Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"...Bagaimana rasanya jika kau malah terjebak kedalam jebakanmu sendiri? Sungguh diluar rencana dan tak terencana ..."
***
Hari pertama masuk sekolah, Raihan datang pagi-pagi.
Begitupun dengan siswa baru lainnya.
Pandangan Raihan tertuju pada seorang gadis cantik yang baru saja memasuki area sekolah.
Gadis itu mengenakan rok 15 cm dari bawah lutut. Dan rambut panjangnya yang berombak digerai. Dia membawa ransel kecil.
Dia akan memasuki ruang pendaftaran. Mungkin dia terlambat daftar ulang.
Raihan tertarik dan berjalan menabrak pelan gadis itu. "Aww" ringis gadis itu.
"Maaf, aku tidak sengaja." kata Raihan berpura-pura.
Gadis itu menatapnya dengan tajam. "Jika aku mau, aku bisa saja membawamu ke kelasku dan memaksamu meminta maaf kepadaku didepan teman-temanku," kata gadis itu dengan tatapan sinis.
Raihan tersenyum, "Dengan senang hati," goda Raihan.
Gadis itu mendengus kesal dan berlalu begitu saja meninggalkan Raihan dengan senyuman tipisnya.
"Meskipun kau berubah, aku tahu itu adalah kau, karena tatapanmu padaku tidak akan pernah berubah." batin Raihan.
Raihan melihat daftar absen sementara dimading. Namanya tertera dikelas X-IPS A.
Raihan memasuki kelas tersebut. Dia duduk dibangku kedua dari depan yang dekat dengan pintu.
Raihan sangat mudah bergaul dan mendapatkan teman dengan cepat. Teman-temannya sangat menyukai kepribadian Raihan yang humoris.
Padahal tidak ada yang tahu sebenarnya dibalik kehumorisannya. Banyak penderitaan yang dia hadapi.
Tiba-tiba, semua murid duduk rapi. Raihan yang duduk sendirian juga segera duduk rapi. Biasanya tandanya ada guru yang akan masuk.
Setidaknya Raihan harus membuat kesan yang baik saat pertama masuk sekolah. Karena mungkin nanti dia akan sering terlambat masuk sekolah seperti waktu di SMP.
Masuklah seorang guru perempuan dari tanda pengenalnya tertera nama Ernia.
"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Erniawati, guru PKN kelas IPS. Ini kelas IPS A, ya? Muridnya ada 28 orang." kata bu Ernia yang sesekali melihat daftar hadir siswa yang dipengangnya.
"Tunggu, kenapa dikelas ini hanya ada 27 orang? Apa ada yang tidak masuk sekolah dihari pertama?" tanya bu Ernia.
Tidak ada yang menjawab. Para murid tidak tahu siapa yang tidak hadir, karena mereka belum mengenal satu sama lain.
"Permisi Bu, maaf saya terlambat. Saya tadi mengisi formulir daftar ulang," kata seseorang sambil memasuki kelas dengan map biru yang dipegangnya.
Raihan menoleh kesumber suara. Seketika senyumannya merekah melihat gadis yang tadi sengaja dia tabrak memasuki kelasnya.
"Iya, tidak masalah, silakan duduk." kata bu Ernia. Gadis itu duduk dibangku didepan bangku Raihan yang merupakan satu-satunya bangku kosong.
Dikelas itu ada 15 kursi. Karena jumlah laki-laki dikelas tersebut ada 15 dan perempuan 13, otomatis ada satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang duduk sendiri.
"Satu persatu akan ibu absen untuk kedepan dan memperkenalkan diri masing-masing," kata bu Ernia.
"Raihan Alfarizi," tak terasa sekarang giliran Raihan.
Raihan maju kedepan. Gadis itu menautkan alisnya tanda tidak suka.
Raihan memperkenalkan dirinya dan berbuat lucu. Teman-temannya tertawa.
Dia terlihat konyol sekali. Gadis itu tidak tertarik dan mendengus kesal.
"Namaku Raihan Alfarizi Mulya AR, aku biasa dipanggil Raihan saja, aku suka voli dan ya aku juga berjualan nasi goreng jangan lupa mampir yaa.. Oh iya, aku juga suka bernyanyi, bermain gitar dan suka membuat siapapun bahagia" kata Raihan penuh semangat dan begitu antusiasnya. Semua siswa tertawa menyahut melihat kepercayaan dirinya seorang Raihan Alfarizi.
Gadis yang baru masuk itu terlihat kesal dan bosan melihat tingkah Raihan.
"Rastani Pri... Panjang banget nih nama.." kata bu Ernia. Gadis itu berdiri dan maju kedepan kelas.
