罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Uragiri part III
...**...
...試練中の呪文 ...
...-Shiren-chū no Jumon-...
...'Mantra yang sedang diuji'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Mantra yang menggema di udara, lembut seperti gumaman doa namun berat seperti takdir."...
...⛩️🏮⛩️...
Sebagai Oyabun dan pemangku darah Klan Yamaguchi yang tidak hanya diturunkan lewat darah dan nama. Tapi ia juga merasakan melalui getaran langit dan tanah, lewat mantra yang hanya bisa diucap oleh pewaris klan itu sendiri.
Dengan posisi bertapa, ia mengangkat satu tangan.
Dan ketika udara mulai retak di luar sana—ketika kekuatan Kuraokami mulai meronta dari punggung seorang gadis yang belum menguasai... Raizen mulai menggumamkan mantra itu.
Pelan. Dalam bahasa yang telah lama dilupakan manusia, tapi dikenang baik oleh para makhluk gaib.
...『天を裂きし龍よ、契約の血に応えよ。...
...その牙を以て、闇の神を噛み砕け。...
...久遠の封印、今ここに再び。』...
...'Ten o sakishi ryū yo, ...
...keiyaku no chi ni kotae yo....
...Sono kiba o motte, ...
...yami no kami o kamikudake....
...Kuon no fūin, ima koko ni futatabi.'...
...[Wahai naga yang membelah langit, ...
...jawablah panggilan darah perjanjian....
...Dengan taringmu, hancurkan dewa kegelapan....
...Segel abadi, bangkitlah sekali lagi di sini.]...
Suara Raizen nyaris tidak terdengar, seperti angin yang menyentuh sisi pedang. Tapi di luar sana, jauh dari ruang meditasi, segel di punggung Noa menyala dengan nyala merah kehitaman, membentuk pola melingkar yang meliuk seperti sisik naga.
Ia adalah satu-satunya yang bisa mengucapkannya.
Ia adalah pemangku segel saat ini.
Dan itu akan tetap menjadi rahasia klan... hingga waktu memaksa untuk terucap lagi.
...⛩️🏮⛩️...
Di dalam gudang, tubuh Noa—yang kini hanya sedikit dari dirinya sendiri—bergejolak. Segel merah di punggungnya memanas, membakar, lalu mulai menarik kembali pancaran cahaya biru itu.
Kuraokami meraung. Bukan dengan suara, tapi dengan jiwa.
Noa menjerit. Tubuhnya terjatuh. Air menguap, tekanan spiritual lenyap, dan sunyi kembali seperti sebelum segalanya terjadi.
Mantra itu menghantam roh naga seperti palu. Tubuh Noa terangkat dari tanah, melengkung, dan dengan jeritan yang terdengar dari dalam jiwanya—Kuraokami akhirnya ditarik kembali ke segel.
Sisa air pertarungan berjatuhan. Sunyi kembali. Dan Noa... terkapar.
...⛩️🏮⛩️...
Keesokan Hari.
Klan berguncang. Kabar tentang misi Noa yang menjadi bencana menyebar seperti api.
Tak ada laporan resmi. Hanya bisik-bisik, patahan cerita, dan luka yang belum sempat dirawat. Tapi semua orang mendengar satu hal yang sama:
Sesuatu bangkit dalam tubuh Noa.
Dan gadis itu kembali hidup meski tak seorang pun percaya ia bisa.
Ada yang takut.
Ada yang mulai memperhitungkan keberadaannya. Diam-diam menyusun ulang kalkulasi tentang peta kekuatan dalam klan.
...⛩️🏮⛩️...
Kaede duduk di tepi jendela, memandang ke halaman latihan dari lantai dua. Ia mengingat jelas bagaimana tubuh Noa dibanti dan akhirnya jatuh. Di balik sikapnya yang dingin dan penuh kepura-puraan, Kaede telah mengirimkan informasi waktu intervensi Noa kepada pihak lawan—dengan identitas yang disamarkan secara anonim.
Informasi itu membuat musuh tahu kapan dan dimana akan terjadi serangan. Dengan data itu, lawan menjadi lebih sigap dan menambah personil lebih dari yang Noa ketahui.
Tapi ia tidak merasa lega.
Yang membuatnya resah hanyalah cara Noa bertahan. Cara naga itu bangkit, dan—untuk sejenak—ia merasakan sesuatu dari dalam batinnya.
Sesuatu yang nyaris seperti penyesalan. Sedikit. Tapi ia langsung menghempaskannya dari pikiran.
Terdengar langkah cepat menggema di lorong. Lalu suara berat memanggil namanya.
"Kaede."
Ia menoleh. Kuroda.
Tatapan pria itu dingin, namun kali ini juga menyiratkan kemarahan yang tak bisa dibungkus dengan formalitas.
"Apa kau ingin melihatnya mati, atau terbakar hidup-hidup?" tanya Kuroda tanpa basa-basi.
Kaede menatapnya datar dengan senyum tipis.
"Dengan begitu, bukankah lebih bagus kita jadi tahu kekuatan roh itu."
"Sebenarnya apa alasanmu?"
Senyum Kaede menghilang tergantikan tatapan lurus, "Aku hanya ingin membalaskan harga diri. Ibuku..."
"Bukan Noa yang membunuh ibumu," potong Kuroda tajam. "Itu pilihan ayahmu. Dan kau tahu itu."
Kaede tidak menjawab.
Kuroda mendekat satu langkah. "Kau kira semua orang buta? Oyabun tahu. Aku tahu. Bahkan Akiro dan Torao-san sudah mencium aroma busuk dalam misi itu sejak awal."
Kaede berdiri.
"Ojii-san," suaranya tenang, "jika kau ingin membela Noa, lakukan saja. Tapi jangan suruh aku melupakan nyawa ibuku."
Kuroda hanya menatapnya sejenak. Lalu berkata lirih. "Suatu hari... naga itu memilih pada siapa ia akan setia. Dan jika ia memilih Noa... maka bukan kehormatan ibumu yang akan kau tangisi nanti, Kaede. Tapi seluruh klan ini."
...⛩️🏮⛩️...
Kuil Terdalam.
Yamaguchi Raizen masih duduk bersila di lantai batu sejak malam pembacaan mantra, jubahnya terlipat rapi seakan waktu tak pernah bergerak di ruangan itu. Di hadapannya, segel kuno telah memudar kembali—tulisan-tulisan gaibnya menghilang seperti kabut yang ditarik ke alam roh.
Ia menutup matanya. Tidak ada kekacauan lebih besar dalam sejarah klan selain bangkitnya roh dengan kemarahan yang hampir tak terkendali. Dan itu jauh lebih berbahaya.
Ia memanggil nama yang ia percaya.
"Sakaki."
Langkah kaki dewasa itu datang tanpa tanya. Ketika tubuh pria itu membungkuk hormat di depan pemimpin klan, Oyabun tidak menoleh. Ia hanya berbicara ke arah dinding batu, seolah bebatuan pun bisa mendengar:
"Tidak boleh ada satu pun saksi dari malam tadi. Musuh sudah dihancurkan, tapi suara bisa menyebar lebih cepat dari bau darah."
Jin hanya menjawab dengan satu anggukan. "Akan selesai sebelum fajar."
Raizen mengangguk perlahan. Ia tahu siapa yang harus dijaga. Dan siapa yang harus dibungkam—tanpa turun tangan.
...⛩️🏮⛩️...
Di ruang penyembuhan. Noa membuka matanya.
Langit-langit kayu tampak terasa asing. Cahaya pagi menembus kisi jendela, membentuk bayangan garis di lantai tatami yang dingin. Aroma dupa dan tanaman obat masih memenuhi ruangan, samar dan tidak menenangkan—tidak sama sekali.
