Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Aku Datang, Sayang
Bab 19
Sempat mampir ke puskes untuk mengambil emergency Kit, saat ini Lisa berada di kediaman A Ujang. Rumah sederhana dengan penerangan standar malah kurang terang pikirnya. Saat di jalan ingin sekali ia melempar payung yang bergerak ke sana kemari membuat rambutnya lepek dan basah begitupun dengan sebagian pakaiannya.Dari luar rumah sudah terdengar tangisan anak kecil.
“Permisi,” ucap Lisa membuka pintu karena Ujang masih memarkir motornya.
“Iya, mangga.” Suara wanita lirih menjawab.
Ujang menyusul dengan bergegas menunjukan kamar putranya. Lisa harus berhati-hati melangkah karena di ruang tamu digelar kasur lantai dimana seorang bocah usia remaja tertidur di sana. Sepertinya putra Ujang lainnya.
“Teh,” sapa Lisa pada istri Ujang yang menggendong balita lalu mengeluarkan perlengkapan pemeriksaan dan balita tersebut di baringkan ke kasur. “Keluhannya apa dan sejak kapan?”
“Panas dan diare, sudah dua malam,” sahut istri Ujang.
Lisa mengukur suhu dan wow, 40 derajat. Cukup tinggi. Ia menanyakan pertanyaan standar pemeriksaan lalu membuka celana bocah itu untuk memberikan obat penurun panas lewat belakang agar tidak kej4ng. bocah bernama Asep itu terlihat sangat pucat.
“A, saya minta Rama jemput dengan ambulance. Ini harus dirawat, nanti saya pasangkan infus. Kalau dokter Agus bilang harus dirujuk ya mau tidak mau, tapi kita usahakan bisa ditangani di puskes.”
“Iya, teh,” sahut Ujang.
Gegas menghubungi Rama untuk menjemput pasien juga dokter Agus yang tinggalnya di desa sebelah. Tidak mungkin menghubungi Asoka yang saat ini sedang berada jauh dari desa itu.
Hufft, Asoka. ia merindukan pak dokter kesayangannya. Kalau nanti bertemu akan ia beri pelajaran dulu, bisa-bisanya tidak mengabari sejak tadi sore. Bahkan tanya kabar pun tidak. Kalau dipikir, hubungan mereka memang belum jelas.
Ups, fokus Lisa, fokus. Mengeluarkan botol infus dan peralatan lain lalu memasangkan pada tangan Asep. Beruntung sang bocah anteng dan tidak berontak, meski sempat menangis.
“Sabar ya Asep, kita pindah ke puskes biar Asep cepat sembuh.”
Ujang langsung keluar mengendarai motornya ke jalan menyusul ambulance khawatir kesasar. Lisa masih berbincang dengan istri Ujang, mengawasi cairan infus dan menempelkan plester kompres di dahi Asep. Bahkan membantu mengganti celana bocah itu dengan diaper.
“Empat tahun ya teh?”
“Iya, Asep empat tahun. Baru bulan kemarin.”
Perlahan si bocah sudah tidak menangis meski tangannya masih terulur pada Ibunya. Terdengar suara dari depan rumah lalu muncul Rama dan Ujang.
“Lain kali jangan langsung kabur gitu, bikin panik aja,” ujar Rama lirih.
“Sorry, darurat.”
“Gue angkat lo payungin ya.” Lisa mengiyakan permintaan Rama yang sigap menghentikan sementara laju cairan infus lalu menggendong bocah itu di depan, sempat menangis karena mendapati orang asing membawanya. Istri A ujang mengekor langkah membawa tas berisi kain, selimut dan pakaian ganti milik bocah.
“Oke, aman. Lo di depan aja."
Lisa menutup pintu ambulance setelah istri Ujang naik lalu berlari memutar dan berpindah ke depan duduk di samping Beni.
***
Seperti rencananya, Asoka hanya tidur 3 jam lalu terbangun dan bersiap berangkat. Sempat mandi dengan air hangat yang dinikmati dengan mudah. Berbeda ketika berada di desa Singajaya harus memasak dulu air panasnya. Pukul setengah 2 pagi saat dia meninggalkan apartemen.
