Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Hotel
“Dari Kirana,” jawab Ravela.
“Ya sudah di angkat saja, siapa tahu penting.” Kaivan menyandarkan punggung ke kursi, memberi ruang.
Ravela mengangguk dan menekan menggeser hijau pada layar ponselnya.
“Vel, gimana?” suara Kirana terdengar langsung tanpa basa-basi. “Udah lapor ke Letkol Armand?”
Ravela tersenyum kecil. “Udah. Baru aja selesai.”
“Serius? Terus gimana respon Letkol Armand?” tanya Kirana.
“Diterima. Meski tadi ada teguran sedikit soal keterlambatan laporan, tapi nggak sampai kena sanksi,” jawab Ravela jujur.
Di seberang sana terdengar embusan napas panjang. “Syukurlah. Aku sempat kepikiran macem-macem. Takutnya kamu kena hukuman atau sanksi.”
Ravela menggeleng pelan meski tahu Kirana tak bisa melihatnya. “Nggak. Beliau cuma ngingetin soal kedisiplinan.”
“Ya itu wajar sih. Yang penting sekarang sudah aman. Status kamu juga sudah jelas,” ucap Kirana.
“Iya kamu benar,” jawab Ravela singkat.
“Berarti sekarang sudah sah dong. Agama beres, hukum beres, aturan militer juga tinggal nunggu administrasi rampung.”
Ravela tersenyum makin lebar. “Kurang lebih begitu.”
“Selamat ya, nyonya Wiratama,” goda Kirana. “Akhirnya nggak sembunyi-sembunyi lagi.”
Ravela terkekeh pelan. “Kamu ini.”
“Eh, tapi bener lho. Habis ini tinggal mikirin yang selanjutnya.”
Ravela sudah bisa menebak arah pembicaraan itu. “Apaan yang selanjutnya?”
“Ya apalagi, kalau bukan momongan. Cepatlah kasih aku keponakan yang lucu-lucu,” goda Kirana.
Ravela refleks menurunkan ponsel sedikit, melirik Kaivan yang saat ini menatapnya. Wajahnya langsung memanas. “Kirana! Malu ada mas Kai disini,” bisik Ravela namun terdengar jelas oleh Kaivan.
Di seberang sana Kirana tertawa. “Ternyata Kapten bisa malu juga. Aku cuma ngingetin. Kan sekarang sudah resmi.”
Ravela menghela napas, berusaha menormalkan suaranya. “Doakan saja.”
“Pasti,” jawab Kirana cepat. “Sekarang kamu harus banyak istirahat, aku tau kamu akhir-akhir ini sibuk banget dan nikmati waktumu bersama suami.”
“Iya. Makasih ya, Kira.”
“Sama-sama. Sekali lagi, selamat Kaptenku.”
Panggilan berakhir. Ravela menurunkan ponsel dan baru sadar Kaivan menatapnya dengan senyuman yang penuh arti.
“Aku penasaran apa yang kalian bahas tadi sampai kamu bisik-bisik,” ujar Kaivan.
Ravela memalingkan wajah, masih tersenyum malu. “Nggak bahas apa-apa kok,” elaknya.
Tidak lama pesanan mereka datang membuat obrolan mereka terhenti.
“Suapin aku dong, sayang," ucap Kaivan tiba tiba, membuat Ravela tersedak minumannya.
UHUK! UHUK!
Kaivan segera menghampiri Ravela yang duduk di seberangnya, dan mengusap lembut punggung istrinya.
"Pelan-pelan dong Vel, aku nggak bakal minta minuman kamu kok!" seru Kaivan.
Ravela melirik tajam ke arah suaminya, “Lagian Mas bisa nggak sih, nggak usah minta yang aneh-aneh!” protesnya
“Anehnya dimana? Emang salah minta di suapin istri sendiri, yang aneh itu kalau minta di suapin istri orang,” ujar Kaivan santai.
Ravela benar-benar geram mendengar jawaban santai dari Kaivan, ia tidak menyangka jika beginilah sifat asli aslinya.
Ravela pikir, awalnya Kaivan orangnya itu pendiam namun semua perkiraan Ravela tidak ada yang benar.
Akhirnya Ravela mengalah, ia sudah sangat lelah, dan ingin segera pulang mengistirahatkan tubuhnya.
“Mas nggak malu? Ini tempat umum loh!” tanya Ravela sembari menatap sekeliling.
“Aku nggak kenal mereka. Lagian kita juga nggak akan ketemu lagi sama mereka. Kamu terlalu banyak alasan untuk menolak,” sahut Kaivan dengan wajah tertekuk.
