Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Pagi itu hening, terlalu hening. Udara sejuk menembus celah jendela, tapi ada rasa dingin yang lebih dari sekadar angin. Aku, Safira Grace Bastian, duduk di tepi ranjang, jantungku berdetak cepat, dan pikiran dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban. Ada sesuatu yang salah.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku, Clarissa, pebisnis muda sukses yang selalu terlihat kuat dan tak terkalahkan. Adikku, mahasiswa taruna di salah satu universitas terbaik di Jakarta, disiplin dan tegas. Ayah, mantan ketua sebuah organisasi keamanan di Batam, selalu menyimpan rahasia yang tak pernah ia ceritakan. Ibu, yang selama ini menjadi jangkar keluargaku, kini lenyap tanpa jejak.
Hari libur kuliah seharusnya menjadi waktu tenang, tapi pagi itu segalanya berubah. Ayah dan ibu berpamitan pergi dengan alasan sederhana—seperti biasa. Namun setelah itu… hening yang datang terasa mencekam. Tidak ada pesan teks, tidak ada kabar, tidak ada jejak. Seolah mereka ditelan bumi.
Kakakku dan adikku merasakan hal yang sama. Clarissa menatapku dengan mata yang penuh ketegangan, sementara adikku hanya diam, tapi raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sama. Tanpa sepatah kata pun, kami semua tahu satu hal: kami harus menemukannya. Bersama-sama.Segala sesuatu yang kukira aman ternyata hanyalah ilusi. Ancaman, ketakutan, dan bayangan yang mengintai mulai muncul dari setiap sudut. Rasa aman yang selama ini kami rasakan runtuh seketika. Kami diuji—tidak hanya sebagai individu, tetapi sebagai keluarga.
Di tengah ketegangan itu, aku menyadari arti sebenarnya dari keluarga: keberanian menghadapi ketidakpastian, pengorbanan tanpa batas, dan kasih sayang yang mampu menembus ketakutan.Kami bertiga menatap satu sama lain, tekad menyala di mata kami. Perjalanan ini belum berakhir. Rahasia orang tua kami, yang selama ini tersembunyi, kini mulai terbuka. Dan kami tahu, hidup kami tidak akan pernah sama lagi. Jalan yang akan kami tempuh dipenuhi misteri, ancaman, dan pengorbanan yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Bab 1 Mimpi safira
Pagi itu hadir dengan hening yang lembut. Udara masih sejuk, dan cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah jendela kamar. Seorang gadis tertidur pulas di atas ranjangnya. Wajahnya tampak tenang, seolah sedang menikmati mimpi yang indah.
Dalam mimpinya, ia melihat dirinya dikelilingi tumpukan uang yang begitu banyak. Senyumnya mengembang lebar, tangannya hampir saja meraih semuanya.
Namun tiba-tiba
.
Kriiing! Kriiing!
Suara jam weker memecah keheningan, menghentikan mimpinya seketika. Gadis itu terbangun dengan wajah terkejut, matanya terbuka lebar.
“Oh astaga… hampir saja aku mendapatkan uang yang banyak,” gumamnya sambil menghela napas panjang.
Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya, lalu melirik jam di samping tempat tidur. Kesadaran pun datang bersamaan dengan rasa panik kecil.
“Telat lagi kalau begini,” katanya pelan.
Tanpa menunda waktu, ia segera bangkit, merapikan rambutnya yang masih berantakan, lalu bersiap-siap untuk pergi ke kampus, meninggalkan mimpi indah yang sayangnya harus berakhir terlalu cepat.
Gadis itu bergerak cepat di dalam kamar. Tas kuliah disambar, buku dimasukkan seadanya, lalu ia melirik cermin sekilas.
“Ya… masih cantik,” gumamnya sambil tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, ia sudah melangkah keluar. Pagi di luar terasa berbeda. Matahari mulai naik, jalanan perlahan ramai, dan angin membawa aroma pagi yang segar. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju kampus, pikirannya masih sesekali melayang pada mimpi aneh tadi.
Kalau saja mimpi itu nyata, batinnya.
Mungkin aku tidak perlu memikirkan tugas dan deadline.
Sesampainya di kampus, suasana mulai hidup. Mahasiswa berlalu-lalang; beberapa sibuk menatap ponsel, sebagian lain tertawa sambil berbincang. Gadis itu menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke gedung perkuliahan.
Baru saja ia duduk di bangkunya, seorang temannya menepuk bahunya.
“Kamu kelihatan capek. Begadang lagi?”
Ia menggeleng cepat.
“Nggak. Mimpi kaya raya… terus dibangunin jam.”
Temannya tertawa.
“Sayang banget.”
Ia ikut tertawa kecil. Meski hari ini dimulai dengan mimpi yang terputus, entah mengapa ia merasa hari ini akan membawa sesuatu yang berbeda—sesuatu yang belum ia mengerti, tetapi perlahan mulai menunggunya.
Ia menatap papan tulis di depan kelas, sementara suara dosen mulai terdengar. Hari pun benar-benar dimulai.
Sekitar pukul 11.30, perkuliahan telah usai. Dosen pengajar keluar dari kelas, disusul mahasiswa lainnya yang berhamburan pergi, menyisakan sekelompok orang—teman-teman Safira.
“Huh, akhirnya selesai juga,” ujar Diki, salah satu teman Safira.
“Ke kantin, yuk, guys. Laper nih gue,” ajak Dian.
“Yuk, kita juga lapar,” sahut Amel, yang langsung disetujui oleh yang lain.
