Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Gema di Balik Luka
"Tetaplah sadar, Harry. Kita hampir sampai," bisik Kayra, jemarinya tidak pernah lepas dari denyut nadi di pergelangan tangan Harry yang terasa lemah namun stabil.
Tiga jam pelayaran yang menegangkan itu berakhir di sebuah dermaga pribadi yang sunyi di pinggiran kota. Harry segera dipindahkan ke sebuah unit griya tawang, sebuah penthouse rahasia yang telah disiapkan Enzo.
Tempat itu bukan sekadar apartemen, itu adalah benteng medis pribadi dengan peralatan paling mutakhir yang tersembunyi di balik kemewahan interior minimalis.
"Aku akan menyusup besok malam," gumam Harry dengan suara serak saat Kayra membantunya berbaring di tempat tidur medis yang empuk. "Aris mengadakan Gala Dinner ... aku harus mengakhiri ini."
Kayra berhenti merapikan selimut Harry. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang tidak bisa dibantah. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Harry Marcello. Setidaknya tidak dalam tujuh hari ke depan."
"Kayra, waktu adalah—"
"Waktu tidak akan berguna jika kau pingsan di karpet merah karena infeksi atau pendarahan internal," potong Kayra tegas. Ia meletakkan tangannya di bahu Harry, menekan pria itu agar tetap berbaring.
"Kau baru saja menjalani operasi di dalam gua yang kotor. Luka perutmu butuh waktu untuk menyatu. Aku adalah doktermu, dan di gedung ini, perintahku adalah hukum."
Harry menatap mata Kayra yang berkilat karena keras kepala. Untuk pertama kalinya, sang predator Isla de Sombra itu hanya bisa menghela napas pasrah. "Satu minggu, Dokter? Kau sedang menghukumku?"
"Aku sedang menyelamatkanmu," jawab Kayra pelan, suaranya sedikit melunak. "Sekarang, tidur."
Satu minggu masa pemulihan dimulai. Bagi Harry, ini adalah siksaan karena ia terbiasa bergerak. Namun bagi Kayra, ini adalah minggu yang tenang di mana ia bisa melihat sisi lain dari pria yang selama ini hanya ia kenal sebagai sosok berbahaya.
Hari ketiga di safe house pusat kota terasa berbeda. Hujan rintik di luar jendela besar griya tawang menciptakan suasana yang hening dan terisolasi, seolah dunia di bawah sana tidak lagi bisa menyentuh mereka. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu temaram sore hari yang memberikan nuansa keemasan pada setiap sudutnya.
Kayra sedang mengganti perban Harry. Ia duduk di sisi ranjang, bekerja dengan ketelitian yang luar biasa. Jemarinya yang ramping bergerak sangat hati-hati, membersihkan area di sekitar jahitan yang mulai mengering dengan kapas alkohol.
"Apakah sakit?" tanya Kayra tanpa mendongak. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada luka di perut Harry.
"Aku sudah merasakan yang lebih parah, Dokter," jawab Harry pendek.
Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, tidak ada nada perintah atau otoritas dingin di sana. Matanya tidak lepas dari wajah Kayra yang tampak sangat fokus, sehelai rambut Kayra jatuh menutupi matanya, namun wanita itu tidak sempat merapikannya karena tangannya terbungkus sarung tangan steril.
Harry tanpa sadar mengangkat tangannya, menyelipkan helai rambut itu ke belakang telinga Kayra. Gerakannya sangat pelan, seolah takut akan merusak konsentrasi wanita itu.
Kayra sempat terhenti sejenak, namun ia tidak menghindar.
"Kau sangat berbeda saat sedang memegang peralatan medis," gumam Harry. "Kau tampak ... damai. Seolah semua kekacauan di luar sana tidak ada artinya bagimu."
Kayra tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang tulus. "Medis adalah satu-satunya hal yang kupahami di dunia ini, Harry. Di sini, segalanya masuk akal. Ada sebab, ada akibat, dan ada cara untuk menyembuhkannya. Berbeda dengan duniamu yang penuh dengan teka-teki dan variabel yang tidak bisa kuprediksi."
Tiba-tiba, tangan Harry yang tadi merapikan rambutnya tidak kembali ke tempat semula. Ia justru bergerak menahan jemari Kayra yang sedang memegang perban.
Kayra terdiam, jantungnya mendadak berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung telinga saat kulit kasar Harry bersentuhan dengan tangannya yang halus.
