Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realisasikan
Lampu-lampu kristal di pusat perbelanjaan elit di kawasan Apgujeong memantul pada deretan etalase brand ternama. Viona melangkah dengan bingung saat Noah menarik tangannya masuk ke sebuah butik mewah yang koleksinya baru saja mendarat dari Paris.
"Noah, gue nggak butuh baju baru. Lemari gue udah penuh," protes Viona sambil menatap deretan manekin.
Noah tidak menyahut. Ia justru sibuk memilah deretan gantungan baju dengan mata yang sangat selektif. Jarinya berhenti pada sebuah dress rajut berwarna beige dengan potongan leher tinggi, lalu sebuah blazer berbahan wol yang elegan, dan beberapa kemeja sutra yang terlihat sangat sopan namun tetap mewah.
"Cobain ini semua," ucap Noah sambil menyerahkan tumpukan pakaian itu pada seorang staf butik.
Viona menatap tumpukan itu dengan dahi berkerut. "Ini semua... tertutup banget, Noah. Gue bakal kelihatan kayak mau pergi ke perpustakaan setiap hari."
"Gue lebih suka nyebutnya 'berkelas'," balas Noah santai sambil menduduki kursi beludru di ruang tunggu, kakinya bersilang dengan elegan. "Cepat, gue nggak punya banyak waktu sebelum ke Incheon."
Viona pun masuk ke ruang ganti dengan gerutuan. Satu per satu pakaian itu ia coba. Anehnya, meski semuanya sangat tertutup, tidak ada punggung yang terekspos, tidak ada belahan dada yang rendah, pakaian pilihan
Noah justru membuat Viona terlihat sangat berwibawa dan mahal. Potongannya sangat pas menonjolkan lekuk tubuhnya tanpa harus terlihat vulgar.
Begitu Viona keluar mengenakan midi dress lengan panjang berwarna navy, Noah terdiam sejenak. Ia memandangi Viona dari bawah ke atas dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bagus. Ambil semua yang gue pilih tadi," ucap Noah pada staf butik, tanpa melepaskan pandangannya dari Viona.
"Noah, ini banyak banget! Dan kenapa nggak ada satupun yang backless atau pendek?" tanya Viona curiga.
Noah bangkit berdiri, berjalan mendekati Viona dan merapikan kerah gaun baru istrinya itu. Ia menunduk, berbisik tepat di depan wajah Viona sehingga staf butik tidak bisa mendengar.
"Karena gue nggak mau ada cowok di club atau di kantor yang ngelihat apa yang seharusnya cuma jadi konsumsi mata gue, Vio," bisik Noah posesif. "Semua baju terbuka lo di rumah... bakal gue minta asisten rumah tangga buat simpan di gudang selama gue di Singapura."
Viona melotot. "Lo nggak berhak!"
"Gue suami lo, dan gue yang bayar semua tagihan butik ini hari ini," potong Noah sambil menyerahkan kartu kredit hitamnya pada staf.
"Anggap aja ini investasi supaya gue bisa kerja dengan tenang di Singapura tanpa harus cek CCTV tiap lima menit buat mastiin lo nggak pakai baju tidur ke tempat umum lagi."
Viona hendak membalas, tapi melihat cara
Noah menatapnya, campuran antara protektif dan rasa sayang yang tersirat, nyalinya mendadak menciut. Ia hanya bisa berdiri kaku saat Noah mengecup keningnya singkat di depan para staf yang menahan napas iri.
"Pakai baju yang gue beliin hari ini selama gue pergi. Kalau gue liat di media sosial lo pakai baju 'kurang bahan' lagi..." Noah menggantung kalimatnya, memberikan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Viona meremang.
"...hukuman yang gue bilang di mobil kemarin bakal gue laksanakan tanpa nunggu persetujuan lo."
———
Rumah keluarga Skylar yang bergaya modern klasik di kawasan elit Seoul itu terasa hangat, tapi suasana bagi Viona mendadak jadi gerah.
Rose, sang mama, duduk di hadapannya dengan tatapan menyelidik, seolah sedang menginspeksi kualitas menantu pilihannya melalui cerita Viona.
"Gimana? Noah oke, kan?" tanya Rose tanpa basa-basi, sambil menyesap teh sorenya dengan gaya elegan.
"Ih, apaan sih, Ma! Kami masih penyesuaian tahu!" gerutu Viona. Ia melempar tas desainer-nya ke sofa dengan perasaan kesal. Ingatannya kembali pada kejadian "ancaman kehamilan" Noah di mobil dan itu sukses membuat pipinya mendadak merona.
Rose tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat mengejek di telinga Viona.
