jawab Arman tenang sambil duduk di sofa. "Papa kan habis ketemu teman-teman baru Papa."

"Teman baru?" ucap Ares, keningnya berkerut.

"Iya, Res. Papa punya teman baru," balas Arman. "Kamu saja nggak tahu, Papa." Ia lalu mengedarkan pandangan ke wajah mereka satu per satu. "Oh ya, kalian ngapain? Wajah kalian kelihatan kesal semua."

"Kita lagi mencari kembali berlian Elina, Pah. Mumpung dia bermalam di rumah orang tuanya," jelas Maya.

"Bagaimana? Dapat?" tanya Arman lagi.

Mereka semua menggeleng pelan.

"Tidak, Pah. Entah di mana dia menaruhnya," keluh Ares.

"Berlian itu kita skip dulu," ujar Arman dengan nada penuh perhitungan. "Mungkin Elina menyimpan di tempat yang tidak kita ketahui. Sekarang kita fokus ke perusahaan dan asetnya saja. Setelah semua kita dapatkan, kita bisa beli berlian sebanyak yang kalian mau."

Pandangan Arman kemudian beralih ke Ares. "Bagaimana dengan orang kepercayaanmu, Res? Kinerja mereka bagaimana? Jangan sampai kamu ditipu. Kamu sudah mengeluarkan uang banyak."

"Papa tenang saja," jawab Ares yakin. "Orang kepercayaan Ares sangat dapat dipercaya. Mereka sudah menangani banyak klien dan hasilnya memuaskan."

"Bagus," ucap Arman mengangguk. "Dua hari lagi, kan? Pengumuman CEO?"

"Iya, Pah," jawab Ares singkat.

"Mas, kamu masih jadi kandidat CEO?" tanya Maya penuh harap.

"Iya, sayang," jawab Ares dengan senyum bangga. "Namaku sudah masuk dalam daftar kandidat CEO Anderson Group Internasional."

Namun di balik senyum itu, hatinya menyimpan sedikit keraguan, terutama sejak kedatangan Radit dengan kinerja yang nyaris sempurna.

"Aduh, Mama nggak sabar hari itu tiba," seru Amelia antusias. "Pokoknya Mama bakal ke salon, pakai pakaian mewah. Pasti di sana banyak istri-istri sosialita. Mama harus tampil wow!"

"Maya juga nggak sabar banget lihat Mas Ares jadi CEO," ucap Maya dengan mata berbinar.

♡♡

Elina membuka matanya perlahan. Pandangannya menyapu ke kiri dan ke kanan, hingga ia tersadar dirinya sudah berada di atas tempat tidur.

"Pasti aku ketiduran di pelukan Ayah," gumamnya pelan, mengingat kejadian semalam ia mengobrol dengan kedua orang tuanya.

Ia bangkit dari tidurnya, lalu bersandar di kepala ranjang. Tatapannya tertuju pada jam dinding yang berdetak pelan.

"Ternyata baru jam empat pagi..." ucapnya lirih.

Elina meraih tabletnya yang tergeletak di samping ranjang. Dengan gerakan cepat namun tenang, ia membuka kembali rekaman CCTV di rumahnya, ingin melihat apa yang dilakukan para benalu itu saat ia tidak ada.

Beberapa detik kemudian, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal saat layar tablet menampilkan Ares dan Maya yang tengah berhubungan intim di kamar mereka.

“Brengsek kamu, Mas!” geram Elina. Ia menghempaskan tabletnya ke atas ranjang, napasnya naik turun, dadanya terasa sesak oleh amarah yang mendidih setelah apa yang baru saja ia lihat.

“Ares! Kamu sudah benar-benar keterlaluan. Aku akan secepatnya menyingkirkan kamu dan keluarga kamu itu.”

♡♡

Di meja makan keluarga Anderson, suasana pagi berlangsung dalam keheningan. Aurelia dan Albert memperhatikan putri mereka yang tampak terlihat dingin. Tak ada senyum di wajah Elina, pandangannya kosong, sementara makanannya hanya ia aduk perlahan tanpa benar-benar disentuh.

“Elina…” ucap Aurelia dengan nada lembut.

Elina menoleh pelan, tatapannya naik tanpa ekspresi berlebihan.

“Makanan Bunda nggak enak, Nak?” tanya Aurelia penuh perhatian.

“Enak, Bun,” jawab Elina singkat.

“Terus kenapa cuma diaduk doang, Nak?”

“Maaf, Bun.” Elina segera menyuap makanannya, lalu memaksakan senyum kecil ke arah bundanya, seolah tak ingin menimbulkan kekhawatiran lebih jauh.

“Sayang, bagaimana dengan acara besok malam? Ayah dapat kabar dari Arga kamu membuat pesta mewah?” tanya Albert, sorot matanya menyelidik namun tetap hangat.

Elina mengangguk pelan. “Iya, Yah.”

“Kenapa harus mewah, Nak? Bukan Ayah nggak setuju. Ini kan hanya pengangkatan CEO, bukan acara ulang tahun perusahaan,” ucap Albert dengan nada tenang.

Elina tak langsung menjawab. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya—senyum yang tak sepenuhnya bisa ditebak.

“Elina telah menyiapkan langkah besar.”

1
Ma Em
Ares pasti akan ngamuk karena sdh dibohongi sama Elina , karena kedudukan CEO yg Ares inginkan ternyata zonk .
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!