Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan hati Tari
Siang itu Kaivan kembali ke area tendanya hanya untuk mengambil beberapa berkas. Langkahnya baru beberapa meter ketika sebuah suara memanggil dari samping.
“Akang Kaivan.”
Kaivan berhenti. Ia menoleh dan melihat Tari berjalan mendekat. Alisnya sedikit berkerut, ia heran untuk apa gadis itu menghampirinya. “Ada apa ya, Tari?” tanyanya singkat.
Tari berdiri di depannya, jemarinya meremas ujung baju. Wajahnya terlihat gugup. “Ada yang mau aku bicarakan sama Akang,” ucapnya pelan.
Kaivan melirik ke arah posko yang cukup ramai. “Di sini?”
Tari menggeleng cepat. “Bisa ke sana sebentar?” katanya sambil menunjuk area yang sedikit jauh dari keramaian.
Kaivan menarik napas pendek. Ia sebenarnya enggan, tapi akhirnya mengangguk. “Baik.”
Mereka berjalan agak menjauh hingga suara orang-orang mulai meredup. Tari berhenti lebih dulu. Ia menunduk, lalu mengangkat wajahnya perlahan.
“Waktu semalam Akang bilang sudah punya pacar. Apa itu benar?” tanya Tari lirih.
Kaivan langsung paham arah pembicaraan itu. Baiklah ia akan jujur, daripada Tari terus mengganggu dan berharap padanya. “Iya. Saya memang sudah punya pacar. Bahkan sebentar lagi kami akan menikah. Kenapa?”
Kalimat itu membuat bahu Tari melemas. Mata Tari berkaca-kaca, dadanya terasa sesak seperti ada ribuan belati yang menusuknya. “Saya mau jujur. Saya suka Akang sejak pertama kali Akang datang ke desa ini.”
Kaivan diam sejenak, tidak terkejut. Ia sudah menduganya sejak lama. “Tari saya hargai kejujuran kamu. Tapi saya–”
“Hati saya sakit waktu dengar Akang sudah punya pacar. Apa benar-benar nggak ada sedikit pun kesempatan buat saya?” ujar Tari memotong ucapan Kaivan.
Kaivan menggeleng pelan. “Tidak ada. Saya tidak bisa memberi harapan.”
Tari menggigit bibirnya. Setelah ragu beberapa detik, ia berkata, “Aku nggak keberatan kalau jadi yang kedua atau jadi, simpanan Akang.”
Kaivan langsung menghela napas panjang. Tangannya terangkat, memijit pelipisnya Yang mendadak berdenyut.“Jangan bilang begitu. Kamu pantas dihargai, bukan ditempatkan di posisi seperti itu.”
Kaivan menatap Tari dengan serius. “Saya mencintai pasangan saya. Saya tidak mau mengkhianati dia, dan saya tidak mau melukai kamu dengan cara yang salah.”
Air mata Tari akhirnya jatuh. Ia tidak membalas tatapan Kaivan lagi.
“Carilah laki-laki yang benar-benar memilih kamu dan itu bukan saya,” lanjut Kaivan.
Hening sesaat menyelimuti mereka.
“Saya permisi. Saya harus kembali ke proyek,” ucap Kaivan tak ingin berlama-lama dengan Tari takut jika nanti Ravela melihatnya.
Kaivan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Tari perlahan duduk di tanah, menangis dalam diam.
Dua hari berlalu, besok adalah hari kepulangan Ravela bersama para prajurit lainnya menuju kota Jakarta. Namun tidak dengan para tim proyek, karena mereka harus menyelesaikan proyek rumah hunian sementara itu terlebih dulu.
Hubungan Ravela dan Kaivan pun sudah semakin dekat, mereka lebih sering berkirim kabar melalui ponsel, karena Ravela takut ada yang mengetahui hubungan mereka.
Sudah cukup Kirana yang mengintrogasi dirinya, Ravela juga masih ingin tahu, seberapa keras Kaivan berusaha meyakinkan hatinya.
Awalnya Kaivan menolak, keinginannya untuk menghampiri Ravela terlalu kuat. Namun kali ini Ravela bersikap tegas, ia bahkan mengingatkan Kaivan bahwa jika ia masih nekat, Ravela akan menjauh darinya.
Ancaman itu membuat Kaivan diam tak bisa berkutik. Akhirnya, ia memilih mengalah dan mengikuti apa yang Ravela minta.
Malam itu cuaca cerah, bulan bersinar terang di langit. Semua berkumpul di sekitar posko dan tenda karena keesokan harinya para prajurit akan kembali ke Jakarta. Maka, malam ini mereka mengadakan acara perpisahan sederhana bersama para warga.
