Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Penyembuh
**
"Tidak, maaf... aku tidak sengaja, tidak bermaksud membawa masalah pada kalian. Aku tidak punya pilihan." Ucap wanita tersebut dengan sedih. "Aku tidak menghalangi pengobatan, anakku bisa menyembuhkannya." Lanjutnya bergegas.
"Jangan main-main!" Pekik Darrion dengan mata memerah.
"Aku tidak main-main! Anakku punya kekuatan penyembuh, biarkan dia mencoba!" Ucapnya lagi dengan keras kepala. "Sasa sayang, bantu ibu menyembuhkan kakak cantik ini, oke? Dia telah menyelamatkan kita, kita juga harus menyelamatkannya." Lanjutnya beralih pada anak perempuannya. Yang terlihat lebih muda dari Avin, usianya sekitar 7 tahun. Sedangkan Avin 10 tahunan.
Anak yang dipanggil Sasa itu mengangguk kecil, dengan kedua mata polosnya ia berjalan maju, menghampiri Elle dan mulai memegang tangannya.
Darrion hendak menghentikannya tapi Luca menatapnya dan menggeleng, bermaksud membiarkan Sasa mencobanya. Akhirnya Darrion menyerah, ia hanya bisa diam menatap Sasa memegang tangan kakaknya.
Cahaya putih terlihat menyelimuti Elle, terlihat sangat samar yang tidak terlihat oleh mata orang lain kecuali pemilik kekuatan.
Disisi lain, Avin dan Sam berlari kembali dengan inti kristal berwarna kuning transparan yang diujungnya terlihat lebih gelap. Dengan cepat sampai dan menyerahkan inti tersebut pada Luca.
Elle yang dalam posisi duduk bersandar padanya, yang merasa Sasa tidak akan mampu menyembuhkan sepenuhnya, akhirnya bergerak memberinya air minum, kemudian menyayat kecil telapak tangan Elle yang lain, dan membuat tangan yang terluka itu menggenggam inti kristal yang baru saja didapatkan.
Setelah beberapa saat penyembuhan, Sasa melepaskan tangan Elle, ia jatuh dalam pelukan ibunya dengan wajah pucat. "Kakak cantik, sudah lebih baik." Ucapnya lemah, dan masih bisa tersenyum kecil. Saudara laki-lakinya menggenggam tangan Sasa dengan sedih, tapi ia diam, ia mengerti dengan situasi sekitar. Kedua anak ini mengerti dengan baik.
"Beri dia air." Ucap Luca datar. Membuat Paman Jergh bergerak, memberinya air miliknya yang tersisa setengah.
Tapi ia tidak menyesal memberikannya. Setelah Sasa meminumnya, ia terlihat jauh lebih baik. Air yang diberikan nona mudanya memang ajaib, pikirnya. Ia akan memintanya lagi nanti jika Elle punya banyak.
"Kalian jangan hanya diam. Sembuhkan luka masing-masing, setelahnya mulai bedah kepala-kepala itu, ambil inti kristalnya." Titah Luca dengan raut tanpa ekspresi. "Darrion, bersihkan sekitar. Berkemah saja disini. Tempatnya aman, hewan mutan masih jauh dari tempat kita sekarang." Lanjut Luca.
Dan semua orang bergerak, meninggalkan Luca dan Elle yang dibawa ke dalam hummer, dibaringkannya Elle dikursi tengah agar ia jauh lebih nyaman. Setelahnya, Luca keluar dan menatap tajam wanita dengan dua anak kecil yang takut pada Luca.
"Kalian, tinggal dulu. Tunggu Elle bangun, minta maaf dan berterimakasih langsung padanya." Ucapnya dingin. Kemudian meninggalkan ketiganya, menyibukkan diri dengan membantu Darrion menyiapkan kemah.
"Ibu, kakak itu marah pada kita ya?" Tanya Sasa polos.
Sang ibu menggelengkan kepalanya, dan tersenyum kecil. "Tidak, kakak itu tidak marah. Ia hanya khawatir dengan kakak cantik." Balasnya, menatap kedua anaknya dengan lega, mereka masih selamat. "Ayo ke mobil dulu. Kita juga akan beristirahat disini malam ini." Lanjutnya.
Tapi Sasa menggeleng, "aku akan menjaga kakak cantik, ibu." Ucapnya.
