Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother| 11
“Aletha, Kakak mau bicara denganmu!”
Suara berat itu terdengar mengerikan ditelinga Aletha, aura menyeramkan memancar dari sekeliling laki-laki yang baru saja mendekatinya. Jarak mereka sekarang mulai dekat, tatapan tajam laki-laki itu seperti menusuk gadis itu. Mungkin terlalu berlebihan tetapi bagi Aletha itu memang mengerikan, Atmosfer di ruangan ini juga mulai berubah.
“Sudah-sudah, pembicaraan kalian nanti saja. Elang duduk lah, kamu juga harus paham tentang pernikahan!” Aletha menghembuskan nafas lega, untung saja ada mamanya jika tidak pasti Elang langsung memarahinya.
Tanpa menjawab ia berjalan mendekat, duduk disebelah kiri Aletha. Cukup dekat jika Elang merangkul bahu adiknya seperti sekarang.
“Jangan harap kamu bisa lepas dari kakak!”, Aletha merinding mendengar bisikan lirih ditelinga kirinya, wajahnya pias. Tubuhnya kaku, tidak berani bergerak lebih jika sedang didekat Elang.
Disisi lain, wanita yang juga dirangkul oleh Gean itu mencuri lirikan pada Elang. Ia ingin sekali menjadi Aletha seperti itu, sikap Elang yang sedikit posesif dengan Aletha. Sosok laki-laki yang sangat sulit ditaklukkan hatinya, bahkan wanita yang sudah mengenal lama dengannya saja hanya bisa menerima kenyataan jika status sahabat belum bisa menjadi hubungan yang lebih.
Carol mulai berandai, jika waktu pertunangannya Elang tidak pergi begitu saja sudah pasti yang merangkulnya saat ini adalah laki-laki yang sudah lama ia suka. Bukan Gean, yang waktu itu berniat untuk menolong justru sekarang benar-benar menjadi tunangannya.
“Carol, Kamu mikirin apa?” Gean memang selalu lembut kepada calon istrinya, tidak pernah sekalipun ia membentak. Ia begitu menjaga hati Carol seperti ia menjaga barang yang teramat berharga yang akan rusak jika terlalu keras, sifat yang sama dengan Elang. Tetapi Elang menyembunyikan sikap itu, hanya untuk Aletha.
“Oh, tidak ada.”
“Bagaimana kamu mau pilih tema warna apa?” itu bukan suara Gean, tetapi Renata ia sama sekali tidak memberi kesempatan Gean berpendapat.
“Terserah tante aja, Carol ikut aja. Lagipula yang terpenting kan bukan acara resepsinya.”, Ia memang sangat pandai berbicara semua orang terpesona dengan kecantikan dan kebaikan Carol. Kecuali Elang, ia justru memandang wanita itu jijik. Seperti sekarang, ia tiba-tiba bangkit dari sofa empuk itu menarik adik kecilnya.
“Ma, Elang bantuin Aletha belajar. Katanya Aletha sedikit kesulitan dengan mata pelajaran besok”. Begitu melihat sang ibu mengangguk , Elang menyeret gadis itu secara paksa. Aletha berusaha memperlihatkan wajah memelasnya pada sang ibu, tetapi apalah daya jika Renata sudah kembali terfokus dengan pembahasan pernikahan putranya.
Tangan kecil Aletha terasa panas, ia menyangka jika kulitnya sudah lecet. Tangan Elang terlalu erat menariknya, ia begitu kasar. Aletha menaiki tangga rumahnya terseok-seok, mencoba mengikuti langkah kaki Elang yang begitu
cepat.
"Masuk kamar!" , Elang begitu garang kali ini. Gadis itu menurut, masuk kamarnya yang identik dengan seorang gadis remaja. Berbagai poster idolanya, juga pernik-pernik kamar yang berwarna biru terang. Elang mengikuti langkah Aletha, menutup pintu dengan keras.
" Apa kamu lupa dengan larangan kakak? Atau kamu mau kakakmu ini menjadi seorang kriminal, membuat temanmu itu kehilangan salah satu kakinya tidak masalah. "
"Kak, Aletha minta maaf." Apalagi yang bisa Aletha katakan selain meminta maaf, mungkin bisa membuatnya tenang sedikit.
