NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1-Anak yang Tidak Diakui

Hujan turun sejak subuh, merayap pelan di atap rumah sakit kecil di pinggir kota. Udara lembap menempel di kulit, bercampur bau antiseptik dan tanah basah yang terbawa angin. Di sebuah kamar bersalin yang lampunya redup, seorang perempuan muda berbaring dengan napas terengah. Tangannya gemetar, bukan hanya karena sakit, tapi karena ketakutan yang tak sempat ia ucapkan.

Perempuan itu bernama Laras.

Tidak ada keluarga besar yang menunggu di luar. Tidak ada ibu yang menggenggam tangannya, tidak ada ayah yang berdoa di sudut ruangan. Yang ada hanya seorang bidan yang bekerja cepat dan sunyi, serta detak jam dinding yang terdengar terlalu nyaring, seolah menghitung mundur sesuatu yang akan berakhir.

Ketika tangis bayi akhirnya memecah ruangan, Laras menangis juga. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi bantal yang sudah kusam. Tangis itu bukan hanya karena lega. Itu adalah tangis seorang perempuan yang tahu, sejak detik pertama anaknya menghirup udara, dunia sudah bersiap menolaknya.

“Perempuan,” ucap bidan itu pelan, sambil membersihkan tubuh mungil yang masih merah. “Sehat.”

Laras mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Tidak perlu. Baginya, satu kata itu sudah cukup: perempuan. Di keluarga suaminya, perempuan selalu berarti nomor dua. Dan bagi anak yang lahir dari rahim perempuan miskin sepertinya, itu berarti lebih dari sekadar nomor dua. Itu berarti tak diharapkan.

Ia mengulurkan tangan, meminta bayinya diletakkan di dadanya. Tubuh kecil itu hangat, napasnya tersengal-sengal, tangannya menggenggam udara seolah mencari sesuatu yang tak terlihat. Laras tersenyum samar.

“Kamu Kiandra,” bisiknya, suara hampir tak terdengar. “Namamu Kiandra.”

Nama itu ia pilih sendiri, diam-diam, jauh sebelum malam ini. Nama yang terdengar kuat, meski hidupnya mungkin tak pernah memberinya kesempatan untuk benar-benar kuat.

Di luar kamar, langkah kaki terdengar. Laras menegakkan tubuh sedikit, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia berharap—meski tak berani terlalu—bahwa langkah itu milik Rama, suaminya. Ayah dari bayi ini. Laki-laki yang ia cintai meski dunia terus mengingatkannya bahwa cintanya salah alamat.

Pintu terbuka. Bukan Rama yang masuk.

Dua perempuan berdiri di ambang pintu. Salah satunya berusia sekitar lima puluh, rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi jelas mahal. Tatapannya dingin, mengukur, seperti menilai barang cacat di etalase. Di belakangnya, seorang perempuan lain yang lebih muda berdiri dengan wajah kaku—iparnya Laras, istri dari kakak Rama.

“Sudah lahir?” tanya perempuan tua itu. Suaranya datar, tanpa selamat, tanpa senyum.

“Sudah, Bu,” jawab Laras lirih. Ia memeluk Kiandra lebih erat, seolah tubuh kecil itu bisa menjadi perisai.

Perempuan tua itu melangkah masuk, mendekat ke ranjang. Tatapannya jatuh pada bayi di pelukan Laras, lalu kembali ke wajah Laras dengan ekspresi yang tak berubah.

“Perempuan,” katanya, bukan bertanya.

Laras mengangguk.

Hening jatuh. Hening yang berat, seperti sesuatu yang menunggu untuk dijatuhkan.

“Kami sudah bicarakan ini sejak awal,” ucap perempuan itu kemudian. “Keluarga kami tidak bisa menerima keadaan seperti ini.”

Laras menelan ludah. “Bu… ini cucu Ibu.”

Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mata. “Cucu? Dari rahim siapa? Dari perempuan yang bahkan tak bisa membawa apa pun ke dalam keluarga ini selain masalah?”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, rapi, tepat sasaran. Laras ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia juga manusia, bahwa ia mencintai Rama, bahwa ia berusaha. Tapi semua kalimat itu mati di tenggorokannya. Ia tahu, di ruangan ini, suaranya tidak pernah punya bobot.

“Rama di mana, Bu?” tanyanya akhirnya.

“Rama sedang berpikir,” jawab iparnya cepat, sebelum perempuan tua itu sempat bicara lagi. “Ini berat untuknya.”

Berat. Kata itu berputar di kepala Laras. Yang berat adalah melahirkan sendirian. Yang berat adalah menunggu tanpa kepastian. Yang berat adalah menatap wajah anaknya dan tahu bahwa ia sudah kalah bahkan sebelum sempat berjuang.

“Apa maksud Ibu datang ke sini?” Laras bertanya pelan.

