NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:99k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pagi itu desa masih diselimuti embun tipis. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa, memancarkan cahaya hangat yang lembut di hamparan sawah hijau. Udara terasa bersih, berbeda jauh dari hiruk-pikuk kota.

Erza dan Elora berlari kecil di pematang sawah, sepatu mereka sedikit kotor, tapi wajah mereka berseri-seri.

“Mommy! Lihat!” seru Elora sambil menunjuk ke langit.

Sekawanan burung pipit terbang rendah, berputar-putar di atas sawah, lalu hinggap sebentar sebelum kembali mengepakkan sayap.

“Mommy, burung-burung itu punya Pak Tani, ya? Banyak sekali!” tanya Erza penuh kekaguman.

Azalea tersenyum lembut. Ia membetulkan rambut Elora yang tertiup angin pagi. “Bukan, Sayang. Mereka burung liar. Bebas. Tidak ada pemiliknya.”

Erza menatap burung-burung itu lama. “Kalau kita tangkap, boleh?”

Azalea menggeleng pelan. “Sebaiknya jangan. Kasihan burungnya. Biarkan mereka hidup bebas.”

“Kenapa?” Elora memiringkan kepala.

“Karena mereka diciptakan untuk terbang, bukan dikurung. Lagi pula kamu belum tentu bisa merawatnya. Nanti burungnya sakit atau sedih.”

“Dosa, ya, Mom?” tanya Elora polos.

Azalea mengangguk. “Iya. Kita harus sayang sama semua makhluk hidup.”

Enzo yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum tipis. Sudah lama sekali ia tidak menikmati pagi seperti ini. Selama bertahun-tahun hidupnya diisi rapat panjang, laporan keuangan, sidak proyek, dan keputusan-keputusan besar yang tak boleh salah. Di desa ini, ia merasa seperti pria biasa, bukan pewaris perusahaan besar, bukan direktur utama, hanya seorang ayah yang menemani anak-anaknya melihat burung.

Enzo memandang Azalea dari belakang. Perempuan itu berjalan sederhana dengan sandal jepit dan jilbab yang ujungnya berkibar pelan. Entah mengapa, hatinya terasa damai.

Setelah puas berjalan-jalan, mereka kembali ke rumah untuk mandi dan sarapan. Selesai makan, Erza membuka lemari bufet tua di ruang tengah. Di dalamnya tersimpan album-album foto lama yang sampulnya sudah menguning.

“Mommy, ini foto siapa?” tanya Erza sambil menunjukkan foto pasangan suami-istri yang tersenyum ke arah kamera.

Azalea mendekat, duduk di samping mereka. “Itu orang tua Mommy.”

“Berarti kakek dan nenek?” Erza memastikan.

Azalea mengangguk.

Elora tak mau kalah. Ia menunjuk foto bayi perempuan yang tengkurap dengan pipi tembam. “Kalau ini?”

“Itu Mommy Jasmine waktu umur delapan bulan.”

Elora membulatkan mata. “Mommy Jasmine kecil lucu sekali.”

Azalea tersenyum, tapi hatinya mencelos. Melihat wajah kakaknya dalam versi bayi seperti itu selalu membuatnya ingin kembali ke masa lalu, ke masa di mana semuanya masih utuh.

Album demi album dibuka. Foto-foto masa kecil, remaja, hingga dewasa. Erza dan Elora terlihat begitu antusias.

“Tebak ini siapa?” Azalea menunjuk foto seorang gadis muda yang sedang menggendong bayi laki-laki.

Elora langsung mengerutkan dahi. “Mommy punya bayi?”

Azalea menahan tawa. “Ini bukan bayi Mommy. Masa kalian tidak tahu siapa bayi ini?”

Erza dan Elora saling pandang, lalu menggeleng bersamaan.

“Ini Kak Erza waktu masih bayi. Ini pertama kali kamu dibawa ke rumah ini.” Azalea menunjuk gadis muda di foto itu. “Yang gendong kamu itu Mommy. Dan yang memfoto… Mommy Jasmine.”

Erza terdiam, lalu tertawa kecil. “Wah, kok aku lupa sama wajah sendiri.”

“Karena kamu masih bayi, Kak,” Elora menyahut sok bijak.

“Kalau aku mana, Mom?” Elora bertanya penuh semangat.

Senyum Azalea perlahan memudar. Dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Hari kelahiran Elora adalah hari kematian Jasmine. Yang pulang ke kampung waktu itu bukan seorang ibu yang tersenyum menggendong bayi, tapi sebuah peti jenazah.

“Hmmm ....” Azalea menelan ludah. “Adanya foto kamu masih di dalam perut.”

Azalea membuka lembar lain. Foto Jasmine dengan perut membesar, senyumnya tipis tapi penuh harap.

“Ini Mommy Jasmine waktu hamil kamu. Di dalam perut itu ada kamu.”

