NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marahnya Elia

Obrolan mereka kembali berlanjut hingga akhirnya tiba di rumah. Nadine juga mengatakan bahwa perhiasan itu memiliki tema cinta, khusus dibuat untuk menyambut Hari Kasih Sayang. Mendengar itu, Elia semakin menahan diri untuk tidak menghubungi Dave. Ia memilih menyimpan semua pertanyaannya dan berniat menanyakannya secara langsung nanti.

Di tempat lain, James baru saja selesai praktik. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian penuh beraktivitas. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin, lalu mengusap wajahnya pelan.

“Oh, mataku… kelihatan kurang tidur dan kurang kasih sayang,” gumamnya lirih, disertai senyum tipis yang hambar.

Jam kerja telah usai dan tak ada lagi pasien yang harus ditangani. Dengan menarik napas panjang, James memutuskan untuk pulang. Namun sebelum benar-benar menuju rumah, ia membelokkan kendaraannya dan menyempatkan diri mampir ke sebuah coffee shop kecil di pinggir jalan,menikmati suasana sore dengan langit kota Bangkok yang cerah.

“Aku pesan ice caramel macchiato dan white strawberry sponge cake,” pintanya pada kasir yang juga merangkap sebagai barista.

“Baik, ada tambahan lain?” tanya barista itu.

“Cukup, itu saja.”

“Totalnya tiga ratus baht.”

James mengeluarkan ponselnya dan membayar menggunakan uang digital. Tak lama kemudian, barista tersebut menyerahkan pesanannya.

“Ini kopi dan cake-nya. Selamat menikmati.”

James hanya menanggapinya dengan senyum singkat. Sambil menyeruput kopi dinginnya, ia melangkah perlahan, mencari tempat duduk yang dirasa nyaman.

“Di situ saja,” gumamnya dalam hati ketika pandangannya tertuju pada sebuah meja di sudut café.

Baru saja James mendudukkan tubuhnya di kursi, pandangannya tertuju pada seorang wanita di meja tak jauh darinya. Wanita itu menenggelamkan wajahnya ke atas meja. Dari bahunya yang bergetar, terdengar samar suara isakan, seolah ia sedang berusaha menahan tangis.

“Nona Patricia?” ucap James ragu ketika wanita itu mengangkat wajahnya dan meraih selembar tisu.

Mengenali sosok tersebut, kepercayaan diri James seketika muncul. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat.

“Halo, Nona,” sapanya lembut.

“Oh, Dokter James?” sahut Patricia. Suaranya masih terdengar sedikit tersendat, sisa-sisa sesegukan setelah menangis.

“Boleh aku duduk di sini?” ucap James meminta izin.

“Oh, silakan, Dokter,” jawab Patricia dengan nada sedikit malu-malu.

James meletakkan kopi dan kuenya terlebih dahulu di atas meja, lalu menatap Patricia dengan ekspresi hangat.

“Nona, kenapa? Wajahmu terlihat sangat sedih,”

 tanyanya sekadar membuka percakapan.

Patricia hanya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Dok.”

“Kalau Nona butuh teman untuk bercerita, aku siap mendengarkan,” kata James menawarkan diri dengan tulus.

Patricia menatapnya, lalu tersenyum tipis—senyum yang tetap manis meski matanya sembab. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara. “Aku baru saja putus dengan kekasihku.”

James mengerutkan kening. “Pria macam apa yang tega memutuskan hubungan dengan wanita secantik dirimu?” ucapnya, terdengar seperti rayuan, namun menyimpan maksud tersirat.

Patricia tertawa kecil. “Dokter James bisa saja. Kalau aku memang secantik itu di matanya, mungkin dia tidak akan meninggalkanku dan berjalan dengan wanita lain.”

James menatap Patricia dengan lebih serius, pandangannya lembut namun intens.

“Nona, kau ini cantik. Dan senyummu juga indah. Jangan biarkan air mata jatuh hanya karena pria bajingan seperti itu.”

Sekali lagi Patricia tertawa, kali ini lebih ringan. Mata yang tadinya sembab kini tampak berbinar, seolah badai perlahan mereda dan digantikan pelangi kecil berkat kehadiran James.

Sekali lagi Patricia tertawa, kali ini terdengar lebih ringan. Mata yang tadinya sembab kini tampak berbinar, seolah badai perlahan mereda dan digantikan pelangi kecil berkat kehadiran James.

