Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.18
Pukul 01.05, dini hari, Jam segini seharusnya dunia sedang berada di mode paling tenang. Manusia normal sudah lelap dalam tidur. Hewan malam menjalankan rutinitasnya. Pikiran seharusnya melambat, bukan justru bekerja terlalu aktif. Tapi di desa itu, pukul satu pagi terasa seperti jam yang salah. Jam yang tidak seharusnya dilalui sambil terjaga. Shift kedua dimulai dengan aura yang jauh lebih kacau.
Jika shift pertama penuh pura-pura berani, shift kedua penuh kejujuran yang tidak disaring. Tidak ada lagi usaha terlihat rasional. Tidak ada lagi sok ilmiah. Yang tersisa hanya manusia-manusia setengah mengantuk dengan sistem pertahanan mental yang sudah melemah. Surya berjalan sambil memeluk jaketnya, bahu sedikit terangkat. Ia berjalan seperti orang yang berharap tubuhnya bisa menyusut sendiri agar lebih sulit terlihat. Kacamata hitamnya sudah dilepas, tapi matanya justru lebih sering menyipit, seolah siap menutup kapan saja.
Palui menghitung uang di saku, entah untuk apa, seolah uang receh bisa jadi jimat. Koin-koin itu berbunyi kecil setiap disentuh, irama acak yang justru membuat Surya makin tidak nyaman.
Anang membawa termos dan sendok, siap makan kapan saja, karena lapar lebih menakutkan dari hantu menurutnya. Termos itu digenggam seperti alat survival. Jika sesuatu muncul, setidaknya ia tidak menghadapinya dalam keadaan perut kosong.
Moren sibuk menyalakan alat rakitannya, kabel menjuntai ke mana-mana. Alat itu terlihat seperti perpaduan radio tua, multimeter, dan mainan anak TK. Tidak ada satu pun yang benar-benar paham cara kerjanya termasuk Moren sendiri.
Bodat berjalan paling depan dengan wajah siap marah ke apa pun, termasuk kegelapan. Rahangnya mengeras, langkahnya tegas, seperti kalau ia cukup galak, malam akan segan mendekat.
"Kalau ada apa-apa, kita lari ya," kata Surya.
"Kita lawan," sahut Bodat.
"Aku lari," kata Palui.
"Aku matiin kompor dulu," tambah Anang refleks.
Tidak ada yang menertawakan jawaban Anang. Semua tahu, ada logika aneh tapi masuk akal di situ. Bagaimana mungkin Abang sempat mematikan kompor,sedangkan mereka sekarang lagi menjalankan tugas ronda.
"Tenang. Kalau ada makhluk aneh, alat ini akan berbunyi." Moren mengangkat alatnya.
Alat itu langsung berbunyi, BIIIP.
Semua menjerit seketika karena kaget. Suara teriakan itu pecah serempak, terlalu keras untuk suasana desa yang hening. Beberapa lampu rumah warga menyala sebentar, lalu mati lagi seolah pemiliknya memilih pura-pura tidak dengar.
"KENAPA?!" teriak Surya.
"Aku lupa matiin," kata Moren polos.
Bodat mengusap wajah.
"Aku benci teknologi."
Dan untuk pertama kalinya malam itu, mereka tertawa bukan karena lucu. Tapi karena kalau tidak tertawa, jantung mereka seakan bisa lepas dari tempatnya.
...🍃🍃🍃...
Mereka mulai menyusuri jalur ronda yang sama dengan shift pertama. Jalan tanah yang sama, pohon pisang yang sama, rumpun bambu yang sekarang terlihat lebih tinggi, lebih rapat, dan entah kenapa lebih dekat. Langkah mereka tidak sinkron. Palui terlalu cepat. Surya terlalu pelan. Anang sesekali berhenti buat minum. Moren sibuk memastikan alatnya tidak bunyi lagi. Bodat beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan semua masih lengkap. Tidak ada suara jangkrik sekompak tadi. Malam ini mulai terasa lebih sepi dan itu terasa lebih salah.
