Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Luka yang Tak Terlihat
Mereka berjalan dalam keheningan selama satu jam penuh.
Lin Feng berada di depan, menggunakan tombak kayunya untuk mengetuk tanah dan menyingkirkan semak-semak yang menghalangi jalannya. Sementara Yue Lian mengikuti di belakang, matanya terus waspada memperhatikan kemungkinan serangan dari samping maupun belakang.
Kabut masih menggantung tebal, meskipun matahari telah naik cukup tinggi. Dari waktu ke waktu, Lin Feng mengeluarkan sebuah giok kecil, meneliti isinya dengan saksama untuk memastikan mereka tetap berada di jalur yang benar menuju Kota Qingshui.
“Kau punya peta?” tanya Yue Lian saat melihat Lin Feng untuk kesekian kalinya memeriksa giok itu.
“Giok informasi berisi peta wilayah,” jawab Lin Feng singkat. “Kudapatkan di… tempat tua.”
Ia tidak merasa perlu menyebutkan bahwa giok itu ia curi dari akademi.
“Beruntung,” komentar Yue Lian. “Tanpa peta, seseorang pasti bisa tersesat dan berputar-putar di hutan ini sampai berminggu-minggu.”
Lin Feng mengangguk tipis, lalu mengganti topik pembicaraan nya. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan kelompokmu? Kau bilang kalian terpisah karena kabut?”
Yue Lian menghela napas panjang. “Ya. Kami berlima masuk ke hutan ini kemarin pagi untuk mencari Teratai Cahaya Bulan, setelah itu kami menemukan satu area yang cukup bagus. Tapi saat sedang memanen, kabut tiba-tiba menebal.”
Ia berhenti sejenak, nadanya menjadi lebih serius. “Kabut itu tidak alami. Rasanya seperti ada yang mengendalikannya.”
“Binatang buas?” tanya Lin Feng.
“Mungkin. Atau formasi alam yang tiba-tiba aktif.” Yue Lian mengangkat bahunya. “Yang jelas, kami terpisah. Aku mencoba mencari mereka, tapi malah bertemu dengan anggota Klan Langit Biru. Kalau bukan karena kamu…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, dan tidak perlu. Keduanya tahu bagaimana akhirnya jika Lin Feng tidak muncul.
“Kelompokmu kemungkinan besar menuju Kota Qingshui,” kata Lin Feng. “Itu tempat paling masuk akal untuk berkumpul kembali.”
“Aku harap begitu.” Kekhawatiran jelas terdengar dalam suara Yue Lian. “Salah satu dari mereka adalah adikku, Yue Chen. Kultivasinya baru di Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Kelima. Jika dia bertemu dengan…”
“Dia akan baik-baik saja,” potong Lin Feng, suaranya terdengar yakin meskipun perasaannya tidak sepenuhnya demikian. “Jika kalian berlima masuk bersama, berarti mereka bukan pemula. Mereka tahu cara bertahan hidup.”
Yue Lian terdiam sejenak lalu tersenyum kecil. “Kau cukup pandai menghibur orang. Tapi kamu seperti orang penyendiri.”
Lin Feng cuman tersenyum. “Aku bukan penyendiri. Hanya lebih nyaman sendirian.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu sederhana, namun bobotnya terasa berat.
Lin Feng tidak langsung menjawab. Ia memikirkan cara menjawab tanpa membuka terlalu banyak tentang dirinya.
“Karena dunia kultivasi berbahaya,” ujarnya akhirnya. “Semakin banyak orang yang kau percaya, semakin banyak pula yang berpotensi mengkhianatimu.”
“Aku mengerti maksud mu. Aku juga pernah dikhianati.”
Lin Feng melirik ke belakang karena terkejut. Yue Lian tidak terlihat seperti seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan.
“Oleh siapa?”
“Teman masa kecilku.” Suara Yue Lian melembut. “Kami tumbuh bersama di kuil. Berlatih bersama. Bersumpah untuk saling melindungi. Tapi saat aku hampir menembus Ranah Pembentukan Fondasi… dia meracuniku dan hampir membunuhku.”