Raihan pun duduk dan tersenyum. ''Jadi namanya Rastani? Wah, namanya berdekatan dengan namaku" batin Raihan bersorak.
"Nama panggilanku Shica saja.. Karena namaku terlalu panjang jika disebutkan.." gadis yang ternyata adalah Shica itu memperkenalkan dirinya, kemudian duduk.
''Hanya segitu? Dasar orang kaya yang sombong'' batin Ernia.
"Nomor HP-nya dong.."
"Tinggal dimana?"
"Hobby-nya apa?"
Anak laki-laki langsung berisik bertanya pada Shica. Namun, Shica tidak meresponnya. Dia memilih diam.
Selesai perkenalan, Ernia pun mulai menjelaskan pelajaran.
"Permisi," 2 orang laki-laki memasuki kelas.
"Maaf Bu Ernia, barangkali ada bangku yang tidak terpakai." kata salah satu dari mereka.
Ernia tampak melihat kesekeliling.
"Raihan, kamu maju kedepan dan duduk dengan Shica," kata Ernia.
"What!" batin Shica dan Raihan berbarengan. Dengan senang hati, Raihan pindah duduk dengan Shica.
"Hai, Rastani." sapa Raihan.
"Shica, namaku Shica Mahali." kata Shica penuh penekanan.
"Ah whatever, aku suka namamu, Rastani, Raihan. Bagus sekali kedengarannya, cocok sekali 'kan?" kata Raihan yang tampaknya mau menggoda Shica.
Shica memutar bola matanya kesal. "Saat melihat perempuan yang agak bening, sikapnya berbeda sekali." batin Shica.
"Terserah,"
"Pertemuan hari ini hanya perkenalan saja. Kita akan memulai pembelajaran di pertemuan berikutnya," kata Bu Ernia kemudian berlalu setelah memberikan salam.
Shica akan berlalu, tapi Raihan bertanya padanya.
"Apa kau tidak mau berkenalan denganku?" tanya Raihan.
"Aku sudah tahu siapa dirimu," jawab Shica. Kemudian berlalu.
"Dia dingin sekali, sikapnya juga berubah. Dulu dia baik dan sekarang jadi sedikit angkuh." gerutu Raihan.
Setelah bel pulang berbunyi, Shica ke parkiran dan memasuki mobilnya untuk segera pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ratna menghampirinya.
"Sayang,"
"Ada apa Ma?" tanya Shica.
"Apa kau tahu dimana Regar?" tanya Ratna.
Shica menggeleng.
"Memangnya kenapa Ma? Apa Kak Regar belum pulang?" tanya Shica.
"Iya, belakangan ini dia sering pulang malam," jawab Ratna. Tersirat raut kecemasan di wajahnya.
"Itu wajar saja Ma, kak Regar 'kan kelas 12, jadi mungkin dia sedang belajar dengan rajin bersama teman-temannya. Sebentar lagi 'kan ujian." jawab Shica.
"Baiklah, oh ya Shica, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Ratna. yang membuat Shica terkejut.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Shica menyelidik.
"Mama heran, kenapa dari dulu Mama belum pernah melihatmu dekat dengan seseorang, maksud Mama, laki-laki." goda Ratna.
"Ayolah Ma, pria itu tidak penting, sama seperti kak Regar yang memainkan perasaan para gadis. Aku tidak mau dipermainkan laki-laki." jawab Shica ketus.
"Yang benar saja. Mama takut kamu jadi tidak normal," kata Ratna.
"Aku tidak suka laki-laki saat ini. Apalagi orang itu," jawab Shica. sambil membayangkan wajah Raihan.
"Jangan sampai kamu membenci laki-laki karena laki-laki yang kamu pikirkan itu Shica. Tidak semua laki-laki seperti itu," kata Ratna.
"Aku tetap tidak suka laki-laki, tapi bukan berati aku suka perempuan." gerutu Shica.
"Apa maksudmu aku nak?" tanya Ridan yang tiba-tiba datang.
"Tidak Papa, pengecualian untukmu." jawab Shica sambil memeluk Ridan.
Ridan membelai kepala Shica.
"Aku pulang,"
Mereka bertiga menoleh. Ternyata Regar, dia tampak acak-acakan.
"Regar, kamu dari mana?" tanya Ridan.
"Dari klub motor," jawab Regar kemudian berlalu memasuki kamarnya.
"Ya udah, Shica mau mandi dulu, ya." kata Shica kemudian berlalu ke kamarnya.
"Mereka sudah besar, ya." kata Ratna.
"Iya, aku beruntung memiliki putra dan Putri yang yang tampan dan cantik," jawab Ridan.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya