Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan
Angin laut berhembus pelan di balkon hotel tempat mereka menginap. Malam itu terasa sangat tenang. Sampai Arka bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Revan tertidur pulas di antara mereka, napasnya teratur, wajah kecilnya damai. Tangannya masih menggenggam ujung baju Alana, seolah takut gadis itu menghilang saat ia terlelap. Alana duduk kaku, nyaris tak berani bergerak, takut membangunkan bocah itu.
Arka menatap pemandangan itu lama. Ada sesuatu yang terasa, salah, tapi juga benar. Rumahnya selama ini sunyi, dingin, seperti bangunan tanpa nyawa. Namun kehadiran Alana dan tawa Revan beberapa hari ini seakan mengisi ruang-ruang kosong yang tak pernah ia sadari keberadaannya.
Ucapan Alana kembali terngiang di kepalanya. "Saya berterima kasih, Tuan. Saya diizinkan tinggal di rumah Tuan dan ada tempat untuk berteduh."
Arka mengerutkan dahi. Berteduh. Kata itu sederhana, tapi berat. Seolah gadis itu bukan sekadar bekerja padanya, melainkan benar-benar melarikan diri dari sesuatu yang lebih besar.
Arka melirik Alana dari sudut matanya. Gadis itu menatap laut dengan pandangan kosong, rambutnya tergerai tertiup angin malam. Wajahnya terlihat jauh lebih lembut di bawah cahaya lampu balkon, tanpa riasan berlebihan, tanpa kepura-puraan.
“Alana,” panggil Arka pelan.
Gadis itu menoleh. “Iya, Tuan?”
“Kamu … kenapa malam itu kamu terlihat sedang melarikan diri?” tanya Arka tanpa menatapnya langsung.
Alana terdiam. Jemarinya mencengkeram kain celananya, bahunya sedikit menegang. Arka bisa merasakan perubahan itu.
“Tidak perlu dijawab sekarang,” lanjut Arka cepat. “Aku hanya … penasaran.”
Alana tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. “Mungkin suatu hari nanti aku akan mengatakan alasannya, Tuan.”
Jawaban itu membuat Arka makin yakin. Ada sesuatu yang besar. Dan ia tak suka berada dalam ketidaktahuan.
Malam itu berakhir tanpa banyak kata. Tapi bagi Arka, pikirannya tak pernah benar-benar beristirahat.
Begitu kembali ke kamar penginapan, Arka berdiri di dekat jendela, menatap gelapnya laut yang hanya diterangi cahaya bulan. Tangannya terangkat, menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.
“Reno,” ucap Arka saat panggilan tersambung.
Di seberang sana, suara pria itu terdengar sigap. “Iya, Bos.”
“Cari tahu tentang Alana,” perintah Arka singkat. “Lengkap. Sekarang.”
Tak ada pertanyaan. Tak ada bantahan. Hanya jawaban singkat. “Siap.”
Arka menutup panggilan. Dia tahu, dalam dunia yang ia kuasai, informasi bukan hal yang sulit. Yang sulit adalah menerima kebenaran setelahnya.
Tak sampai satu jam, ponselnya kembali bergetar.
“Bos,” suara Reno terdengar lebih serius dari biasanya. “Data sudah kami dapat.”
“Bicara,” kata Arka dingin.
“Nama lengkapnya Alana Putri Maheswari. Dua puluh dua tahun. Anak tunggal. Tinggal bersama ayah dan ibu tirinya.”
Arka mendengarkan tanpa menyela.
“Semalam sebelum insiden, Alana kabur dari rumah. Ayahnya berencana menikahkan dia secara paksa.”
Arka mengepalkan tangan. “Dengan siapa?”
“Seorang pria bernama Handoko,” jawab Rafael. “Lima puluh enam tahun. Pengusaha properti. Punya reputasi buruk. Pernah tersangkut kasus perempuan, tapi selalu lolos.”
Hening di seberang sana. Sebelum akhirnya Reno meneruskan ucapannya.
“Alana menolak pernikahan itu. Tapi ayahnya terlilit utang besar pada Handoko. Gadis itu dijadikan jaminan.”
Dada Arka bergejolak. Ada kemarahan yang perlahan naik, panas dan pekat.
“Dia kabur malam itu, panik, ketakutan. Sampai hampir tertabrak mobil Bos.”
Ingatan Arka kembali ke malam hujan itu. Sosok gadis yang berlari tanpa arah, wajah pucat, mata penuh teror. Dan bagaimana ia membanting setir, menghantam pembatas jalan, demi menghindari tubuh kecil itu.
