Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Musim Dingin dan Rencana Busuk Elena
Pagi hari di Munich disambut dengan aroma sosis panggang dan kayu manis yang menguar dari alun-alun Marienplatz. Kota ini sedang merayakan festival musim dingin kecil-kecilan. Tapi di apartemen nomor 402, suasananya lebih mirip ruang strategi perang.
Ghea sedang sibuk mencoba mengoleskan lipstik merah menyala, sementara Arlan sedang merapikan syal pemberian Shinta.
"Ar, gue dapet info dari grup WhatsApp kampus kalau sore ini ada Winter Gathering. Gue harus tampil kece biar nggak kalah sama Noni Pirang itu!" ucap Ghea sambil menepuk-nepuk pipinya agar terlihat lebih merona (padahal itu mah efek kedinginan saja).
Arlan menghela napas. "Ghe, ini acara riset. Pakaiannya formal tapi tertutup. Lagian Elena bilang tadi pagi kalau dia bakal jemput gue pakai mobil ayahnya biar gue nggak telat ketemu Profesor Hans di lokasi festival."
Ghea langsung berhenti dandan. Matanya menyipit. "Jemput? Mobil ayah? Kok gue nggak diajak?"
Arlan tampak agak kikuk. "Eh... Elena bilang kursi belakang mobilnya penuh dengan peralatan sensor cuaca yang mau dipasang. Jadi... dia minta lo naik kereta saja bareng mahasiswa yang lain."
Ghea meletakkan lipstiknya dengan bunyi brak! yang cukup keras. "Alasan klasik! Peralatan sensor apa yang ukurannya segede gajah sampai asisten resmi kayak gue nggak muat?! Ini fiks, Ar. Si Elena itu lagi mencoba melakukan operasi pemisahan 'Robot' dari 'Akinya'!"
"Ghe, lo jangan mikir yang aneh-aneh. Ini cuma masalah logistik."
"Logistik matamu! Pokoknya gue bakal berangkat sendiri. Tapi lo harus janji, jangan mau kalau diajak minum Glühwein (anggur hangat) berduaan, apalagi kalau dia mulai bahas soal teori kuantum sambil kedip-kedip mata!"
Sore harinya, Ghea benar-benar tidak terima ditinggalkan. Dia menelepon Juna via WhatsApp Call.
"JUNA! DARURAT LEVEL DEWA!" teriak Ghea ke speaker HP-nya.
"Aduh, apa lagi sih, Ghe? Gue lagi antre seblak nih! Jerman kan nggak ada seblak, kok lo makin histeris?" sahut Juna dari seberang benua.
"Gue ditinggal Arlan! Dia dibawa kabur sama Noni Pirang pakai mobil! Gue harus membuntuti mereka, tapi gue nggak mau ketahuan. Gue harus nyamar!"
"Nyamar? Pakai apa? Di sana salju, Ghe. Lo jangan nyamar jadi pohon pisang, ntar dikira spesies baru yang nyasar."
"Gue punya ide! Lo inget nggak jaket berbulu tebal gue yang warnanya putih abu-abu? Kalau gue pakai itu terus pakai kacamata hitam besar dan syal yang nutupin muka, gue bakal kelihatan kayak turis dari Eskimo atau... Yeti!"
"Ghe, saran gue satu: Jangan lupa bawa sambal ulek. Kalau penyamaran lo gagal, seenggaknya lo bisa bikin mereka bersin-bersin biar lo bisa kabur."
Ghea benar-benar melakukannya. Dia sampai di lokasi festival dengan tampilan yang sangat mencurigakan. Dia memakai jaket bulu super besar yang membuatnya terlihat dua kali lebih lebar, kacamata hitam di tengah sore yang mendung, dan syal yang dililitkan sampai ke hidung.
Dia melihat Arlan dan Elena berdiri di dekat kedai sosis. Elena terlihat sangat cantik dengan mantel wol warna krem dan topi baret merah. Dia terlihat sedang tertawa sambil menyentuh lengan Arlan.
