NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sandiwara yang Sempurna

​Siang itu, rak-rak supermarket kelas atas yang tertata rapi menjadi saksi sebuah pertemuan yang tidak terelakkan. Gendis berjalan dengan ritme yang anggun, mendorong troli belanjaan dengan satu tangan.

Ia mengenakan kemeja katun putih yang pas di tubuh, memancarkan aura profesional yang bersih, dipadukan dengan rok jeans selutut yang menonjolkan kesan chic namun tetap berkelas. Rambut hitam panjangnya yang bergelombang jatuh dengan sempurna di bahunya, seolah baru saja keluar dari salon ternama.

​Ia sedang memilih teh hijau organik saat sosok yang sangat ia kenali melangkah masuk ke lorong yang sama. Cindy. Pakaiannya kontras sekali dengan Gendis, ia mengenakan tank top ketat yang terlalu terbuka dan riasan wajah yang berlebihan, sangat tidak cocok untuk suasana belanja siang hari.

​Melihat Gendis yang begitu tenang, kemarahan Cindy kembali tersulut. Ia masih ingat bagaimana ia mempermalukan Gendis dengan menumpahkan minuman di acara perbankan tapi istri dah Indra itu bahkan tidak terpancing sana sekali dan bagaimana ia mengirimkan video-video vulgar itu ke ponsel Gendis. Namun, Gendis tidak menunjukkan satu pun tanda-tanda kehancuran.

​Ini saatnya, batin Cindy. Ia sengaja menabrakkan dirinya ke arah troli Gendis hingga sedikit bergeser, lalu berdiri tepat di hadapan Gendis, menghalangi jalannya.

​"Wah, wah. Jadi ini nyonya rumah yang sombong itu? Masih bisa belanja dengan tenang setelah melihat apa yang kuberikan padamu?" tanya Cindy dengan nada yang dibuat-buat tajam.

​Gendis berhenti, meletakkan kotak tehnya dengan perlahan ke dalam troli. Ia menatap Cindy sejenak, lalu memiringkan kepalanya dengan tatapan bingung yang sangat natural, seolah sedang melihat orang asing di jalanan.

​"Maaf, apa kita pernah bertemu? Kamu siapa ya? Apa aku mengenalmu?" tanya Gendis dengan suara yang datar dan sopan, seolah ia sedang bertanya pada seorang kasir yang salah memberikan kembalian.

​Cindy ternganga. "Jangan pura-pura bodoh! Aku Cindy! Wanita yang tidur dengan suamimu, Indra! Video yang kukirimkan padamu semalam, video kami berdua di apartemen, kamu pasti sudah melihatnya, kan?"

​Gendis tetap tenang. Ia bahkan tidak menunjukkan riak marah atau cemburu. Ia hanya mengangguk-angguk perlahan, wajahnya menunjukkan ekspresi paham yang dibuat-buat. "Astaga, apakah benar itu kamu? Tapi sepertinya kamu salah kirim lagipula aku yakin suamiku tidak berselingkuh di belakangku, dia amat mencintaiku," Lanjut Gendis dengan wajah seolah-olah sedang berpikir.

​Cindy tersenyum puas, mengira Gendis akhirnya retak. Namun, Gendis melanjutkannya lagi dengan suara yang tenang dan menyayat harga diri Cindy

"Dan jika memang kamu mengirimkan sesuatu ke nomor itu, sepertinya kamu melakukan kesalahan besar, Nona. Nomor yang kamu tujukan untuk mengirim pesan itu adalah nomor asisten pribadiku untuk urusan kantor. Dia biasanya tidak meneruskan pesan-pesan tidak penting atau sampah semacam itu kepadaku. Tapi dia akan langsung memprosesnya secara hukum jika itu mengganggu."

​Gendis mendekat selangkah, menatap Cindy dengan tatapan yang merendahkan namun tetap anggun. "Dan jujur saja, aku tidak melihat video apa pun. Jadi, video vulgar apa yang kamu maksud? Apakah itu video semacam film murahan yang biasa kamu mainkan di klub tempatmu bekerja? Melihat penampilanmu sepertinya kau bekerja di tempat seperti itu kan? Aku tidak salah tebak?"

​Cindy membeku. Wajahnya yang penuh riasan perlahan berubah pucat pasi. Ia menyadari konsekuensi dari apa yang baru saja ia dengar. Jika video itu sampai ke tangan asisten Gendis... dan bukan ke Gendis langsung...

​"Ke-kenapa kamu..." Cindy gagap, nyalinya yang tadi meluap kini menciut menjadi butiran debu.

​Gendis tidak menunggu jawaban. Ia hanya menepuk bahu Cindy dengan ringan, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil yang tersesat.

"Saran saya, lain kali periksa kembali nomor yang kamu tuju. Dan kalau boleh jujur, saya tidak punya waktu untuk drama orang asing yang tidak berpendidikan. Permisi."

​Gendis melangkah pergi menuju kasir dengan kepala tegak, meninggalkan Cindy yang masih berdiri mematung di lorong supermarket.

​Di dalam hati, Gendis tertawa terbahak-bahak. Betapa bodohnya, pikirnya. Cindy benar-benar perempuan yang hanya mengandalkan tubuh tanpa otak. Dengan kepanikannya sendiri, Cindy justru baru saja mengakui perzinahannya secara verbal dan memberikan alasan yang sangat mudah bagi Gendis untuk memproses bukti itu ke ranah hukum.

​Sambil mengeluarkan kartu kreditnya di kasir, Gendis melihat bayangan Cindy di kaca pantul supermarket—wanita itu tampak gemetar, meraba-raba ponselnya dengan panik, mungkin sedang memikirkan bagaimana cara menghapus jejak pesan itu dari nomornya.

Gendis tahu, kepanikan itu akan membuat Cindy melakukan kesalahan yang jauh lebih besar lagi. ​Kamu tidak selevel denganku, Cindy, batin Gendis penuh kemenangan. Kamu hanya pion yang tidak sadar bahwa kamu sedang berada di papan catur yang salah.

​Setelah menyelesaikan pembayarannya, Gendis keluar dari supermarket dengan langkah ringan. Ia tahu bahwa sebentar lagi, Indra pun akan merasakan ketakutan yang sama dengan Cindy. Rencananya untuk hari ulang tahun pernikahan mereka di mana ia akan meledakkan semua bukti ini ke dewan direksi dan publik semakin mendekati hari eksekusi.

1
Agus Tina
up
Agus Tina
Bagus ceritanya selalu suka dengan cerita yg karakter wanitanya kuat
..
Agus Tina
Kalau di cerita pelajor banyak yg kalah dan menuai karma, tapi kenapa kalau di kenyataan justru sebaliknya banyak istri sah yg kalah dari pelakor, dibuang, justru pelakor semakin bersinar, bahagia dan mendqpatkan pembelaab.
Ruby Jingga
guys aku up maleman ya hari ini banyak lembur di real life🙏
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!