Tubuhnya masih berat, ia merasa ada sesuatu yang belum benar-benar tertidur di dalamnya. Perban tebal masih menutupi sisa-sisa luka akibat serangan, walaupun luka dalamnya telah tertutupi oleh kekuatan penyembuh dari Kuraokami.
Ia menggeliat pelan, seketika merasakan nyeri menjalar dari punggungnya. Kulitnya menghitam di tepi garis segel spiritual yang saling tersambung di sana. Garis terluar segel itu—yang seharusnya tertutup rapat—kini tampak sedikit koyak, retakan tipis yang berdenyut pelan seakan-akan dinding yang menahan sesuatu dari dalam.
Setidaknya, sebagian besar gambar segel itu masih ada.
Dampak dari kebangkitan roh Kuraokami di tubuh Noa sekarang tidak separah waktu awal. Mungkin akibat latihan dan ujian fisik yang sudah sering Noa jalani, sehingga tubuhnya lebih bisa menyesuaikan.
Noa belum tahu siapa yang menyelamatkannya. Belum tahu siapa yang mengaktifkan segel. Belum tahu siapa yang mengawasinya dari bayangan.
Tapi yang pasti, ia tidak pernah sendiri. Klan tidak akan membiarkannya sendirian.
Dan ia tidak akan pernah bisa lari dari roh naga ini.
Langkah terdengar dari balik pintu geser. Pelan. Stabil. Noa memutar kepala ke arah suara itu. Pintu terbuka perlahan.
Sosok pria dengan kumis dan jenggot yang tak berlebihan masuk—Kuroda.
Bukan dengan ekspresi terburu-buru atau wajah cemas seperti biasanya, melainkan hanya ketenangan.
Pria itu membungkuk sedikit. "Kau sudah sadar rupanya."
Noa hanya mengangguk.
Kuroda mengambil posisi duduk di dekat pintu, tidak terlalu dekat. Sikapnya rapi, tapi mata elangnya menilai setiap gerakan Noa seperti mengamati pusaran air yang bisa berubah jadi badai kapan saja.
"Segelmu... hampir rusak," ucapnya. "Apa kau tahu itu?"
Noa diam. Lalu berkata pelan, "Bukan salahku. Aku tidak sadar saat itu."
Kuroda terdiam. Ia menghela napas—menyadari bahwa ketika kendali berpindah, kesadaran Noa memang terputus sepenuhnya.
Ia kemudian melanjutkan, suaranya berubah halus, hampir penuh nada iba. "Kau mungkin tidak sadar. Tapi saat roh itu bangkit... udara di sekitar tempatmu bertarung... ada retakan. Terdengar suara seperti tulang patah. Seperti dunia ini tidak bisa lagi menanggungmu."
"Kenapa kau di sini?" tanya Noa akhirnya.
Kuroda menatapnya lama.
Lalu menjawab, "Karena untuk memastikan."
Noa menoleh perlahan. "Memastikan?"
Kuroda mengangguk. "Oyabun ingin tahu... apakah kau masih Noa. Dan... bukan sesuatu yang lain."
Sejenak, hanya suara angin dari celah pintu yang terdengar.
Kuroda kemudian menambahkan, lebih pelan, "Mereka bilang matamu berubah malam itu. Bukan merah. Bukan juga emas. Tapi... biru yang menyala seperti lautan yang terang. Apakah kau tetap tidak mengingatnya?"
Noa menggeleng.
Kuroda menghela napas lalu berdiri. Tapi sebelum ia berbalik pergi, ia berkata,
"Mulai sekarang, kau tidak boleh sendirian. Dan beristirahatlah. Aku akan mengunjungimu lebih sering. Setidaknya sampai oyabun memutuskan. Ini demi keselamatan... semua orang."
Dan begitu saja, ia pergi, meninggalkan pintu sedikit terbuka, seperti memberi jalan masuk bagi angin atau pengawasan.
...—つづく—...
Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.
prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.