“Bos?” suara Reno terdengar hati-hati.
“Lanjutkan,” perintah Arka.
“Keluarga Alana sekarang mencarinya. Ayahnya melapor ke beberapa kenalan, termasuk Handoko. Mereka ingin gadis itu ditemukan secepatnya.”
Arka menarik napas panjang. Semua terasa begitu jelas sekarang.
Pantas saja Alana berterima kasih. Pantas saja ia terlihat takut kehilangan tempat tinggal. Rumah Arka bukan sekadar tempat bekerja baginya. Itu perlindungan.
“Reno,” ucap Arka pelan, tapi nadanya mengandung perintah mutlak. “Pastikan mereka tidak tahu Alana ada dirumahku!”
“Siap, Bos.”
“Dan satu lagi,” lanjut Arka. “Kalau Handoko atau siapa pun mendekati rumahku … Segera laporkan. Aku tak akan membiarkan mereka menyentuhnya.”
Reno terdiam sesaat sebelum menjawab mantap, “Dipahami, Bos.”
Panggilan berakhir. Arka menurunkan ponselnya perlahan.
Di benaknya, satu kalimat terlintas tanpa ia sadari. "Aku akan melindungimu, Alana."
Pagi di pantai selalu membawa suasana yang berbeda. Matahari terbit perlahan, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut. Udara masih sejuk, pasir dingin di telapak kaki.
Revan sudah berlarian sejak subuh, tak sabar menunggu siapa pun bangun.
“Mbak Alanaaa!” teriaknya dari depan kamar. “Bangun! Kita berenang!”
Alana tertawa kecil saat membuka pintu. “Pagi-pagi sekali, Revan.”
“Ayo! Om Arka juga!” bocah itu berteriak lagi.
Arka keluar beberapa saat kemudian, mengenakan kaus putih sederhana dan celana pendek. Rambutnya sedikit berantakan, tapi tetap saja aura dingin dan berwibawa itu melekat.
“Kalian ribut sekali,” gumam Arka.
Revan menarik tangan Alana. “Mbak ikut ya!”
Alana menoleh ragu ke arah Arka. “Tuan …?”
“Pergi saja,” kata Arka singkat. “Aku menyusul.”
Alana mengangguk, lalu pergi bersama Revan ke arah pantai. Beberapa menit kemudian, Arka mengikuti dari belakang.
Saat itulah ia melihatnya. Melihat Alana dengan cara yang berbeda.
Alana berdiri di tepi pantai, mengenakan baju renang sederhana, tak berlebihan, tapi cukup membuat Arka terdiam. Rambutnya diikat setengah, kulitnya tersentuh cahaya matahari pagi, lekuk tubuhnya terlihat anggun dan menggoda dengan cara yang tak disengaja.
Arka berhenti melangkah. Ada denyut asing di dadanya. Bukan nafsu yang liar, tapi ketertarikan yang berbahaya. Dia menyadari sesuatu yang selama ini dia abaikan, Alana bukan lagi sekadar gadis yang ia “selamatkan”. Dia perempuan dewasa. Dan terlalu menarik untuk diabaikan.
“Om! Ayo!” Revan melambaikan tangan dari air.
Arka tersentak dari lamunannya. Rahangnya mengeras. Ia mengalihkan pandangan, memaksa dirinya tetap rasional.
"Jangan bodoh, Arka. Kau tak boleh suka dengannya," gumamnya pada diri sendiri.
Arka masuk ke air, berdiri agak jauh, menjaga jarak. Namun matanya tak bisa sepenuhnya berhenti mengikuti gerak Alana saat gadis itu tertawa bersama Revan, air memercik di sekeliling mereka. Ada sesuatu yang hangat dan Arka merasa itu berbahaya.
Alana menoleh sekilas, pandangan mereka bertemu. Untuk sepersekian detik, waktu terasa berhenti. Alana buru-buru memalingkan wajahnya, jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya.
Arka menahan napas. Dia tahu satu hal dengan pasti. Gadis itu bukan hanya membawa perubahan ke dalam hidup Revan. Tapi juga mungkin ke dalam hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arka merasa ingin memiliki sesuatu yang bukan sekadar bisnis atau kekuasaan. Sejak kepergian Celine ke luar negeri, dia tak pernah tertarik dengan gadis manapun.
Ombak menggulung pelan di kaki mereka, seolah menyimpan rahasia yang siap meledak kapan saja.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