NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Layar ponsel Arlan sudah menggelap, namun ia masih menempelkan benda itu di telinganya selama beberapa detik. Suara wanita di seberang telepon tadi terdengar sangat jernih sekaligus dingin. Peringatan tentang matahari lusa pagi bukanlah sebuah metafora yang bisa dianggap remeh oleh seseorang yang baru saja lolos dari maut.

"Siapa yang menelepon malam-malam begini, Lan?" tanya Ibu Arlan sambil meletakkan secangkir wedang jahe di atas meja teras.

Arlan segera menurunkan ponselnya dan mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia menatap wajah ibunya yang tampak jauh lebih tenang setelah kepindahan mereka ke rumah baru yang difasilitasi oleh perusahaan.

"Hanya rekan kerja, Bu. Ada sedikit urusan mendadak mengenai jadwal rapat di kota besok pagi," jawab Arlan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.

Ibu Arlan duduk di kursi kayu di hadapan anaknya. Beliau memperhatikan raut wajah Arlan dengan saksama di bawah cahaya lampu teras yang hangat.

"Jangan terlalu memaksakan diri, Lan. Ibu sudah sangat bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang. Harta sebanyak apa pun tidak akan ada artinya kalau kamu tidak sehat," ucap Ibu Arlan sambil mengusap lengan anaknya dengan penuh kasih sayang.

"Arlan mengerti, Bu. Arlan hanya ingin memastikan semua yang sudah dibangun tidak hilang begitu saja karena kelalaian Arlan sendiri," sahut Arlan sambil memaksakan sebuah senyuman kecil.

Setelah ibunya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, Arlan kembali menatap kartu undangan berwarna emas yang tergeletak di meja. Ia menyentuh permukaan kartu itu dan seketika pandangannya dipenuhi oleh deretan data transparan yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

[Analisis Entitas: Aliansi Logistik Nasional (ALN)] [Status: Kartel Industri Logistik Terbesar] [Level Ancaman: Ekstrem (Skala 9/10)] [Deskripsi: Organisasi ini mengontrol 80 persen regulasi distribusi nasional. Arlan Corp dikategorikan sebagai 'Disruptor Berbahaya' yang harus segera dijinakkan atau dihancurkan.]

Arlan menyipitkan matanya. Ia menyadari bahwa Pak Pratama hanyalah satu dari sekian banyak pemain kecil di dalam kolam yang lebih luas. Musuh yang ia hadapi sekarang bukan lagi individu yang emosional, melainkan sistem yang sudah terorganisir selama puluhan tahun.

Keesokan harinya, Arlan sudah berada di kantor pusat Arlan Corp yang menempati lantai teratas sebuah gedung perkantoran modern di pusat kota. Siska dan Maya sudah menunggu di ruang rapat kecil yang kedap suara.

"Aku sudah melakukan pemeriksaan latar belakang pada Aliansi Logistik Nasional, Arlan. Mereka bukan sekadar asosiasi pengusaha," ucap Maya sambil menampilkan beberapa slide data di layar proyektor.

"Apa yang paling mencolok dari mereka, Mbak Maya?" tanya Arlan sambil memperhatikan grafik pertumbuhan perusahaan-perusahaan anggota aliansi.

"Setiap perusahaan logistik baru yang tidak mau bergabung atau membayar 'biaya keamanan' kepada mereka pasti akan mengalami masalah perizinan di kementerian dalam waktu singkat," jawab Maya dengan raut wajah yang sangat serius.

Siska yang duduk di sebelah Arlan mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang tidak teratur. Matanya menatap tajam ke arah undangan emas yang dibawa Arlan.

"Undangan ini adalah cara mereka untuk menilai kekuatanmu, Lan. Jika kamu datang dan terlihat lemah, mereka akan memaksamu menjual Arlan Corp. Jika kamu datang dan terlihat menantang, mereka akan menggunakan jalur regulasi untuk menutup operasional kita," kata Siska dengan analisis yang tajam.

"Mbak Siska sendiri, apakah pernah mendengar nama organisasi ini saat masih bekerja untuk Pak Pratama?" tanya Arlan untuk menggali informasi lebih dalam.

"Pak Pratama sangat takut pada mereka. Sebagian besar dana pencucian uang yang ia lakukan sebenarnya digunakan untuk membayar iuran tahunan kepada aliansi ini agar Megantara Group tidak diganggu," jawab Siska dengan nada yang dingin.