Obrolan keduanya pun berlanjut diiringi aroma kopi dan manisnya kudapan di hadapan mereka. Namun, di tengah tawa yang sesekali muncul, Patricia kembali menitihkan air mata. Suaranya bergetar saat ia mulai menumpahkan semua isi hatinya. Ia bercerita bahwa hubungan mereka seharusnya sudah melangkah ke tahap yang lebih serius. Harapan tentang masa depan sempat ia rajut dengan penuh keyakinan.

Sayangnya, pria yang kini telah menjadi mantannya justru memilih berkhianat, menghancurkan kepercayaan yang selama ini ia jaga. Air mata itu kembali jatuh, bukan hanya karena perpisahan, tetapi karena mimpi yang terpaksa ia lepaskan.

James mengusap air mata Patricia yang kembali jatuh dengan jemarinya. Sentuhan itu membuat wanita tersebut tersipu malu, namun di saat yang sama merasakan kehangatan yang menenangkan.

“Kau percaya kalau jodoh ada di tangan Tuhan, kan?” tanya James lembut.

“Iya, aku percaya,” jawab Patricia pelan.

“Kalau begitu, kau tak perlu khawatir,” lanjut James. “Segala sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita akan menemukan jalannya kembali kepada pemiliknya. Dan jika tidak, berarti dia bukan bagian dari takdir kita.”

Meski hanya berupa kata-kata sederhana, ucapan James berhasil membuat suasana hati Patricia membaik. Pikirannya perlahan terbuka. Apa yang dikatakan pria itu benar. Hidup memang berjalan sesuai takdir yang telah ditentukan.

“Kau tahu,” lanjut James setelah hening sejenak, “aku pernah merasa sangat tidak berguna sebagai seorang dokter.” Kini giliran dirinya yang membuka kisah masa lalu.

“Kenapa?” tanya Patricia pelan.

“Waktu aku bertugas di Tiongkok, aku menangani seorang ibu yang akan melahirkan melalui operasi caesar. Sebelumnya aku sudah mempelajari rekam medisnya, dan semua hasilnya terlihat baik. Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan,”tuturnya.

James menarik napas dalam sebelum melanjutkan.

“Namun setelah bayinya lahir dengan selamat, sang ibu justru meninggal dunia.”

Patricia refleks menutup mulutnya, matanya membesar menahan rasa iba. Ia membayangkan nasib ibu dan bayi itu,lahirnya kehidupan baru, diiringi hilangnya nyawa lain.

“Sebagai dokter, aku merasa gagal menyelamatkan nyawa pasienku,” kata James lirih. “Tapi di sisi lain, aku juga sadar bahwa pemilik hidup dan mati hanyalah Tuhan. Sudah menjadi takdir ibu itu meninggal setelah melahirkan, dan aku… hanya menjadi saksinya.”

Hening kembali menyelimuti mereka.

“Saat itu aku benar-benar merasa gagal,” lanjut James pelan. “Namun pada akhirnya, aku belajar menerima satu hal, segala sesuatu kembali pada takdir.”

Patricia terenyuh, bukan hanya oleh kisah James, tetapi juga oleh sikap dewasa pria itu. Cara ia menguatkan dirinya sendiri sekaligus orang lain. Obrolan mereka pun tak berhenti sampai di situ.

 Patricia mulai bercerita tentang awal pertemuannya dengan sang mantan kekasih, tentang harapan yang dulu tumbuh dengan polos. James mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sesekali, ia juga membagikan kisah asmaranya di masa lalu bersama seorang wanita.

“Astaga, waktu berlalu cepat sekali. Lihat, sudah pukul tujuh malam,” kata Patricia sambil menunjukkan layar ponselnya ke hadapan James.

 “Aku harus segera memesan taksi online.”

“Tidak perlu, Nona. Biar aku saja yang mengantarmu pulang,” ucap James seraya menghentikan gerakan Patricia.

“Tapi, Dok… aku tidak mau merepotkan mu.”

James tersenyum tipis. “Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Lagi pula, tidak baik membiarkan wanita cantik pulang sendirian malam-malam. Jalanan rawan kejahatan.”

Patricia menatapnya sejenak, seolah mencari kesungguhan di wajah pria itu. “Kau serius ingin mengantarku pulang?” tanyanya untuk memastikan.

James mengangguk mantap. “Tentu. Ayo.”

Mobil melaju perlahan meninggalkan area coffee shop. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya ke kaca jendela. Suasana di dalam mobil terasa tenang, hanya diiringi musik lembut dari radio.

“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Patricia sambil merapikan sabuk pengamannya.

