NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Baskara mematung di sisi ranjang, menatapku yang terbaring tak berdaya dengan napas yang terasa panas dan berat. Untuk beberapa detik, ruangan itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan embusan napas pasrahku. Aku bisa merasakan tatapannya—tatapan yang kini tidak lagi tajam, melainkan hambar dan penuh kekosongan yang mengerikan.

Ia tidak mengambil ponsel atau meminta password data itu lagi. Tangannya yang tadi mengepal kini terkulai lemas di samping tubuhnya.

"Bas, ambil apa yang kamu mau dan pergi. Aruna butuh istirahat," suara Danesha memecah keheningan, nadanya masih dingin dan tak bersahabat.

Baskara menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar sangat sesak. Ia memalingkan wajah, seolah tidak sanggup lagi melihat wajah pucatku yang basah oleh keringat dingin. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik. Langkah kakinya yang tadi menghentak tegas saat datang, kini terdengar berat dan menyeret.

"Lupakan soal datanya. Aku akan menyelesaikannya sendiri," ucapnya rendah, suaranya parau nyaris hilang sebelum ia melangkah keluar dari kamar.

Aku mendengar pintu depan apartemen tertutup dengan bunyi dentum pelan. Begitu ia pergi, udara di kamar ini terasa sedikit lebih lega, namun hatiku justru merasa semakin kosong.

Di luar, di koridor apartemen yang sepi, Baskara menyandarkan punggungnya ke dinding lift yang dingin. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau bayangan Aruna yang ringkih di atas ranjang tadi. Amarah yang ia pupuk selama setahun ini mendadak terasa hambar. Ia datang untuk menghakimi, untuk membuktikan bahwa Aruna hanya sedang bersandiwara, namun yang ia temukan justru sisa-sisa kehancuran yang ia sendiri ikut andil di dalamnya.

Ia merogoh sakunya, menyentuh pulpen perak pemberian Aruna yang selalu ia bawa. Dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tumpul. Selama ini ia berpikir bahwa dialah satu-satunya korban, dialah yang paling menderita. Namun melihat kondisi Aruna tadi, Baskara menyadari bahwa mereka berdua hanyalah dua orang yang sama-sama tersesat dalam labirin kesalahan masa lalu.

Ia masuk ke dalam mobilnya, namun tidak segera menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Perasaannya jauh lebih kacau daripada saat Aruna menghilang setahun lalu. Dulu ia hanya punya luka, tapi sekarang, ia punya rasa bersalah karena telah memaki seseorang yang ternyata sudah hancur lebih dulu darinya.

Baskara memukul setir mobilnya dengan frustrasi. "Sial," desisnya lirih, sementara setitik air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

Danesha menghela napas panjang setelah suara lift yang membawa Baskara menjauh tak lagi terdengar. Ia kembali ke kamar, merapikan selimutku yang berantakan dengan gerakan lembut. Wajahnya masih menyiratkan sisa kekesalan, namun matanya memancarkan rasa iba yang dalam.

"Na, aku harus berangkat ke kantor sekarang. Ada meeting pagi yang nggak bisa ditinggal," ucap Danesha sambil mengusap keningku yang masih terasa membara. "Tapi tenang saja, aku bakal pulang cepat. Paling lambat jam dua siang aku sudah sampai sini lagi buat jagain kamu."

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Tenggorokanku terlalu sakit untuk mengeluarkan suara.

"Bubur sama obatnya sudah aku taruh di nakas. Kalau panasnya nggak turun juga, atau kamu butuh apa-apa, langsung telepon aku ya? Jangan dipaksakan bangun kalau pusing," pesannya lagi. Ia meletakkan segelas air putih di samping tempat tidurku.

"Makasih... Dan," lirihku parau.

"Sama-sama. Istirahat yang bener, Aruna. Jangan mikirin Baskara dulu, jangan mikirin kantor. Fokus sembuh," Danesha mengecup keningku sekilas sebelum menyambar tas kerjanya dan melangkah keluar kamar.

Bunyi pintu apartemen yang terkunci rapat meninggalkan aku dalam kesunyian yang mencekam. Apartemen ini mendadak terasa terlalu luas dan dingin. Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan pikiranku melayang pada raut wajah Baskara tadi. Tatapan matanya yang hancur saat melihatku... apakah itu rasa kasihan? Ataukah dia menyesal telah memaki seseorang yang sudah tidak punya tenaga lagi untuk membela diri?

Aku meraih ponsel di samping bantal, berniat mematikannya agar tidak terganggu. Namun, sebuah notifikasi masuk membuat jantungku berdesir hebat.

Bukan dari Danesha. Bukan pula dari Pak Hendra.

Baskara: "Jangan lupa makan buburnya. Aku sudah minta Danesha untuk tidak mengunci pintu balkon agar udara segar masuk. Istirahatlah, Aruna. Soal revisi... biarkan aku yang menyelesaikannya. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun hari ini."

Air mataku jatuh tanpa permisi. Di balik semua kata-kata kasarnya semalam, di balik kemarahan yang meluap-luap di parkiran, Baskara masih orang yang sama. Pria yang akan selalu memastikan aku baik-baik saja, bahkan saat aku adalah orang yang paling menyakitinya.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!