Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Hukum Malam Abadi
Surga Kedua - Alun-Alun Utama Kota Roda Besi.
Api penaklukan masih menjilat sisa-sisa menara perunggu Kota Roda Besi. Asap tebal bercampur bau darah dan logam hangus menutupi langit kelabu Surga Kedua. Bagi puluhan ribu kultivator bayangan yang baru saja memenangkan perang, ini adalah aroma kebebasan dan kekayaan.
Insting liar para mantan bandit, pembunuh, dan buronan itu langsung mengambil alih. Begitu pertempuran mereda, ribuan dari mereka diam-diam menyelinap ke perbendaharaan klan, paviliun alkimia, dan kediaman para tetua. Tangan-tangan kotor mereka dengan rakus meraup Kristal Dao, pusaka, dan botol pil, menyembunyikannya di dalam cincin spasial pribadi mereka.
Di mata mereka, penaklukan ini adalah pesta jarahan, dan Shen Yu hanyalah monster yang membukakan pintu untuk mereka.
Namun, mereka lupa bahwa monster yang membukakan pintu itu juga memegang kunci neraka mereka.
Di tengah alun-alun kota yang retak, sebuah takhta darurat telah didirikan dari lelehan pedang dan tombak para penjaga Klan Api Tembaga yang tewas. Shen Yu duduk bersandar di sana. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin yang membawa debu kehancuran. Matanya terpejam, seolah sedang beristirahat.
Di sampingnya, Lin Xue berdiri dengan anggun. Ujung pedang teratainya tidak lagi meneteskan darah, namun hawa kedinginannya membuat udara di sekitar takhta itu membeku.
Tiga belas mantan pemimpin faksi bayangan berlutut di bawah anak tangga takhta, tidak berani bernapas terlalu keras.
"Waktunya habis," suara Shen Yu mengalun pelan, memecah keheningan yang mencekik. Ia perlahan membuka matanya. Cincin perak di mata kirinya berputar memancarkan kekosongan mutlak.
Ia menoleh pada Lin Xue. "Bawa mereka keluar, Xue'er."
Lin Xue mengangguk tipis. Ia menghentakkan ujung pedangnya ke lantai baja.
ZRAAAASH!
Tanah di seluruh penjuru kota bergetar. Akar-akar teratai es ungu raksasa mendadak meledak dari bawah tanah, menghancurkan jalanan berbatu logam, dan menyeret ratusan sosok yang meronta-ronta ke tengah alun-alun.
Mereka adalah lebih dari lima ratus kultivator bayangan dari kelas prajurit hingga komandan yang baru saja mencoba menjarah harta Kota Roda Besi secara diam-diam. Akar-akar es itu mengikat tubuh, leher, dan meridian mereka dengan sangat erat, menumpuk mereka seperti gunungan sampah di hadapan takhta Shen Yu.
Sisa puluhan ribu pasukan yang sedang berkumpul di alun-alun mematung. Wajah mereka pucat pasi melihat rekan-rekan mereka diseret seperti hewan potong.
"T-Tuan Shen! Ampuni kami! Kami hanya mengambil sisa-sisa yang tidak berharga!" jerit salah satu komandan penjarah, wajahnya membiru karena tercekik akar teratai. Berbagai pusaka dan kantong Kristal Dao jatuh berserakan dari jubahnya yang robek.
Shen Yu bangkit dari takhtanya. Langkah kakinya yang berat dan mantap bergema di keheningan alun-alun. Setiap pijakannya di atas lantai baja meninggalkan jejak retakan halus akibat berat Tulang Besi Naga Bintang-nya.
Ia berhenti tepat di depan tumpukan para pengkhianat itu. Tatapannya sedingin badai kosmik.
"Sebuah pedang yang berkarat bisa diasah," kata Shen Yu perlahan, mengarahkan pandangannya ke seluruh lautan pasukannya. "Namun pedang yang berbalik melukai tuannya, hanya pantas dilebur menjadi besi rongsokan."
"Tuan! Kami yang berdarah-darah merebut kota ini! Kami berhak mendapat bagian!" raung seorang kultivator lain yang menolak tunduk.
Shen Yu tidak marah. Ia justru tersenyum sebuah senyuman yang membuat tiga belas pemimpin faksi di belakangnya gemetar ketakutan.
"Kalian tidak merebut kota ini. Aku yang meruntuhkan gerbangnya, aku yang membunuh jenderalnya," suara Shen Yu tiba-tiba menggelegar, sarat dengan tekanan Ketiadaan yang memaksa puluhan ribu orang di alun-alun itu jatuh berlutut serentak.
"Kalian diizinkan bernapas di kotaku karena aku menghendakinya. Segala yang ada di dalam tembok ini Kristal Dao, pusaka, udara yang kalian hirup, hingga darah yang mengalir di urat nadi kalian adalah milik Malam Abadi!"
Shen Yu mengangkat tangan kanannya. Api Ketiadaan berwarna hitam legam berkobar di telapak tangannya.
"Di dunia fana, hukum ditegakkan dengan penjara. Di Surga Kedua, aku akan menegakkan Hukum Malam dengan penderitaan yang melampaui kematian."
Shen Yu menjentikkan jarinya.
Lima ratus percikan api hitam melesat dan menembus dada kelima ratus penjarah yang terikat itu.
Tidak ada jeritan instan. Api itu tidak membakar daging mereka. Sebaliknya, Ketiadaan mulai melumat Dantian mereka secara perlahan, sementara cincin perak di mata Shen Yu berputar mengaktifkan Dao Waktu.