“Tidak masalah,” jawab James singkat. “Lagipula, aku juga searah.”

Patricia tersenyum kecil. “Dokter James selalu terdengar begitu tenang. Apa memang dari dulu seperti itu?”

James terkekeh pelan. “Tidak juga. Dulu aku lebih banyak mengeluh… terutama soal jam kerja.”

“Oh ya?” Patricia menoleh. “Jadi dokter juga bisa lelah dan mengeluh?”

“Bisa sekali,” sahut James. “Bedanya, kami mengeluh dalam hati sambil tetap tersenyum di depan pasien.”

Patricia tertawa ringan. “Pantas saja senyummu kelihatan terlatih.”

James meliriknya sekilas. “Kalau begitu, senyummu juga. Meski tadi sempat hilang.”

Patricia terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Aku masih merasa aneh. Tadi aku menangis di hadapan orang yang bahkan bukan sahabat lamaku.”

“Kadang orang asing justru lebih mudah dipercaya,” kata James pelan. “Tidak ada tuntutan, tidak ada masa lalu.”

Patricia mengangguk setuju. “Dan tidak ada penilaian.”

“Benar,” James tersenyum. “Lagipula, aku senang bisa menjadi teman bicaramu malam ini.”

Patricia menatap jalan di depannya, senyum tipis terukir di wajahnya. “Aku juga. Malam ini… tidak terasa seberat tadi.”

Mobil terus melaju, membelah keramaian malam kota, membawa dua hati yang perlahan menemukan kenyamanan satu sama lain—tanpa janji, tanpa paksaan, hanya percakapan ringan yang mengalir apa adanya.

Mobil James akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki konsep modern minimalis dengan halaman yang luas. Lampu teras menyala temaram, memberi kesan hangat di tengah sunyi nya malam.

“Ini rumahku,” ucap Patricia sambil menunjuk ke arah depan.

James mengangguk. “Lingkungannya tenang.”

“Iya. Terima kasih sudah mengantarku sampai sini,” kata Patricia sambil membuka sabuk pengamannya.

James turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Patricia. Wanita itu tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum malu-malu saat kakinya menginjak halaman rumah.

“Kau tidak perlu repot-repot begitu, Dok,” ujarnya pelan.

“Bukan repot,” balas James ringan. “Ini bagian dari tanggung jawab.”

Patricia tertawa kecil. Ia berdiri di hadapan James, suasana mendadak terasa canggung namun hangat. Angin malam berembus pelan, membuat beberapa helai rambutnya tergerai.

“Terima kasih,” ucap Patricia sekali lagi, kali ini dengan tatapan lebih dalam. “Malam ini… sangat berarti buatku.”

James menatapnya lembut. “Aku senang kalau bisa sedikit meringankan bebanmu.”

Mereka terdiam sejenak, seolah sama-sama mencari kata yang tepat.

“Selamat malam, Nona Patricia,” kata James akhirnya.

“Selamat malam, Dokter James,” balas Patricia dengan senyum yang kali ini terasa lebih tulus.

Patricia melangkah masuk ke dalam rumah, sesekali menoleh ke belakang.

James menunggu hingga pintu tertutup rapat sebelum kembali ke mobilnya, meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang entah kenapa terasa lebih ringan dari saat ia datang.

Beralih ke kediaman Dave. Sepulang dari kantor, Dave langsung menikmati makan malam buatan Elia. Kali ini Elia menyiapkan menu yang ringan namun tetap sehat dan mengenyangkan. Satu porsi salad ayam panggang dengan tambahan telur rebus, serta segelas susu hangat sebagai pelengkap.

Elia menatap Dave lekat-lekat. Kedua tangannya diremas kuat di bawah meja, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan sesuatu yang sejak tadi mengusik pikirannya.

“Dave,” panggilnya pelan.

“Hm,” jawab Dave singkat tanpa menoleh.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” suara Elia terdengar hati-hati.

“Apa?” sahut Dave datar.

Elia mengeluarkan selembar kertas lalu meletakkannya di atas meja.

“Saat aku akan mencuci jas kerjamu, aku melihat ini terselip di kantong dalamnya.”

Pandangan Dave seketika tertuju pada brosur itu. Ingatannya melayang pada saat ia mengambilnya hanya untuk mengalihkan perhatian ketika Billy masuk ke toko perhiasan yang sama.