Sempat mampir ke minimarket yang buka 24 jam untuk membeli kopi dan roti, juga satu kantong penuh cemilan untuk seseorang di sana. Masih terlalu pagi, jadi jalanan pun masih lengang. Mengingat permintaan Aksa kemarin, dia sudah menjanjikan satu tahun ini akan menyelesaikan pendidikan dan izin praktek spesialisnya, akan dia perjuangkan termasuk cintanya pada Lisa.
Sudah dua jam berkendara, Asoka sempat menepi di rest area dan memeriksa ponselnya. Apalagi kalau bukan membuka kontak Lisa dan memandang profil gadis itu dan beralih melihat foto mereka di depan puskes. Berikutnya ia akan sering mengambil gambar Lisa dengan candid, belum banyak foto gadis itu di ponselnya.
“Marina, ngapain lagi sih,” gumam Asoka ternyata ada beberapa pesan dari wanita itu tadi malam.
Membaca dengan malas dan berdecak pelan. Marina menanyakan lagi rencananya ke tempat wisata air terjun. Kembali menjawab dengan dua kata, tidak bisa. Setelah ke toilet dan mencuci muka, Asoka kembali melanjutkan perjalanan.
Jam 5 lewat, ia sudah memasuki wilayah kecamatan menuju desa Singajaya. Jalanan becek dan genangan air menunjukan kalau semalam atau kemarin dilanda hujan. Memasuki area puskes, dahi Asoka mengernyit mendapati mobil lain yang dia kenal milik dokter Agus, juga beberapa motor lainya. Menduga kalau di dalam ada pasien.
Memasuki IGD, tiga ranjang pasien di sana kosong, sepertinya ada di kamar perawatan. Terdengar dengkuran dari area sebelah, ternyata Beni tertidur di kursi tunggu rawat jalan. Langkah Asoka menuju kamar perawatan, di depan nurse station melihat Rama dan dokter Agus.
“Eh, udah sampe dok?” tanya Rama.
Asoka berdehem lalu berjabat tangan dengan Agus.
“Ada pasien?”
“Iya ada dua,” jawab Rama.
Asoka mengangguk, melihat Rama dan Agus terlihat lelah dan mengantuk ia pun mengambil alih. Mempersilahkan Agus untuk pulang.
“Udah stabil dok,” ujar Rama menjelaskan kondisi pasien dan Asoka membaca terapi obat dan tindakan yang sudah dilakukan.
“Oke, biar saya lanjutkan. Kamu nggak gantian dengan Lisa?”
“Ini juga gantian, tadi saya sempat tidur dan sekarang noh orangnya mol0r di sana.” Rama menunjuk ruang kecil di belakang nurse station bersebelahan dengan ruang persediaan obat-obatan. “Subuh dia baru tidur dok, nanti marahin aja tuh. Bikin orang khawatir main kabur tengah malam ada pasien, padahal saya masih melek.”
Asoka melewati Rama menuju ruang di belakang. Pintu ruangan tidak tertutup ada ranjang kecil di sana, di mana Lisa berbaring meringkuk. Tersenyum mendapati pujaan hati yang dua malam ini tidak ditemui. Ia pun berjongkok di depan gadis itu lalu mengusap kepalanya.
“Lembab,” gumam Asoka lalu beranjak keluar. “Ram, Lisa ….”
“Kehujanan dok, tadi jemput pasien pake motor. Nah, itu makanya marahin aja. Padahal bisa saya yang jalan terus dia tunggu di sini.”
Asoka memastikan pakaian yang dipakai Lisa kering, sepertinya sudah sempat berganti. Melepas jaket yang dipakai lalu di diselimuti ke tubuh Lisa. Meski gadis itu juga memakai hoodie, tapi masih terasa dingin di kulit. Mendekatkan wajahnya dan mencium kening Lisa.
“Aku datang, sayang,” bisik Asoka.
Njirrr, batin Rama tidak sengaja melihat adegan itu saat membuka pintu ruang stok obat di sampingnya.
“Mata gue tern0da,” ujarnya mengambil cairan infus dan obat. “Jadi pengen kayak gitu sama si Jule.”
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur