Chantika Anastasya gadis berusia 17 tahun yang meninggal karena rem mobilnya blong yang menyebabkan ia menabrak truk yang ada di depannya.
Bukannya mencari pertolongan, ia malah tersenyum senang karena ia pikir setelah ini ia akan pergi ke surga dan melepaskan semua beban yang sudah ia pikul selama ini.
"Syurgaa.....I'm coming"
Tapi bukannya ke surga, chantika malah terjebak di tubuh gadis culun yang ternyata memiliki masalah hidup yang cukup berat dan rumit.
Lalu apakah Chantika kuat menjalani kehidupan barunya dengan semua masalah yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chryssa_Dike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Entah kenapa Marka merasa marah ketika mendapati sang istri keluar dari rumah tanpa memberikan kabar ataupun pesan padanya.
'Dia pikir dia siapa? Keluar seenaknya tanpa berpamitan pada suaminya! Benar-benar istri yang tak punya sopan santun!' gumam Marka marah.
Dengan perasaan yang masih kesal, Marka pun berjalan menuju kamarnya berniat mengganti baju. Setelahnya ia kembali ke ruang tamu untuk mengerjakan beberapa berkasnya sambil meminum kopi buatannya.
Hoek...
Marka memuntahkan kopi itu tepat di atas berkasnya. "Akh...kopi sialan! Kenapa tumpah di berkas"
Setelah mengucapkan itu, ia pun mengakat berkasnya dan sedikit mengayunkannya ke udara, berharap kertas tersebut segera kering. Bukannya kering, kertas itu malah terbang.
Marka menarik nafas dalam. "Dasar kertas sialan!"
Tak lama setelah mengucapkan itu, kertas-kertas mulai berterbangan sebab Marka melemparkannya entah kemana. Ia pun mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Kenapa semua sangat menyebalkan hari ini"
***
Beberapa jam berlalu......
Suara dengung motor yang cukup keras tiba-tiba berhenti tepat di depan rumah Marka dan Chaca. Marka yang awalnya sudah kembali fokus mengerjakan berkasnya mulai merasa terganggu.
"Akh...apalagi sekarang!" ucap Marka kesal sambil berjalan menuju jendala untuk memastikan pelakunya.
Saat melihat keluar, darah Marka seketika terasa mendidih. Di luar, ia mendapati Chaca dibonceng oleh seorang laki-laki. Namun yang semakin membuatnya kesal adalah tangan Chaca yang berpegangan pada pinggang laki-laki itu, apalagi keduanya terlihat sangat nyaman bercanda.
Merasa hal ini tak bisa dibiarkan, Marka pun langsung keluar dengan perasaan kesalnya. Bahkan saking kesalnya ia sampai membanting pintu itu. Namun suara itu nampaknya kedua orang itu tidak terganggu karena terlalu asik mengobrol sambil tertawa.
Marka bersedekap dada. "Ehm...jadi begini kelakuan kamu!"
"Bukannya di rumah nungguin suami pulang, kamu malah enak-enakan main di luar dengan laki-laki lain"
Kedua orang yang mendengar suara Marka barusan pun serempak menoleh, dengan raut wajah yang berbeda.
Chaca yang kaget pun segera turun dari motor. "Kak, ini nggak seperti yang kamu kira. Dia cuman teman aku"
Marka menatap Chaca datar. "Saya tidak peduli! Sekarang masuk!"
"Tapi, Kak..."
"Masuk, Chaca!"
Mendengar perintah mutlak itu, Chaca pun berjalan masuk. Namun sebelum benar-benar masuk, ia menoleh sebentar.
"Jevan, makasih ya atas tumpangannya"
Laki-laki itu mengangguk dengan senyum manisnya. "Sama-sama, sudah sana masuk"
Chaca pun benar-benar masuk, meninggalkan Marka dan Jevan berdua di depan. Ia merasa sedikit was-was, takut Marka dan Jevan bertengkar karena kesalahpahaman barusan.
Disisi lain....
Marka menatap laki-laki di depannya tajam. "Jangan pernah deketin istri gue lagi!"
Mendengar kata 'istri' keluar dari mulut laki-laki di depannya, Jevan pun kaget. Hatinya terasa sakit saat tau gadis yang ia cintai sudah memiliki suami.
"Ahh...anda suami Chaca? Saya pikir anda kakaknya" ucap Jevan sambil menggaruk tengkuknya canggung.
"Saya hanya berniat mengantar, karena tidak sengaja melihat dia pulang kerja sendirian. Jadi anda tidak perlu khawatir"
Jevan menjelaskan semua ini karena tidak mau orang yang ia cintai mendapatkan masalah dari kesalahpahaman ini. Ia juga sudah menerima fakta bahwa laki-laki di depannya adalah suami Chaca.
Marka terdiam mendengar penjelasan laki-laki itu. 'Chaca kerja?'
Setelahnya ia pun pergi meninggalkan laki-laki itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tolong jangan marahi Chaca"
Marka sedikit menoleh. "Saya tau, apa yang saya perbuat. Jadi jangan pernah ikut campur"
Di dalam rumah, pandangan Marka langsung tertuju pada sang istri yang tengah duduk menunduk.
"Ada yang ingin dijelaskan!"
"Maaf" cicit Chaca pelan.
"Saya tidak butuh permohonan maaf kamu! Saya hanya ingin tau kemana kamu pergi sampai semalam ini!"
"I-itu kak, Chaca habis kerja kelompok, iya kerja kelompok" jawab Chaca sambil terus menunduk.
Mendapatkan jawaban bohong dari sang istri, Marka pun menyeringai. 'Oh...ingin bermain-main rupanya'
"Kerja kelompok dimana? Kenapa baru pulang?" pancing Marka lagi.
"Di rumah teman"
"Oh...begitu, tapi laki-laki itu berucap kau baru pulang kerja. Jadi yang mana yang benar ya?" ucap Marka seolah tengah berpikir.
Chaca yang mendengar ucapan pria itu pun semakin menunduk, ia takut laki-laki itu marah dan berakhir menyiksanya.
"Maaf"
"Saya bertanya, bukan meminta kau untuk minta maaf. Jadi siapa yang benar, kau atau laki-laki itu?" tanya Marka tajam.
"Chaca yang berbohong, Kak"
"Kenapa berbohong?"
"Chaca takut kakak marah pada Chaca"
"Kalau tau saya akan marah, kenapa masih dilanjutkan?!" tanya Marka.
Chaca semakin menunduk dalam sambil meremat kedua tangannya. "Chaca terpaksa, Kak. Chaca butuh uang untuk makan dan biaya sekolah"
Mendapatkan jawaban seperti itu, tentu saja Marka bingung, karena ia pikir Chaca masih mendapatkan uang dari kedua orang tuanya.
"Tidak perlu berangkat kerja lagi besok" putus Marka.
"Tapi kak, Chaca tidak bisa. Chaca masih membutuhkan uang itu untuk membayar sekolah. Jadi tolong izinkan Chaca untuk tetap berkerja" ucap Chaca memohon pada suaminya.
"Jangan pikirkan uang sekolah. Saya yang akan membayarnya mulai sekarang"
Mendaptkan jawaban seperti itu, Chaca langsung mendongak memandangi pria itu.
"Benarkah?" tanya Chaca dengan raut bahagianya.
"Jangan senang dulu, saya melakukan ini bukan karena kamu. Melainkan saya tidak mau di cap jelek oleh keluarga kita, karena membiarkan kamu bekerja"
Setelah mengucapkan itu, Marka pun pergi meninggalkan Chaca. Semantara itu, Chaca yang awalnya senang karena berpikir suaminya sudah menaruh hari padanya pun tersenyum getir.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Hingga...
"Akhhh..."
Kepala Chaca tiba-tiba terasa sangat sakit, seperti dihantam batu besar. Darah mulai menetes dari hidung mengotori baju yang ia pakai.
Tidak mau Marka melihat kondisinya, ia pun segera berjalan menuju ke kamarnya dengan sisa kesadaran yang ada. Tidak lupa ia juga menutupi hidungnya supaya tak ada darah yang jatuh mengotori lantai.
***
Pagi pun datang...
Chaca melakukan semua pekerjaan rumah seperti biasanya, karena sakit kepala yang kemarin sempat datang sudah hilang, setelah ia meminum obat.
Pagi ini Chaca memilih makan terlebih dahulu, karena ia tau Marka tidak mungkin mau memakan masakannya.
Namun saat sedang menyantap makanannya, tiba-tiba suaminya itu datang dan duduk tepat di depannya.
"Tolong ambilkan saya makan" ucap Marka datar.
Chaca terdiam sebentar mendengarkan itu, ia masih tidak percaya Marka mau mencoba masakannya. Entah mimpi apa ia semalam sampai hal ini bisa terjadi.
Namun setelah sadar, ia pun mengambilkan pria itu makan. Dan mereka pun makan dengan tenang.
Setelah sarapan mereka habis, Chaca pun memberanikan diri untuk membuka suara.
"Kak, nanti malam tolong antar Chaca membeli kebutuhan bulanan ya"
"Tidak bisa, hari ini saya lembur"
Setelah mengucapkan itu, Marka pun mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
Chaca pun bingung. "Kenapa?"
"Seperti ucapan saya semalam. Gunakan kartu ini untuk belanja bulanan dan keperluanmu. Jadi belanja lah sesukamu, asal jangan melibatkan saya"