"Ih, dasar ulat bulu pirang!" umpat Ghea dari balik pohon pinus hias.
Ghea mencoba mendekat perlahan. Masalahnya, lantai di festival itu sangat licin karena es. Ghea yang tidak terbiasa jalan di atas es, bergerak seperti pinguin yang sedang mengalami gangguan saraf. Srat-sret-srat-sret.
Tiba-tiba, Elena mengeluarkan sebuah kamera DSLR kecil. "Arlan, stand there! The lighting is perfect. Let's take a picture for the faculty magazine."
Elena mengatur posisi Arlan. Dia berdiri sangat dekat dengan Arlan, pura-pura memperbaiki kerah jaket Arlan. Ghea yang melihat itu dari jarak lima meter langsung panas dingin (kebanyakan panasnya). Dia ingin berteriak tapi dia ingat dia sedang dalam mode penyamaran "Yeti".
Ghea memutuskan untuk menyelinap ke belakang kedai sosis agar bisa mendengar pembicaraan mereka. Tapi nasib sial, kakinya tersangkut kabel lampu hias.
GEDEBUKKK!
Ghea jatuh tersungkur ke depan, tepat di tengah-tengah kerumunan orang, dan meluncur di atas es seperti atlet curling yang gagal total. Dia meluncur dengan kecepatan stabil dan baru berhenti setelah menabrak kaki... Arlan.
Suasana mendadak hening. Semua orang menatap "makhluk bulu" yang tengkurap di tanah itu.
"Ghea?" panggil Arlan dengan suara yang sangat dikenalinya.
Ghea mengangkat kepalanya sedikit. Kacamata hitamnya miring sebelah. Syalnya copot. Dia memberikan senyum paling canggung sedunia. "Hehehe... Halo, Guten Abend... Kebetulan banget ya kita ketemu di sini, Ar?"
Elena melipat tangannya di dada. "Is this your assistant? I thought she was a lost polar bear."
Arlan segera membantu Ghea berdiri. Dia membersihkan salju dari jaket bulu Ghea. "Ghe, lo ngapain nyamar begini? Katanya mau naik kereta bareng yang lain?"
"Gue... gue cuma mau memastikan kalau peralatan sensor di mobil Elena nggak ada yang rusak! Iya, itu! Gue khawatir sama keselamatan peralatan riset kita!" bohong Ghea sambil membetulkan kacamatanya yang patah sebelah.
"Tapi lo nggak perlu pakai kacamata hitam di malam hari, Ghe. Lo malah mirip agen rahasia yang baru dipecat," bisik Arlan sambil menahan tawa.
Malam makin larut, dan festival makin ramai. Profesor Hans datang dan memberikan pengumuman bahwa malam itu ada lomba "Cerdas Tangkas Budaya Jerman-Indonesia" untuk mempererat hubungan antar peneliti.
"Ayo Arlan, kita ikut! Kita kan pasangan riset terbaik di lab," ajak Elena dengan percaya diri.
"Maaf Elena, tapi gue udah janji sama asisten gue buat ikut acara apa pun bareng dia malam ini," jawab Arlan mantap.
Ghea langsung bersorak dalam hati. Skor 1-0 buat Ghea!
Lomba pun dimulai. Pertanyaannya campur aduk. Dari soal sejarah Jerman sampai pertanyaan tentang Indonesia.
"Pertanyaan pertama: Apa nama makanan Indonesia yang terbuat dari kacang tanah dan biasanya dijual keliling pakai gerobak?" tanya Profesor Hans dengan bahasa Inggris aksen Jerman.
Elena angkat tangan dengan cepat. "Peanut Butter?!"
"SALAH!" teriak Ghea dengan lantang. "Jawabannya adalah KETOPRAK! Atau GADO-GADO! Tergantung selera!"