Perempuan tua itu menghela napas, seolah sedang menghadapi urusan yang melelahkan. “Kami datang untuk menyampaikan keputusan keluarga.”

Laras memejamkan mata sebentar. Jantungnya berdentum keras.

“Rama akan tetap bertanggung jawab,” lanjut perempuan itu. “Tapi kamu dan anak itu tidak bisa tinggal di lingkungan kami. Ini bukan tempat untuk… kondisi seperti kalian.”

Kondisi seperti kalian.

Laras membuka mata. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—bukan marah, bukan sedih semata, melainkan campuran dari semuanya. “Ibu mengusir kami?”

“Kami memberi jalan,” jawab perempuan itu dingin. “Kamu bisa kembali ke tempat asalmu. Kami akan membantu secukupnya.”

Laras tertawa kecil, tanpa suara. “Tempat asal saya?” Ia menggeleng pelan. “Saya tidak punya tempat, Bu. Sejak saya menikah dengan Rama, keluarga saya—”

“Justru itu,” potong perempuan tua itu. “Kamu tidak punya apa-apa. Dan kami tidak bisa menerima menantu seperti itu.”

Di pelukan Laras, Kiandra merengek pelan. Suara kecil itu membuat dada Laras sesak. Ia menunduk, menyentuh pipi bayi itu dengan jari gemetar.

“Dengar, Kia,” bisiknya, hampir seperti doa. “Dunia mungkin tidak adil. Tapi Mama akan ada.”

Perempuan tua itu berdehem. “Kami akan mengurus administrasi kepulanganmu besok. Jangan buat ini lebih sulit.”

Langkah kaki mereka menjauh, pintu menutup dengan bunyi pelan yang terdengar seperti palu terakhir.

Laras duduk terdiam lama setelah itu. Hujan di luar semakin deras, seolah ikut meratapi sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Ia menatap dinding putih kamar, mencoba memahami bagaimana hidupnya berubah begitu cepat. Beberapa bulan lalu, ia masih bermimpi tentang rumah kecil yang hangat, tentang Rama yang tersenyum pulang kerja, tentang keluarga yang akhirnya menerima.

Sekarang, ia hanya seorang ibu dengan bayi yang tidak diakui.

Malam itu, Rama datang. Ia berdiri di dekat pintu, ragu-ragu, seolah ruangan itu bukan lagi miliknya. Wajahnya pucat, matanya lelah. Ia tidak mendekat.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Laras menatapnya. Lama. Ia mencari sisa-sisa laki-laki yang dulu berjanji akan melindunginya dari apa pun. Yang ia lihat hanyalah seseorang yang sudah menyerah sebelum benar-benar bertarung.

“Mereka datang,” kata Laras. Suaranya datar.

Rama mengangguk. “Aku tahu.”

“Kamu setuju?”

Rama tidak langsung menjawab. Ia menghela napas, menunduk. “Ini sulit, Ras. Keluargaku—”

“Ini anakmu,” potong Laras. “Ini Kiandra.”

Rama melangkah satu langkah mendekat, menatap bayi itu dengan mata berkaca-kaca. Tapi ia tidak mengulurkan tangan. “Aku akan bertanggung jawab,” katanya pelan. “Aku janji.”

Laras tersenyum pahit. “Bertanggung jawab bagaimana? Dengan uang? Dengan jarak?”

Rama terdiam.

Jawaban itu sudah cukup.

Keesokan paginya, Laras keluar dari rumah sakit dengan sebuah tas kecil, bayi di gendongan, dan dunia yang terasa terlalu besar. Tidak ada mobil keluarga yang menjemput. Tidak ada pelukan perpisahan. Yang ada hanya hujan yang kembali turun, seolah kota itu tak ingin membiarkannya pergi tanpa luka tambahan.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh ke belakang. Rumah sakit itu tampak biasa saja. Tapi di sanalah segalanya berubah. Di sanalah Kiandra lahir, dan di sanalah ia belajar bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membuat seseorang diterima.

“Pegang yang erat, Kia,” bisiknya sambil melangkah. “Kita pulang. Ke mana pun itu.”

Bertahun-tahun kemudian, Kiandra akan tumbuh dengan cerita ini sebagai bayangan yang selalu mengikuti. Ia tidak ingat hujan hari itu, tidak ingat tatapan dingin perempuan tua itu, tidak ingat langkah ragu ayahnya. Tapi semua itu hidup di dalamnya, menjelma amarah yang mudah meledak, keberanian yang keras, dan ketidakpercayaan pada kata keluarga.

Ia akan dikenal sebagai anak yang tidak mudah tunduk. Anak yang tidak menunggu diakui.

Karena sejak hari pertama hidupnya, dunia sudah berkata: kamu tidak kami pilih.

Dan Kiandra belajar menjawabnya dengan caranya sendiri.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!