"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran. Ternyata bukan musuhnya yang membuat anak ku mati, tapi dia sendiri!"
Sagara pulang dengan kecewa, diketahui sang istri adalah seorang paranormal dengan bayaran selangit, kekuatannya tak di ragukan lagi. Ternyata....
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara, putus asa.
"Tahu Tuan, kebetulan kekasihku di kampung merupakan tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari."
Sagara tertarik, menatap Alang penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip Nyai Gendis.
"Anak ku." Kiyai Yusuf bergumam, memandangi wajah Niken yang teramat di rindukan. Imam meletakkan tubuh Niken di kasur yang terbentang di lantai ruang tamu. Semua itu, agar pengaruh sihir bisa netral ketika tubuh di baringkan dekat dengan tanah. Kiyai Yusuf mengobati batinnya yang terkejut.
Suasana masih kacau, angin masih mengamuk, kabut pekat menyelimuti seluruh wilayah pondok yang luas, seolah ingin mengurung penghuninya dari terangnya dunia.
"Dia." gumam istri kiyai Yusuf, menatap ke luar jendela yang gelap. Wanita berparas ayu itu terlihat khawatir.
Tak lama kemudian, sampailah Dokter Sarah yang merupakan ibunya Imam, ia langsung memeriksanya.
"Pendarahannya cukup banyak. Tapi kandungannya masih selamat."
Semua orang tercengang mendengar penuturan dokter Sarah itu. Anak yang mereka titipkan sejak bayi, hilang. Dan setelah bertahun-tahun mereka cari, kini pulang dalam keadaan hamil. Membuat mereka semua bertanya-tanya. Tak terkecuali dokter Sarah, ia melirik daun pintu yang terbuka sedikit, ada anaknya yang duduk cemas sambil berdoa di luar sana.
"Imam, kau ikut aku. Arimbi belum kembali." ucap Kiyai Yusuf, meninggalkan Niken yang masih terbaring.
Pemuda bernama Imam itu mengangguk, mengekor di belakang kiyai Yusuf. mereka pergi ke gerbang pondok pesantren menemui Gendis yang masih mengamuk.
"Nyai Gendis." panggil Kiyai Yusuf, berdiri penuh wibawa, wajahnya tampan dan tenang.
"Yusuf!" Gendis memekik, amarahnya semakin meledak-ledak melihat Yusuf menemuinya. Satu serangan pun melesat, namun kiyai Yusuf menghindarinya.
"Berani sekali kau menyembunyikannya!" teriak Gendis, menggila. Serangannya pun melesat seirama dengan setiap ucapannya.
"Aku tidak menyembunyikannya Nyai Gendis. Aku hanya menjaga istriku. Hidup tenang tanpa harus banyak melihat semua isi dunia. Bukankah dunia ini teramat memabukkan? Kau saja sampai gila karena mengejarnya." jawab Kiyai Yusuf, berhasil menepis serangan Gendis.
"Aagghhhhh!!" Gendis semakin menjadi.
Perkelahian antara gendis dan Kiyai Yusuf pun terjadi di luar gapura pondok pesantren itu. Mereka saling serang, saling tendang, bahkan tubuh mereka bergerak secepat kilat, seirama tiupan angin, imbang dan tak menemukan titik kelemahan.
Hanya saja, Gendis terlalu emosi sehingga akhirnya terkena pukulan menyakitkan di dadanya. Gendis memekik.
"Yusuf! Ingatlah anakmu ada padaku!"
Asap mengepul menutupi tubuhnya, dua makhluk besar membawa tubuhnya menghilang berpindah tempat.
"Kiyai, apa kita harus ke rumahnya?" tanya Imam khawatir.
Kiyai Yusuf mengangguk, kekuatan Gendis yang memuncak malam ini, tentu telah membuat Arimbi kalah. Meskipun sudah di latih sejak kecil, tetap saja, Gendis bukan lawan seimbang.