Seorang bapak warga berdiri. “Terima kasih, Kapten dan anggota tentara semuanya. Kami benar-benar terbantu dengan kehadiran kalian di sini.”
“Kami hanya menjalankan tugas, Pak. Yang paling luar biasa justru semangat bapak dan ibu semua,” balas Ravela sopan.
“Kalau nanti ada waktu, Kapten jangan lupa mampir lagi. Jangan pas ada musibah saja,” sahut seorang Ibu.
Dimas tertawa kecil. “Siap, Bu. Mudah-mudahan lain kali kami datang cuma buat silaturahmi, bukan karena ada musibah.”
Beberapa warga ikut tertawa mendengarnya.
Kirana ikut bicara, nadanya hangat. “Kalau kampung ini sudah pulih, kami pasti senang lihatnya.”
“Janji ya, kalian akan datang ke desa ini lagi?” ucap warga lain.
“InsyaAllah,” jawab Ravela singkat.
Seorang ibu warga mendekat sambil membawa wadah plastik berisi kue. Wajahnya tampak ragu-ragu, namun senyumnya tulus. “Kapten, ini ada kue kampung. Sederhana saja, tapi kami bikin khusus buat malam ini,” ucapnya sambil menyodorkan wadah itu.
Ravela sedikit terkejut. Ia segera menerima dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak, Bu. Ini kelihatannya enak sekali.”
“Silakan dicoba. Biar tahu rasa kue khas di desa kami,” kata si ibu sambil terkekeh kecil.
Ravela mengambil satu potong, lalu tersenyum setelah mencicipinya. “Enak, Bu. Terima kasih, ya.”
Si ibu tampak lega. “Syukurlah kalau cocok. Kami senang kalau Kapten mau mencicipi,” ucapnya sebelum kembali ke tempat duduk.
Ravela yang hari ini benar-benar merasa lelah memutuskan kembali menuju tenda terlebih dahulu, tidak lama Kirana ikut menyusul untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
Sampai didalam tenda mereka tidak langsung beristirahat, mereka masih sibuk membereskan barang bawaan mereka, takut jika ada yang tertinggal disana.
Kaivan mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari Ravela. Namun, ia tidak menemukan istrinya di tengah kerumunan orang-orang itu.
“Kamu lagi cari siapa, Kai?" tanya Raynand, yang melihat raut khawatir di wajah sahabatnya.
Namun Kaivan sama sekali tidak merespon, membuat Raynand kesal, dan menepuk bahu sahabatnya.
“Ya ampun Kai, ditanyain malah diam saja!” seru Raynand di sebelahnya, membuat Kaivan akhirnya membuka suara.
“Cari istri,” jawab Kaivan singkat.
“Bye the way, aku heran, kamu kalau sama kapten Ravela gimana? Emang dia betah sama manusia triplek kayak kamu,” ujar Raynand meledek Kaivan. Raynand belum pergi dari desa itu, ia akan kembali ke Jakarta lusa besok.
Kaivan yang mendengar itu menatap sinis menjadi kesal. Kaivan sudah menceritakan ke Ravela, jika selain Sandy, Raynand juga sudah mengetahui tentang hubungan mereka.
“Tanya saja sendiri ke orangnya!” dengus Kaivan.
Raynand berdecak, “Emang kamu biarin aku bicara berduaan dengan kapten Ravela?” godanya sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar ucapan Raynand membuat Kaivan menatap tajam sahabatnya itu. Namun ia tak meladeni ucapan Raynand, ia bergegas menuju tenda yang Ravela tempati untuk memastikan keberadaan istrinya.
“Ehem…!”
Sebuah deheman terdengar, memotong obrolan dua wanita yang sedang asyik berbincang.
Obrolan Ravela dan Kirana seketika terhenti, saat melihat siapa yang datang dari arah pintu masuk tenda.
“Aduh, Vel... ada suami kamu,” bisik Kirana, membuat Ravela seketika canggung.
Kirana lalu menoleh ke arah Kaivan dan tersenyum sopan. “Mas Kaivan, lagi cari Komandan ya?” tanyanya basa-basi, padahal sudah jelas alasan Kaivan berada di sana.
Kaivan hanya mengangguk.
“Sepertinya ada hal penting yang ingin kalian obrolkan. Kalau gitu kalian ngobrol dulu deh, saya tunggu diluar,” ujar Kirana lalu berjalan keluar tenda.
Saat ini Ravela benar-benar merasa canggung sekaligus takut jika nanti sampai prajurit lain yang masuk ke sini.