Ravela kembali menghela napas dan mengalah, ia seperti merasa memiliki bayi besar jika begini. ”Yang benar saja menyuapinya di depan umum begini,” gerutunya dalam hati.
Namun pada akhirnya, Ravela tetap menyuapkan makanan ke mulut Kaivan. Kaivan sempat meminta Ravela makan lebih dulu, tapi setelah itu justru ia kembali meminta disuapi, bahkan untuk secangkir kopi pun ia bersikeras minta diminumkan dengan tangan Ravela langsung.
Ravela sempat menggeleng kecil, tapi tetap saja ia menuruti permintaan suaminya tanpa keberatan. Ada rasa hangat yang tumbuh di dadanya. Sifat manja Kaivan, yang sama sekali tak ia duga sebelumnya, justru membuatnya merasa diperhatikan dan dicintai dengan cara yang berbeda.
“Aku nggak kebayang kalau sampai karyawan kamu tau sifat kamu yang seperti ini. Seorang CEO yang gagah tampan dan dingin makan saja harus disuapi,” ujar Ravela disela-sela makan mereka.
“Ini sepesial hanya untuk kamu. Jadi kamu jangan khawatir, mereka nggak akan tahu,” sahut Kaivan dengan entengnya, membuat Ravela menggelengkan kepalanya.
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Kaivan.
"Ya udah kamu istirahat aja, pasti kamu capek kan," ujar Kaivan memerintah.
“Tapi Mas gimana? Aku kasian kamu nggak ada temen ngobrol," timpal Ravela.
“Udah nggak apa-apa, sayang. Aku tahu kamu akhir-akhir ini kurang tidur. Nanti aku bangunin kalau udah sampai,” ujar Kaivan sembari mengusap lembut tangan Ravela yang berada di genggamannya.
Ravela hanya mengangguk, tubuhnya terasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Akhir-akhir ini jam tidurnya berkurang karena urusan pernikahan mereka. Akhirnya, ia memejamkan matanya, membiarkan diri sejenak beristirahat.
Kaivan memberhentikan mobilnya di depan gedung Wiratama Group. Ada sesuatu yang harus ia ambil di ruangannya, ia meninggalkan Ravela yang masih terlelap di dalam mobil.
Sebenarnya ia ingin membangunkan istrinya tapi Kaivan tidak tega, karena itu Kaivan membiarkan Ravela tetap terlelap dengan keadaan mobil masih menyala.
Setelah 15 menit di dalam kantornya, Kaivan keluar dan kembali ke dalam mobil sambil membawa sebuah map.
Kaivan menatap wajah istrinya yang terlelap damai, ia mengecup pucuk kepala Ravela dan kembali melajukan mobilnya.
Kaivan tidak langsung pulang, ia memutuskan membawa Ravela ke suatu tempat terlebih dahulu.
Ravela mulai menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam netranya, matanya memindai sekeliling, dimana dirinya masih ada di dalam mobil.
Ravela menatap ke sebelah, dimana Kaivan tengah fokus mengemudi, dan belum menyadari jika dirinya sudah terbangun.
Melihat jalan yang bukan menuju rumah mertuanya, membuat Ravela membuka suaranya, “Bukannya kita mau ke rumah kamu, Mas? Terus ini jalan mau kemana?" tanyanya tiba-tiba.
Kaivan yang fokus mengemudi menatap ke arah samping dimana Ravela berada. "Kamu udah bangun, sayang?" tanyanya.
Ravela hanya mengangguk.
“Oh itu... Tadi aku berhenti sebentar di kantor ambil berkas,” jelas Kaivan.
Ravela hanya mengangguk tak banyak bertanya, saat Kaivan singgah sebentar di salah satu butik dan lagi, Ravela tidak bertanya untuk apa suaminya ke tempat itu.
Setelah dirasa semua yang dibutuhkan cukup, Kaivan kembali ke mobilnya, membelah jalanan ibu kota yang masih sangat ramai, dan sedikit terdapat kemacetan dibeberapa titik.
Di dalam mobil Ravela dan Kaivan sama-sama diam. Ravela yang sibuk mengirim pesan dengan dua sahabatnya, sedangkan Kaivan sendiri tengah sibuk mengemudi di jalan yang lumayan macet itu.
Hingga mobil Kaivan berbelok disalah satu hotel berbintang disana, barulah Ravela membuka suaranya.
“Lho, kok kita kesini?” tanya Ravela heran.
“Aku pengen berduaan sama kamu, Vel. Kalau kita pulang aku nggak yakin kita bisa langsung istirahat, pasti nanti kita ngobrol dulu sama Mamah. Kebetulan aku juga lagi capek banget. Nggak apa-apa kan, sayang?” pinta Kaivan.
Ravela mau tidak mau menyetujui ajakan suaminya.