*
Fajar menyingsing di ufuk timur, jalanan mulai ramai, kendaraan berlalu lalang. Dewi terbangun dari tidurnya, atau pingsannya di halaman rumah besar itu. Melihat sekeliling begitu sepi, jendela-jendela masih tertutup rapat. Artinya sudah tak ada orang di sana. Dewi beranjak dengan kaki tertatih, sakit dan kram karena tak bergerak cukup lama.
Tak ada mobil Saga ataupun mobil yang di bawa Alang di halaman, ia segera keluar meninggalkan rumah yang telah sepi. Pot-pot bunga hancur berantakan, dapat di pastikan semalam pertarungan hebat telah terjadi. Entahlah, Dewi tak mengingatnya samasekali. Lama di disini, membuatnya bergidik ngeri.
Setelah hampir satu jam duduk menyandar di bawah pohon besar di luar pagar, akhirnya sebuah mobil datang dan itu membuat Dewi senang.
"Mas Alang!" gumam Dewi.
"Dewi?" Alang berhenti, turun dan menghampiri istrinya. "Kau tidak apa-apa Wik?" tanya Alang, memegangi bahu Dewi, menelisik tubuhnya.
"Enggak Mas, ayo kita pergi!" ajak Dewi.
Alang melirik ke dalam rumah besar itu, menilik setiap sudut yang seram, sunyi dan sepi.
"Tak ada siapapun di dalam." kata Dewi. Alang mengangguk.
Dewi sedikit senang, ternyata Alang tak menanyakan keberadaan Niken yang entah dimana. Mereka berdua pergi, menuju rumah kontrakan yang sempat mereka siapkan. Menunggu keadaan mulai membaik, baru memutuskan pulang atau tetap di sana.
"Wik, yakin di dalam rumah tidak ada orang?" tanya Alang.
"Sepertinya begitu. Lagipula, kenapa kamu baru datang?" kesal Dewi, mereka tiba di rumah kontrakan berukuran 4x9 meter, lumayan luas untuk mereka berdua.
"Mobil mogok, bensinnya habis di tengah jalan. Kata Didit, sesuatu terjadi di rumah, aku baru bisa pulang setelah kios di pinggir jalan buka subuh ini." jawab Alang. "Tapi kok cuma ada kamu sendiri?" tanya Alang lagi.
"Aku tidak tahu semua orang pada kemana." Jawa Dewi ketus.
Alang menautkan alisnya, sikap Dewi sungguh aneh. "Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa." kesal Dewi. Dia cemburu, sudah tentu Alang mengkhawatirkan Niken, dan Niken lagi.
"Paman mu mungkin masih di dalam Wik. Kalau dia selamat, sudah tentu dia akan membawa mu, kan?" tanya Alang.
Dewi mendengus, "Aku tidak tahu Mas, masuk ke dalam sana, aku tidak berani."
Alang pun sama, kalau Saga mati malah lebih bagus untuknya. Akhirnya pembicaraan mereka berakhir dengan pikiran masing-masing.
Sementara itu, Kiyai Yusuf dan beberapa orang baru saja tiba di rumah besar milik Saga. Didit membawa mereka masuk ke dalam, mencari keberadaan Arimbi dan Saga. Tapi, setelah berkeliling, mencari setiap sudut mereka tak menemukan apa-apa.
"Tidak mungkin, kemana semua orang?" gumam Didit frustasi, keringat mengucur di pelipisnya setelah lelah mencari. Rumah besar itu, tampak sunyi seperti telah beberapa waktu ditinggalkan.
"Selain di sini, dimana tempat nyai Gendis?" tanya Imam.
"Sudahlah, kita akan mencarinya setelah matahari terbenam." ucap Kiyai Yusuf, artinya mereka harus menunggu setengah hari lagi.
Sementara itu, di pondok pesantren kini Niken mulai sadar, bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Pendengarannya di penuhi dengan suara asing. Meskipun tubuhnya yang lemah kini merasa sejuk dan aman, tapi hatinya masih saja tidak tenang.
"Arimbi! Mas Saga." gumamnya pelan.
Tangan halus nan sejuk menggenggam tangannya, membuat ia memaksakan kelopak mata agar segera terbuka.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak!" wajah ayu di atas wajahnya itu tersenyum, bibirnya yang merah melahirkan kata-kata yang halus. Niken tertegun, wanita itu terlalu cantik, bisa di gambarkan dengan sebuah ucapan, seperti bidadari.