"Ada adik dan temannya yang menjaga. Sasa juga harus istirahat sebentar, supaya tidak pusing. Jika Sasa istirahat, kekuatan Sasa nanti penuh lagi, Sasa juga bisa menyembuhkan kakak cantik lagi, bagaimana?" Balas sang ibu, bertanya dengan lembut.
Kemudian Sasa mengangguk dengan mata bulatnya. Ia menuruti ibunya dan kembali ke Van untuk istirahat. "Kakak Lio, pegang aku." Pinta Sasa pada saudaranya, sebelum benar-benar melangkah ke arah Van yang terparkir.
**
"Bagaimana keadaan nona muda?" Tanya Sam yang baru saja kembali dari pekerjaan menggali inti kristal. Disampingnya ada Avin dan Paman Jergh yang juga menatap Luca menunggu jawaban.
"Tidak dalam bahaya." Balasnya singkat, tidak memuaskan keingintahuan tiga orang tersebut sama sekali. Bahkan Avin mendecakkan lidahnya merasa sebal.
"Tunggu bangun saja, seharusnya tidak apa-apa. Rona di wajah kakakku juga sudah lebih jauh membaik." Balas Darrion menoleh pada ketiganya.
Saat ini, ia sedang memasak mie instan dengan kompor portabel yang dibawanya dari komunitas. Setelah lelah seharian dan bertarung sampai energi habis. Semua orang jelas merasa lapar. Jadi atas saran Luca, Darrion yang biasanya dilayani, kini memasak sendiri. Ia juga tidak membiarkan paman Jergh mengambil alih.
Semuanya kelelahan, juga punya luka dan rasa sakit masing-masing. Selain itu, ia satu-satunya yang tidak melakukan apapun. Sementara yang lain mengurus sang kakak dan menggali inti kristal.
"Cuci tangan kalian sampai bersih. Mie nya sebentar lagi matang." Ucap Darrion pada tiga orang itu. Sebelumnya ia membersihkan area sekitar dan membersihkan kemah lebih dulu, jadi waktu memasak agak terlambat.
"Paman, mau air?" Tanya Lio yang tiba-tiba saja datang dari belakang. Membuat tiga orang itu mengernyitkan dahi bingung. Apakah ibunya punya kelebihan air, sehingga membiarkan anaknya menawarkan air. Atau justru ibunya tidak tahu tindakannya? Pikir ketiganya sama.
Barulah ketika Lio mengacungkan jari telunjuknya, dan air mulai mengalir dari sana, ketiganya akhirnya rileks. Pikiran ketiganya terjawab dan mulai mendekati Lio.
"Kalau begitu, beri kami air?" Ucap Avin dengan nada bertanya.
"Tentu saja, kakak. Kau bisa mengambil wadah untuk menampungnya. Untuk membersihkan tangan, kalian bisa langsung menggunakannya tanpa menampung." Ucap Lio seraya tersenyum.
Luca menatap Lio dengan seksama, kemudian menatap dua orang wanita yang mengawasi Lio sebentar sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya. Ia berdiri, melihat keadaan Elle di dalam yang berkeringat. Dahi Luca mengerut. Tidak mengerti apa yang terjadi. "Demam?" Gumamnya pelan.
Membuat Luca mengambil baskom kecil berisi air panas. Kemudian membuat kompresan untuk mengompres dahi Elle. Berharap dengan ini, demamnya akan membaik.
Malam itu, ditutup dengan suasana hening. Luca menjaga Elle semalaman. Sementara yang lain tidur nyenyak setelah seharian kelelahan. Tapi Luca juga diam, ia menggunakan waktu semalaman untuk terus menyerap inti kristal. Ia ingin menjadi kuat, agar tidak hanya diam melihat Elle bertarung sendirian untuk melindungi mereka.
Ia merasa tidak berguna.
Setelah menyerap lebih dari 20 inti kristal, ia akhirnya berhenti. Kekuatannya jauh lebih banyak dari sebelumnya tapi ia masih merasa belum cukup. Tapi tubuhnya telah mencapai batasnya.
Luca menatap Elle dalam diam, akhirnya ia menggertakkan gigi, kekuatan psikisnya masih kurang. Jadi dengan tekad kuat yang datang dari hatinya, ia menyayat tangannya, mencoba keberuntungan dengan niat membangunkan kekuatan lain.
Ia menggunakan inti transparan berwarna merah yang ditemukan di tumpukan inti kristal yang baru dikumpulkan. Menggenggamnya diatas luka yang baru ia buat dan memejamkan mata. Jatuh dalam keadaan meditasi, berfokus pada penyerapan.
**