Profesor Hans tertawa. "Benar! Satu poin untuk tim Arlan-Ghea!"
Pertanyaan kedua: "Siapa komponis klasik terkenal dari Jerman yang menggubah Symphony No. 9?"
Ghea langsung melirik Arlan. Arlan membisikkan sesuatu di telinga Ghea.
"Ludwig van Beethoven!" jawab Ghea penuh semangat.
"Tepat!"
Elena mulai terlihat kesal. Dia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, tapi Ghea dengan energi "Yeti"-nya selalu berhasil memotong. Puncaknya adalah pertanyaan terakhir yang bersifat praktis.
"Bagaimana cara tercepat untuk menghangatkan tubuh di tengah salju Munich tanpa menggunakan pemanas listrik?"
Elena berpikir keras. "Friction? Friction between two surfaces?"
Ghea langsung merangkul lengan Arlan dengan erat dan menempelkan pipinya ke bahu Arlan. "Bukan cuma gesekan, Prof! Tapi KEHANGATAN HATI! Dan satu lagi... makan sambal ulek!"
Semua orang di festival itu tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Ghea. Bahkan Profesor Hans sampai menepuk pundak Arlan. "Arlan, your assistant is very... energetic. She has the spirit of Indonesia!"
Setelah acara selesai, mereka berjalan pulang menuju apartemen. Salju turun dengan lembut, menghiasi jalanan kota. Elena sudah pulang duluan dengan wajah cemberut.
"Ghe," panggil Arlan di tengah kesunyian malam.
"Apa?"
"Makasih ya udah datang. Meskipun nyamar jadi beruang kutub gagal."
"Ih, gue nggak gagal! Gue cuma kurang beruntung pas ada kabel lampu doang!" Ghea membela diri.
Arlan tiba-tiba berhenti berjalan. Dia melepas syalnya sendiri dan melilitkannya ke leher Ghea, menambah lilitan syal Ghea yang sudah tebal. "Lain kali kalau mau ikut, bilang aja. Gue nggak bakal biarin lo sendirian naik kereta lagi."
Ghea menatap mata Arlan. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, wajah Arlan terlihat sangat tulus. "Ar... lo nggak bakal naksir Elena kan? Dia kan pinter, cantik, tinggi, terus rumahnya di Jerman lagi."
Arlan tersenyum kecil. Dia mencubit hidung Ghea yang merah karena kedinginan. "Ghe, lo tahu nggak kenapa gue pilih lo jadi asisten gue?"
"Kenapa? Karena gue pinter ngerapiin kertas berdebu?"
"Bukan. Karena lo adalah satu-satunya orang yang bisa bikin gue ketawa di tengah rumus-rumus yang membosankan. Elena emang pinter Fisika, tapi dia nggak pinter bikin hidup gue berwarna kayak yang lo lakuin."
Ghea merasa hatinya meleleh lebih cepat daripada salju di tangannya. "Dasar Robot gombal! Pasti ini pengaruh sosis Jerman ya?"
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan bergandengan tangan di balik saku jaket Arlan yang hangat. Tapi, saat mereka sampai di depan pintu apartemen, mereka melihat sebuah koper besar berdiri di depan pintu.
Dan di atas koper itu, duduk seorang cowok dengan jaket denim yang sangat familiar.
"LOH?! JUNA?!" teriak Ghea dan Arlan bersamaan.
Juna menoleh dengan wajah yang sangat lesu. "Ghe... Ar... gue kabur dari rumah. Bokap gue mau jodohin gue sama anak juragan lele di kampung sebelah. Gue nggak mau jadi menantu juragan lele! Gue mau jadi asisten siomay di Jerman!"
Ghea dan Arlan saling pandang. Apartemen mereka yang hanya punya satu kasur sempit itu, sekarang kedatangan tamu tak diundang yang hobi makan dan nggak bisa diam.
"Mampus kita, Ar," gumam Ghea.