Tapi, matanya itu membuat Niken akhirnya beringsut mundur.
"Jangan! Jangan!" Pekik Niken, memegangi perutnya begitu erat, ia ketakutan.
"Nak." panggil perempuan itu, halus.
"Astaghfirullah, Nak. Istighfar! Kamu aman sekarang." ucap seorang wanita lagi, mereka semua memakai kerudung halus, polos dan panjang.
"Ini Ibu, Nak." bisik wanita yang ayu itu, meraih tangan Niken begitu pelan, matanya yang hitam pekat mengeluarkan air mata.
Niken ingat, semalam mereka datang ke pondok pesantren bersama Didit. "Arimbi?" gumam Niken.
Wanita itu mengangguk. "Ayahmu sedang menyelamatkannya." jawabnya, membawa punggung tangan Niken ke pipinya yang halus, dia mengecupnya penuh sayang.
"Ayah?" tanya Niken, bingung.
"Ya, ayahmu. Dan aku, ibumu." ucap wanita itu, membentang tangannya, kemudian memeluk Niken begitu erat, ia menangis tersedu-sedu.
Niken sendiri masih teramat bingung, tangannya merasa ragu untuk memeluk wanita berkerudung itu. Dia cantik, tapi mengapa wajahnya tak asing, matanya, seperti mata milik Gendis.
"Tidak! Kamu bukan Ibu?" tolak Niken, ia mendorong wanita itu menjauh. Semua orang terkejut.
"Niken, dia ibumu!" ucap Wanita yang memegang alat medis di tangannya itu, dokter Sarah.
"Mengapa wajahmu seperti dia? Kamu mau ambil anak ku!" Niken menjerit, mundur ketakutan.
Wanita yang ayu itu menggeleng, tangan halusnya mengambang, bergetar melihat sikap Niken demikian. "Tidak Nak!" jawabnya.
"NGGAK! Pergi!" Niken memberontak.
"Niken dia ibumu!" pekik seorang wanita yang lain.
"Dia bukan ibuku, dia Nyai Gendis!" jawab Niken.
"Niken! Dia bukan Nyai Gendis, dia ibumu!" Marah dokter Sarah lagi.
Niken terdiam, mengamati wajah ibunya dengan penuh kewaspadaan.
"Tapi wajahnya? Matanya?" Niken menggeleng.
"Nyai Gendis itu, adalah saudari ibumu, seperti kamu dan Arimbi."
Ucapan Dokter Sarah itu membuatnya tercekat dalam detik yang seolah terhenti.
"Ha!" Niken tak bisa berkata-kata lagi.
jangan jangan Sagara mau sama Niken karena dia wanita tulang wangi
tinggal Alang nih ....
apakah dia mau menyerahkan Niken ke Sagara 🤔
emang kalau paranormal ga bisa punya anak ??
Niken sendirian di rumah kayu itu
ditinggalkan tanpa ikatan yang jelas
hanya memegang janji manusia
bukan suami istri
tapi ......
apa yg sebenarnya terjadi hayoo
smg di di sini kya yusuf bisa menyadari nya krn 2 anak di besarkan bukan dr tngan sndri melainkan di titipkan
nahh kek mana oraan ne
setelah tau anak2 nya menemukan jalan masing2
selamat menjalankan ibadah puasa thor
niken ngidam nya hiiii aq bayangin aja udh ngerasa gigi ngilu
dulu aq ngidam buah tp semua buah harus manis
klo g manis aq ogah
🙈🙈🙈🙈
kyo lagune kae lho lho
tresno iku esek3
okeh isine lancar traksine
trsno iku esek3
kosong isi ne ora ono regone
urip butuh duit
tresno iku g keno di kresit
akan menikah secara resmi
di pesantren ,bareng Arimbi & imam
semoga lancar sampai hari kemenangan
aamiin
merencanakan kejahatan mereka
jgn2 kebakaran rumah haji Ibrahim juga perbuatan mereka
layaknya saudara angkat donk
Krn di asuh kiyai Hasan