"Terima kasih, Kayra," bisik Harry. Suaranya rendah, menciptakan getaran yang aneh di udara. "Untuk tetap di sini, meskipun kau punya seribu alasan untuk lari dan meninggalkanku mati di gua itu."
Kayra akhirnya mendongak, menatap langsung ke dalam mata obsidian Harry. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Kayra bisa mencium aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Harry bercampur dengan aroma antiseptik.
"Aku sudah bilang, kan? Aku tidak akan membiarkan kapalku karam," sahut Kayra pelan. "Lagipula, kau belum membayar hutangmu untuk menunjukkan siapa dalang yang menjebakku. Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum kau melunasinya."
Harry terkekeh pelan, getaran tawanya terasa hingga ke tangan Kayra yang masih ia genggam. "Hanya karena hutang? Kau benar-benar wanita yang praktis."
Momen itu terasa sangat intim, seolah-olah waktu berhenti berputar. Harry tidak menarik tangannya, ia justru mengusap punggung tangan Kayra dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat lembut, hampir seperti belaian, yang membuat Kayra lupa bagaimana cara bernapas selama beberapa detik. Tatapan Harry turun ke bibir Kayra, lalu kembali ke matanya dengan intensitas yang membuat Kayra merasa seolah pria itu bisa membaca setiap rahasia di hatinya.
Kayra merasakan panas merambat ke pipinya. Dengan canggung, ia menarik tangannya perlahan untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Kau harus banyak makan protein agar jaringannya cepat pulih. Aku tidak ingin jahitan ini terbuka lagi saat kau mencoba melakukan hal konyol lainnya."
"Apa pun perintahmu, Dokter," jawab Harry, nadanya mengandung sedikit godaan yang jarang ia tunjukkan.
Malam harinya, Kayra kembali ke kamar Harry untuk memberikan obat pereda nyeri. Ia menemukan Harry sedang berusaha duduk tegak sambil menatap layar hologram yang menampilkan data Proyek Genesis.
"Harry, aku bilang istirahat," tegur Kayra sambil meletakkan segelas air di meja.
"Aku bosan hanya menatap langit-langit," protes Harry. Ia menatap Kayra yang kini mengenakan pakaian santai, kaos katun tipis yang membuatnya tampak jauh lebih muda dan rapuh. "Kemarilah. Duduk sebentar."
Kayra ragu sejenak, namun akhirnya duduk di pinggir ranjang, sedikit jauh dari jangkauan Harry.
Namun, Harry justru menggeser tubuhnya, memberikan ruang dan memberi isyarat agar Kayra bersandar di kepala ranjang di sampingnya.
"Hanya sebentar," gumam Kayra, akhirnya menyerah.
Mereka duduk bersisian dalam keheningan yang hangat. Harry mematikan layar hologramnya, membiarkan ruangan kembali temaram. Tanpa kata, Harry menarik selimut untuk menutupi kaki Kayra yang kedinginan.
"Di Elara ... apa yang paling kau rindukan?" tanya Harry tiba-tiba.
Kayra berpikir sejenak. "Keheningannya. Di sana, aku merasa tidak ada yang mengejarku. Meskipun aku miskin dan kesepian, aku merasa aman."
"Sekarang kau tidak perlu merasa kesepian lagi," Harry mengulurkan tangannya, membiarkan Kayra menyandarkan kepalanya di bahunya yang kokoh. "Mungkin duniaku tidak memberikan keheningan yang kau mau, tapi aku bisa menjanjikan satu hal."
"Apa?"
"Kau tidak akan pernah berjalan sendirian lagi di bawah bayang-bayang Aris. Aku akan menjadi dinding yang menghalangi mereka darimu."
Kayra merasakan sesak di dadanya, namun kali ini sesak yang membahagiakan. Ia tidak menyadari kapan tangannya mulai menggenggam ujung kaus Harry, seolah sedang mencari pegangan di tengah dunia yang baru ini.
Harry tidak menciumnya, namun ia mengecup puncak kepala Kayra dengan sangat pelan, gerakan yang begitu protektif hingga ia merasa seluruh beban yang ia pikul selama dua tahun ini perlahan terangkat.
Kehangatan tubuh Harry, detak jantungnya yang stabil, dan aroma cendana yang menyelimutinya membuat Kayra merasa bahwa pelabuhannya mungkin bukan sebuah tempat, melainkan seorang pria yang selama ini ia anggap sebagai badai.
"Tidurlah, Kayra," bisik Harry.
Kayra memejamkan matanya, membiarkan dirinya terlelap di pelukan pria yang paling berbahaya sekaligus paling melindungi dalam hidupnya.