“Oh, itu?” Dave terkekeh ringan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang. “Kemarin siang, waktu aku ke ATM, ada pria yang membagikan brosur ini di pinggir jalan. Sepertinya sedang promosi. Karena dia memaksa, jadi aku ambil saja.”

Elia mengangguk pelan. “Oh… begitu,” katanya, meski keraguan masih jelas tersisa di wajahnya.

“Kenapa memangnya?” tanya Dave.

“Tidak apa-apa,” Elia menggeleng. “Aku hanya bertanya. Lagipula, dari informasi yang aku dapat, perhiasan di gambar brosur itu stoknya sangat terbatas.”

“Mungkin,” jawab Dave santai. “Aku tidak tahu. Bahkan aku tidak benar-benar memperhatikan gambarnya.”

Elia menarik napas. “Aku sempat mendatangi toko itu untuk menanyakan apakah barangnya masih ada. Katanya sudah laris terjual. Pembeli terakhirnya dua orang, tapi mereka tidak menyebutkan pria atau wanita.”

Kalimat itu membuat Dave meletakkan alat makannya dengan kasar.

“Hei,” ucapnya tajam. “Kau sadar tidak dengan sikapmu? Itu sama saja seperti kau sedang mencurigai ku.”

“Wajar kalau aku curiga!” suara Elia meninggi. “Aku ini istrimu, Dave!”

Dave berdiri. “Elia, Elia. Sudah berapa kali kita membahas soal perjanjian pernikahan, hah?” nadanya keras dan dingin. “Kau sudah mencampuri urusanku. Memantau setiap gerak-gerik ku. Usahamu besar juga, sampai harus datang ke toko itu untuk memastikan siapa pembeli terakhir. Tidak sekalian saja kau minta rekaman CCTV?”

“Bukan begitu, Dave. Aku hanya—”

“Sudah!” potong Dave kasar. “Aku tidak mau mendengar apa pun lagi dari mulutmu.”

“Dave!” Elia berdiri, air matanya mulai jatuh. “Kau bisa bicara baik-baik denganku. Aku ini istrimu, bukan musuhmu. Aku hanya bertanya, apa salahnya kau menjawab?” suaranya bergetar.

“Kalau memang kau membeli perhiasan itu untuk wanita lain, silakan! Aku juga tidak akan mengadukan apa pun pada Mom!”

Elia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar.

Pintu ditutupnya dengan bantingan keras.

Lisa yang sejak tadi berada tak jauh dari sana tersentak. Baru kali ini ia melihat Elia semarah itu. Biasanya, wanita itu hanya akan diam, mengalah, lalu meminta maaf.

“Bukan begitu, Elia,” Dave menyusul dan mengetuk pintu dengan cukup keras. “Dengarkan aku dulu. Elia, buka pintunya.”

Namun dari balik pintu, tak ada jawaban. Hanya keheningan dan jarak yang kian melebar di antara mereka.

Elia tetap tidak ingin membukakan pintu meski Dave terus menggedor nya dari luar. Bahkan jika pintu itu hancur sekalipun, ia tak peduli. Di dalam kamar, Elia menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak, napasnya tersengal. Kali ini, hatinya benar-benar terluka. Jawaban Dave barusan terasa tidak masuk akal, justru menimbulkan lebih banyak kejanggalan di benaknya. Kecurigaan yang semakin sulit ia abaikan.

Sementara itu, di teras belakang rumah, Lisa dan Bimbim duduk berdampingan, menikmati udara malam yang sejuk.

“Kasihan Nyonya Elia,” ucap Lisa pelan. “Setiap hari batinnya seperti terus tersiksa.”

“Iya,” sahut Bimbim mengangguk. “Aku juga berpikiran begitu.”

Lisa menghela napas. “Padahal Nyonya itu tipe istri idaman. Dia bangun sebelum matahari terbit. Bahkan sering menolak bantuanku saat memasak. Katanya, dia ingin sendiri yang menyiapkan makanan untuk suaminya.”

Tanpa mereka sadari, percakapan itu terekam oleh kamera CCTV di sudut teras dan terhubung langsung ke ponsel Dave.

Dave yang berdiri terpaku menatap layar ponselnya merasakan dadanya menghangat oleh rasa bersalah. Setiap kata yang didengarnya seperti menusuk pelan namun pasti.

"Maafkan aku, Elia". gumamnya dalam hati.

Namun, entah kenapa, kata-kata itu terasa begitu berat untuk diucapkan secara lantang terlebih langsung di hadapan wanita yang kini tengah menangis karena sikapnya sendiri.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!