"Apa selama ini kakak masih kurang memberikanmu kasih sayang? perlindungan? sampai kamu tetap menjadi gadis nakal dengan tidak mendengarkanku?", Elang menghembuskan nafas kasar. Ia pasti sudah membuat Aletha takut, gadis itu menangis sekarang. Bahunya bergetar pelan, juga terdengar isakan kecil dari mulutnya.
Elang tidak bisa selalu egois pada adiknya, ia akhirnya menghentikan acara marah-marahnya. Melangkah pelan menuju kasur tempat Aletha duduk, dan menangis.
Tangan Elang terulur, meraih bahu Aletha dan merengkuhnya mencoba menenangkan Aletha.
"Maaf, kakak hanya tidak suka kamu dekat dengan Arka".
Gadis itu masih terisak dalam pelukan Elang, sepertinya enggan berbicara kepadanya. Atau terlalu takut untuk menjawab kakaknya. Tetapi, tangan kecil Aletha bergerak terangkat dan membalas pelukan Elang, dada bidang kakaknya itu memang sangat nyaman.
"Aletha sayang kakak". Tanpa Elang sadari bibirnya melengkung, ada perasaan bahagia mendengar perkataan Aletha. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu, mengecup pelan pucuk kepala Aletha. Rasa yang sangat ia inginkan sejak gadis itu sudah berusia tujuh belas tahun. Kebiasaannya mengecup Aletha sudah hilang, mungkin karena gadis itu sudah mulai tumbuh dewasa. Mulai mengerti jika adik kakak mulai membatasi hubungan yang terlalu dekat.
_____________________________________________
"Elang, Elang aku rasa kamu itu suka dengan Aletha. Semacam Sister complex, kamu sendiri pasti juga pernah mendengar istilah itu bukan?".
"Aku rasa juga begitu, se-ingatku sejak SMA sampai sekarang kamu itu selalu kasar dengan perempuan. Bahkan jijik saat berpegangan, tetapi dengan Aletha kamu seperti kehilangan kendali."
Ruangan yang dipenuhi dengan asap rokok yang mengepul itu, dan bau alkohol yang menyengat. Tempat VIP yang teman-teman Elang pesan. Elang duduk sendirian disofa panjang lain, berbeda dengan kedua sahabatnya yang sudah digelayuti wanita-wanita berpakaian minim itu. Elang sendiri jijik melihat Adit dan Arlan, yang tidak terusik dengan tangan-tangan wanita itu.
"Sudahlah omongan kalian mulai melantur, terlalu banyak minum", Arlan tertawa terbahak disebelahnya wanita berpakaian minim yang berambut pendek itu ikut terkekeh. Elang tidak mempedulikan sahabatnya itu, ia hanya bosan dengan tempat kotor itu. Setiap sahabatnya meminta berkumpul, ia sebenarnya malam apalagi tempat yang dipilih Adit adalah sebuah bar. Menurutnya lebih baik berkumpul dirumahnya, ia bisa menggangu Aletha juga. Atau disebuah restoran mewah, ia juga tidak keberatan membayarkan tagihannya lagipula ia juga bisa mengajak Aletha. Hanya untuk mengusir kebosanan. Tetapi, di sebuah bar? Jangankan membawa Aletha kesini, berpikiran mengajak saja tidak pernah.
"Heh!", Sebuah tangan sengaja menepuk bahunya.
"Aletha?"
Wanita itu tertawa geli, Elang benar-benar sudah mulai tergila-gila dengan adiknya sendiri. Bahkan sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya saja ia masih berpikiran tentang Aletha.
" Oh Anna Maaf, kenapa kamu baru datang?". Elang mengalihkan pembicaraannya, ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba mengira Aletha ditempat terlarang bagi seusia nya.
"Aku baru tutup cafe, jadi terlama datang. Ada apa kalian mengajakku kemari?".
"Tidak ada". Kata Elang.
Malam mereka berjalan dengan cepat ditempat itu, berbagai obrolan tentang masa lalu diucapkan seperti sedang mengenang. Namun, tanpa mereka sadari laki-laki yang hanya diam menatap sahabatnya kebosanan itu sedang memikirkan perkataan mereka.
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????