"Kenapa rasanya kayak lagi ditonton?" gumam Surya.
"Karena kamu parno," jawab Bodat.
"Kalau aku parno, kenapa kamu jalan paling depan?"
Bodat terdiam, lampu senternya menyapu batang pohon yang ada, daun, tanah bahkan bayangan mereka yang tampak bergerak sedikit terlambat, seperti tidak mau sepenuhnya mengikuti. Palui berhenti mendadak.
"Apa kalian mendengar sesuatu nggak?"
Semuanya ikutan berhenti dan tidak ada apa-apa yang terdengar.
"Enggak," jawab Anang.
"Itu… kayak ada yang jalan di belakang kita," Palui berbisik.
Moren mengangkat alatnya dan tidak bunyi yang keluar dari sana, jika memang ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.
"Alat gue aman."
"Itu nggak menenangkan," sahut Surya.
Mereka melanjutkan langkah dengan jarak yang lebih rapat. Dan jarak antar langkah mereka juga makin pendek.
Sementara di posko, suasana tidak kalah tegang. Ani mengintip dari jendela, tirai hanya dibuka sedikit. Matanya bergerak cepat, mengikuti bayangan yang sebenarnya belum tentu ada.
"Kayaknya ada yang lewat deh."
"Diam," kata Susi sambil pakai masker wajah. "Aku lagi perawatan. Kalau mati, mati glowing."
Nada suaranya datar. Seperti orang yang sudah menerima kemungkinan terburuk tapi tetap mau terlihat maksimal. Aluh memeluk lututnya dan selimut kainnya, ia lilitkan sampai ke bahu.
"Kenapa jam terasa lama banget ya?"
Tidak ada yang menjawab karena semua merasakan hal yang sama. Seperti biasa, Wati mendengkur, tak terganggu oleh kekacauan dunia. Tidurnya nyenyak, seolah posko itu hotel bintang tiga dan bukan rumah tua penuh sugesti.
Lalu terdengar suara langkah cepat dari luar. Suara itu bukan hanya satu, tapi terdengar seperti beberapa dengan langkahnya tergesa. Tidak seperti orang yang sedang berjalan santai. Mendadak semua menjadi tegang. Ani menjauh dari jendela. Susi menurunkan masker. Aluh menahan napas.Pintu lalu terbuka dengan keras. Surya masuk sambil pucat.
"ADA SESUATU."
"APA?!" teriak semua.
Surya menunjuk luar. Tangannya gemetar.
"Bayangannya tinggi… rambutnya…"
Ithay muncul di belakangnya.
"Itu aku. Rambutku lagi dikibas."
Surya kemudian perlahan duduk untuk menenangkan dirinya.
"Aku hampir pingsan," katanya lirih.
Bodat menepuk bahunya.
"Laki-laki emang gitu."
dan tidak ada satupun pria diantara yang membantah ucapan bodat
Shift kedua selesai tanpa kejadian besar. Dan justru itu yang membuat kepala mereka penuh tanda tanya yang masih menggantung. Menjelang subuh, semua berkumpul di ruang tengah. Dengan Mata merah karena mengantuk, pikiran kusut, tubuh yang terasa lelah tanpa alasan jelas. Tidak ada luka, tidak ada teriakan histeris juga tidak ada bukti konkret apa pun. Hanya rasa tidak nyaman yang menetap. Bahkan hantu pun tidak muncul untuk membuat sebuah kejadian besar. Dan justru itu yang paling menakutkan.
Malam pertama mereka berlalu dengan satu kesimpulan yang sama, meski tidak diucapkan keras-keras. Mereka belum melihat apa pun, tapi rasa takut, sudah keburu betah di hati mereka.
...🍃🍃🍃🍃...
Bersambung....