NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Mula

Azzura dan Azzam sangat bahagia. Liburan kuliah semester ini akhirnya bisa mereka habiskan di tempat kelahiran mereka—rumah lama di Bandung, tepatnya tak jauh dari Pesantren Al-Kautsar.

Tempat itu menyimpan begitu banyak kenangan indah bagi kedua orang tua mereka. Di sanalah Arsyila dan Athar dipertemukan kembali setelah belasan tahun berpisah. Di sana pula Azzam dan Azzura dilahirkan, tumbuh, dan menghabiskan masa kecil yang hangat.

Namun semua berubah ketika Azzam dan Azzura memasuki bangku sekolah menengah atas.

Perusahaan Malik—perusahaan yang kini dipegang Athar—tak lagi bisa ditinggalkan. Masalah datang silih berganti. Mau tak mau, mereka sekeluarga harus pindah ke kota, ke rumah orang tua Athar.

Athar memutuskan fokus penuh mengurus perusahaan. Keputusan itu bukan hal mudah. Bandung adalah rumah baginya—tempat ia mengabdi sebagai guru dan penceramah. Tapi ia tak bisa tenang meninggalkan istri dan kedua anaknya terlalu lama jika ia ke kota.

Setelah pertimbangan matang, mereka benar-benar pindah.

Athar meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan penceramah. Yayasan yang selama ini ia rintis ia titipkan pada orang kepercayaannya, Taufik, dengan sesekali om Arsyila- Angga ikut membantu memantau.

Azzam dan Azzura pun melanjutkan kuliah di kota.

Sesekali Athar mengajari kedua anaknya tentang dunia perusahaan. Dan setiap liburan—atau setidaknya sebulan sekali—mereka selalu menyempatkan diri pulang ke Bandung.

Namun kali ini berbeda.

Setelah menunggu enam bulan penuh, akhirnya Azzam dan Azzura bisa berlibur ke Bandung dengan waktu yang cukup lama.

Kebahagiaan mereka semakin lengkap karena bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad di Pesantren Al-Kautsar.

“Yeaaay!” seru Azzura riang di dalam mobil.

“Aku senang banget akhirnya bisa liburan. Bisa ketemu Kak Ayesha sama Ayza. Aku kangen banget sama mereka.”

Azzam melirik adiknya sambil tersenyum jahil. “Gak kangen sama Abidzar, dek?”

Azzura refleks menoleh, menatap abangnya tajam. “Hei! Mana mungkin aku kangen sama musuhku itu. Tiap ketemu gak pernah akur. Mood-ku rusak terus gara-gara dia.”

Arsyila terkekeh kecil. “Jangan gitu, nak. Abidzar itu anak baik, ganteng lagi.”

“Ehem.”

Athar yang fokus menyetir hanya bisa berdehem. Entah kenapa, tetap saja ada rasa cemburu—padahal Abidzar sudah ia anggap seperti anak sendiri.

“Nah kan!” Azzura bersungut. “Abi aja gak setuju, Umma. Ini malah Umma sama abang kaya mengagung-agungkan Abid!”

“Loh, Umma biasa aja,” jawab Arsyila santai. “Umma cuma ngomong apa adanya, Zura.”

Azzam ikut nimbrung. “Kamu jangan keburu benci. Benci sama cinta itu bedanya tipis, loh.”

“Issshh, abang!” Azzura mendengus. “Dengerin ya. Aku gak akan pernah cinta sama dia. Kalau aku sampai cinta—selama sebulan aku janji gak bakal makan cokelat!”

Arsyila terbelalak.

Athar menahan tawanya.

Azzam menatap adiknya serius. “Kamu serius?”

“SERIUS!” jawab Azzura mantap. “Aku gak akan makan cokelat selama sebulan kalau aku ketauan jatuh cinta sama dia, apalagi sampai nikah. Itu mustahil!”

“Oke,” Azzam mengangguk.

“Abang pegang ucapan kamu.”

“Ya ya ya. Karena itu gak akan pernah kejadian.”

“Kalau kejadian gimana?” Athar menimpali ringan.

“Ih, Abi!”

“Loh, Abi cuma nanya aja, nak.”

Azzura memilih diam. Namun dalam hatinya, ia terus meyakinkan diri—tak mungkin ia akan terpesona pada Abidzar. Meski yang terakhir kali ia lihat, Abidzar sudah banyak berubah.

Tak lama kemudian, mobil Athar tiba di rumah lama mereka.

Bik Lana masih setia bekerja di sana. Wanita itu menyambut hangat dua bayi yang dulu ia gendong, kini telah tumbuh dewasa.

“Assalamu’alaikum, Bibi!” pekik Azzura begitu turun dari mobil, lalu langsung memeluknya.

“Wa’alaikumussalam, Non,” jawab Bik Lana haru.

“Ya Allah, Bibi kangen.”

“Aku juga kangen, Bi. Bibi sehat terus kan?”

“Alhamdulillah, Non. Sehat.”

“Yuk masuk, Bi.”

“Dek, bawa barang-barang kamu dong,” ujar Azzam.

“Abang aja ya. Aku titip,” sahut Azzura cepat. “Bye!”

Azzam hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

Arsyila hendak membantu membawa barang, tapi Athar lebih dulu meraihnya.

“Abang saja. Ade seperti biasa—duduk manis aja, oke?”

Begitulah Athar sejak awal menikah hingga sekarang. Ia tak pernah mengizinkan Arsyila membawa barang berat.

Dan tanpa disadari, Azzam mencontoh sikap itu. Baginya, perlakuan Abi terhadap Umma adalah pelajaran berharga untuk kehidupan rumah tangganya kelak.

Azzura sudah berada di kamarnya—kamar pertamanya.

Ia merebahkan tubuh di atas kasur, menghela napas lega. Rencananya, selepas isya ia akan ke pesantren menemui Kak Ayesha dan Ayza.

Ia meraih ponsel dan menghubungi Ayza.

“Assalamu’alaikum, Ayzaaa.”

“Wa’alaikumussalam, Kak Zura. Kakak sudah sampai ya?”

“Sudah dong. Nanti aku ke ndalem ya. Kamu tunggu aku.”

“Oke, Kak.”

Panggilan terputus.

Azzura lalu meraih sebuah kado kecil—hadiah untuk Ayza. Sebuah bentuk apresiasi atas prestasi Ayza sebagai santriwati berprestasi tahun ini.

Karena bagi Azzura, Ayza adalah adiknya. ia sudah menganggapnya seperti itu.

Hadiah itu juga akan menjadi kenang-kenangan. Kenangan yang kelak akan bermakna lebih dari yang Azzura bayangkan.

***

Malam Maulid Nabi di pesantren itu dipenuhi cahaya.

Lampu-lampu gantung berpendar hangat di sepanjang lorong, sementara lantunan shalawat menggema dari aula utama. Suara rebana berpadu dengan lantang para santri yang bershalawat, menciptakan suasana khidmat sekaligus haru.

Azzura melangkah pelan di lorong asrama putri.

Ia mengenakan gamis nude pink—milik Ummanya dulu. Gamis itu sederhana, jatuh lembut mengikuti tubuhnya, dengan bordir halus di bagian lengan. Entah kenapa, malam itu Ummanya memintanya mengenakan gamis itu.

“Biar berkah,” kata sang Ummi tadi.

Di tangannya, Azzura membawa sebuah kotak kecil berisi hadiah.

Untuk Ayzara.

Adik Abidzar.

Santriwati Tsanawiyah berprestasi. Namanya disebut langsung oleh pengasuh pesantren sore tadi.

"Assalamu'alaikum Umi." Sapa Azzura yang melihat Hafiza baru saja keluar.

"Wa'alaikumussalam, Zura? Ya ampun nak! Kamu makin cantik aja, masya Allah."

"Hehe iya Umi alhamdulillah. Ayza dimana ya?"

"Mungkin di kamarnya... Maaf ya nak, Umi lagi sibuk mau nyari Mas Alif."

"Iya Umi, gapapa kok. Aku ke atas ya, boleh kan?"

"Boleh." Jawab Hafiza sambil tersenyum.

Lalu Azzura melangkah tepat di depan kamar Ayza.

"Aku mau bikin dia kaget," batin Azzura sambil tersenyum.

Ia berhenti tepat di depan kamar Ayzara. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara langkah.

Azzura menahan napas, bersiap menyergap.

Namun— Pintu terbuka lebar.

Bukan Ayzara yang keluar.

Melainkan Abidzar.

Keduanya sama-sama terkejut.

“Zu—!”

“Abid—!”

Abidzar refleks mundur selangkah, tapi kakinya tersandung.

“Astagh—!”

Tubuhnya oleng.

Dalam kepanikan, tangannya mencengkeram apa saja yang bisa diraih—ujung gamis Azzura.

“Abidzar!”

Tarikan itu membuat Azzura kehilangan keseimbangan.

Semua terjadi begitu cepat.

Abidzar jatuh terlentang.

Azzura terjatuh tepat di atas tubuh Abidzar.

Wajah mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

Bahkan—bibir Azzura mendarat di pipi Abidzar.