"Satu detik dari rasa sakit kalian di dunia nyata, akan terasa seperti seratus tahun penyiksaan di dalam lautan kesadaran kalian," bisik Shen Yu mutlak.
Kelima ratus penjarah itu tiba-tiba membelalakkan mata hingga bola mata mereka nyaris keluar dari kelopaknya. Rahang mereka terbuka lebar, namun tidak ada suara yang keluar karena pita suara mereka telah dihapus oleh Ketiadaan. Tubuh mereka menegang dengan sudut yang tidak wajar, urat-urat mereka pecah menembakkan darah ke udara.
Di mata pasukan yang menonton, proses itu hanya berlangsung selama sepuluh tarikan napas. Namun dari ekspresi penderitaan yang terukir di wajah para penjarah itu, mereka tampak seperti telah dikuliti hidup-hidup selama berabad-abad.
Setelah sepuluh tarikan napas, tubuh kelima ratus penjarah itu memudar menjadi debu hitam dan ditiup angin, tidak menyisakan apa pun selain kesunyian yang membekukan jiwa.
Tiga belas mantan penguasa faksi bayangan menempelkan dahi mereka ke tanah, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun. Puluhan ribu kultivator lainnya gemetar hebat, membuang semua pikiran serakah yang sempat terlintas di benak mereka.
Shen Yu berbalik, berjalan kembali menaiki anak tangga dan duduk di singgasananya. Ia menyapu pandangannya ke arah lautan manusia yang bersujud padanya.
"Mulai detik ini, nama kalian yang lama tidak memiliki arti," deklarasi Shen Yu, mendirikan fondasi otoritasnya. "Kalian bukan lagi pelarian, bukan bandit, dan bukan anjing jalanan Surga Kedua. Kalian adalah pedang dari Sekte Malam Abadi."
Shen Yu menunjuk ke arah Lin Xue. "Di sebelahku adalah Ratu kalian. Barang siapa yang berani menatapnya dengan rasa tidak hormat, akan menelan Api Ketiadaan."
"KAMI TUNDUK PADA RATU ABADI!" teriak puluhan ribu pasukan serentak.
"Mo Han!" panggil Shen Yu.
"H-Hamba di sini, Tuan!" Mo Han merangkak maju dengan lututnya.
"Kau kuangkat menjadi Penatua Luar. Urus distribusi Kristal Dao dan rampasan perang sesuai kontribusi. Atur pasukan ini menjadi tiga divisi: Divisi Darah untuk penyerangan, Divisi Bayangan untuk intelijen, dan Divisi Besi untuk pertahanan. Aku ingin kota ini beroperasi seperti mesin pembunuh dalam waktu kurang dari satu hari."
"Hamba laksanakan dengan nyawa hamba, Tuan Shen!"
Shen Yu menyandarkan tubuhnya. Pembersihan internal telah selesai. Bidak-bidak catur yang rapuh dan retak telah dibakar, menyisakan mereka yang siap untuk ditempa.
Namun, ketenangan ini tidak akan bertahan lama.
Sesaat setelah Shen Yu selesai menetapkan hierarki, udara di atas Kota Roda Besi tiba-tiba berhenti berhembus. Gravitasi di sekitar alun-alun melonjak puluhan kali lipat hingga membuat lantai baja retak-retak.
Langit kelabu Surga Kedua yang sebelumnya dipenuhi asap, mendadak terbelah oleh sebuah garis emas yang memanjang memotong cakrawala.
Dari balik celah emas itu, tekanan hukum alam murni bukan sekadar manipulasi Qi, melainkan hukum dunia itu sendiri turun bagaikan jutaan bilah pedang yang menekan punggung setiap kultivator di kota tersebut.
"Guru..." Lin Xue melangkah maju, pedang teratainya berdengung keras menahan tekanan. Matanya menatap tajam ke arah langit yang terbelah. "Hukum alam yang utuh. Ini bukan lagi Setengah Langkah."
Dari celah cahaya itu, melangkah keluar sesosok pria berbalut zirah emas putih. Ia tidak menunggangi kapal atau hewan buas; ia berjalan di atas udara seolah langit adalah lantai istananya. Matanya tidak memiliki pupil, hanya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan dan merendahkan.
Itu adalah Eksekutor Bintang dari Pengadilan Langit Kesembilan. Seorang ahli murni di ranah Dewa Sejati Tahap Awal.
"Anomali dari alam bawah," suara Eksekutor Bintang itu bergema, bukan melalui udara, melainkan langsung menghantam gendang telinga dan lautan kesadaran semua orang. "Membantai Jenderal Serigala Besi di Surga Pertama, dan kini menumpahkan darah di Surga Kedua. Waktu bermainmu telah habis."
Eksekutor Bintang itu mengangkat tangannya. Tidak ada api, tidak ada petir. Hanya sebuah dekrit hukum alam yang memaksa segala sesuatu di bawahnya untuk hancur.
"Atas nama Kaisar Langit Taiyi... Hukumanmu adalah Pemusnahan."
Shen Yu mendongak dari takhtanya. Alih-alih tertekan oleh arogansi seorang dewa, sang Tiran perlahan berdiri. Sabit Penebas Langit merobek ruang hampa, bermanifestasi di genggaman tangannya.
"Seorang pesuruh yang kebetulan menyatu dengan hukum alam berani meneriakkan hukuman di depanku?"
Shen Yu menyeringai, Tulang Besi Naga Bintang-nya berderit, siap menahan benturan.
"Turunlah, Dewa Palsu. Akan kutunjukkan padamu bagaimana Ketiadaan melahap hukum surga!"
💪💪💪