Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Darah di Atas Salju Abu
Asap masih mengepul dari reruntuhan Desa Qingyun saat Li Yuan melangkah melewati mayat-mayat yang membeku. Tidak ada lagi air mata. Yang tersisa hanya sepasang mata yang kosong, namun di dalamnya berkilat api ungu yang mengerikan. Di belakangnya, Dong Dong berjalan dengan tongkat yang diseret di tanah, meninggalkan goresan panjang yang penuh dengan niat membunuh.
"Mereka ada di sana," bisik Dong Dong. Hidungnya mencium bau besi dari zirah dan minyak senjata yang khas.
Di batas hutan, sepuluh orang prajurit berseragam hitam dengan lambang elang di dada mereka tengah tertawa sambil memeriksa barang jarahan. Mereka adalah unit kecil dari Pasukan Elang Hitam yang tertinggal untuk memastikan tidak ada saksi hidup.
"Desa sampah ini tidak punya banyak emas, tapi gadis-gadisnya lumayan." ucap salah satu prajurit sambil mengasah belatinya yang bersimbah darah.
Tiba-tiba, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Para prajurit itu menoleh dan melihat seorang bocah dengan pakaian hangus berdiri sepuluh langkah di depan mereka.
"Oh? Masih ada tikus yang selamat?" Pemimpin unit itu, seorang pria dengan bekas luka di mata kiri, menyeringai. "Tangkap dia. Kita bisa menjualnya sebagai budak tambang."
Dua prajurit maju dengan angkuh. "Hei Bocah, menyerahlah jika kau tidak ingin—"
Belum sempat kalimat itu selesai, tubuh Li Yuan menghilang.
SRAAAK!
Dalam satu kedipan mata, Li Yuan sudah berdiri di belakang prajurit pertama. Pedang hitamnya tidak lagi berkarat; bilahnya kini hitam legam, mengeluarkan uap dingin yang mencekam. Kepala prajurit itu perlahan merosot dari lehernya, jatuh ke tanah sebelum tubuhnya sempat menyadari bahwa nyawanya telah dicabut.
Darah menyembur, namun tidak ada yang jatuh ke tanah. Darah itu justru terhisap ke dalam bilah pedang hitam Li Yuan.
"Satu," ucap Li Yuan datar. Suaranya terdengar seperti gesekan batu kuburan.
"K-KAU! BERANI SEKALI!" Prajurit kedua mengayunkan goloknya dengan kalap.
Li Yuan tidak menghindar. Ia menangkap bilah golok itu dengan tangan kirinya yang kini dilapisi energi Qi ungu pekat. Tanpa ekspresi, ia menusukkan pedang hitamnya tepat ke jantung prajurit tersebut.
Begitu pedang itu menembus dada, mata prajurit itu membelalak ketakutan. Tubuhnya mengering dengan cepat seolah seluruh esensi kehidupannya disedot paksa. Pedang itu bergetar kegirangan, mengeluarkan suara berdenging yang haus darah.
"Apa yang terjadi pada pedang itu?!" teriak sang pemimpin Elang Hitam dengan wajah pucat.
Li Yuan merasakan gelombang energi yang dahsyat meledak di dalam tubuhnya. Setiap nyawa yang diserap pedang itu diubah menjadi energi spiritual murni yang dipompakan langsung ke dalam pembuluh darahnya.
Arus Qi Tingkat 5... 7... 10!
Hambatan kultivasinya hancur berkeping-keping. Energi itu tidak berhenti, ia terus memadat di area dada, membentuk pusaran yang menghubungkan kesadaran fisik dan spiritualnya.
Inti Qi!
Dan terus melesat. Penderitaan dan amarah Li Yuan menjadi katalis yang sempurna. Roh pedang hitam itu seolah menyatu dengan jiwanya, membentuk sebuah ikatan yang mengerikan.
BYAAARRR!
Aura ungu meledak dari tubuh Li Yuan, meratakan pepohonan di sekitarnya. Rambutnya berkibar liar, dan di belakang punggungnya, samar-samar muncul bayangan sosok dewa kematian yang memegang pedang.
Penyatuan Roh Tingkat 1.
Li Yuan menatap telapak tangannya. Ia merasakan kekuatan yang melampaui logika, namun hatinya tetap sedingin es. Ia menoleh ke arah sisa prajurit yang kini gemetar ketakutan.
"Aku merasakannya," bisik Li Yuan. "Rasa sakit yang kalian berikan pada warga desa... pedang ini ingin kalian merasakannya seribu kali lipat lebih sakit."
Dong Dong melompat ke samping Li Yuan, tongkatnya kini berpendar merah membara. "Jangan sisakan satupun, Li Yuan. Biarkan hutan ini meminum darah mereka."
Li Yuan bergerak lagi. Kali ini, ia bukan lagi bertarung, melainkan memanen nyawa. Jeritan memilukan mulai memecah kesunyian hutan, membalaskan setiap tawa yang mereka keluarkan saat membakar Desa Qingyun.
Pembantaian baru saja dimulai.