NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11Teror di Balik Telepon

Keesokan paginya, saat mereka sedang bersiap menuju kantor pengacara, ponsel Amara berdering. Sebuah nomor internasional dari Indonesia.

Amara ragu, namun Hannan mengangguk memberi isyarat agar ia mengangkatnya.

"Halo?" suara Amara bergetar.

"Halo, Amara sayang. Bagaimana kabarmu di Amerika bersama ustadz kecilmu itu?" Suara itu dingin dan sangat familiar. Bukan Bastian, melainkan seseorang yang jauh lebih berkuasa—pimpinan perusahaan yang dokumennya dicuri Amara.

"Siapa ini?" tanya Amara tegas, meski tangannya gemetar.

"Jangan pura-pura lupa. Kamu membawa sesuatu yang bukan milikmu. Serahkan amplop itu di dermaga Santa Monica malam ini, atau... kami pastikan izin tinggal suamimu di Amerika dicabut dan dia akan dideportasi dengan nama baik yang hancur karena kasus pelecehan seksual yang sudah kami siapkan skenarionya."

Amara menutup telepon dengan wajah pucat pasi. Ia menatap Hannan dengan tatapan hancur.

"Mas... mereka mengancam akan menghancurkan namamu. Mereka bilang... mereka sudah menyiapkan fitnah pelecehan seksual kalau aku tidak memberikan amplop itu malam ini."

Hannan mengepalkan tangannya. Musuh kali ini bukan hanya orang jahat biasa, tapi orang-orang yang bisa membeli hukum.

Hannan menarik napas dalam-dalam. Ia melihat tubuh Amara yang kembali bergetar hebat. Ancaman fitnah "pelecehan seksual" adalah serangan paling rendah yang bisa menghancurkan reputasi seorang pemuka agama seperti dirinya. Namun, di balik ketenangannya, otak Hannan bekerja cepat.

"Amara, tatap aku," ujar Hannan sambil memegang kedua pundak istrinya. "Jangan biarkan ketakutan membuatmu mengambil keputusan yang salah. Jika kamu menyerahkan dokumen itu sekarang, mereka tidak akan membiarkan kita hidup tenang. Justru dokumen itu adalah satu-satunya jaminan keselamatan kita."

"Tapi namamu, Mas... karir dakwahmu... semuanya bisa hancur," isak Amara.

"Nama baikku ada di tangan Allah, bukan di tangan mereka. Kita tidak akan menyerah pada ancaman," jawab Hannan tegas.

Hannan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gus Malik. Hanya dalam beberapa menit, Gus Malik sudah berada di apartemen mereka.

"Ini sudah masuk ranah kriminal tingkat tinggi, Nan," ujar Gus Malik setelah mendengar rekaman telepon yang sempat direkam Amara secara otomatis. "Mereka bukan lagi sekadar preman pasar, mereka punya koneksi."

Hannan mengangguk. "Gus, aku butuh bantuanmu. Kamu punya kenalan di FBI Counter-Intelligence yang pernah mengisi seminar di kampus kita, kan? Kita tidak bisa lari ke polisi biasa, karena mereka mengancam dengan deportasi dan fitnah hukum federal."

***

Malam harinya, angin laut di Santa Monica bertiup sangat kencang, lebih dingin dari biasanya. Sesuai instruksi, Amara berdiri di ujung dermaga yang agak sepi, mengenakan mantel panjang yang menyembunyikan identitasnya. Di tangannya, ia memegang amplop cokelat—atau setidaknya, sesuatu yang terlihat seperti amplop cokelat.

Hannan mengamati dari kejauhan, bersembunyi di balik sebuah kios yang tutup, sambil terus berkomunikasi dengan Gus Malik melalui earpiece kecil.

Dua pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam mendekati Amara. Salah satunya adalah anak buah kepercayaan perusahaan dari Indonesia yang sengaja diterbangkan ke California.

"Bagus, Amara. Kamu pintar. Serahkan barang itu, dan suamimu akan tetap menjadi 'ustadz suci' di mata publik," ujar pria itu sambil mengulurkan tangan.

Amara menarik napas panjang. "Mana jaminannya kalau kalian tidak akan menyentuh suamiku?"

Pria itu tertawa sinis. "Kamu tidak dalam posisi untuk menawar. Berikan!"

Saat pria itu hendak merampas amplop dari tangan Amara, tiba-tiba lampu sorot dermaga menyala terang benderang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!