“Kenapa?”
“Karena iri.” Yue Lian tertawa pahit. “Kemajuanku lebih cepat darinya. Dia tidak bisa menerimanya.”
Ia menarik napas. “Untungnya, tetua kuil menemukanku tepat waktu. Dia dieksekusi dan Aku selamat, tapi fondasiku sedikit rusak. Itulah sebabnya aku masih berada di Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Kesembilan meskipun sudah bertahun-tahun.”
Lin Feng kini mengerti kenapa kekuatan Yue Lian begitu kuat untuk seorang kultivator di Ranah Pengumpulan Qi. Seharusnya, ia sudah lama melangkah ke Ranah Pembentukan Fondasi.
“Aku turut menyesal mendengarnya,” kata Lin Feng tulus.
“Tidak apa-apa. Itu sudah lama berlalu.” Yue Lian tersenyum. “Setidaknya aku belajar satu hal, tidak semua orang yang tersenyum pada kita adalah teman.”
“Tapi kau masih percaya pada orang lain,” ujar Lin Feng. “Kau percaya padaku, padahal kita baru bertemu.”
“Karena kau menyelamatkan nyawaku tanpa meminta imbalan apa pun,” jawab Yue Lian sederhana. “Orang dengan niat jahat tidak akan melakukan hal seperti itu.”
Atau mungkin aku hanya bodoh, pikir Lin Feng. Terlalu terikat pada masa lalu, hingga tidak sanggup membiarkan seseorang dalam bahaya tanpa membantu.
Namun ia tidak mengatakannya dengan suara keras.
Menjelang tengah hari, mereka berhenti dan beristirahat di tepi sungai kecil.
Yue Lian mengisi botol airnya, sementara Lin Feng mencoba menangkap ikan, kali ini dengan hasil yang lebih baik berkat indra spiritualnya yang semakin tajam. Dua ekor ikan berhasil ia dapatkan hanya dalam sepuluh menit.
“Kau pandai berburu,” komentar Yue Lian sambil mengamati.
“Kebiasaan,” jawab Lin Feng sambil membersihkan ikan dengan pisau batu. “Hidup sendirian cukup lama membuat seseorang belajar banyak hal.”
“Kultivator bebas memang harus serba bisa.” Yue Lian mengeluarkan beberapa bumbu dari kantong penyimpanannya, garam dan rempah kering. “gunakan ini. Ikan tanpa bumbu rasanya hambar.”
Lin Feng menerimanya dengan ragu. “Kau yakin? Persediaanmu...”
“Masih cukup.” Yue Lian memotong. “Dan kau menyelamatkan nyawaku. Setidaknya aku bisa berbagi bumbu, hehe.”
Mereka memanggang ikan di atas api kecil yang Lin Feng nyalakan dengan Qi apinya. Aroma ikan berbumbu segera menyebar, membuat perut Lin Feng berbunyi pelan.
Yue Lian tertawa. “Kapan terakhir kali kamu makan?”
“Kemarin,” jawab Lin Feng sambil membalik ikan. “Tapi tanpa bumbu.”
“Pantas saja kau terlihat kurus,” ujar Yue Lian sambil menatapnya lebih teliti. “Dan luka-luka di tubuhmu… itu...”
Lin Feng refleks menarik lengan bajunya yang robek, menutupi bekas luka akibat tribulasi. “Diserang binatang buas beberapa hari lalu.”
“Binatang buas apa yang bisa melukai kultivator Pembentukan Fondasi sepertimu?”
Pertanyaan itu tajam. Lin Feng harus berpikir lebih cepat.
“Beruang Cakar Petir,” jawabnya, tapi itu berbohong. “Tingkat tinggi. Aku menang tapi terluka.”
Yue Lian mengernyit. “Beruang Cakar Petir di hutan ini? Aneh, Kukira mereka hanya hidup di pegunungan utara.”