Arlan terdiam sejenak. Ia berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan lalu lintas kota yang padat di bawah sana. Ia menyadari bahwa ia sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial bagi masa depan karyawannya.

"Mengenai panggilan telepon tadi malam, apakah kamu sudah berhasil melacak identitasnya?" tanya Siska sambil menatap punggung Arlan.

"Panggilannya menggunakan enkripsi tingkat tinggi. Tapi suaranya terasa sangat akrab. Seolah dia adalah orang yang tahu banyak tentang masa lalu Pak Pratama," jawab Arlan tanpa menoleh.

"Kita tidak bisa membiarkan ketakutan mengatur langkah kita, Arlan. Jalur selatan sudah mulai memberikan profit yang signifikan bagi perusahaan," ucap Maya sambil mencoba memberikan dorongan semangat.

"Benar. Tapi profit itu akan langsung terhenti jika izin operasional truk kita dicabut secara mendadak oleh dinas perhubungan atas tekanan aliansi," sahut Arlan sambil berbalik dan menatap kedua rekannya.

Arlan kemudian mengambil tabletnya dan mulai menyusun sebuah rencana. Ia tidak ingin datang ke rapat tersebut tanpa persiapan apa pun. Ia harus memiliki sesuatu yang bisa membuat aliansi itu berpikir dua kali sebelum menyerangnya.

"Mbak Maya, tolong siapkan data lengkap mengenai efisiensi biaya distribusi kita di jalur selatan. Saya ingin menunjukkan bahwa Arlan Corp bukan sekadar perusahaan logistik, melainkan penyedia teknologi efisiensi," perintah Arlan dengan nada yang berwibawa.

"Kamu ingin melakukan kerja sama dengan mereka?" tanya Maya dengan dahi yang berkerut.

"Bukan kerja sama. Saya ingin menciptakan ketergantungan. Jika mereka tahu bahwa teknologi kita bisa memotong biaya operasional mereka hingga tiga puluh persen, mereka akan ragu untuk menghancurkan kita," jawab Arlan dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.

Siska menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mulai menyadari bahwa pemuda yang dulu ia awasi sebagai analis biasa kini telah berkembang menjadi seorang ahli strategi yang sangat licin.

"Tegar sudah berada di lapangan untuk memantau pergerakan orang-orang aliansi di sekitar gudang kita," ucap Siska sambil memberikan laporan singkat.

"Bagus. Pastikan dia tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan. Kita harus tetap terlihat seperti perusahaan yang patuh pada aturan," jawab Arlan.

Tepat saat rapat itu akan berakhir, pintu ruangan diketuk dengan terburu-buru. Tegar masuk dengan wajah yang sedikit pucat sambil memegang sebuah amplop berwarna biru tua.

"Mas Arlan, ada kiriman lagi dari kurir yang tidak dikenal di lobi bawah," ucap Tegar sambil menyerahkan amplop tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar.

Arlan menerima amplop itu dan segera membukanya. Di dalamnya tidak terdapat surat, melainkan sebuah kunci perak kecil dengan gantungan berbentuk logo yang sangat ia kenal.

"Ini kunci loker di stasiun pusat yang dulu sering digunakan oleh ayah Mbak Siska, kan?" tanya Arlan sambil menunjukkan kunci itu kepada Siska.

Wajah Siska mendadak berubah menjadi sangat pucat. Ia bangkit dari kursinya dan mendekati Arlan untuk memastikan penglihatannya tidak salah.

"Dari mana kunci ini bisa muncul kembali? Aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun di rumah lama ayahku," ucap Siska dengan suara yang bergetar hebat.

Arlan menyadari bahwa pengirim kunci ini memiliki hubungan dengan wanita misterius yang meneleponnya tadi malam. Sesuatu yang sangat besar dari masa lalu industri logistik ini sedang mencoba untuk muncul kembali ke permukaan.

"Sepertinya matahari lusa pagi bukan hanya soal ancaman, tapi soal pengungkapan rahasia yang sudah terkubur lama," bisik Arlan sambil menggenggam kunci perak itu dengan kuat.

Di luar jendela, langit yang tadinya cerah mendadak mulai tertutup awan mendung yang gelap. Arlan tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja mengirimkan peringatan pertamanya.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!