Hening.

Seolah suara shalawat di kejauhan ikut terdiam.

Mata Azzura membelalak. Wajahnya memerah hebat.

Abidzar membeku, napasnya tertahan.

“A—aku—” Azzura mencoba bangkit dengan panik.

Namun sebelum mereka sempat berdiri—

“Astagfirullah!"

Suara itu datang dari arah tangga.

Azzura dan Abidzar menoleh bersamaan.

Di sana berdiri Gus Alif dan Hafiza—abah dan umi Abidzar yang baru saja naik menuju lantai atas.

Langkah mereka terhenti.

Tatapan mereka membeku pada pemandangan di depan mata.

Azzura tersadar sepenuhnya.

Ia segera bangkit, mundur beberapa langkah, nyaris tersandung gamisnya sendiri.

“Abah, umi!” ucapnya gugup.

“Bukan—bukan seperti yang kalian pikirkan!”

Abidzar juga berdiri, wajahnya tegang. “Abah… umi… tadi aku jatuh. Gak sengaja narik gamis Zuya.”

“Iya, umi,” Azzura menyela cepat, suaranya bergetar.

“Aku beneran gak tau kalau yang keluar dari kamar Ayza itu Abidzar. Aku kira Ayza. Aku mau ngagetin dia, umi. Demi Allah, aku gak—”

“Cukup.”

Suara Gus Alif tegas. Tidak keras, tapi cukup membuat Azzura langsung terdiam.

Lorong terasa semakin sunyi.

“Apa yang kalian lakukan barusan,” lanjut Gus Alif, menatap lurus ke arah Abidzar, “tidak pantas.”

“Abah, aku—”

“Kamu tau betul adab di pesantren ini, Abid,” potong Gus Alif.

“Kamu anak abah. Kamu cucu seorang kyai.”

Hafiza melangkah maju perlahan. Matanya berkaca-kaca.

“Zura,” ucapnya lembut tapi berat, “Umi tidak menuduh. Tapi apa yang kami lihat barusan… itu sudah melewati batas.”

Azzura menunduk dalam-dalam. Tangannya gemetar.. "Umi… aku minta maaf. Aku benar-benar gak niat.”

“Umi tau kamu anak baik,” jawab Hafiza lirih. “Tapi niat baik tidak menghapus akibat.”

Hafiza menoleh ke arah Abidzar. “Kamu juga salah, Abid. Sekalipun itu tidak disengaja.”

Abidzar mengangguk mantap. “Iya, umi. Aku siap bertanggung jawab.”

Kata itu membuat Azzura mendongak. “Abidzar—”

Gus Alif menarik napas panjang. “Perkara ini tidak bisa kita selesaikan dengan anggapan ‘tidak sengaja’ saja,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Ini terjadi di malam Maulid. Di lingkungan pesantren. Dan dilihat oleh kami.”

Hafiza menggenggam tangan Azzura. “Kita harus bicarakan ini dengan orang tua kamu, Zura.”

Wajah Azzura langsung pucat. “Umi… tolong…”

“Ini bukan hukuman,” Hafiza menatapnya penuh iba. “Ini tentang menjaga marwah. Tentang tanggung jawab.”

Abidzar melangkah setengah langkah ke depan. “Aku tidak akan lari dari apa pun,” katanya tegas. “Apa pun keputusan Abah dan Umi, aku terima.”

Gus Alif mengangguk pelan. “Baik,” ucapnya. “Setelah acara Maulid selesai, kita panggil orang tua Zura. Malam ini juga.”

Azzura menggigit bibirnya, menahan gemetar.

Di kejauhan, lantunan shalawat kembali menguat.

Malam Maulid itu tetap berjalan seperti biasa bagi semua orang.

Namun bagi Azzura—Malam itu menjadi awal dari takdir yang tidak pernah ia rencanakan.

Takdir yang akan mengikat namanya dengan Abidzar.

Untuk selamanya.

1
syora
akhamdulillah
lain kali didgr omongan istri abidz
aduhhhh bikin pingin ngetos tuh kpla
Nifatul Masruro Hikari Masaru
dasar abid dimarahin tambah seneng merasa diperhatikan sama zuya
cutegirl
abidz emg paling bisa ya🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid kalo sakit pengen dimanja
Nifatul Masruro Hikari Masaru
pawang yang galak dan cerewet
syora
sama sama menikmati nikmat Allah zuya abidz,kpn lg kalian sm" luruhkan ego demi kharmonisan pasangan🤭
Alana kalista
azzura galak nya 😌
Fegajon: galak demi kebaikan 🤭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!