“Ouh, Mungkin bermigrasi,” Lin Feng segera menimpali. “Atau mungkin kabut membawa mereka kemari.”
Yue Lian tampak belum sepenuhnya yakin, tapi ia tidak mendesak lebih lanjut. “Kau harus lebih berhati-hati. Luka seperti itu bisa berbahaya jika tidak dirawat.”
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantong penyimpanannya. “Ini salep penyembuhan dari kuil. Tidak sekuat pil, tapi cukup untuk mempercepat pemulihan dan mencegah infeksi.”
Lin Feng menatap botol itu ragu. “Aku tidak bisa...”
“Terima saja,” potong Yue Lian tegas. “Kau menyelamatkan nyawaku. Aku memberimu salep. Jadi kita impas.”
Setelah ragu sejenak, Lin Feng akhirnya menerimanya. “Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Mereka makan dalam keheningan yang terasa nyaman. Ikan berbumbu itu jauh lebih lezat dari yang Lin Feng bayangkan, rasa asin dan rempahnya membuat setiap gigitan terasa seperti hidangan mewah.
“Enak,” ucap Lin Feng jujur.
“Tentu saja.” Yue Lian tampak bangga. “Resep keluarga. Ibuku yang mengajarkannya sebelum aku masuk kuil.”
“Kau masih punya keluarga di luar kuil?”
“Dulu.” Ekspresi Yue Lian meredup. “Mereka meninggal saat aku berusia sepuluh tahun. Desa kami diserang gerombolan binatang buas. Aku satu-satunya yang selamat karena seorang tetua kuil kebetulan lewat dan menyelamatkanku.”
“Aku turut berduka,” kata Lin Feng pelan.
“Sudah lama.” Yue Lian menatap api unggun. “Enam belas tahun lalu. Tapi kadang kenangan itu masih muncul. Ibuku yang memasak dan Ayahku yang tertawa..”
Keheningan menyelimuti mereka. Lin Feng memahami perasaan itu lebih dalam dari yang Yue Lian duga.
“Aku juga kehilangan keluargaku,” kata Lin Feng tiba-tiba, bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
Yue Lian menatapnya lembut. “Kapan?”
“Sepuluh tahun lalu. Dibunuh oleh sekelompok kultivator bertopeng.” Kata-kata itu mengalir lebih mudah dari yang ia kira. “Aku bersembunyi. Mendengar teriakan mereka. Tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Lin Feng…” Yue Lian mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh bahunya, tapi berhenti di tengah jalan. “Kau tidak salah karena bertahan hidup.”
“Aku tahu.” Lin Feng menatap kedua tangannya, tangan yang dulu terlalu lemah untuk memegang pedang, kini mampu memanggil Qi sembilan elemen. “Tapi aku bersumpah suatu hari aku akan menemukan mereka. Dan membalas semuanya.”
“Apa kau punya petunjuk?”
“Tidak.” Lin Feng menggelengkan kepalanya “Mereka memakai topeng. Tapi aku ingat satu hal, lambang di jubah mereka. Seekor naga melingkar.”
Yue Lian terdiam. Wajahnya sedikit berubah.
“Ada yang salah?” tanya Lin Feng.
“Naga melingkar…” Yue Lian menggigit bibirnya. “Itu bisa merujuk pada banyak klan. Banyak yang menggunakan naga sebagai simbol. Tapi yang paling terkenal adalah…”
“Klan Langit Biru,” Lin Feng menyelesaikannya dengan dadanya terasa sesak.
Yue Lian mengangguk perlahan. “Mereka dan klan bawahan mereka memakai simbol naga merah. Tapi itu belum tentu mereka. Banyak klan lain juga...”
“Tapi ada kemungkinan,” potong Lin Feng, pikirannya berputar cepat. Apa mungkin… apa mungkin merekalah yang membunuh keluargaku sepuluh tahun lalu?
💪💪💪💪