Kelima remaja itu pun bergegas ke kantin. Sesampainya di sana, mereka memesan makanan masing-masing. Sambil menunggu, mereka duduk di sudut favorit—tempat biasa mereka makan, bergosip, dan tertawa setelah perkuliahan.
Lima belas menit kemudian, makanan sudah tersaji di depan mereka.
“Wah, harum banget. Cocok buat perut gue yang udah minta diisi dari tadi,” ujar Diki lagi, membuat Safira dan yang lainnya tertawa kecil.
Mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing, hingga di tengah makan, Bagas membuka topik tentang liburan akhir semester yang tinggal beberapa hari lagi.
“Eh, kita kan udah selesai UAS dan bentar lagi libur. Kalian rencananya pada ke mana liburan nanti?” tanya Bagas sambil menyeruput mi gorengnya.
“Kalau gue sih paling cari kerjaan di sini. Hitung-hitung nambah skill dan pengalaman,” jawab Diki.
“Gue bakal balik ke kampung halaman,” ujar Amel.
“Kalau gue kayaknya mau jalan-jalan ke Bali sama keluarga,” balas Veronika.
Bagas lalu menoleh ke Safira.
“Kalau kamu, Safira? Liburan ini pulang kampung atau tetap di sini?”
“Kalau aku sih rencananya pulang ke rumah orang tua. Kumpul sama keluarga. Soalnya adik dan kakak aku juga pulang, jadi bisa kumpul lengkap,” jawab Safira sambil tersenyum bahagia, membayangkan keluarganya berkumpul dan berlibur bersama.
“Ih, adik kamu, Adrian, juga pulang ya? Titip salam sama my bebeb,” ujar Amel, membuat yang lain geli.
“Tidak usah halu deh, Mel. Emang adiknya Safira mau sama kamu?” goda Bagas.
“Ya mau dong. Secara gue kan cantik. Iya kan, Safira? Adrian pasti suka sama aku, kan?” ujar Amel sambil mengedipkan sebelah matanya.
Safira tertawa kecil.
“Iya, Mel. Adik aku pasti suka sama kamu.”
“Tuh, denger! Kakaknya aja dukung,” ujar Amel sambil menjulurkan lidah ke arah Bagas.
Keduanya memang sering bertengkar—Bagas yang jahil dan Amel yang mudah terpancing emosi.
“Biasanya, kalau sering berantem, ujung-ujungnya jodoh, loh,” celetuk Veronika.
Keduanya langsung terdiam dan memalingkan wajah ke arah lain, sementara Safira dan yang lain menahan tawa.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka selesai makan dan memutuskan pulang ke rumah masing-masing.
Sementara itu, di salah satu sudut kota Jakarta, seorang remaja tengah menyelesaikan sesi latihan renangnya.
Air kolam bergoyang pelan ketika Adrian menyelesaikan putaran terakhir. Tangannya meraih bibir kolam, lalu dengan satu tarikan kuat, ia mengangkat tubuhnya keluar dari air. Posturnya tinggi dan tegap—sekitar 180 sentimeter. Bahunya lebar, punggungnya lurus, dan otot lengannya menegang sesaat sebelum kembali rileks. Air mengalir dari dada dan perutnya, membentuk garis-garis tipis di atas kulit kecokelatan yang mengilap.
Ia berdiri di pinggir kolam. Kakinya panjang dan kokoh, menapak mantap di lantai keramik yang dingin. Uap tipis mengambang di udara, membingkai siluet tubuh atletisnya. Dadanya naik turun perlahan; napasnya teratur—tenang, terlatih.
Rambut hitamnya basah, menetes di sepanjang leher dan rahang. Wajahnya tampak dewasa—rahang tegas, hidung lurus, dan sepasang mata tajam namun teduh. Kolam renang telah membentuknya: disiplin, fokus, dan bertanggung jawab.
Suara peluit memecah keheningan.
“Adrian! Keluar dulu.”
Ia menoleh ke arah pelatih yang berdiri di pinggir kolam.
“Kenapa, Coach?” tanyanya.
Pelatih menunjuk bangku dekat dinding kolam, tempat sebuah ponsel bergetar.
“Ada telepon. Katanya penting. Dari kakakmu.”
Langkah Adrian terhenti. Di layar ponsel, tertera satu nama—Kak Clarissa.
“Iya, Coach,” ucapnya singkat.
Ia mengambil ponsel itu, menyeka wajahnya dengan handuk, lalu menjauh sedikit sebelum mengangkat panggilan.
“Halo, Kak?”
“Kamu baik-baik saja, Adrian?” suara Clarissa terdengar tegas namun hangat. “Kakak cuma mau memastikan kabarmu.”
“Aku baik, Kak. Habis latihan renang.”
“Liburan kamu sebentar lagi, kan?”
“Iya, minggu depan.”
Ada jeda singkat sebelum Clarissa kembali berbicara, kali ini lebih lembut.
“Kalau sudah libur, pulang ya. Jangan kelamaan di luar. Rumah terasa sepi tanpa kamu. Safira juga pulang… Kakak mau kita kumpul lagi.”
Adrian terdiam, menatap permukaan air kolam yang kini mulai tenang.
“Iya, Kak,” jawabnya pelan namun mantap. “Aku pulang.”
Telepon ditutup. Adrian berdiri sejenak. Tubuhnya masih basah, tetapi pikirannya telah melangkah jauh—menuju rumah, keluarga, dan tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Dengan langkah tenang, ia meninggalkan kolam, membawa satu keputusan sederhana yang akan mengubah segalanya: pulang.