"Yaelah, Vio... kamu sama Noah itu udah biasa mandi bareng di bak plastik waktu kecil, udah biasa tidur sekasur pas liburan keluarga. Butuh penyesuaian apa lagi?" goda Rose sambil mengedipkan sebelah matanya. "Harusnya mah udah langsung gaspol."
"Itu kan dulu pas masih lima tahun, Ma! Sekarang beda!" teriak Viona frustrasi.
"Bedanya cuma sekarang kalian udah sah secara hukum dan agama," sahut Rose santai.
Ia meletakkan cangkir tehnya dan menatap Viona dengan serius. "Dengerin Mama, Vio. Noah itu anak baik, dia pinter, dan Mama tahu banget dia itu protektif sama kamu dari dulu. Mama mau punya cucu pokoknya. Jangan kelamaan 'penyesuaian', nanti keburu Mama keriput nggak kuat gendong bayi."
Viona memijat pelipisnya. "Mama pikir bikin anak kayak bikin ramyun? Lima menit jadi?"
"Ya makanya dicoba terus. Lagian Noah-nya juga nggak keberatan, kan? Malah Mama curiga dia yang paling semangat," ucap Rose dengan senyum penuh arti yang membuat Viona ingin segera menghilang dari ruangan itu.
Baru saja Viona hendak membalas, ponselnya di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi video call masuk.
'Noah Sebastian Willey is calling...'
Rose melirik layar ponsel itu, lalu tersenyum lebar. "Tuh, panjang umur. Baru diomongin udah telpon. Angkat! Terus bilang sama dia, Mama udah pesen stroller bayi keluaran terbaru."
"MAMA!" jerit Viona malu, sementara jemarinya dengan ragu menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon dari sang suami yang saat ini entah sudah sampai di mana.
Viona memegang ponselnya dengan tangan gemetar, sementara Rose sudah mencondongkan tubuhnya, ikut masuk ke dalam frame kamera seolah ini adalah konferensi pers pengumuman ahli waris.
📞 Noah: "Halo... di rumah Mama, kan?" tanya Noah. Suaranya terdengar sedikit berisik, mungkin dia baru saja mendarat atau sedang berada di dalam mobil jemputan di Singapura.
📞 Viona: "Iya... ini lagi sama Mama," jawab Viona singkat, berusaha memberikan kode lewat mata agar
Noah tetap waspada.
Namun, Rose Skylar tidak memberikan ruang untuk kode-kodean. Beliau langsung menyambar posisi di depan kamera ponsel Viona dengan senyum paling cerah yang pernah Viona lihat.
📞 Rose: "Noah! Aduh, menantu kesayangan Mama. Jangan lama-lama ya di Singapura. Viona di sini rewel terus, katanya udah nggak sabar mau punya anak!"
Mata Viona membelalak sempurna. "Ma! Kapan aku bilang gitu?!" serunya panik, tapi suaranya diabaikan.
Keheningan sempat tercipta selama dua detik di seberang sana. Viona sudah bersiap mendengar Noah tertawa mengejek atau merasa canggung. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Terdengar suara kekehan rendah—kekehan yang sangat maskulin dan penuh percaya diri dari bibir Noah.
📞 Noah: "Hahaha, Bibi tenang aja," jawab Noah, nadanya mendadak berubah menjadi sangat dewasa dan... sedikit sensual. "Setelah semua urusan hotel Viona beres dan dia udah nggak sibuk main ke club lagi, kita realisasikan secepatnya."
Deg.
Bulu kuduk Viona meremang. Kalimat "kita realisasikan" dari mulut Noah terdengar jauh lebih nyata dan mengancam daripada sekadar candaan orang tua. Noah tidak sedang membela Viona; dia justru sedang memberikan janji pada mertuanya.
📞 Rose: "Tuh, denger kan, Vio? Noah aja udah siap. Pokoknya Mama mau cucu yang mirip Noah pintarnya, tapi hidungnya mirip kamu."
📞 Noah: "Siap, Bi. Viona-nya dijaga ya, jangan kasih keluar malem-malem. Takutnya dia 'latihan' sendiri nanti."
📞 Viona: "NOAH SEBASTIAN WILLEY! Tutup teleponnya!" teriak Viona dengan wajah yang sudah matang seperti kepiting rebus.
Tanpa menunggu balasan lagi, Viona langsung mematikan sambungan video call itu secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal.
“MAMA! Kenapa sih harus ngomong gitu ke dia? Dia itu aslinya mesum tahu nggak!" protes Viona dari balik bantal.
Rose hanya tertawa puas sambil beranjak berdiri. "Mesum sama istri sendiri itu ibadah, Vio. Udah ah, Mama mau cek menu makan malam. Kamu mandi sana, biar seger, nggak usah kepikiran 'realisasi' terus."