Elora memandangi foto itu lama. Tangannya kecilnya menyentuh perut dalam gambar. “Aku ada di dalam perut,” gumamnya pelan.

Hati Azalea terasa tersayat ketika Elora mengusap-usap dan mencium foto itu dengan polos. Ada cinta yang begitu tulus, meski mereka tak punya cukup kenangan bersama.

Di sudut ruangan, Enzo duduk membeku. Ia tak sanggup mendekat. Melihat wajah Jasmine, walau hanya lewat foto, membuat dadanya sesak. Rasa bersalah, rindu, dan kehilangan bercampur menjadi satu.

Di rumahnya di kota, hanya ada satu foto Jasmine yang ada di ruang kerjanya. Ia sengaja tak memasang foto lain. Ia tak tahu apakah itu bentuk menghormati atau justru bentuk melarikan diri. Dan kini, melihat anak-anaknya menatap wajah ibu mereka dengan penuh kagum, hatinya retak perlahan.

Siang hari, acara syukuran pernikahan Azalea dan Enzo digelar sederhana di halaman rumah. Tikar digelar, kursi plastik disusun rapi, aroma masakan kampung memenuhi udara.

Warga berdatangan. Ada yang tersenyum tulus, ada yang berbisik-bisik penasaran. Kini mereka tahu, Azalea menikahi mantan kakak iparnya. Namun, tatapan itu perlahan berubah ketika mereka melihat bagaimana Erza dan Elora menempel pada Azalea, memanggilnya “Mommy” dengan begitu alami.

“Lea memang perempuan kuat,” bisik salah satu warga.

“Anak-anak itu kelihatan sayang sekali sama dia,” sahut yang lain.

Acara berlangsung khidmat. Doa dipanjatkan. Enzo menggenggam tangan Azalea sejenak, memberi isyarat bahwa ia ada di sisinya.

Azalea merasa pernikahannya tidak lagi diselimuti bisik-bisik. Ia merasa diterima.

Perjalanan pulang ke kota dipenuhi celotehan tak henti. Terutama dari Erza dan Elora.

“Mommy, kapan lagi kita ke kampung?” tanya Elora sambil memeluk boneka kecilnya.

“Hmmm… kapan, ya?” Azalea tersenyum sambil menoleh ke belakang. “Kita lihat nanti, ya.”

“Aku senang sekali liburan ke kampung,” kata Erza jujur.

“Aku juga suka!” seru Elora.

Erza menambahkan, “Ternyata kampung tidak seburuk kata Oma. Apalagi waktu lihat bebek jalan rame-rame terus nyebur ke sungai. Seru pokoknya!”

Elora tertawa terbahak. “Dan waktu Kak Erza hampir jatuh ke lumpur!”

“Hei! Itu karena kamu dorong!” balas Erza protes.

Mobil dipenuhi tawa. Enzo mengemudi sambil sesekali tersenyum mendengar mereka.

Azalea menatap anak-anak itu lewat kaca spion. Hatinya hangat, tapi juga perih. Perjalanan ini bukan hanya tentang pulang kampung. Ini tentang menyatukan masa lalu dan masa kini tanpa saling menghapus.

“Tiga hari lagi mulai Ramadan,” ujar Azalea lembut. “Kalian mau belajar puasa?”

Erza langsung duduk tegak. “Mau!”

Elora ikut mengangguk semangat. “Aku juga mau! Walau setengah hari dulu.”

Enzo terkekeh pelan. “Puasa itu bukan cuma menahan lapar, ya.”

“Menahan marah juga,” sahut Azalea.

Erza tersenyum kecil. “Kalau dulu aku sering marah.”

Azalea menoleh penuh kasih. “Sekarang sudah jauh lebih baik.”

Erza menunduk. “Karena Mommy ajarin.”

Hening sejenak memenuhi mobil. Kalimat sederhana itu membuat mata Azalea panas. Ia sadar, mungkin ia tak pernah melahirkan mereka. Tapi di antara tawa, doa, dan luka yang dibagi bersama, mereka sedang membangun sesuatu yang lebih kuat dari sekadar ikatan darah.

Dan di bawah langit sore yang mulai berubah jingga, keluarga kecil itu melaju pulang membawa kenangan kampung, membawa bayang-bayang Jasmine, dan membawa cinta yang tidak pernah benar-benar hilang.

1
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Naufal Affiq
mertua gak punya hati,gak semua wanita dari kampung itu kerjanya merusak rumah tangga orang,jadi jangan sama kan dengan ayah,kakek mu yang selingkuh sama pembantunya lho
ken darsihk
Dan kecelakaan itu mengharuskan mami Elsa mendapatkan transfusi darah , akhir nya Azalea maju untuk me donor kan darah nya
Lisa
Moga dgn kecelakaan itu Mami Elsa jadi sadar dr kesombongannya
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!